Apa?!! Menikahi Musuhku? Apa itu mungkin?... Namaku adalah Demian Wulfric, yaitu raja dari kerajaan Endom, kerajaan terkuat di belahan bumi Eropa. Aku disebut sebagai raja dari kayangan, karena parasku yang sangat rupawan dan sifatku yang sangat dingin.
Selama hidupku, aku menanggung amarah yang amat dalam kepada musuh yang telah membunuh orang tuaku dan memporak-porandakan rakyat serta kerajaanku.
Namun, takdir berkata lain, aku terpaksa harus menikahi putri dari musuhku, yaitu putri dari kerajaan Alamore yang bernama Putri Aurora Delacour. Ia adalah putri yang sangat cantik jelita yang memiliki 'Mutiara Abadi' di dalam tubuhnya. Mutiara yang membuatku sangat bergantung kepadanya dan aku harus menahan rasa cinta yang mendalam kepadanya, hanya karena masa lalu yang sangat menyakitkan di antara kami.
Bagaimana kisah perjalanan cinta kami selanjutnya? Jangan lewatkan kisah kami ya...
Jangan lupa like, komen & dukung cerita ini dengan 5 Vote yaah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ekouchi Aya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Danau Kecil
Malam telah tiba, semua anggota kerajaan dan tamu dari Tamir telah berkumpul di ruang makan. Sederetan makanan maupun minuman khas kerajaan Endom telah siap tersaji di atas meja makan. Kami pun makan bersama sambil berbincang-bincang.
"Yang Mulia, terimakasih atas semua hidangan yang sangat nikmat ini," tutur Raja Eric memulai obrolan kami.
"Kami merasa terhormat bisa menjamu keluarga Tamir dengan sebaik mungkin," timpalku dengan tersenyum.
"Kerajaan kita telah bersahabat dengan baik semenjak mendiang Raja Endom masih hidup. Oleh karena itu, jangan sungkan bila ada sesuatu yang Anda butuhkan Yang Mulia," kata paman yang duduk di sebelahku.
"Karena Anda membicarakan mendiang Raja Endom, saya jadi teringat kesepakatan kami dua puluh lima tahun yang lalu, ketika Ratu Endom dan saya sama-sama dalam keadaan hamil." Ratu Hanna mulai membahas masa lalu.
"Iya, betul Yang Mulia, kedatangan kami kemari pun tak lain, untuk menyampaikan niat baik ini, supaya kami tidak merasa bersalah kepada mendiang orang tua Anda," jelas Raja Eric mulai membahas perjodohan.
"Niat baik? " tanyaku mencoba menebak nebak.
"Iya Yang Mulia, kami ingin menepati janji kepada kerajaan Endom untuk menyerahkan putri kami sebagai calon pendamping Anda dalam memimpin kerajaan Endom," kata Raja Eric berterus terang.
Dalam perbincangan itu Aurora dan Pangeran Brian pun juga hadir. Mereka hanya diam tanpa kata mendengar apa yang dikatakan oleh Raja Tamir.
"Sebenarnya, saya tidak tahu secara benar bagaimana perjanjian itu dan kapan perjanjian itu berlangsung. Tapi, untuk saat ini, saya masih ingin melatih diri saya untuk menjadi raja yang lebih baik. Oleh sebab itu, saya belum berkenan untuk melaksanan pernikahan atau sejenisnya," jelasku kepada mereka.
"Tentu Yang Mulia, Anda adalah raja muda terbaik di daratan ini. Jadi, mohon Anda pertimbangkan maksud baik kami dan keinginan orang tua Anda, Yang Mulia," kata Raja Eric mendesakku dengan cara halus.
"Mungkin, saya dan Raja Demian akan membahasnya lebih lanjut nanti. Anda tidak perlu khawatir Yang Mulia," sela paman menyelamatkanku.
Dalam acara makan malam itu, Ratu Tamir sangat kagum kepada sosok Aurora yang begitu cantik, sehingga ia hendak berkeinginan untuk menjadikan Aurora sebagai menantunya nanti.
"Nona Aurora," panggil Ratu Hanna tiba-tiba.
"Iya, Yang Mulia," jawab Aurora sedikit terkejut.
"Saya dengar, Dania merepotkan Anda tadi siang," ucap Ratu Hanna dengan lembut.
"Tidak sama dekali, Yang Mulia. Saya senang bisa mengajaknya berkeliling istana," kata Aurora sedikit malu.
"Ibu, Aurora bukankah sangat cantik? Jika kakak bertemu dengannya, pasti langsung jatuh hati?" kata Putri Dania yang sedang membahas kakaknya yang saat itu tidak ikut serta dalam kunjungan.
"Apa Anda memiliki putra?" tanyaku kepada Raja Eric sontak setelah mendengar Putri Dania membahas peri hal kakaknya.
"Iya Yang Mulia. Pangeran Leo, Dia masih sibuk dengan urusan kerajaan kami, sehingga dia tidak bisa ikut serta berkunjung ke sini. Mohon maafkan kami," jelas Raja Eric.
"Oh, tidak masalah. Mungkin dilain kesempatan kita bisa bertemu," terangku pada Raja Eric.
"Mungkin, lain kali Anda perlu berkunjung ke kerajaan kami, Nona Aurora" sahut Raja Tamir meminta Aurora untuk berkunjung ke kerajaannya.
"Pasti Pangeran Leo akan senang jika kerajaan kita kedatangan tamu yang cantik seperti Nona Aurora," terang Ratu Hanna sangat berharap.
"Semua lelaki yang melihatnya bisa dipastikan langsung jatuh hati, benarkan?" kata Pangeran Brian yang membuat suasana makan bersama menjadi penuh tawa.
"Tunggu, apa kau juga jatuh hati dengannya?" tanya paman yang berniat bercanda.
"Ayah ingin tahu jawabannya?" sahut Pangeran Brian dengan senyuman tipis di wajahnya.
"Tapi, Aurora mempunyai kriteria lelaki yang sangat tinggi. Benarkan, Aurora?" tanya Putri Dania membuat Aurora salah tingkah.
"Saya yakin, siapapun yang akan menjadi pasangan hidup Anda nantinys, pasti dia akan menjadi lelaki yang sangat beruntung di dunia ini," kata Ratu Hanna sambil tersenyum kepada Aurora.
Pada saat itu aku dan Aurora saling menatap satu sama lain, seakan kami enggan meneruskan perbincangan semacam ini.
Aku hanya mendengarkan semua yang mereka bahas mengenai Aurora dan sesekali aku menatap wajah Aurora yang memang sangat membuat lelaki tergoda dan jatuh hati.
"Aurora, memanglah wanita yang sangat cantik sekali. Matanya, hidungnya, bibirnya, semua sangat indah," kataku dalam hati.
"Apa yang telah aku pikirkan?" Aku mulai tersadar dari lamunanku.
Aku tak ingin membahas apa pun kali ini, aku hanya ingin menyudahi acara makan malam dan kembali ke kamarku untuk beristirahat.
* * * * *
Keesokan harinya, pagi hari yang begitu cerah, cuaca sangat mendukung untuk berjalan jalan menghirup udara segar. Aurora dan Mia menghabiskan waktu pagi untuk menikmati indahnya danau kecil yang berada di ujung istana dekat paviliunnya.
Pagi itu udara begitu sejuk. Terdengar suara kicauan burung serta indahnya warna biru air danau yang siapa saja melihatnya ingin segera merasakan kesegaran air jernihnya.
"Uwah! rasanya aku ingin berenang di danau ini!" seru Aurora sangat bersemangat sekali.
"Iya Tuan Putri. Dulu, Alamore juga punya danau yang sangat indah bukan? Anda pun sering berenang di danau itu dengan kakak Anda, Raja Stiven," kata-kata Mia membuat Aurora mulai bersedih.
"Kau benar," sahut Aurora yang kala itu semangatnya berubah menjadi kesedihan.
"Maafkan saya Putri. Saya tidak bermaksud ingin membuat Anda sedih," ucap Mia merasa menyesal.
"Kadang aku sangat marah ketika aku tahu mereka telah membunuh semua keluargaku. Tapi, aku tak tahu pasti apa yang telah menimpa kerajaan Endom dua puluh lima tahun yang lalu," terang Aurora sambil menikmati indahnya danau yang indah itu.
Tiba tiba...
"Aurora, kau di sini?" sapa Putri Dania yang juga ingin melihat danau tersebut.
Ekspresi Aurora berubah ketika melihatku bersama Putri Dania sedang menghampirinya.
Pada saat itu, Putri Dania memintaku untuk mengajaknya ke danau kerajaan. Sehingga, aku pun menuruti kemauannya dan mengantarnya ke danau kecil itu.
"Tuan Putri," panggil Aurora dengan lirih.
"Kau juga sering kemari?" tanya Putri Dania.
"Tidak juga. Hanya beberapa kali saja," jelas Aurora, "selamat pagi Yang Mulia," sapa Aurora padaku. Aku hanya diam tak membalas sapaannya.
"Raja Demian bersedia mengantarku kemari untuk melihat danau ini," terang Putri Dania yang tiba-tiba merangkul lengan kananku.
Aurora melihat gerakan tangan Dania yang menggandeng lenganku dengan penuh makna.
"Bukankah kau ingin menaiki perahu?" tanyaku pada Putri Dania sambil berusaha melepaskan tangannya.
"Iya Yang Mulia, tapi saya ingin menaikinya bersama Anda," kata Putri Dania sedikit manja padaku.
"Menaiki perahu di sini sangat menyenangkan putri. Saya sudah berkali kali mencobanya," kata Aurora menunjukkan raut wajah yang meyakinkan.
"Benarkah? Yang Mulia, ayo temani saya naik perahu! apa Anda berkenan?" tanya Putri Dania kepadaku.
Aku pun tak bisa menolak ajakannya. Karena bagaimana pun, Putri Dania adalah tamu kerajaanku.
"Baik, silahkan," jawabku menyanggupi permintaan itu.
"Kalau begitu, saya pergi dulu Tuan Putri," kata Aurora hendak meninggalkan kami.
"Tunggu, bagaimana kalau kau juga ikut dengan kami menaiki perahu?" ajak Putri Dania kepada Aurora.
"Oh, sebaiknya tidak perlu," Aurora menolaknya.
"Ayolah," kata Putri Dania menarik tangan Aurora.
Alhasil, kami bertiga menaiki perahu yang ukurannya lumayan besar itu. Aku memegang kedua dayung sambil mengendalikan arah perahu.
"Wah, air nya jernih sekali!" sahut Putri Dania berdiri di ujung perahu bagian depan.
"Hati-hati Tuan Putri," kata Aurora memperingatkan Putri Dania karena posisinya yang menghawatirkan.
Tak disangka, kalung simbol kerajaan milik Putri Dania tak sengaja terlepas dan masuk ke dalam danau.
PLUNG !!
"Oh tidak!!" teriak Putri Dania.
"Ada apa Putri?" tanya Aurora terkaget.
"Kalungku terjatuh ke dalam air," jelas Putri Dania.
"Apa yang terjadi?" Aku berjalan perlahan mendekati mereka berdiri.
"Kalung simbol kerajaan saya terjatuh," kata Dania sangat panik.
Disaat itu Aurora memperhatikan air danau untuk melihat bayangan benda yang jatuh.
Dan tiba-tiba ...
"BBYYURRR..." Aurora melompat ke dalam air dan mencoba mengambil kalung yang bersimbol burung rajawali itu.
"Aurora....!" teriakku terkejut dan khawatir padanya.
"Aurora, kenapa kau melompat?" teriak Putri Dania.
"Bodoh," kataku sedikit kesal dan aku pun langsung melompat ke dalam air hendak menyelamatkan Aurora.
Tak lama kemudian aku berhasil membawa Aurora ke permukaan air.
"Kau gila?!!!" teriakku dengan wajah penuh air.
"Saya sudah mendapatkan kembali kalungnya," kata Aurora dengan nafas masih tersengal-sengal.
Aku menatap wajah Aurora dengan perasaan khawatir dan penuh kemarahan. Kemudian kami pun keluar dari danau itu.
"Terima kasih Aurora. Kau tak seharusnya melakukan hal yang berbahaya seperti itu," tutur Putri Dania merasa tak enak.
"Tidak masalah bagiku. Kalung ini sangat penting buat Anda," kata-kata Aurora yang membuatku sangat ingin memarahinya.
"Kemarilah!" Kutarik pergelangan tangan Aurora dan kupegang kedua lengannya.
"Kau sadar apa yang kau lakukan sangat berbahaya? Kenapa kau seceroboh ini? Kau masuk ke dalam air hanya demi ingin mengambil sebuah kalung. Apa kau sungguh kehilangan otak, mmhh?!" Amarahku meluap pada Aurora.
"Ada apa dengan Anda? itu hanya sebuah danau. Saya pun bisa berenang," jelas Aurora dengan enteng.
"Kau ..., kau tahu? gara-gara kau, aku ikut basah seperti ini," ujarku menahan emosi.
"Saya tidak menyuruh Anda untuk menolong saya, kan?" sahut Aurora membuatku sangat sangat marah.
"Apa? kau benar benar ... ahh sudahlah!" sesalku tak meneruskan perdebatan itu.
"Kenapa marah-marah?" kata Aurora bergumam kecil.
"Kau! cepat ganti bajumu sebelum terkena flu!" perintahku sambil menghentikan langkahku sejenak dan kemudian kembali ke kamar.
BERSAMBUNG...
seorang raja ko sifatnya seperti itu menyebalkan