NovelToon NovelToon
Sedingin Hati Suami Tentaraku

Sedingin Hati Suami Tentaraku

Status: tamat
Genre:Duda / Kehidupan Tentara / Tamat
Popularitas:2.2M
Nilai: 4.7
Nama Author: Hasna_Ramarta

Halwa mencintai Cakar Buana, seorang duda sekaligus prajurit TNI_AD yang ditinggal mati oleh istrinya. Cakar sangat terpukul dan sedih saat kehilangan sang istri.

Halwa berusaha mengejar Cakar Buana, dengan menitip salam lewat ibu maupun adiknya. Cakar muak dengan sikap cari perhatian Halwa, yang dianggapnya mengejar-ngejar dirinya.

Cakar yang masih mencintai almarhumah sang istri yang sama-sama anggota TNI, tidak pernah menganggap Halwa, Halwa tetap dianggapnya perempuan caper dan terlalu percaya diri.

Dua tahun berlalu, rasanya Halwa menyerah. Dia lelah mengejar cinta dan hati sang suami yang dingin. Ketika Halwa tidak lagi memberi perhatian untuknya, Cakar merasa ada yang berbeda.

Apakah yang beda itu?
Yuk kepoin cerita ini hanya di Noveltoon/ Mangatoon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Ada yang Cemburu

   Mobil Cakar sudah tiba di sebuah gedung yang disulap menjadi tempat perhelatan resepsi pernikahan Rani dan Rian.

   "Halwa, aku mohon, jangan permalukan aku. Selama acara tolong berdekatan denganku. Asal jangan perlihatkan sikap capermu. Aku tidak mau kamu mempermalukan aku di tengah-tengah teman-temanku." Cakar memperingatkan Halwa yang baru saja akan membuka pintu mobil.

   Halwa hanya diam, dalam hati ia pun tidak terpikirkan untuk mempermalukan Cakar di acara ini.

   Keduanya kini sudah keluar dari mobil. Cakar mempersilahkan Halwa berjalan duluan di depannya. Sebelum memasuki gedung, Halwa harus mengisi buku tamu di sana.

   Sesekali Cakar meraih jemari Halwa untuk dipegangnya. Halwa berdesir, tapi buru-buru perasaan itu langsung dia tepis.

   "Bang Cakar," sapa seseorang seraya menyalami Cakar. Sepertinya itu adik lettingnya Cakar kalau dilihat dari sikapnya.

   Setelah saling bertegur sapa dengan banyak temannya, dan memperkenalkan Halwa pada teman-temannya telah usai, Cakar mencari tempat duduk untuknya dan juga Halwa.

   "Cakar, di sini," panggil Wardi yang di sampingnya sudah ada istrinya. Tian dan Ardi, yang juga didampingi Diva calon istrinya. Halwa tersenyum gembira ketika melihat ada Diva di tengah-tengah mereka.

   "Diva," sapanya seraya menghampiri dan duduk di samping Diva. Diva tersenyum gembira melihat Halwa datang bersamaan dengan Cakar. Dan yang lebih terkejutnya lagi, Diva melihat kemeja yang dikenakan Cakar rupanya senada dengan gaun hijau sage milik Halwa.

   "Apa aku bilang, kamu pandai me-mix and match pakaian yang kamu kenakan dengan pantas. Kamu begitu cantik Hal. Dan yang tidak aku duga, ternyata kamu bisa datang bersama dengan suami kamu," tutur Diva bahagia.

   "Kamu juga sangat cantik, Div. Kamu sungguh serasi dengan Kak Ardi." Halwa balas memuji Diva yang memang siang ini begitu cantik dengan gaun semata kaki warna kuning keemasan. Mereka saling memuji satu sama lain, tidak lupa saling bertegur sapa dengan istri tentara yang lain termasuk istrinya Wardi.

   Wardi juga menyapa Halwa, meskipun dulu ia pernah menyimpan rasa untuk Halwa yang tidak kesampaian, Wardi berusaha bersikap biasa. Lagipula dia kini sudah memiliki istri juga yang tidak kalah cantik dari Halwa.

   "Mas Wardi, apa kabar ibunya Mas Wardi? Sudah lama tidak kelihatan ke warung Ibu?" sapa Halwa pada Wardi, sembari tidak lupa tersenyum ramah pada istri Wardi di sampingnya yang nampak serasi dengan Wardi.

   "Bagaimana kamu bisa melihat ibuku ke warung ibu kamu Hal, orang kamunya tidak lagi tinggal di sana," protes Wardi yang dibenarkan Halwa. Sekilas Halwa tersenyum mengingat kekonyolannya.

   Untuk sejenak Halwa bisa tertawa gembira bersama teman sekaligus istri tentara dari temannya Cakar. Halwa bersyukur, bisa kenal dengan istri-istri tentara yang lain, yang pastinya jika ada acara Persit nanti, mereka akan kembali bertemu. Dan jika bertemu nanti, maka Halwa tidak perlu canggung lagi.

   "Halwa, duduk yang benar," sapa Cakar seraya menduduki salah satu kursi di samping Halwa yang masih kosong, tidak lupa jarinya menyentuh lengan Halwa. Sepertinya tadi Cakar hanya memberi kode supaya Halwa duduk yang benar, tapi sentuhan itu terasa sakit dan seperti sebuah cubitan, sehingga Halwa terlihat meringis.

   "Awhh."

   Halwa menoleh dan mengusap bekas cubitan Cakar yang ternyata membekas sehingga meninggalkan luka goresan dan bared. Pantas saja menggores, kuku jempol Cakar saja panjang.

   Cakar kebetulan menoleh saat Halwa tengah mengusap lengannya, yang terkena cubitannya tadi tanpa sengaja.

   "Kenapa?" bisik Cakar mempertanyakan.

   "Kulit lengan aku luka bared Mas," balasnya sembari memperlihatkan lengannya.

   "Ya sudah, jangan dipermainkan begitu lengannya dong. Ingat, nanti saat acara ambil foto dan menyalami pengantin atau makan, kamu jangan caper atau banyak bicara. Kalau mau bicara sepentingnya saja." Cakar kembali memperingatkan Halwa tidak bosannya.

   Sekilas Cakar menatap rambut dan punggung Halwa, dalam hati tiba-tiba terucap kata takjub untuk Halwa.

   "Halwa benar-benar cantik."

   Acarapun dimulai. Para tamu undangan berdiri sejenak untuk menyaksikan tarian sambutan untuk kedua mempelai. Para keluarga kedua belah pihak, sejenak saling sahut dan balas pantun. Hal ini tidak lepas dari adat dan budaya yang sudah mengakar dalam perhelatan pernikahan kali ini, tidak kira adat tertentu.

   Acara dilanjutkan dengan rangkaian adat lainnya, seperti saweran lalu melempar buket bunga oleh kedua mempelai. Halwa tidak ikutan, sebab dia sudah menikah.

   "Satu, dua, tiga. Lempar," titah seorang pembawa acara memberi aba-aba pada pihak mempelai. Suara riuh tiba-tiba bergemuruh kala para tamu khususnya yang masih belum menikah, saling berebut untuk mendapatkan buket bunga pengantin.

   Buket itu didapatkan salah satu teman kuliahnya Rani yang ikut berjejal untuk mendapatkan buket itu. Suara riuh semakin terdengar sampai pembawa acara melanjutkan acara ke sesi selanjutnya.

   Kini para tamu undangan dipersilahkan berdiri dan menyalami kedua mempelai. Acara lain kian bergulir, foto bersama pengantin sudah sebagian selesai.

   Akhirnya acara yang paling dinantikan semua tamu undangan tiba. Para tamu undangan digiring menuju meja prasmanan untuk menikmati hidangan yang ada.

   Halwa dan Cakar masih berjalan pelan menuju meja prasmanan. Saat akan tiba di meja prasmanan, sepasang mata menatap tajam bahkan cemburu pada kebersamaan Halwa dan Cakar.

   Beberapa detik kemudian, Cakar sudah tidak berada di belakang Halwa. Sepasang mata tajam dan cemburu itu, dengan cekatan memberi kode pada Cakar dan mengajaknya bergabung. Cakar dengan tega mengorbankan Halwa yang sedang mengantri.

   "Ke mana Mas Cakar?" Halwa menoleh ke belakangnya. Sayang, Cakar tidak ada. Akan tetapi ekor mata Halwa melihat keberadaan Cakar di sebrangnya, tengah antri bersama teman-temannya yang lain. Di sampingnya ada seorang perempuan berambut bob sebahu, wajahnya manis dengan kulit kuning langsat tidak jauh seperti Halwa.

   "Itu suami kamu justru bareng makan bersama teman-temannya. Pacar aku juga di sana. Biarkan mereka di sana, kita di situ saja duduknya, kebetulan tidak ramai orang," bisik Diva yang mengetahui kegelisahan Halwa, sembari menunjuk salah satu sudut kursi yang masih kosong.

   Halwa pikir cuma suaminya saja yang memilih antri ambil makan di sebrang, pacar Diva juga. Untuk sementara perasaan Halwa tidak terlalu sedih karena telah diabaikan Cakar.

   Halwa sudah menghabiskan makannya tanpa sisa, itu karena ia tidak pernah ambil makanan ke dalam piring sampai menumpuk, sehingga tidak menyisakan sisa di atasnya. Tiba-tiba Cakar menghampiri dan memberikan satu cup es krim dan es cendol untuk Halwa.

   "Es krim dan es cendolnya," ujarnya seraya duduk sejenak di samping Halwa. Halwa berdesir tidak disangkanya Cakar akan kembali dan memberikan es krim dan es cendol yang tadi belum sempat ia ambil.

   "Terimakasih, Mas," ucap Halwa bahagia. Namun di ujung sebrang sana, ada sepasang mata tajam yang cemburu melihat interaksi Cakar dan Halwa.

   "Mas Cakar, ini istri barunya, ya? Wah cantik dan masih muda ya. Serasi lagi. Semoga langgeng dan panjang jodoh." Seseorang menyapa Cakar dan sesekali menoleh ke arah Halwa, dengan senang hati Halwa memberikan senyum ramah pada wanita itu dan menyalaminya.

   "Ibu Kabag, iya Bu. Ini istri saya, namanya Halwa," ucap Cakar hormat, seraya memperkenalkan Halwa.

   "Beruntung sekali kamu Mas Cakar. Semoga bisa saling setia dan yang terpenting bisa segera punya momongan," ucap wanita berusia 40 tahun itu seraya tersenyum ramah.

   Lagi-lagi kebersamaan Cakar, Halwa dan Ibu Kabag membuat seseorang dilanda cemburu. Dia Sersan Nilam yang sejak tadi mengamati kehadiran Halwa.

1
Iyah Mariag
lawan lah bak halwa,jangan ngalh terus,uda tinggalin aj suami gitu mah,,semangat 💪🏻💪🏻
panjul man09
orangnya tempramen , koq bisa2nya halwa mau sama cakar nah tanggung sendiri akibatnya
panjul man09
waktu kecil mainnya nikah nikahan dan gak pernah ucapkan kata cerai hingga dewasa , gimana tuh hukumnya !
Nasir: Heheheheh..... entahlah...... 😄😄
total 1 replies
panjul man09
semoga lekas sembuh thor !
Nasir: Sama2 Kak.... mksh ya..... 🙏🙏🙏
total 1 replies
itin
rata rata emang udah karakter tni nih pada keras dan egois ga sedikit banyak pasangan yg mengalami kekerasan baik secara verbal maupun tidak. fakta dan sudah beberapa kenalan. xoxo. tapi klo yg bucin beuhh bucin akut bin setia penuh kasih 🥰
panjul man09
dasar laki2 tidak tau diri, kalo aku penulisnya sudah aku pisahkan mereka ,biar cakar rasakan duda dua kali😄😄😄
panjul man09
laki laki bermulut perempuan tidak kelembutan padahal sudah dikasih yg enak enak , dasar !
itin
selama bukan perselingkuhan dan kdrt kesalahan cakar masih bisa diperbaiki dan diampuni ketika dia mulai sadar nanti dari perbuatan tohlolnya ke halwa.... tapi hanya perempuan² pilihan seperti halwa kali yang bisa memaafkan. kalau saya tadi minimal adu panco lah dulu (kalau fisik pasti babak belur 🫣😁😄)
panjul man09
menurutku seharusnya semua tentara harusnya menghindari yg namanya penghianatan ,mereka harusnya identik dgn kesetian sesuai dgn jnji prajurit mereka harusnya setia dalam hal apapun ,
panjul man09
seharusnya halwa katakan saja sama cakar ,kapan dia caper lebih caper tuh si sersan nilam .
panjul man09
banyak cerita novel ,belum tamat di baca sudah tau alurnya semua sama penulisnya tidak berani menabrak alur atau tidak berani bersikap realistis ,coba bikin halwa kabur jauh biar jadi pelajaran bagi cakar agar bicaranya disaring dulu ,sangat keterlaluan halwa jg terlalu lemah .
Nasir: Halwa kabur juga Kak....
total 1 replies
panjul man09
biasanya kalo gak cinta apalagi ada wanita lain ,tidak akan mau menyentuh isterinya , gimana ini .oh yaa maaf thor , ada beberapa kalimat bingung bacanya karna susunan kata2 kurang tepat ,tolong di perhatikan !
panjul man09
rasanya orang tuanya tidak mungkin memberi nama cakar.mungkin cakra ,author aja asal comot nama yg tidak berarti😄😄😄😄
itin: sepemikiran 😁😄
tapi setelah ditelaah nama cakra sudah banyak sekali dipakai dan nama cakar cukup menarik juga. kesannya gahar dan suka mengaum 😄😄
total 2 replies
Jane Hutagalung
mampus nilam.. siapa juga yg mau sama orang yg manner nya kurang 1 strip
Jane Hutagalung
eh odgj. minggir lu 💩
Jane Hutagalung
ya iyalah! 🤣🤣🤣
Jane Hutagalung
cakar mulai ...
Jane Hutagalung
🤣🤣🤣🤣🤣 danton somplak !
Jane Hutagalung
emang gesrek banyak otaknya nilam..
Jane Hutagalung
aisyah, mulutnya!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!