Kisah dua sahabat yang dipertemukan kembali setelah sama-sama berpisah dari pasangan mereka masing-masing.
Gadis Ayudia Zahira tak pernah menyangka, pertemuan itu justru membawanya pada sebuah permintaan yang mengubah hidupnya. Demi memenuhi harapan terakhir ibu dari sahabatnya, Gadis terpaksa menerima pernikahan yang tak pernah ia rencanakan sebelumnya.
Dipertemukan kembali di usia yang tak lagi muda, dengan luka dan kecewa yang masih tersisa, mampukah mereka menumbuhkan benih-benih cinta di antara hubungan yang awalnya hanya sebatas sahabat?
Atau, mereka justru akan kembali berpisah seperti sebelumnya?
Yuk, ikuti kisah mereka!
Jangan lupa like dan komentar setelah membaca. Terima kasih 🖤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquarius97, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
POV ALAN
Gadis Ayudia Zahira setelah berpuluh tahun tidak bertemu, akhirnya Tuhan mempertemukan kita lagi.
Saat itu, awalnya aku ragu ketika akan menyapamu lebih dulu, takut jika itu hanya halusinasiku karena terlalu rindu denganmu.
Namun, tanpa kusangka ternyata itu benar-benar nyata dirimu.
Aku sempat tertegun melihatmu, karena Gadis yang ku kenal dulu adalah seorang gadis yang bar-bar dan terkesan tomboy, namun kini kulihat penampilanmu bisa berubah juga ya. Kamu telah berubah menjadi wanita dewasa yang anggun dan sungguh cantik.
Matamu yang bulat selalu tampak berbinar itu, selalu sangat aku rindukan.
Sungguh aku sangat merindukanmu dis, aku bersyukur bisa bertemu denganmu disini.
Namun, kenyataan segera menyadarkanku, ketika aku menanyakan keberadaan mu di rumah sakit waktu itu, ternyata kamu sedang menunggu putramu. Dan Aku pun teringat bahwa kamu sudah bahagia bersama keluarga kecilmu.
Begini saja rasanya aku sudah senang, telah diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bertemu denganmu dan juga putramu, dia sungguh tampan dis.
Setelah pertemuan itu tidak pernah kita berjumpa lagi, aku mengerti memang baiknya seperti ini.
Beberapa tahun ini entah mengapa Mami berhenti menjodoh-jodohkan aku dengan anak temannya lagi. Tepatnya setelah aku bertemu denganmu lagi. Tapi aku juga tidak terlalu memikirkannya, aku malah senang mungkin mami sudah capek karena aku selalu menolak wanita-wanita itu.
Sejujurnya setelah bercerai aku sudah tidak ingin untuk menikah lagi, aku sadar akan kekuranganku yang tidak bisa memberikan keturunan kepada mereka.
Dinda Violetta mantan istriku berselingkuh dengan rekan kerjaku karena aku tidak bisa memberikan keturunan padanya.
Dulu aku mengenalnya dari kakaknya. Beliau juga seorang Dokter yang bekerja di satu rumah sakit yang sama denganku.
Suatu waktu Dokter Ivan, kakak Dinda tiba-tiba bertanya apakah aku sudah memiliki kekasih? Ia juga mengatakan bahwa sang adik tertarik denganku.
Saat itu aku sadar, mungkin sudah saatnya aku membuka hatiku untuk wanita lain. Karena kamu pun telah menikah dan berbahagia dengan pilihanmu.
Ya, beberapa tahun telah berlalu, tapi aku masih belum bisa melupakanmu. Sangat, sangat sulit aku move on darimu. Menurutku, kamu itu spesial, berbeda dari kebanyakan wanita. Jadi, aku memang sulit melupakan sosokmu. Apalagi dengan kebersamaan kita selama ini, terlalu banyak kenangan yang sulit aku hapus dari ingatanku.
Setelah aku mengizinkan Dinda untuk lebih mengenalku Dinda menjadi sering berkunjung ke rumah sakit untuk menemuiku. Akhirnya aku luluh juga dan mengajaknya untuk menikah.
Sebelumnya aku juga telah memberitahukan tentang kekuranganku padanya, saat itu Dinda menerima dan mengatakan anak bukanlah segalanya.
Aku terharu mendengarnya, akhirnya kami pun menikah, dan aku mencoba untuk mencintainya sepenuh hatiku. Namun apa yang kudapatkan, pernikahan itu berjalan tidak lama karena Dinda mulai bosan denganku, karena aku sering meninggalkannya karena pekerjaanku.
Juga alasannya yang didesak oleh keluargamya untuk memiliki momongan.
Padahal di balik itu aku mengetahui perselingkuhannya.
Saat itu aku juga merasa heran kenapa aku tidak terlalu sakit hati saat mengetahui bahwa istriku berselingkuh, di saat patah hatipun yang kuingat hanya namamu, Gadis.
Ohh, tidak Alan ! Sadarlah Gadis sudah bahagia.
Aku juga bahagia kalau Gadis bahagia.
Bukankah Cinta tak harus memiliki?
**
Suatu waktu Mami meminta izin untuk pergi menemui cucunya di Jakarta.
Cucu yang mana??
Anaknya cuma aku kan, dan akupun tidak bisa memberikan nya cucu....
Mami tidak mau memberitahuku kecuali aku mau ikut dengannya.
Aku tentu tidak bisa karena disini pekerjaanku sedang repot-repot nya.
Pada akhirnya Mami tetap kekeh pergi, dia berjanji akan menjaga diri dan tidak lupa meminum obatnya.
Memang beberapa tahun ini kondisi mami tidak pernah drop lagi, ia seperti punya semangat baru tapi entah itu apa.
Seminggu disana tiba-tiba Mami menelfonku dan bertanya kapan aku siap untuk menikahi Gadis.
Aku sangat terkejut, sebelumnya tidak ada pembicaraan apapun, bahkan pertemuan terakhirku dengan Gadis sudah berlalu beberapa tahun di rumah sakit waktu itu.
Untuk meluruskannya semuanya, aku memutuskan untuk terbang langsung ke Jakarta.
Begitu bertemu dengan Gadis, aku sempat protes kenapa ia menyetujui permintaan konyol Mami dan akan mengorbankan rumah tangganya. Disitu aku salah faham, ternyata dia pun sudah bercerai lama.
Tapi aku belum bisa menerima, karena Gadis mungkin melakukannya karena Mami bukan karena mencintaiku, oleh karena itu aku tidak mau mempermainkan pernikahan.
Aku masih mengenal sifat Gadis yang tidak mudah untuk jatuh cinta.
Sama seperti sebelumnya aku selalu jujur akan kekuranganku, begitupun kepada Gadis.
Gadis pun berkata tidak mempermasalahkannya.
Akhirnya, demi mami aku dan Gadis setuju untuk menikah karena tiba-tiba kondisi mami sangat drop. Bahkan kami menikah di ruang perawatan Mami.
Rasanya seperti mimpi bisa menikah dengan Gadis. Namun apakah aku juga bisa memiliki Gadis seutuhnya ?
Aku bertemu dengan anak sambungku, Rendra. Melihatnya aku bisa merasakan kasih sayangnya tulus untukku. Aku juga heran kenapa dia mudah sekali menerimaku ? Tapi aku bersyukur ia menganggap ku seperti Daddy kandungnya.
Setelah menikah, Aku meninggalkan mami bersama Rendra, untuk menyusul istriku ke Jakarta. Setidaknya aku sedikit tenang meninggalkan mami bersama cucu kesayangannya. Aku bersyukur Rendra hadir di kehidupan kami, karena Rendra merupakan semangat baru untuk mami. Dan aku berharap ada keajaiban untuk kesembuhannya.
Aku sudah tidak sabar bertemu dengan istriku tercinta, namun aku kembali kecewa.
Karena begitu sudah bersama dan saat sedang berdua , Gadis begitu canggung denganku, berbeda dengan saat kami remaja dulu.
Bahkan ia menolak diriku. Apakah kini ia tersadar dan menyesal bahwa aku bukan laki-laki yang sempurna untuknya?
Apakah ia akan terus menganggap ku sebagai sahabatnya saja ???
Arrrghh ! Aku begitu frustasi ...
Bahkan aku meluangkan waktu agar bisa dekat dengannya sebelum mulai bekerja di kota ini, tapi dia malah meninggalkanku dirumah.
Baiklah aku akan memberinya waktu jika keberadaanku membuatnya tidak nyaman.
...****************...
semoga berkah 😭