Saat pertarungannya melawan Hukum Langit mencapai puncak, Lin Xinyao seorang taois berbakat yang menentang takdir gugur dalam pertempuran. Namun sebelum jiwanya lenyap, sebuah cahaya putih menariknya ke dimensi lain, mempertemukannya dengan seorang gadis bernama Yao Yao yang memiliki wajah identik dengannya. Yao Yao, yang lemah dan penuh luka batin, menyerahkan tubuhnya kepada Xinyao dan memintanya untuk hidup menggantikan dirinya.
Kini, Lin Xinyao terbangun di kehidupan baru yang bukan miliknya, membawa sumpah untuk suatu hari kembali menantang Hukum Langit sekaligus mengungkap rahasia kelam di balik tubuh yang kini ia huni.
---
CATATAN PENULIS
Karya ini adalah murni hasil khayalan dan imajinasi penulis. Segala nama, karakter, tempat, dan peristiwa tidak memiliki hubungan dengan dunia nyata. Jika ada kesamaan, itu semata-mata kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mingyu & Luoli
Rumah Lelang Keluarga Lin
Secret Room
Di dalam ruangan rahasia yang sunyi, seorang gadis berdiri membeku di hadapan sebuah potret besar. Cahaya lampu kristal jatuh lembut di wajah pria dalam lukisan itu—wajah yang dulu selalu dipenuhi wibawa dan senyum tenang.
Dari belakang, gadis itu tampak hanya berdiri diam. Namun di balik punggungnya yang tegak, hatinya sedang runtuh perlahan.
“Ayah…”
Suara itu lirih, hampir tak terdengar. Air mata jatuh tanpa suara, tanpa izin menetes begitu saja, seolah tak sanggup lagi ditahan.
Gadis itu adalah Lin Mingyu, atau yang akrab dipanggil Yuyu, putri kedua keluarga Lin.
Saat ini, ayahnya Tuan Besar Lin terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Dokter mengatakan hanya kelelahan, namun hari demi hari kondisinya justru semakin memburuk.
Dan hari ini…
adalah hari terakhir rumah lelang keluarga Lin beroperasi.
Mingyu menurunkan pandangannya. Jari-jarinya mengepal pelan sebelum akhirnya ia melangkah pergi, meninggalkan potret itu dengan hati yang berat.
Ceklak.
Pintu sebuah ruangan terbuka.
Rak-rak penuh buku antik tersusun rapi, aroma parfum mahal bercampur wangi kayu tua memenuhi udara.
Di atas sofa beludru, seorang wanita duduk anggun, memeluk seekor kelinci hitam di lengannya. Tatapannya tenang, nyaris dingin.
“Ada apa, Mingyu?”
Suara itu memecah keheningan dengan nada lembut namun tegas.
Wanita itu adalah Lin Luoli, atau Lili, putri sulung keluarga Lin.
Mingyu berdiri beberapa langkah dari pintu. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya ia berbicara.
“Jiějie… apa kita benar-benar tidak bisa mempertahankan rumah lelang ini?”
Suara Mingyu rapuh, sarat harap dan ketakutan.
Luoli menggeleng pelan. Ia menurunkan kelinci dari pelukannya, meletakkannya dengan hati-hati, lalu berdiri dan melangkah mendekati adiknya.
“Ayah harus sembuh.”
Nada suaranya stabil—terlalu stabil untuk seseorang yang hatinya juga sedang hancur.
“Jiějie… Ayah pasti tidak akan setuju kalau kita menutup rumah lelang ini…”
Air mata Mingyu akhirnya jatuh, membasahi pipinya tanpa bisa dihentikan.
Luoli mengangkat tangan, mengusap pipi adiknya dengan lembut, penuh kasih.
“Tenang saja. Kalau Ayah marah… biarkan Ayah marah padaku. Jangan sampai kemarahan itu tertuju padamu, Mingyu—”
Ucapannya terhenti.
Luoli memalingkan wajah, membelakangi adiknya. Dengan cepat, ia menghapus setitik air mata yang lolos di sudut matanya.
Beberapa detik berlalu sebelum ia kembali bersuara.
“Guru spiritual Ayah mengatakan… sumber penyakit itu ada di rumah lelang ini.”
“Jika kita melepaskannya, Ayah akan sembuh.”
Kali ini, suara Luoli bergetar tipis—nyaris tak terlihat, namun cukup untuk menunjukkan betapa berat keputusan itu baginya.
Ia menoleh kembali menatap Mingyu.
“Ayo. Waktunya hampir tiba.”
Dua bersaudari itu berjalan berdampingan menuju ruang lelang. Langkah mereka anggun, kepala mereka tegak, meski hati keduanya dipenuhi duka dan pengorbanan.
Mereka tahu…
hari ini, mereka bukan hanya melepas sebuah rumah lelang.
Mereka sedang mempertaruhkan segalanya demi satu hal kesembuhan sang ayah.
________🌷
Mobil hitam itu melaju perlahan, nyaris tanpa suara, seolah sedang menelusuri keramaian kota untuk mencari satu sosok tertentu. Lampu-lampu jalan memantul di bodinya yang mengilap, menciptakan kesan tenang namun penuh tujuan.
“Gēge, itu Yao Yao.”
Qinglan menunjuk ke arah sebuah stan makanan di tepi jalan. Di sana, Yao Yao tampak duduk santai, satu tangan memegang minuman, wajahnya cerah seolah dunia tak pernah memberinya beban.
“Berhenti!” seru Qinglan cepat.
Begitu mobil melambat dan berhenti, Qinglan langsung membuka pintu dan turun. Langkahnya ringan, hampir berlari kecil menuju Yao Yao.
“Yao Yao!” teriaknya sambil melambaikan tangan dengan antusias.
“Qinglan!” sapa Xinyao. Matanya berbinar, senyum lebarnya langsung merekah begitu melihat sahabatnya.
' Firasatku mengatakan… uang akan jatuh tanpa perlu aku cari.
Hehehe… '
Batin Xinyao langsung berbunga-bunga.
“Ada apa?” tanya Xinyao, berpura-pura tak tahu apa pun. Nada suaranya santai, ekspresinya polos—akting yang sudah sangat ia kuasai.
“Ikut aku yuk ke rumah lelang. Bantu aku dan Gēge buat lihat barang itu asli atau palsu. Bisa, kan?”
Qinglan berbicara dengan nada manja, matanya berkedip-kedip penuh harap.
“Bisa… tapi—”
Xinyao sengaja menggantung kalimatnya, alisnya terangkat nakal.
“Aman. Nanti minta Gēge transfer ke rekeningmu.”
Mendengar itu, senyum Xinyao langsung berubah cerah. Bibirnya melengkung lebar tanpa bisa disembunyikan.
“Ayo, tunggu apa lagi!”
Ia bahkan lebih dulu menarik tangan Qinglan, menyeretnya kembali ke arah mobil.
“Kenapa malah dia yang kelihatan paling antusias?” gumam Qinglan pelan, bingung sekaligus geli.
Pintu mobil terbuka perlahan.
Di sudut kanan, Fengyun tampak duduk dengan postur santai, satu tangan memegang ponsel. Wajahnya tenang, sorot matanya dalam.
“Hai.”
Xinyao melambaikan tangan ceria. Ia hendak mendorong Qinglan masuk lebih dulu, namun—
Tangan Fengyun lebih cepat bergerak.
Ia menggenggam pergelangan tangan Xinyao dengan lembut, namun mantap.
“Ayo, aku bantu masuk.”
Senyum kecil terukir di bibirnya, tipis namun hangat.
Xinyao menyikut pelan Qinglan, berharap ditolong. Namun Qinglan justru tersenyum licik dan… mendorong Xinyao masuk lebih dulu.
Akhirnya, Xinyao duduk di tengah.
Sepanjang perjalanan, tangannya masih digenggam erat oleh Fengyun. Sentuhan itu sederhana—namun entah kenapa, membuat dada Xinyao bergetar pelan.
' Apa ini…? '
Batin Xinyao bingung. Pipinya perlahan memerah.
“Mobil ini… kenapa panas banget, ya?”
Xinyao mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan satunya, mencoba menutupi kegugupannya.
“Enggak kok. Mana ada panas.”
Qinglan melirik Xinyao penuh curiga.
“Kamu bercanda, ya?” lanjut Qinglan sambil menunjuknya.
“Hehe… iya, bercanda.”
Xinyao tertawa canggung, suaranya sedikit gugup.
Fengyun tersenyum simpul. Ia menikmati setiap ekspresi kecil yang Xinyao tampilkan—tanpa ia sadari.
“Biar nggak gugup lagi.”
Fengyun menyodorkan sebuah permen.
“Apa ini?”
Xinyao membolak-balik permen itu di jarinya.
“Permen. Makan saja. Buka dulu bungkusnya.”
Nada suara Fengyun lembut, penuh kehati-hatian.
“Sini, aku bantu.”
Dengan gerakan pelan, ia membuka bungkus permen itu.
“Aaa—”
Xinyao menurut, membuka mulut tanpa berpikir panjang.
“Emm… manis.”
Senyum cerah kembali muncul di bibirnya.
Mobil mulai melambat. Gedung megah dengan arsitektur klasik-modern tampak di depan mata.
“Tuan, kita sudah sampai.”
Mereka akhirnya tiba di rumah lelang keluarga Lin.
Begitu turun dari mobil, langkah Xinyao terhenti. Pandangannya terpaku pada bangunan besar itu.
“Aaa… gedung sebesar ini… aura yin nya sangat tebal. Dan lagi—”
Xinyao menggeleng pelan.
Ck. Ck.
Ia berdecak lirih, ekspresinya berubah lebih serius.
“Pemimpin keluarga Lin… sedang terbaring sakit.”
Spontan Qinglan dan Fengyun menoleh ke arahnya.
“Gēge, mungkin Yao Yao bisa bantu Tuan Lin.”
Nada suara Qinglan berubah penuh harap.
Fengyun mengangguk setuju.
“Sudah. Ayo masuk.”
Suara Fengyun terdengar berwibawa. Ia melingkarkan lengan Xinyao di lengannya, membawa gadis itu berjalan bersamanya.
Tiga sosok itu melangkah masuk ke dalam rumah lelang…
tanpa menyadari bahwa langkah mereka akan membuka sebuah rahasia besar yang selama ini tersembunyi.
Bersambung 🥂
tapi kembali ke rumah anda, sorry lah yaw..