Ini kisah kejiwaan seseorang yang diakibatkan oleh trauma masa lalu, bercerita tentang seorang gadis yang tidak bisa melepaskan kenangan masa lalu yang telah merenggut kehormatannya. Dia habiskan bertahun-tahun hanya untuk bertemu dengan pria yang ternyata tidak pernah mengingatnya sama sekali.
Akankah dia menemukan kebahagiaan yang telah hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Simple Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTSD - 18
“Coba Bi, ceritakan apa yang terjadi sama Pak Mahen, sama kita, biar jelas,” ucap pak RT lagi.
Semua yang hadir memperhatikan.
“Tadi kan neng Ayya lagi main di halaman Pak, terus nangis, saya pikir mungkin pengen susu, jadi saya ke belakang dulu, bikin susu buat neng Ayya. Gak lama kok, cuma sebentar. Pas saya balik lagi, neng Ayya sudah gak ada Pak hik…hik..hik… Saya panggil-panggil, dikira saya neng Ayya lagi sembunyi, saya keliling rumah sampai ke belakang tapi gak ada,” Bi Asih bercerita sambil menangis.
“Saya sudah mengitari rumah, gak ketemu. Saya masuk ke dalam rumah barangkali neng Ayya masuk dan saya gak tau, tapi tetap gak ketemu. Saya keluar lagi, cari ke jalan, tapi gak ada hik…hik…hik…,” lanjutnya masih sambil menangis.
“Akhirnya saya teriak minta tolong, saya ngetok-ngetok pintu rumah Bu Hadi, saya nanya barangkali lihat neng Ayya. Tapi katanya gak lihat.”
“Iya, tadi Bibi ketok-ketok rumah saya sambil teriak-teriak, nanyain lihat neng Ayya gak, katanya neng Ayya hilang, aduh saya gak lihat, saya lagi di dapur soalnya,” seorang perempuan bernama bu Hadi menimpali ucapan bi Asih. Rumahnya terletak tepat di seberang rumah Mahen.
“Setelah itu, ya jadi rame, beberapa orang tetangga dekat yang mendengar suara Bi Asih langsung datang, bahkan kebetulan pak RT lewat jadi ke sini juga,” ucap seorang pria ikut menimpali.
“Hilangnya cepat sekali Pak, saya hanya bikin susu aja, gak sampai 5 menit,” lanjut Bi Asih, sekarang sudah tidak menangis lagi.
“Kayaknya sudah diincar, sudah diperhatikan sebelumnya ya,” ucap yang lain.
Mahen dan Astri yang mendengarkan hatinya semakin galau. Bagaimana kalau anaknya benar-benar hilang dan tidak ketemu lagi. Khawatir dan takut itu terjadi, Mahen segera berdiri.
“Jam berapa kejadiannya, Bi?” tanya Astri.
“Sekitar jam 9 tadi Neng,” jawab Bi Asih mengalihkan pandangannya menatap Astri.
Astri menghela nafas. Sudah tiga jam yang lalu, batinnya menangis.
“Saya mau lapor ke polisi pak!” ucap Mahen tegas sambil berdiri.
“Sebaiknya begitu pak. Kita bagi tugas saja, bapak-bapak ayo kita keliling mencari mudah-mudahan belum jauh,” suara Pak Hadi.
“Untuk keluar lingkungan perumahan kita kan harus melewati warung Abah Hasan ya, kita tanya dia saja dulu, mudah-mudahan dia lihat orang yang bawa Neng Ayya,” ucap pak RT.
“Iya betul Pak, biasanya Abah Hasan kan selalu duduk di depan warungnya, mestinya sih dia lihat,” jawab yang lain.
Maka setelah membagi tugas segeralah mereka berpencar mencari hilangnya Ayya. Sementara Astri masih duduk di ruang tamu bersama beberapa ibu-ibu tetangganya. Bi Asih juga duduk bersimpuh di sana.
Mahen, Pak RT, dan beberapa orang pria berjalan tergesa menuju warung Bah Hasan. Mereka ingin menanyakan apakah Abah Hasan melihat ada orang yang membawa Ayya. Jarak dari rumah Mahen ke ujung gang tempat warung Bah Hasan berada sekitar 300 meter dengan beberapa kelokan.
Dari jarak beberapa meter mereka sudah melihat seorang pria tua yang biasa mereka panggil dengan sebutan Abah Hasan sedang duduk di depan warungnya ditemani secangkir kopi. Para pria itu mempercepat langkah mereka.
“Assalamualaikum Bah!” sapa pak RT mendahului yang lain.
“Waalaikumsalam… eh Pak RT, mau pada kemana nih rame-rame?” jawab Abah Hasan menatap heran.
“Bah, tau neng Ayya kan?,” tanya Pak RT tidak memperdulikan pertanyaan Abah Hasan.
“Neng Ayya anak kecil itu bukan? Yang suka jajan sama Asih ya?,” tanya Abah Hasan, “Kenal atuh,” lanjutnya, “Emang kenapa?”
“Abah ada lihat dia lewat gak sama orang lain?” sekarang Mahen yang bertanya, dia tidak sabar.
“Biasanya Neng Ayya suka jajan ke sini sama Asih tapi hari ini belum kelihatan tuh,” jawab Bah Hasan.
“Abah seharian duduk di sini?” tanya seorang Bapak.
“Iya atuh, Abah mah di sini dari pagi juga. Emang kenapa, ada apa?” Abah Hasan jadi penasaran.
Mahen mengusap wajahnya kasar mendengar jawaban Abah Hasan, matanya sudah merah dan basah. Dia sangat khawatir membayangkan apa yang terjadi dengan putrinya.
“Neng Ayya hilang Bah, ada yang nyulik!,” ucap Pak RT.
Wajah si Abah langsung berubah serius. Dia segera berdiri.
“Hilang?! Anak yang cantik itu hilang? Kok bisa?!”
“Ya itu, makanya Bah kita ke sini mau nanya, Abah ada lihat orang lewat bawa Neng Ayya gak? Atau mencurigakan gitu?!”
“Gak ada. Abah dari pagi di sini gak lihat Neng Ayya. Kalau yang lewat sih banyak tapi gak ada yang bawa anak kecil,” jawab Abah Hasan.
“Apa berarti dia masih di lingkungan kita ya pak RT?” tanya Pak Hadi.
“Bisa jadi Pak, kan kalau mau keluar dari sini harus lewat sini dulu. Gak mungkin dia jalan utara karena di sana kan sungai,” seorang yang lain menimpali.
“Kalau begitu kita kembali saja lagi ke rumah Pak Mahen. Lebih baik kita geledah saja rumah-rumah di lingkungan kita pak, sepertinya penculik masih bersembunyi. Gimana kalau begitu pak Mahen?” kata Pak RT.
“Iya saya setuju Pak, ayo secepatnya!,” jawab Mahen tidak sabar.
“Ya sudah kalau kalian mau balik silakan, nanti Abah jaga di sini siapa tau ada orang lewat bawa Neng Ayya, nanti sama Abah dicegat,” ucap Abah.
“Bukan cuma bawa Neng Ayya bah, tapi yang mencurigakan juga harus diwaspadai.”
“Kalau gitu Pak Marwan temani Abah Hasan di sini ya, siapa tau butuh bantuan tenaga muda,” ucap Pak RT.
“Iya siap Pak!” jawab seorang pria bernama Pak Marwan.
Kemudian segera mereka kembali ke rumah Mahen. Di sepanjang jalan mereka menduga-duga dimana kira-kira penculik itu bersembunyi bersama Ayya.
Demikianlah, mereka membagi tugas mendatangi rumah satu persatu. Untungnya Mahen memiliki tetangga yang baik dan mau membantu.
🖤
Satu rombongan pencari yang terdiri dari 4 orang tiba di sebuah gubuk kosong yang berada di pinggiran persawahan. Di sanalah mereka menemukan seorang wanita yang sedang bersembunyi bersama Ayya kecil yang sedang menangis segukan.
Wanita tersebut digelandang ke rumah Mahen, sementara Ayya digendong oleh salah seorang dari rombongan pencari.
Betapa leganya hati Astri ketika melihat anaknya kembali. Dengan segera diraihnya Ayya dan tak henti diciumi sambil berurai air mata. Rasa takut akan kehilangan anak semata wayangnya jelas terlihat diwajahnya, demikian juga dengan Mahen.
Mereka sangat berterima kasih kepada para tetangganya yang telah membantu menemukan Ayya.
Dari hasil investigasi polisi, wanita tersebut memang sudah mengincar Ayya sejak beberapa hari sebelumnya. Dia tertarik dengan Ayya kecil yang cantik dan lucu. Dia berniat menjualnya kepada pasangan suami istri yang menginginkan anak.
Kembalinya Ayya tentu membuat lega hati Mahen dan Astri. Mereka bahagia karena buah hati kembali ke pangkuan. Tetapi kejadian itu juga membuat Astri kemudian merubah pola asuhnya. Dia jadi tinggal di rumah, tidak berangkat lagi ke pabrik walaupun Bi Asih masih tetap bekerja bersama mereka. Untuk membantu pekerjaan suaminya dia kerjakan dari rumah. Ayya dilindungi sedemikian rupa dari orang asing, dari pergaulan yang tidak jelas, agar kejadian buruk itu tidak terulang lagi. Bahkan satu tahun kemudian Mahen memaksakan diri membeli sebuah rumah di lingkungan perumahan elit yang terjaga keamanannya agar keluarganya merasa lebih aman.
Flashback off.
Happy reading readers.
Belum ada kata mutiara untuk chapter ini 😃😃😃
𝚝𝚞 𝚕𝚊𝚑 𝚢𝚐 𝚊𝚍𝚊 𝚙𝚊𝚍𝚊 𝚊𝚢𝚢𝚊
𝚜𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚢𝚊