Menceritakan tentang kehidupan seorang gadis yatim piatu yang mengalami masa-masa sulit dalam kehidupannya.
Semua bermula sejak kematian kakeknya yang tewas terbunuh saat dia masih kecil, hingga dirinya yang dijual dan dijadikan sebagai gadis penghibur di sebuah rumah bordil ternama yang mengubahnya menjadi salah seorang wanita penghibur yang menjadi favorit para bangsawan dan pejabat istana.
Hingga suatu saat, dia harus memutuskan untuk masuk ke lingkungan istana karena kematian kekasihnya yang ternyata dalang dari seseorang yang tinggal di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon embun_senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18
Di dalam kamar, Mei Yin duduk di depan sebuah cermin besar yang ada di atas mejanya. Perlahan, dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dan segera membukanya.
Mei Yin memandang isi dalam kotak itu dan segera mengambilnya. Sepasang anting yang baru diambilnya itu kemudian dipakainya. Begitupun dengan sebuah tusuk konde berwarna emas yang ditusukkan di ikatan rambutnya. Perlahan, gadis itu menitikkan air mata.
Dia memandangi wajahnya di depan cermin dan tersenyum pada dirinya sendiri. Dia kembali teringat dengan Lian hingga membuat senyumannya itu memudar dan berganti menjadi sebuah tangisan.
Semua kenangannya bersama Lian tidak bisa dia lupakan begitu saja. Sekuat apapun dia mencoba, tapi wajah Lian selalu bermain diingatannya. Dia tidak bisa lagi merasakan cinta pada lelaki manapun, karena cintanya telah terkubur bersama jasad orang yang sangat disayanginya itu.
"Lian, aku merindukanmu," ucapnya lirih.
Sudah lima purnama Mei Yin tinggal di rumah Jenderal Chang Yi dan dia belum sekalipun mengunjungi makam Lian. Hari ini, dia berniat untuk pergi ke padang bunga itu.
"Ibu angkat, aku mohon izin untuk keluar sebentar," ucap Mei Yin yang mencoba meminta izin pada ibu angkatnya itu.
"Pergilah, tapi jangan lama-lama karena nanti kalau ayahmu pulang, dia pasti akan menanyakanmu."
"Baiklah, Ibu. Aku pergi dulu."
Mei Yin kemudian pergi dengan menunggangi kuda. Walau dia belum terlalu mahir, tapi dia sudah terbiasa, karena dulu Lian selalu mengajaknya keluar dan menunggangi kuda bersamanya.
Setibanya di padang bunga, Mei Yin kemudian mengikat kudanya dan mulai berjalan menyusuri padang bunga yang terlihat bagaikan kumpulan awan putih.
Bunga-bunga itu tidak pernah berhenti berbunga sejak Lian di makamkan di tempat itu. Bunga-bunga itu seakan ingin mengharumkan tempat itu dengan aromanya yang memikat.
Mei Yin mulai mempercepat langkahnya. Dia seakan tidak sabar ingin bertemu dengan kekasihnya itu. Hingga akhirnya, langkahnya terhenti di sebuah gundukan tanah yang di tumbuhi pohon sakura yang sudah mulai meninggi.
"Lian, apa kamu rindu padaku?" tanya Mei Yin sambil duduk di dekat gundukan tanah itu. Perlahan, terdengar embusan angin yang membawa bunga-bunga berwarna putih itu berterbangan dan jatuh di atas kepalanya.
Mei Yin tersenyum dan mengambil salah satu bunga yang jatuh di atas tangannya. "Aku juga rindu padamu. Kamu tidak perlu khawatir lagi, beristirahatlah karena aku sekarang sudah tinggal bersama paman yang pernah menolongku dulu, kamu ingat, kan?"
Mei Yin menatap gundukan tanah itu. "Kamu lihat, aku memakai anting dan tusuk konde yang kamu belikan untukku, kamu suka, kan?" ucapnya dengan senyum walau air matanya mulai jatuh.
Mei Yin kemudian berdiri dan memandangi gundukan tanah itu. "Aku akan menari untukmu," ucap Mei Yin dan dia pun mulai menari.
Tariannya terlihat begitu indah. Walau sudah tidak pernah menari lagi, tapi kelincahan dan keindahan tariannya tidak bisa ditandingkan dengan penari manapun.
Mei Yin masih menari dengan air mata yang terus mengalir. Dia seakan ingin memberikan tarian yang terindah untuk kekasihnya itu. Hingga semesta pun turut mengembuskan anginnya yang terasa begitu lembut dan membawa terbang bunga-bunga yang membuat tariannya terlihat semakin indah.
Sejak kematian Lian, Mei Yin tidak pernah menari lagi. Dia sudah bertekad untuk tidak menari di depan siapapun dan dia hanya akan menari di depan makam Lian.
Perlahan, embusan angin itu mulai menghilang seiring dengan tariannya yang mulai berhenti. Setelah merasa puas berada di tempat itu, Mei Yin kemudian memutuskan untuk kembali. Dilihatnya kembali makam kekasihnya itu seakan dia belum ingin pergi meninggalkan tempat itu.
"Aku harus pulang. Tunggu aku, aku pasti akan kembali lagi menemuimu dan menari untukmu."
Dengan berat hati, Mei Yin kemudian pergi meninggalkan kenangan yang tidak bisa dia lupakan.
*****
Di istana, Pangeran Zhao Li tengah bersiap-siap. Rupanya, dia akan pergi ke suatu tempat yang biasa dikunjunginya saat tubuhnya mulai terasa lelah, yaitu pemandian air panas khusus untuk para Raja.
Tempat itu tidak terlalu jauh dan masih berada di dalam kawasan istana, tapi Pangeran Zhao Li tidak pergi sendiri karena Nona Liu akan ikut bersamanya.
Di antara calon-calon permaisuri yang diajukan, hanya Nona Liu yang masih bertahan. Entah karena pengaruh ayahnya atau karena kecantikannya yang membuat calon-calon permaisuri lainnya mengundurkan diri tanpa sebab.
Pangeran Zhao Li tidak pernah pergi keluar sendirian karena Liang Yi pasti selalu ikut bersamanya. Dan Mei Yin juga diminta untuk ikut bersama mereka. "Kenapa aku harus ikut bersama kalian? Bukankah, tempat pemandian itu hanya untuk raja? Lagipula, wanita tidak boleh masuk kesana, kan?" tanya Mei Yin ketika Liang Yi mengajaknya untuk ikut.
"Terserah kamu mau bicara apa, yang pasti Pangeran Zhao Li ingin kamu ikut. Kamu tahu kan hukuman jika menolak perintah Raja?"
Mei Yin menatap Liang Yi dengan sorot matanya yang tajam, tapi Liang Yi membalasnya dengan senyuman. "Cepatlah, kita harus pergi," ucap Liang Yi sambil menarik tangannya dan menaikkannya ke atas punggung kuda.
"Liang Yi, jaga Huanran baik-baik," pesan ibunya saat Liang Yi sudah naik ke atas punggung kudanya.
Liang Yi kemudian mengangguk dan memacu kudanya meniggalkan ibunya dan Jiao Yi yang cemberut karena tidak diajak.
"Sudah, jangan menangis," bujuk Nyonya Yi pada Jiao Yi yang mulai merengek.
Selama perjalanan ke istana, Mei Yin hanya terdiam karena dia merasa kaku menunggangi kuda bersama seorang pria. Dia tidak pernah naik kuda dengan pria manapun kecuali bersama Lian.
"Kenapa? Apa kamu takut naik kuda?" tanya Liang Yi yang mencoba menggoda Mei Yin.
Mei Yin hanya terdiam. Dia tidak ingin menjawab pertanyaan Liang Yi karena dia masih kesal dengan pemuda itu.
"Aku tahu kamu sudah sering menunggangi kuda, karena kemarin aku melihatmu pergi menunggangi kuda. Memangnya, kemarin kamu pergi kemana?" tanya Liang Yi yang membaut Mei Yin tersentak kaget.
"Bukan urusanmu. Apa aku harus minta izin padamu kalau aku harus keluar?" tanya Mei Yin dengan kesal.
"Ya sudah, aku minta maaf, jangan cemberut lagi," ucap Liang Yi sambil memukul perut kuda dengan kedua kakinya agar kuda itu berlari lebih cepat.
Sesampainya di depan istana, Liang Yi kemudian menurunkan Mei Yin dari atas kudanya. Tak lama kemudian, Nona Liu datang dengan sebuah tandu yang terlihat sangat mewah dengan pengawalan beberapa orang prajurit yang terlihat sudah terlatih.
Mei Yin memandangi kedatangan gadis itu dan menundukkan kepalanya saat gadis itu melintas di depannya, tapi gadis yang terlihat sombong itu seakan tidak peduli padanya.
"Gadis sombong," dengus Mei Yin kesal.
"Diamlah, jangan mengatakan sesuatu yang bisa membuat gadis itu marah, karena dia pasti tidak akan mengampunimu dan ingat, dia adalah calon permaisuri yang harusnya kamu hormati," bisik Liang Yi yang membuat Mei Yin semakin kesal.
Tempat pemandian itu sangat luas dan terbagi menjadi dua bagian yang hanya terpisah dengan sebuah dinding beton yang tinggi.
"Huanran, kamu temani Nona Liu di ruangan sebelah dan Liang Yi akan bersamaku," ucap Pangeran Zhao Li dan pergi meninggalkan kedua gadis itu.
Sebelum pergi, Liang Yi sempat memandangi Mei Yin dan memberinya isyarat agar dia melayani gadis itu dengan baik, tapi Mei Yin tidak menggubrisnya dan memalingkan wajahnya ke tempat lain.
Nona Liu kemudian masuk ke pemandian itu dan Mei Yin mengikutinya dari belakang. Nona Liu lalu membuka bajunya dan hanya menggunakan baju dalamnya dan mulai masuk ke kolam air panas itu.
Mei Yin hanya berdiri di samping kolam air panas. Walau sebenarnya dia ingin berendam, tapi melihat wajah Nona Liu yang tanpa ekspresi membuat keinginannya itu dibuangnya jauh-jauh.
Sementara itu, Pangeran Zhao Li tengah asyik berendam dan menikmati air panas yang membuat tubuhnya yang kekar itu mulai memerah.
"Maksudmu apa dengan membawa Huanran ke sini? Apalagi kamu menyuruhnya untuk melayani Nona Liu, kamu tahu kan Nona Liu itu seperti apa?" tanya Liang Yi penasaran.
"Bukan apa-apa, aku hanya ingin menguji adikmu itu. Kalau dia berhasil melayani Nona Liu dengan baik, berarti dia pantas untuk berteman denganku," jawab Pangeran Zhao Li yang membuat Liang Yi heran pada sahabatnya itu.
Di kolam sebelah, Mei Yin mulai diperintah oleh gadis itu. Dari memijat punggungnya hingga kakinya. Di dalam hatinya, Mei Yin mengakui kecantikan gadis itu, tapi kecantikkannya itu tak sebanding dengan sifatnya yang sombong.
Walau diperintah melakukan hal-hal yang dia tidak suka, tapi Mei Yin tetap melaksanakan perintah gadis itu. Dia tidak ingin membuat gadis itu marah, karena dia bisa saja dihukum kalau sampai Pangeran Zhao Li kecewa padanya.
Tak lama kemudian, Nona Liu keluar dari kolam dan mengganti pakaiannya. Di kaki sebelah kirinya yang terlihat putih dan mulus itu, terlukis sebuah tato bergambar bunga mawar merah yang sempat dilihat oleh Mei Yin.
Setelah selesai berendam, mereka kemudian duduk di salah satu bangunan mewah yang ada di tempat itu. Walaupun Mei Yin tidak berendam, tapi wajahnya terlihat memerah dengan keringat yang menempel di dahinya.
Pangeran Zhao Li memandangi Mei Yin dan tertawa kecil karena wajahnya yang masih terlihat memerah. Sementara Mei Yin, berusaha untuk tidak mempedulikan tatapan mereka kepadanya.
"Huanran, apa kamu mau tinggal di istana dan menjadi pelayan pribadiku?" tanya Pangeran Zhao Li padanya hingga membuat Nona Liu memandangi Pangeran Zhao Li dengan heran.
"Maaf, Pangeran, aku tidak bisa menerima permintaan Pangeran, maafkan aku," ucapnya sambil menunduk.
Sesaat, wajah Pangeran Zhao Li terlihat marah, tapi kemudian Pangeran Zhao Li mulai tertawa. "Liang Yi, kalau setiap kamu datang menemuiku kamu juga harus membawa Huanran, aku suka cara dia menolakku," ucap Pangeran Zhao Li yang masih tertawa.
Liang Yi hanya bisa mengangguk tanpa bisa menolak peemintaan sahabatnya itu.
"Kalau kamu tidak mau tinggal di istana dan menjadi pelayanku, maka aku perintahkan kamu untuk melayaniku sementara kita ada di sini hingga kita keluar dari tempat ini. Apa kamu masih mau menolak perintahku ini?" tanya Pangeran Zhao Li dengan wajahnya yang terlihat serius.
Mei Yin menatap Pangeran Zhao Li heran, tapi kemudian dia menundukkan pandangannya kembali. "Baiklah, Pangeran, akan aku lakukan," ucap Mei Yin menunduk dan mengiyakan permintaan Pangeran.
Di depan Pangeran, Mei Yin mulai menuangkan arak ke dalam gelasnya dan duduk di samping Pangeran atas permintaan Pangeran sendiri. Sementara Nona Liu terlihat marah karena Mei Yin yang melayani Pangeran bukan dirinya.
Karena tidak mau kalah, Nona Liu kemudian bangkit dan berdiri di depan Pangeran Zhao Li. "Izinkan hamba menari untuk Pangeran," ucap Nona Liu sambil menundukkan wajahnya.
Pangeran Zhao Li kemudian mengizinkannya untuk menari. Dengan menutupi wajahnya, Nona Liu kemudian menari dengan diiringi petikan kecapi dari Liang Yi.
Pangeran Zhao Li hanya memandangi tarian gadis itu dengan biasa-biasa saja. Bahkan, dia merasa bosan dengan tarian gadis itu. Dari balik penutup wajahnya, Nona Liu mulai merasa kesal karena Pangeran Zhao Li hanya melihat tariannya dengan sikap biasa saja.
"Huanran, apa benar kamu tidak bisa menari?" tanya Pangeran Zhao Li tiba-tiba dan membuatnya terkejut.
Entah dia harus menjawab apa. Dia tidak mungkin mengatakan kalau dia tidak bisa menari, tapi dia juga tidak mungkin mengakui kalau dia bisa menari. Sungguh pertanyaan yang mudah, tapi sulit untuk dia jawab.
"Sudah tentu dia tidak bisa menari, dia kan hanya seorang anak angkat yang statusnya tidak jelas," ucap Nona Liu yang seakan kesal karena Pangeran mencoba mendekati gadis itu.
Mendengar Nona Liu berkata seperti itu membuat Liang Yi marah, tapi dia tidak bisa melakukan apapun, karena dia tidak mungkin marah pada calon permaisuri negeri ini.
"Benar, aku tidak bisa menari, karena itu mohon Pangeran sudi memaafkanku," ucap Mei Yin yang kemudian menundukkan kepalanya.
Pangeran Zhao Li tersenyum pada Mei Yin dan mengangkat gelasnya dan diarahkan kepada Mei Yin seakan menyuruh gadis itu untuk mengisi kembali gelasnya yang telah kosong.
"Aku suka dengan caramu. Kalau seperti ini, aku bisa saja menjadikanmu sebagai selirku," ucap Pangeran Zhao Li yang sepertinya sudah mulai mabuk. Mendengar perkataan Pangeran Zhao Li, Nona Liu kemudian bangkit dan meniggalkan mereka dengan wajah yang kesal.
"Zhao Li, kamu sudah mabuk. Sebaiknya kita harus bermalam di tempat ini," ucap Liang Yi.
Karena hari sudah hampir malam dan Pangeran Zhao Li yang sudah mulai mabuk, membuat mereka memutuskan untuk bermalam di tempat itu.
Apa Lian itu kekasih yg di sebut di prolog itu.... Yg mati krna orang istana??
bingung aku🤔🤔