-TAMAT-
Muhammad Faiz Al Ghifari atau Gus Faiz adalah seorang anak laki-laki dari seorang Kyai besar yang memiliki pondok pesantren di pedalaman Jawa. Dia adalah sosok yang sempurna dan selalu menjadi bahan incaran para gadis dan ibu-ibu di manapun dia berada.
Suatu ketika Gus Faiz bertemu dengan Anindya Athaya Zahran, seorang santri putri angkuh yang selalu mencari 1001 cara untuk mengakhiri hidupnya.
Gus Faiz yang selalu tergerak untuk menggagalkan upaya bunuh diri Nindy tidak sengaja terlibat dalam perjanjian yang di luar nalarnya. Perjanjian yang benar-benar mengubah jalan hidupnya, perjanjian yang tidak berterima oleh akal sehatnya, dan perjanjian yang menyalahi aturan hidupnya.
Akankah Gus Faiz menepati janji itu? Bolehkah Gus Faiz melaksanakannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Upi1612, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BB 18 - Pesona Seorang Nindy
“Kenapa? Cantikkan?” tanya Ilham.
Tanpa sadar Gus Faiz mengangguk. Lalu kesadaran Gus Faiz pulih kembali. Diapun langsung beristighfar. Lalu menggeleng.
Ilham tertawa. Gus Faiz memandang Ilham kesal. Mendengar suara Ilham di tangga, Nindy menoleh. Gus Faiz yang tidak mau ketahuan langsung berjalan menaiki tangga, meski tidak sempat melihat wajahnya.
Nindy melihat Ilham bersama seseorang. Ilham mengejar Gus Faiz.
“Aaron?” panggil Nindy pada Aaron yang masih sibuk mengamati wajah Nindy dari samping.
“Eh, iya?” tanya Aaron.
“Ada siapa di atas?” tanya Nindy.
“Oh, ada temennya Bang Ilham.” jawab Aaron.
“Oh.” jawab Nindy singkat.
Ilham kembali lagi.
“Nin, gue..” kata Aaron. Kali ini dia bersiap untuk menyatakan perasaannya pada Nindy.
Melihat bagaimana gelagat adiknya, Ilham buru-buru menghentikan. “Nin!” seru Ilham.
Mau tak mau Nindy menoleh. Dia pun tak sadar mengabaikan Aaron. Aaron merasa kesal pada kakaknya yang datang begitu tiba-tiba di saat yang tidak tepat, di saat Aaron ingin menyatakan cintanya pada Nindy. Gadis yang dicintainya meski baru dua kali melihatnya.
Meski hanya dua kali mereka bertemu, namun Aaron begitu yakin dengan perasaannya. Dia pun tidak mau menyia-nyiakan waktu.
“Kenapa, Ham?” tanya Nindy.
“Gue mau anterin temen gue ke pondok. Gue anterin lo pulang aja ayo? Besok gue jemput lagi. Kita main ke café kayak biasa.” kata Ilham.
“Nggak usah, Ham. Gue di jemput Revan hehehe.” jawab Nindy.
“Revan? Siapa Revan?” tanya Aaron. Hatinya merasa panas mendengar Nindy mengucapkan nama laki-laki lain.
“Ya pacarnya lah, masa tukang kebon. Lucu sekali Anda.” kata Ilham.
Nindy tertawa mendengar kata-kata Ilham. Baik Ilham maupun Aaron merasakan hatinya berdesir dan jantungnya berdegup dengan kencang melihat tawa renyah Nindy yang semakin membuat Nindy terlihat sangat cantik.
“J-jadi lo udah punya pacar, Nin?” tanya Aaron yang sadar terlebih dahulu ketimbang Ilham. Mendengar pertanyaan Aaron, Ilhampun tersadar.
Nindy mengangguk. Tiba-tiba ponselnya berdering, nama Revan sudah terpampang jelas di layar. Aaron yang tak sengaja melihat nama itu langsung lemas.
Nindy mengangkat telepon. “Oh, kamu udah di depan, Van? Oke, sebentar ya aku keluar.” kata Nindy. Lalu mematikan telepon.
Jantung Aaron mencelos begitu saja.
“Ham, Ron, Revan udah di depan, gue pulang duluan ya.” kata Nindy. “Eh, iya, tadi lo mau ngomong apa, Ron?” tanya Nindy.
Aaron menggeleng. “Enggak tahu, gue lupa.” kata Aaron.
Nindy terkekeh. “Yaudah deh kalo gitu.” kata Nindy.
“Gue anter ke depan deh, yuk.” kata Ilham.
Ilhampun mengantarkan Nindy. Aaron naik ke atas, masuk ke kamar kakaknya dengan wajah lemas.
“Ada apa?” tanya Gus Faiz.
Tidak tahu mengapa walau dia tidak menyukai Gus Faiz, namun Aaron tetap menemuinya.
“Dia udah punya cowok.” kata Aaron.
“Tapikan dia belum menikah.” kata Gus Faiz.
“Wah, iya, bener juga lo.” kata Aaron.
“Dia sudah pulang?” tanya Gus Faiz.
“Udah, di jemput cowoknya.” jawab Aaron.
“Saya ke bawah dulu kalau begitu.” kata Gus Faiz.
Belum sempat Gus Faiz berdiri, Ilham masuk ke dalam kamar.
“Gimana, Is? Cantikkan, Nindy?” tanya Ilham.
“Tidak tahu, saya tidak sempat melihat wajahnya.” kata Gus Faiz jujur.
“Ngapain si lo, Bang?” seru Aaron kesal.
“Udah, anak kecil diam aja.” kata Ilham. “Tapi gue liat lo tadi ngeliatin dia serius amat di tangga.” kata Ilham lagi.
Aaron cemberut dan kesal mendengar kata-kata Ilham.
“Eh? E..” Gus Faiz menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Mungkin dia jodoh lo, Is.” kata Ilham.
“Bang, Nindy itu punya gue.” seru Aaron, tidak terima.
Aaron kini mengerti bahwa Ilham sedang mendekatkan Nindy pada Gus Faiz. Aaron yang suka pada Nindy tentu saja menolak. Gus Faiz menimbang-nimbang perkataan Ilham. Namun dia juga berpikir apakah sudah pantas bagianya untuk memikirkan jodoh di usianya yang masih tergolong belia, masih berstatus siswa.
“Ini cuma cinta monyet, Ron. Cari cewek baru. Jangan Nindy.” kata Ilham. “Lo mau liat fotonya, Is?” tanya Ilham.
Gus Faiz menggeleng. Namun dalam hatinya dia tertarik pada Nindy. Perasaan itu sama penasarannya seperti Gadis Tirai. Gus Faiz menimbang-nimbang dan memikirkan kemungkinan karena dia tidak pernah bergaul dengan gadis membuat dia mudah tertarik pada gadis. Contohnya gadis tirai dan gadis sahabat Ilham. Namun, jika dia mudah tertarik, mengapa dia tidak tertarik pada Ning Aisha yang begitu sempurna di mata teman-teman laki-lakinya?
“Ini pertanyaan terakhir gue, Is.” Kata Ilham.
Gus Faiz terdiam. Dia seperti merasakan sesuatu yang janggal. Namun dia tidak mau mendahului takdir. Dia hanya bisa berdoa agar firasatnya hanya sekadar firasat.
“Gue mohon jagain dia seumur hidup lo, Is. Lo mau kan?” tanya Ilham.
Gus Faiz berjalan menuju kopernya. Lalu mengambil sebuah gelang perak dari dalam dompetnya. Gelang itu Gus Faiz beli untuk wanita yang dicintainya, Umi. Namun ntah mengapa dia kini berpikir untuk merelakan gelang ini untuk sahabat Ilham.
“Ini, kalau memang Allah SWT memang mengizinkan saya untuk menjaga dia seumur hidup saya. Dia pasti akan kembali pada saya. Lewat perantara gelang ini juga saya akan akan tahu gadis yang kamu maksud. Dan saya janji bila kami dipertemukan, saya akan penuhi semua permintaan kamu itu.” kata Gus Faiz.
Gus Faiz memberikan gelang itu pada Ilham. Ilham menerimanya. Ilham berdoa agar Allah mempertemukan Gus Faiz dan Nindy.
“Nggak jelas lo-lo pada!” seru Aaron langsung keluar kamar dan membanting pintu kamar Ilham.
“Aaron itu anak baik, Is. Gue tau dia juga suka sama Nindy, gue baru pertama kali liat dia begitu suka sama cewek.” kata Ilham.
“Kenapa kamu tidak mendekatkan gadis itu dengan Aaron saja?” tanya Gus Faiz.
“Nggak tau kenapa firasat gue bilang kalo adik gue itu gak bisa bikin Nindy kembali.” kata Ilham.
Gus Faiz diam saja. Tak berniat menangapi kata-kata Ilham.
“Saya kembali ke pondok sekarang saja, Ham.” kata Gus Faiz.
“Yaudah yuk.” kata Ilham.
Gus Faiz pun pamit pada Yeni dan Adi, orang tua Ilham dan Aaron.
“Eh, sebentar, Nak Faiz. Ini untuk di pondok ya. Jangan ditolak ya nanti tante sedih.” kata Yeni sambil memberikan kue kering buatannya kepada Gus Faiz.
“Terima kasih, Tante.” kata Gus Faiz.
“Om antar naik mobil ake pondok ya?” kata Adi.
“Tidak usah repot-repot, Om.” kata Gus Faiz tidak enak hati.
“Anggap saja ini sebagai rasa terima kasih kami kepada kamu, Nak. Om mohon mau ya?” kata Adi.
Gus Faiz melirik Ilham. Ilham mengangguk. Mengisyaratakan untuk Gus Faiz menerima tawaran Ayahnya. Gus Faiz pun mengangguk. Adi dan Ilhampun mengantarkan Gus Faiz ke pondok dengan mobil.