Selena Maheswari, adalah sosok gadis mandiri dan pekerja keras, dia tidak sengaja menyaksikan sendiri seseorang bertangan dingin yang dengan gampangnya mengeksekusi rekannya yang berkhianat, tanpa rasa bersalah ataupun menyesal.
Di dalam kejadian itu ternyata ada anak buah dari mafia tersebut yang mengintai Selena hingga pada akhirnya Selena terjerat ke dalam lingkaran sang Mafia.
Mampukah Selena keluar dari jerat sang Mafia atau malah sebaliknya?? Nantikan kisah selengkapnya hanya di Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Memimpin Transaksi
Malam itu, gudang tua di pinggir pelabuhan dipenuhi orang-orang. Lampu temaram berayun tertiup angin laut, menimbulkan suasana mencekam. Di depan pintu baja, beberapa pria asing sudah menunggu dengan koper hitam berisi uang.
Selena berdiri di samping Valen, jantungnya berdentum kencang. Kali ini bukan sekadar menembak kertas atau melawan sparring partner. Kali ini ia harus memimpin transaksi senjata.
Valen menoleh sekilas, menatap tajam.
“Malam ini, kau yang bicara. Aku hanya akan berdiri dan menonton. Kalau kau gagal, mereka akan mencabik-cabik mu," bisiknya dengan nada yang mengintimidasi.
Selena menelan ludah. Napasnya berat. Tapi ia melangkah maju, menatap lawan di seberang dengan mata dingin.
“Buka koper,” ucap Selena datar, suaranya bergetar sedikit tapi cukup jelas.
Pria berjaket kulit di depannya mendengus, menatap meremehkan. “Hah, jadi bocah manja ini yang disuruh jadi negosiator?” Anak buahnya tertawa kasar, ikut meremehkan juga.
Beberapa anak buah Valen di belakang Selena langsung meraih senjata, tapi Valen mengangkat tangan, memberi isyarat untuk diam. Matanya tajam meneliti setiap gerak Selena.
Selena menarik pistolnya, mengarahkan tepat ke dahi pria itu. Gerakannya cepat, tegas.
“Tertawamu bisa berhenti di sini kalau uangmu palsu.”
Tawa pria itu langsung hilang. Semua menegang. Selama beberapa detik, hanya suara angin laut yang terdengar.
Perlahan koper dibuka. Uang tunai tersusun rapi di dalamnya. Selena menatap tajam, lalu mengangguk ke anak buah Valen untuk memeriksa.
“Bersih, Don,” lapor mereka.
Selena mengembuskan napas perlahan, lalu menurunkan pistolnya. Ia menggeser koper lain berisi senjata ke arah pria itu.
“Transaksi selesai. Ambil dan pergi.”
Pria itu masih menatapnya dengan wajah muram, tapi tidak berani macam-macam. Setelah membawa koper, ia dan anak buahnya mundur.
Ketegangan perlahan menguap. Anak buah Valen yang tadi meragukan kini saling pandang, sebagian bahkan mengangguk hormat.
Valen akhirnya bersuara, langkahnya mendekat ke arah Selena. Senyumnya samar tapi penuh arti.
“Bagus… Kau baru saja lulus ujian pertamamu. Kau tidak hanya belajar bicara dengan senjata, tapi juga dengan otak. Itu yang membuatmu berbeda dari boneka mafia lainnya.”
Selena menatap Valen, nafasnya masih memburu. Tapi di matanya, ada nyala api baru.
“Aku bilang padamu, Don… aku tidak akan jadi beban. Aku akan jadi Ratu.”
Valen menepuk pipi Selena ringan, suaranya rendah tapi dalam. “Dan malam ini, dunia baru saja mendengar langkah pertama seorang Queen Mafia," ucapnya datar.
☘️☘️☘️☘️
Semua orang sudah mulai meninggalkan gudang, ketika transaksi sudah berjalan lancar, Selena mulai menaiki mobil Valen, di dalam perjalanan tatapan gadis itu hanya tertuju ke arah jalanan.
kepalanya bersandar ke sandaran kursi, matanya menatap setiap bangunan dan gedung-gedung yang ia lewati, ada rasa rindu bercampur dengan kecewa atas semua kebohongan ayahnya yang sampai saat ini menyembunyikan identitasnya, bahkan sampai sekarang sang ayah masih belum pulang.
Ibunya khawatir, dan adiknya Sean mulai merindukan sosok ayahnya, hal ini membuat tekad Selena bulat agar sang ayah segera terbebas dari masa lalu yang terus menerus mengejarnya.
'Ibu ... Adik Sean, sebentar lagi kalian berdua akan berkumpul dengan Ayah ...doakan saja agar aku bisa membersihkan kasus Ayah,' batinnya penuh dengan harapan.
Untuk sepersekian detik pria di sampingnya itu mulai memperhatikan Selena dalam guratan kecemasan yang mulai terpancar dari raut wajah gadis itu. "Kau kenapa?"
Selena hanya tersenyum tabah, kali ini gadis itu terlihat nampak kuat dan dewasa dalam menghadapi semua ujian hidup. "Aku ... hanya teringat saja sama Ibu dan Adik. Semenjak kepergian ayah kemarin mereka berdua sangat merindukan Ayah.
Valen hanya mengangguk-anggukan kepalanya, dengan tatapan penuh selubung. "Suatu saat ayahmu akan keluar dari persembunyiannya."
Selena tertegun, dengan kata-kata Valen yang seolah tahu dan sudah memperkirakan. "Aku hanya takut saja, jika Ayah akan tertangkap sebelum waktunya."
Valen melihat ke arah Selena sambil menyedot cerutunya dan mengepulkan bulatan asap di udara. "Ayahmu bukan orang bodoh Selen."
Tanpa terasa mobil sudah sampai di depan pintu utama rumah besarnya. Valen mematikan mesin mobil, suasana hening hanya bunyi jam yang berdentum di dasbor, pria itu tidak langsung turun, matanya menoleh ke arah gadis yang saat ini tengah membuang pandangan ke arah jendela mobil.
Matanya berembun seolah menahan sesuatu yang selama ini ia hadapi sendiri, dan selalu berusaha untuk menutupinya.
"Selena...!" Suara Valen menyadarkan lamunannya.
Selena terperanjat, tangannya segera menyeka air mata yang akan jatuh membasahi pipi. "Enggak ... ada apa-apa Don."
"Kau selalu memendam masalah sendirian seolah aku tidak pernah ada untukmu di sini." Tangan Valen langsung terulur membingkai wajah gadis itu, menyeka kembali bekas air mata yang tadi di seka oleh tangan Selena.
Selena terdiam sejenak, kata-kata itu terdengar sederhana akan tetapi mampu merobek dinding yang selama ini ia pertahankan. "Aku takut Don ..." bisiknya lirih. "Aku takut jika harus menggantungkan semua masalahku kepadamu, karena jika kau tak ada, aku tidak sanggup berdiri sendiri," akui Selena dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
"Shuuuut, jangan pernah berkata seperti itu, aku akan selalu ada untukmu, bagiku kamu bukan hanya gadis tawananku saja, namun semenjak pertama kali kita bertemu, dari sejak itulah hati ini mulai terpaut, kau milikku Selena," ucap Valen mempertegas, meskipun ia belum berani untuk mengatakan hal yang paling dalam.
Selena hanya terdiam, setiap kata yang keluar dari mulut Valen bagaikan siraman rohani, namun versi tegas dan dingin. "Aku juga tidak tahu angin apa yang menghantarkan aku padamu, tapi yang jelas semenjak aku bersamamu, aku mulai berani menghadapi dunia, dan tahu semua tentang apa yang selama ini belum aku ketahui."
Valen menahan napas, menatapnya lama. Ada ketegangan di sana, antara ingin menarik Selena ke dalam pelukan, dan kesadarannya bahwa gadis itu rapuh namun berusaha untuk tegar. Perlahan ia mendekat, jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa senti saja.
"Aku tidak akan membiarkanmu jatuh Selena ," nadanya dalam nyaris seperti sumpah. "Kalau kau takut kehilangan ... maka biarkanlah aku yang akan mencarimu, bahkan sampai ujung dunia pun aku bisa menemukanmu."
Selena terpejam sesaat, merasakan hangat napas Valen begitu dekat. Ada getaran aneh yang menjalari tubuhnya, percampuran antara rindu, takut, kehilangan dan keinginan untuk menyerah pada rasa yang selama ini ia tahan.
Namun di balik kelembutan itu, ada juga ketegangan. Karena keduanya tahu, hubungan mereka tidak semestinya mudah. Ada masa lalu, ada rahasia, ada jalan berbahaya yang membuat kebersamaan terasa seperti pisau bermata dua.
Selena akhirnya membuka mata, tatapannya sendu, menatap ke arah Valen. "Jangan pernah bohongi aku Don, karena itu satu-satunya hal yang tidak bisa aku maafkan.
Valen tersenyum tipis meskipun di dalam senyum itu ada luka yang harus ia sembunyikan. "Aku lebih baik mati berlumur darah, dari pada harus mengkhianatimu," ucap Valen.
Setelah berkata seperti itu, Valen langsung menarik tubuh Selena membawa tubuh gadis itu ke dalam dekapannya, malam ini di dalam ruangan mobil yang cukup sempit, Selena merasa kenyamanan dan kehangatan di balik dekapan itu.
Bersambung ....
Selamat siang semua suka ya kak.
my queen
queen mafia pantang mundur,dan satu tidak ada kata maaf