NovelToon NovelToon
NEW FAMILY

NEW FAMILY

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Keluarga & Kasih Sayang / Slice of Life
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Rizz Kyy

Lucky, seorang remaja kelas 3 SMP yang tumbuh besar di Pesantren Assalam sejak usia lima tahun, menjalani hidup penuh kesederhanaan tanpa orang tua maupun kerabat yang menunggu. Hari-harinya diisi belajar, menghafal, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, meski kesepian sering menghampiri. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan tekad kuat untuk bertahan dan meraih masa depan yang berbeda dari garis hidup yang tampak sudah ditakdirkan untuknya. Semua itu berubah ketika suatu hari ia tanpa sengaja menolong keluarga seorang konglomerat. Tindakan kecil yang lahir dari ketulusan itu membuka perjalanan baru baginya—perjalanan yang mempertemukannya dengan kesempatan, harapan, dan rahasia besar yang perlahan mengungkap siapa sebenarnya Lucky dan mengapa takdirnya terasa begitu berbeda sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizz Kyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENGAWALI HARI DENGAN KEBIASAAN SENDIRI

Selesai sahur, suasana rumah kembali tenang. Lampu-lampu masih menyala temaram, sementara udara subuh menyusup dingin ke sela-sela lorong. Tak lama kemudian, azan subuh berkumandang—panjang, lirih, dan menenangkan.

Lucky langsung beranjak. Ia merapikan koko putihnya, melilitkan sarung dengan rapi, lalu mengambil peci. Gerakannya tenang, seperti kebiasaan yang telah lama ia lakukan tanpa perlu berpikir.

Saat melangkah menuju gerbang depan utama, langkahnya tertahan oleh suara seseorang.

“Halo, Mas. Mau ke masjid?”

Lucky menoleh. Pak Danang, security yang sedang berjaga, berdiri tegak sambil tersenyum ramah.

“Iya, Pak,” jawab Lucky sopan.

“Mari saya antar,” ujar Pak Danang refleks.

Lucky tersenyum kecil, menggeleng halus.

“Maaf, Pak. Saya jalan saja. Masjidnya dekat kok, kayaknya cuma sekitar seratus meter. Kalau Bapak mau ke masjid juga, kita jalan bareng saja.”

Pak Danang terdiam sesaat.

Biasanya, ia menunaikan salat di musala kecil yang nyaman di pos security—lengkap, tenang, dan tak jauh dari tempat berjaga. Lagipula, sejak awal ia memang diberi arahan khusus oleh Jenderal Ardan: menjaga Lucky, memastikan segala kebutuhannya terpenuhi, dan tidak membiarkannya ke mana-mana sendirian.

Namun pagi itu, melihat cara Lucky berbicara—tanpa jarak, tanpa nada memerintah—Pak Danang justru merasa kikuk.

“Iya… iya, Mas,” katanya akhirnya. “Kalau begitu kita bareng.”

Mereka pun melangkah keluar gerbang bersama. Jalanan masih lengang, hanya diterangi lampu jalan yang berpendar kekuningan. Langkah Lucky ringan, teratur. Di sampingnya, Pak Danang berjalan sambil sesekali melirik—bukan dengan curiga, melainkan heran.

Dalam diam, Pak Danang menyadari satu hal kecil yang terasa besar:

anak ini tidak berjalan seperti tuan rumah yang dikawal, melainkan seperti tetangga yang berangkat salat berjamaah.

Masjid itu benar-benar dekat. Kubahnya tampak samar di balik pepohonan, pintunya sudah terbuka, dan beberapa jamaah mulai berdatangan. Lucky melangkah masuk lebih dulu, menanggalkan sandal dengan rapi, lalu menata di rak—kebiasaan kecil yang ia bawa dari pondok.

Pak Danang mengikutinya.

Di saf yang sama, mereka berdiri berdampingan. Tak ada percakapan. Hanya azan yang memudar, digantikan iqamah yang segera menyusul.

Dalam hening itu, Pak Danang sempat berpikir:

di rumah semewah ini, di balik penjagaan ketat dan nama besar keluarga Ardan, ada seorang anak yang tetap memilih berjalan kaki ke masjid, mengajak orang lain tanpa merasa lebih tinggi.

Dan Lucky—tanpa menyadarinya—telah mulai mengisi rumah barunya dengan sesuatu yang tak bisa dibeli: kebiasaan sederhana yang menenangkan.

Selesai dari masjid, langkah Lucky kembali menyusuri jalanan yang kini mulai terang. Cahaya matahari subuh perlahan muncul, menyentuh halaman rumah besar itu dengan lembut. Udara masih segar, sunyi, dan tenang—suasana yang membuat hati Lucky terasa ringan.

Sesampainya di kamar, Lucky membuka tas besar yang ia bawa dari pondok. Di dalamnya, ia memisahkan pakaian kotor yang sejak tadi malam sengaja tidak ia sentuh. Bukan karena malas, melainkan karena sudah terbiasa mengatur waktu: ibadah dulu, baru urusan lain.

Ia mengeluarkan perlengkapan sederhana yang selalu menemaninya sejak lama—sikat pakaian yang gagangnya sudah agak aus, deterjen sachet favoritnya, dan pewangi pakaian yang menjadi andalan. Pewangi itulah yang dulu membuat jasa laundry kecil Lucky di pondok dikenal banyak santri. Wanginya khas, sederhana, tapi menenangkan.

Lucky menatap sebentar kamar mandi di dalam kamarnya.

Luas. Bersih. Mengilap.

Ia sempat terdiam beberapa detik, seperti memastikan ini nyata. Di pondok, mencuci pakaian berarti berbagi kran air dengan banyak orang, kadang harus antre, kadang harus menunggu air mengalir kecil. Tapi di sini, semuanya tersedia—tinggal dipakai.

Namun Lucky tak merasa canggung.

Ia memulai aksinya, menuangkan air ke ember kecil yang sudah tersedia, lalu mulai merendam pakaian satu per satu. Gerakannya cekatan, penuh kebiasaan. Sikat digerakkan perlahan, tidak tergesa, seolah setiap noda punya waktunya sendiri untuk hilang.

Di sela-sela mencuci, Lucky melamun.

Tentang pondok.

Tentang kamar kecil dengan sebelas lemari.

Tentang suara tawa teman-temannya saat mencuci bareng sambil bercanda.

Ada rasa hangat yang menyelip di dadanya—bukan sedih, bukan juga rindu yang menyakitkan. Lebih seperti kenangan yang disimpan rapi, sama seperti cara ia melipat pakaiannya.

Lucky membilas pakaian satu per satu hingga bersih, lalu menuangkan pewangi secukupnya. Wangi itu langsung memenuhi kamar mandi, membuat Lucky tersenyum kecil.

“Masih sama,” gumamnya pelan. “Masih wangi pondok.”

.

Bagi Lucky, kemewahan bukan soal luas kamar atau mahalnya perabot.

Kemewahan adalah bisa tetap menjadi dirinya sendiri…

tanpa harus kehilangan kebiasaan yang membesarkannya.

1
Eka Budi
sangat bagus
alma ajidu
sudah selesai kah ceritanya....?
Rita Indah
up lagi kak
Eka Budi
masih lama kah, belum up lagi?
Sutono jijien 1976 Sugeng
👍👍👍👍bagus
Riz Kyy: Terimakasih orang baik 🙏/Determined//Applaud/
total 1 replies
Dania
semangat tor
Riz Kyy: /Determined//Determined//Determined/
total 1 replies
Dania
misi
Riz Kyy: Puntenn mhamank /Smile/
total 1 replies
Aghitsna Agis
harusnya jgn langsung bilang msu adopsi tapi mau ngucapin terima kasih ksrena telah menyelamatkan dari kobaran apj pastj nga akan menjauh kalau udah dekat dan luckynya nyaman baru bilang mau adopsi
Riz Kyy: Seharusnya begitu/Cry//Frown/, mungkin glasya sudah terbiasa dengan setiap keinginanya yang selalu terpenuhi, namun ketika keinginanya baru saja ditolak halus oleh lucky, glasya pun tersadar dan berusaha sendiri untuk mendapatkanya /Determined//Determined/
total 1 replies
laki laki
up lagi thor
laki laki: monitor thor
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!