Karena suatu tragedi buruk membuat Hara Ayunda Nugraha seorang gadis yatim piatu harus kehilangan kesuciannya. Hara tak tahu siapakah pria yang telah menodainya itu karena malam sudah gelap.
Albert Hito Radjasa cucu tunggal dari keluarga Radjasa dengan terpaksa harus menikahi Hara gadis yang telah ternodai itu karena keinginan dari kakeknya William Hito Radjasa.
Albert atau yang akrab disapa Al itu merasa tak sudi jika harus menikahi Hara karena ia merasa harus bertanggung jawab pada gadis yang tanpa sengaja telah ia nodai, Albert tak ingat siapakah gadis itu. Hingga suatu kebenaran telah terungkap bahwa Hara lah ternyata gadis yang telah ia nodai.
Namun sayang, semua kebenarannya seolah tiada berguna karena Hara telah lebih dulu pergi dengan membawa serta kedua malaikat kecil yang ada di rahimnya.
Akankah Albert bisa menemukan istri dan juga anak-anaknya?.
❤❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayuk Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pandai Bersandiwara
Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
Lewat dari tiga puluh menit yang lalu azan subuh telah berkumandang. Keadaan di area perumahan di rumah ini nampak sepi.
Setelah satu hari kembali tinggal di tanah kelahirannya, Haikal mencari tahu di mana rumah kedua orang tuanya berada. Ternyata kedua orang tuanya tinggal di rumah yang minimalis seperti ini, rumahnya yang dulu telah lama ditinggalkan.
Dan kini, di waktu yang masih subuh seperti ini, Haikal dengan ditemani oleh pamannya Hasim ingin menemui keluarganya.
Hasim yang melihat bagaimana penampilan rumah adiknya merasa sangat sedih, bagaimana bisa adiknya Dila hidup di tempat seperti ini.
" Coba ketuk pintunya, pasti mereka sudah bangun. " ujar Hasim karena Haikal terlihat seperti gugup.
" Huft... " Haikal merasa sudah dag dig dug, lima belas tahun itu bukanlah waktu yang sebentar.
Tok... tok... tok...
" Assalamualaikum. "
Tok... tok... tok...
Sebenarnya ini adalah waktu yang mungkin kurang etis jika seseorang datang bertamu, bisa saja orangnya memang masih beristirahat.
Tok... tok... tok...
" Assalamualaikum. "
Namun ketukan pintunya masih belum direspon juga.
" Paman, sepertinya bapak dan ibu masih tidur, kalau mereka bangun pasti pintu ini sudah dibuka. " Haikal tahu kebiasaan kedua orang tuanya.
" Ini masih subuh, mungkin kita terlalu awal bertamunya. " dan Hasim mencoba melirik ke area sekitar.
" Maaf ini, sedang cari siapa ya?. " seorang ibu - ibu dari rumah sebelah datang menghampiri Hasim dan Haikal.
" Oh maaf, kami datang kemari untuk menemui pemilik rumah ini, maksudnya kami datang kemari karena ingin bertemu bapak Hakim dan ibu Dila. " tutur Haikal yang ingin bertemu dengan kedua orang tuanya.
Ibu tetangga ini tak langsung menyahut, ia jadi berpikir apakah dua pria ini tak tahu jika Hakim dan Dila sudah tiada, pasti mereka adalah keluarganya Hara.
" Maaf ini buat masnya dan bapaknya, bapak Hakim dan ibu Dila sudah berpulang, mereka sudah meninggal. "
Deg...
" Anda berdua siapanya kedua almarhum?. "
Haikal dan pamannya sangat terkejut, meninggal, yang benar saja sudah meninggal.
" Ibu tidak salah orang kan?, bapak Hakim dan bu Dila sudah meninggal?, mereka punya anak perempuan namanya Hara. " Haikal merasa sepertinya ibu ini salah orang.
" Iya benar, bapak Hakim dan bu Dila sudah meninggal, mereka punya anak gadis yang namanya Hara, mereka meninggal masih belum ada enam bulan. "
Ibu tetangga ini menceritakan dengan lebih jelas supaya Haikal dan Hasim percaya jika kedua orang yang ingin mereka temui sudah tiada.
Tidak, Haikal tak percaya hal ini, jadi bapak dan ibunya sudah tiada. Sedangkan Hasim sudah merasa lemas, pria yang sudah berkepala enam itu tak percaya jika adiknya sudah tiada.
" Bapak Hakim dan ibu Dila tetangga baik saya, mereka meninggal karena kecelakaan, waktu itu Hara masih ada di rumah ini, tapi sekarang saya tidak tahu dia ke mana. " tutur sang ibu tetangga untuk memperjelas kepergian kedua orang tua Hara.
Bagai dihujam ribuan belati yang mematikan, itulah yang dirasakan oleh Haikal dan juga Hasim.
Jadi kedua orang tuanya telah meninggal, mereka sudah tiada. Haikal yang mengetahuinya merasa sangat terluka, bahkan rasanya ingin menangis.
Haikal sangat terpukul, disaat dirinya telah kembali ke tanah air, mengapa malah kabar seperti ini yang dirinya dapatkan.
Sementara Hasim jadi terdiam seperti patung, pria yang sudah berkepala enam itu tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.
" Sebenarnya kalian ini siapanya bapak Hakim dan ibu Dila?, setahu saya mereka... "
" Antarkan saya pada makam mereka, saya mohon bu. " Haikal ingin pergi ke makam kedua orang tuanya.
" Baiklah, akan saya antarkan. " ibu tetangga itu mengiyakan saja permintaan Haikal.
*****
Kriett...
Pintu kamar itu telah terbuka dengan penghuninya yang mulai keluar, nampaklah Hara dengan penampilannya yang begitu sangat segar.
Pagi - pagi sekali masih belum pukul enam Hara sudah sangat rapi, gadis muda yang baru semalam jadi istri Albert itu mendapat perintah jika pagi ini harus sarapan bersama.
" Tapi di mana ruangan makannya?. " Hara bingung.
Namun di sela kebingungannya nampaklah Albert yang tiba-tiba sudah berjalan dari arah ruang barat.
Sungguh Hara sangat terpanah dibuatnya, tuan Albert terlihat begitu sangat tampan, hanya dengan mengenakan kaos oblong berwarna hitam dengan setelan bawahannya berupa jeans selutut benar-benar membuat penampilan tuan Albert terlihat sangat maskulin.
" Apa yang kamu lihat?. " gumam Albert lalu pria itu meraih tangan mungil Hara.
" Tuan. " Hara jadi sedikit tersentak.
Dengan tanpa basa basi, Albert menggandeng sang istri Hara untuk menuju ke lantai dasar, pria blasteran yang tak banyak bicara itu ingin menunjukkan pada kakeknya bahwa ia dan istrinya sangatlah baik.
" Benarkah ini, tuan Albert menggandengku?. " Hara masih tak percaya hal ini.
Dengan digandeng oleh Albert, Hara hanya sedikit melirik pada suaminya.
" Padahal semalam tuan Albert terlihat sangat kesal padaku. " Hara tak mengerti dengan sikap suaminya.
" Dan... semalam dia tidur di mana?. " Hara masih tak tahu secara keseluruhan seluk beluk rumah besar ini.
Dengan perlahan Albert dan Hara menuruni anak tangga. Sebenarnya Albert sangat malas yang harus bersikap baik pada Hara, jika bukan demi kakeknya tak akan dirinya melakukan hal murahan seperti ini.
Hara melihat kakek William, kakek mertuanya tersenyum padanya.
Tanpa memberikan sambutan apapun Albert langsung duduk di kursi makan miliknya.
" Kenapa kamu masih berdiri?, ayo duduklah nak. " ujar William karena sepertinya Hara masih malu.
" Pagi kek. " hanya dua kata itu yang Hara sampaikan dan gadis itu pun mulai duduk di kursi pilihannya.
Pagi - pagi di meja makan ini sudah disuguhkan dengan berbagai macam makanan yang bisa dipastikan semuanya terasa enak.
Selain makanan, Hara juga melihat empat orang suster yang berdiri, mereka seperti orang yang siap melayani jika majikannya membutuhkan sesuatu.
" Kenapa semalam kalian tidak tidur sekamar?. " masih belum sarapan dimulai, William sudah menanyakan hal itu.
Hara tak menyahut, dari mana kakek mertuanya tahu jika cucunya tak tidur sekamar.
" Ini masih pagi kek, aku lapar, aku mau makan. " Albert merasa malas yang harus membahas hubungan rumah tangga disaat masih pagi seperti ini.
Dan lagi, sikap semacam ini yang Albert tunjukkan. Hara tak mengerti mengapa tuannya cepat berubah mood.
" Kamunya saja yang bodoh Hara, dari awal tuan Albert menikahimu memang karena terpaksa, tapi anehnya dia sangat memaksa agar kamu jadi istrinya. "
Miris memang, tapi memang seperti ini keadaannya, dan keadaan ini juga tak bisa Hara tolak, hanya satu penyebabnya yaitu ancaman.
" Hara, kenapa kamu hanya diam nak?, ayo makan makanannya. " ujar William karena menantunya hanya diam.
Hara mengangguk, bahkan tuan Albert yang suaminya sendiri tak menawari istrinya untuk makan. Sampai saat ini Hara tak mengerti mengapa kakek William begitu sangat baik dan ingin agar dirinya menjadi istri dari cucunya.
" Dasar gadis bermuka dua, pantas saja kakekku tertipu olehnya, rupanya kamu memang pandai bersandiwara. " terbakar oleh api kebencian, begitulah pandangan Albert pada Hara.
Bagi Albert Hara adalah gadis yang pandai menunjukkan sikap polos untuk mengelabui mangsanya. Mungkin ini masih awal, namun setelah ini akan dipastikan jika hidup Hara akan benar-benar menderita.
*****
Hatinya begitu sangat hancur sehancur hancurnya. Air matanya bercucuran deras seolah menggambarkan bagaimana terlukanya hatinya.
Lima belas tahun lamanya tak bertemu dengan kedua orang tuanya, kini setelah kembali dua sosok yang ingin ditemuinya telah dikubur dengan batu nisan mereka yang terukir dengan sangat rapi.
" Maafkan Haikal bu... " Haikal hanya bisa menangis di dekat makam ibunya.
Ingin sekali Haikal memeluk ibunya, tapi bagaimana, ibunya sudah tiada, andai saja dirinya mau memberontak dan pergi, pasti masih ada kesempatan untuk kembali dan hidup bersama mereka. Namun nasi sudah menjadi bubur, orang tuanya sudah pergi untuk selamanya, dan kesempatan itu tak akan pernah ada.
Hasim pria tua itu sudah terdiam, awalnya ia menangis, tapi entah apa yang terjadi Hasim menjadi diam saja dengan tatapannya yang tetap tertuju pada makam adiknya.
" Yang sabar ya nak, doakan semoga bapak dan ibumu ditempatkan di tempat yang tenang. " bu Suri sang ibu tetangga merasa sangat kasihan pada Haikal.
Lalu Haikal melihat pada tetangga orang tuanya itu.
" Bu, ibu benar tidak tahu di mana keberadaan Hara?. " tanya Haikal.
" Ibu tidak tahu nak, semenjak lulus dari SMA Hara sudah pergi dari rumahnya, entah pergi ke mana anak itu. " sahut bu Suri yang kembali menjelaskan.
Haikal sangat terpukul, orang tuanya sudah tiada adik satu-satunya juga sudah pergi entah ke mana.
" Kakak janji akan mencari dan menemukanmu Hara. "
Haikal tak tahu bagaimana nasib adik perempuannya, apakah dia sedang bekerja di luar kota, atau bagaimana, Haikal tak tahu itu, namun yang pasti Haikal akan mencari adiknya sampai ditemukan.
" Tenang saja nak, kalau suatu hari nanti Hara kembali ke rumahnya, ibu akan menghubungi kamu. " begitulah ujar ibu Suri dan tentu ucapannya ini bisa memberikan harapan pada Haikal.
" Iya bu, tolong hubungi saya ya. " besar harapan Haikal yang sangat ingin bertemu dengan adiknya.
Haikal tak tahu bagaimana wajah adiknya saat ini, terakhir kali dilihatnya Hara masih balita yang sangat menggemaskan.
" Akh... akh... "
Brukh...
Deg...
" Astaga... "
" Paman... "
" Ya Tuhan, kenapa anda pak?. " teriak bu Suri.
" Paman... "
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba Hasim merasa kesakitan lalu ambruk di samping makam adiknya.
" Akh... ya Tuhan... " Hasim memegangi dada kirinya yang sangat kesakitan itu.
" Kita ke rumah sakit sekarang. " Haikal menyadari jika sudah ada yang salah pada pamannya.
Hasim meringis kesakitan dengan mencengkram kuat dada kirinya. Karena sangat terpukul atas kepergian sang adik membuat Hasim tak mampu menahan kesedihan di hatinya sehingga membuatnya ambruk seperti ini. Perginya Dila membuat batin Hasim sangat terpukul dan ia tak mampu menahannya.
" Bertahanlah paman. " dengan perlahan Haikal mencoba menegakkan tubuh pamannya.
Dengan dibantu oleh bu Suri, Haikal mencoba menuntun pamannya. Haikal menduga pamannya sampai seperti ini karena mengalami shock berat.
Bersambung..........
❤❤❤❤❤
Terima kasih. 🙏❤