Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk.
Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan.
Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri.
Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB TUJUH BELAS
Aku mendorong perlahan pintu walk-in closet yang terhubung langsung dengan kamar utama. Begitu pintu kayu berlapis finishing matte itu terbuka, udara di dalamnya menyeruak keluar, membawa aroma khas parfum maskulin yang segera menguar, memenuhi indra penciumanku. Wangi segar citrus bercampur hangatnya aroma kayu, begitu lekat dan intim, seolah setiap sudut ruangan itu adalah bagian dari Althaf.
Begitu aku melangkah masuk ke walk-in closet Althaf, aku hampir ternganga. Ruangan ini bukan sekadar lemari pakaian—ini seperti galeri pribadi, megah dan nyaris sempurna dalam setiap detailnya.
Lampu LED yang tersembunyi di sepanjang plafon memancarkan cahaya lembut, berpadu dengan lampu kecil berbentuk bintang di langit-langit yang berkelip samar, membuat ruangan terasa hangat sekaligus mewah. Pantulan cahaya itu mengenai kaca bening yang menutupi rak-rak pakaian, menciptakan bayangan berlapis-lapis, seolah aku sedang berjalan di dalam dunia Althaf yang rapih dan dingin.
Di kanan-kiri, barisan pakaian tertata rapi dalam gradasi warna. Jas, kemeja, hingga celana bahan tergantung dengan presisi, seakan tidak ada satu pun yang berani melenceng dari barisan. Warna-warnanya didominasi hitam, biru navy, dan abu-abu. Maskulin. Tegas. Nyaris tak tersentuh kelembutan.
Di rak bagian bawah, deretan sepatu kulit berkilat berjajar sempurna, begitu mengilap seolah baru saja dipoles. Sepatu formal, boots, hingga sneakers branded, semuanya seperti punya tempat yang telah diatur dengan cermat.
Aku melangkah lebih jauh, melewati karpet abu-abu yang empuk membungkus dinginnya lantai marmer. Di tengah ruangan, ada ottoman hitam besar yang tampak seperti tempat singgah sementara untuk memilih pakaian. Di atasnya tergeletak sebuah kemeja yang entah sengaja atau tidak, dibiarkan begitu saja. Aneh, karena dari semua sisi ruangan ini, hanya itu yang tampak sedikit berantakan.
Pandangan mataku kemudian tertumbuk pada bagian sisi ruangan yang berbeda. Di antara dominasi warna gelap milik Althaf, ada sudut kecil yang kontras: sebuah dress hitam sederhana tergantung sendiri, dan di bawahnya sepasang sepatu flat warna senada.
Jantungku berdegup keras. Dress itu jelas bukan bagian dari dunianya yang penuh kemeja dan jas. Itu untukku. Disiapkan olehnya.
Rasanya aku sedang berdiri di antara dua dunia. Dunia Althaf yang rapi, kaku, penuh batasan, dan dunia kecil yang diam-diam ia sisipkan untukku di antara barisan pakaian maskulinnya. Satu dress sederhana yang membuatku sadar—dalam diamnya, dalam dinginnya, ia tetap memperhitungkan keberadaanku.
Aku mendekat, meraih dress itu dengan ragu. Kainnya jatuh lembut di jemariku, dingin tapi juga hangat dengan cara yang sulit dijelaskan. Ada desir aneh di dadaku, seperti sesuatu yang selama ini berusaha kutolak, tiba-tiba menuntut pengakuan.
Aku berdiri di depan cermin besar di walk-in closet itu, memandangi bayanganku sendiri. Dress hitam sederhana yang tergantung tadi kini sudah membalut tubuhku. Potongannya jatuh anggun, ringan, seakan memang dibuat untukku. Namun ada yang berbeda—aku merasa seperti orang asing di tubuhku sendiri.
Aku menghela napas panjang sebelum meraih sehelai syal kecil bermotif monokrom yang kutemukan di sudut rak aksesoris. Kainnya lembut, dingin, tapi justru itulah yang kubutuhkan. Dengan tangan bergetar, aku melingkarkan syal itu di leherku, menutup rapat jejak keunguan yang ditinggalkan Althaf semalam. Jejak yang masih panas di kulitku, meski warnanya dingin memar.
Kini bayangan di cermin menampakkan seorang perempuan dengan wajah tenang, berbalut dress elegan dan syal kecil yang mempermanis penampilannya. Orang lain mungkin akan mengira aku siap menghadiri kelas atau sekadar berjalan-jalan di pusat kota. Mereka tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya kucoba sembunyikan di balik lipatan kain tipis di leherku.
Aku menatap pantulan itu lebih lama, merasakan getir menyeruak. Dress ini memang indah, syal ini memang manis. Tapi, aku tahu, di balik lapisan kain yang tampak anggun ini, ada seorang Senjani yang masih gemetar, masih dihinggapi perasaan asing, dan masih berusaha memahami apa arti semua ini—aku, Althaf, dan dunia yang tiba-tiba menelanku bulat-bulat.
Kupaksakan sebuah senyum tipis di depan cermin, seolah aku sedang berlatih peran. Bukan Senjani yang polos dan rapuh, melainkan Senjani yang bisa melangkah keluar dengan dagu terangkat, menutupi semua luka yang tersembunyi.
Aku menuruni anak tangga dengan hati-hati, membiarkan dress hitam yang membalut tubuhku bergerak ringan, jatuh mengikuti setiap langkah. Kainnya seolah menari lembut, berdesir seirama dengan bunyi langkah kakiku di atas marmer dingin. Aroma kopi dan roti panggang tercium samar sebelum aku tiba di ruang makan.
Di ujung ruangan, sebuah meja makan panjang dengan taplak putih bersih dan peralatan makan perak berkilau telah tertata sempurna. Pagi itu terasa seperti jamuan formal, bukan sekadar sarapan. Althaf duduk di sisi kanan meja, tegap dan tenang, dengan kemeja navy-nya yang sudah rapi. Di sampingnya, Oma duduk anggun dengan senyum hangat yang segera menyambut kedatanganku.
"Selamat pagi, Senjani," sapa Oma lembut, sorot matanya ramah dan penuh penerimaan, kontras sekali dengan tatapan dingin Althaf yang sekilas hanya menoleh sebelum kembali fokus pada sarapannya.
Aku menarik kursi di sampingnya, sedikit gugup dengan kemewahan yang terpampang di meja itu. Aneka hidangan berjejer rapi: potongan salmon segar, aneka keju yang berbau khas, buah-buahan tropis yang ditata di mangkuk kristal, hingga pastry berlapis krim yang tampak terlalu manis untuk pagi hari. Bagiku, semua itu terasa asing. Lidahku yang tumbuh dengan sarapan sederhana—nasi dingin sisa semalam yang digoreng dengan bumbu seadanya—nyaris bergidik hanya dengan membayangkan harus mencicipinya.
Akhirnya pandanganku berhenti pada sepiring Avocado Toast with Scrambled Egg di hadapan Althaf. Roti panggang dengan lapisan alpukat hijau lembut, dihiasi telur orak-arik berwarna kuning keemasan. Setidaknya itu terlihat paling masuk akal bagi perutku yang terbiasa makan berat di pagi hari.
Aku mulai menyuapinya perlahan. Tekstur alpukatnya lembut, berpadu dengan gurih telur yang masih hangat. Rasanya asing, tetapi tidak seburuk yang kubayangkan. Malah, ada kelezatan sederhana yang sedikit mengingatkan pada sarapan ala kampung—meski tentu saja, ini jauh lebih mewah.
Sesekali aku mencuri pandang ke arah Althaf. Gerakannya tenang, setiap potong roti dipotong dengan presisi, setiap tegukan kopi dilakukan seolah mengikuti aturan tertentu. Dingin, teratur, nyaris tak berjiwa. Dan aku, yang duduk di sampingnya, merasa seperti seorang penyusup di dunia yang bukan milikku.
Namun senyum lembut Oma seolah menahan kegugupan itu. Ia tak henti menatapku dengan tatapan yang menenangkan, seakan ingin meyakinkanku bahwa aku pantas duduk di meja ini, meski hati kecilku masih berbisik sebaliknya.
Setelah sesi sarapan pagi usai, aku dan Althaf akhirnya berpamitan untuk berangkat ke kampus. Sebenarnya, aku sempat berniat pergi sendiri, tetapi atas permintaan Oma—yang disampaikan dengan sedikit nada memaksa namun penuh kasih—aku akhirnya setuju untuk berangkat bersama Althaf.
Sebelum melangkah keluar, aku lebih dulu menghampiri Oma. Ada sesuatu yang menekan dadaku ketika menatap wajah teduhnya. Entah kenapa, sebuah rasa sendu tiba-tiba menyergap saat aku menggenggam tangannya yang hangat. Oma begitu tulus menyayangiku, tanpa pamrih, tanpa syarat, dan itu membuatku merasa seakan berada di pelukan keluarga yang sebenarnya.
"Senjani akan sering-sering datang berkunjung, Oma," ucapku lirih, hampir seperti janji kecil pada diri sendiri.
Senyum lembut Oma mengembang, matanya berkilat penuh kasih sayang. "Itu yang Oma tunggu, Nak," jawabnya pelan, sembari mengusap punggung tanganku dengan jemarinya yang hangat.
Aku pun melangkah pergi dengan hati yang masih berat, meninggalkan sosok yang membuatku merasa begitu diterima, bahkan ketika aku masih merasa asing di rumah ini.
Mobil hitam milik Althaf meluncur pelan meninggalkan halaman rumah Oma. Suasana di dalam mobil begitu hening, hanya suara mesin dan denting halus musik instrumental yang mengalun dari radio. Aku duduk di kursi penumpang dengan tubuh kaku, kedua tanganku sibuk meremas ujung dress hitamku, sementara pandanganku tertuju ke luar jendela, seolah sibuk mengamati jalanan yang sebenarnya tak terlalu menarik.
Sesekali aku bisa merasakan tatapan singkat dari Althaf, meski wajahnya tetap tenang dan fokus pada jalan. Kehangatan samar dari pagi tadi saat Oma ada di antara kami seketika menguap, berganti dengan dinding dingin yang kembali ia tegakkan.
Udara di dalam mobil terasa makin berat, membuatku sulit bernapas lega. Pada akhirnya, aku memberanikan diri memecah hening itu.
"Maaf, Mas... bisa turunkan saya di halte bis terdekat?" ucapku pelan, nyaris seperti bisikan, tapi cukup jelas untuk terdengar di telinganya.
Althaf menoleh sekilas, alisnya sedikit berkerut. "Halte bis?" ulangnya datar, seakan kata-kata itu asing baginya.
Aku menelan ludah, mencoba terdengar wajar. "Saya rasa... tidak pantas kalau kita berangkat bersama ke kampus. Kalau ada yang melihat, mereka bisa salah paham, Mas."
Althaf menatapku beberapa detik sebelum kembali fokus menyetir. "Tidak. Kita akan tetap berangkat ke kampus bersama," ucapnya dingin.
Aku menoleh, terperangah. Apa sih sebenarnya yang dia inginkan? Dia sendiri yang bilang status pernikahan kami tidak boleh diketahui siapa pun di kampus.
"Maksud Mas apa? Bukannya Mas yang bilang kalau pernikahan kita harus dirahasiakan? Kenapa Mas selalu membuat saya ada di situasi yang sulit?" tanyaku, suaraku meninggi, campuran bingung dan kesal.
Althaf diam. Rahangnya mengeras, jemarinya menggenggam erat setir, tapi tak ada jawaban. Diamnya justru membuat amarahku semakin bergolak.
"Kenapa Mas cuma diam?" aku mendesaknya. "Kalau teman-teman saya lihat kita datang bareng, apa yang akan mereka pikirkan? Mas tahu sendiri gosip di kampus itu kayak apa. Jadi tolong turunin saya, Mas. Saya bisa naik ojek online atau taksi."
"Duduk dan diam, Senjani." Nada suaranya datar, tapi tajam, penuh perintah. "Saya tidak suka dibantah."
Aku mendesah frustrasi. "Kenapa sih, Mas? Kenapa semua harus selalu sesuai dengan kehendak Mas? Saya juga punya hidup, saya juga harus jaga nama baik saya di kampus. Semua tahu Mas sudah menikah dan jika mereka melihat kita bersama, apa mereka enggak akan berpikir Mas selingkuh dengan saya? Itu memalukan, Mas!"
Kali ini, Althaf menghela napas panjang. Bahunya naik turun, lalu jemarinya meremas stir kuat-kuat, seolah menahan sesuatu.
Beberapa detik kemudian, suaranya terdengar rendah namun tegas, menusuk langsung ke dadaku.
"Kamu bukan selingkuhan saya, tapi kamu istri saya, Senjani."
Aku terdiam, darahku berdesir deras mendengar kalimat itu. Hening kembali menyelimuti mobil, tapi kali ini bukan sekadar hening—melainkan hening yang sarat dengan makna yang membingungkan.