"Aku akan menikahi wanita mana pun yang bisa meluluhkan hati anakku!" Itulah pengumuman yang dibuat oleh Eza. Putra dari lelaki yang dikenal sebagai duda +1.
Karena salah satu orang terkaya di negaranya, sayembara Arkan menjadi viral. Padahal sayembara itu bukan atas kemauannya, melainkan karena ulah sang anak. Ratusan wanita mengantri untuk ikut sayembara. Sampai seorang perempuan yang sangat mirip mendiang ibunya ditemukan oleh Eza. Nama gadis itu adalah Beby. Gadis tomboy yang mendaftar sayembara karena taruhan. Alhasil Eza meminta Arkan untuk menikahi Beby. Masalahnya adalah, Beby ternyata sangat muda, dia masih menginjak kelas dua SMA.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apakah Arkan akan tetap menikahi Beby demi anak semata wayangnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auraliv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Gadis Pinggiran
...༻✿༺...
Usai membeli beberapa pakaian untuk Beby, Arkan duduk menunggu. Ia menghabiskan waktunya dengan bermain ponsel.
Beberapa menit kemudian, Beby akhirnya selesai. Ia langsung memanggil Arkan.
"Sekarang apa selanjutnya?" tanya Beby.
Arkan sontak menatap Beby. Ia terpaku sejenak, karena gadis itu terlihat lebih cantik. Rambut pendek sebahunya tampak di keriting sedikit.
"Kak?" panggil Beby, karena Arkan tak kunjung merespon.
"Em anu. Ini! Pakailah!" Arkan gelagapan. Dia memberikan tas berisi pakaian yang dibelinya pada Beby.
"Sekarang?" tanya Beby.
"Besok. Ya sekaranglah!" balas Arkan.
Beby segera masuk ke ruang ganti. Dia mengenakan pakaian yang dibelikan Arkan. Lelaki itu membelikannya sebuah dress selutut berwarna hijau.
"Pintar juga dia memilih baju. Ini sangat nyaman," komentar Beby saat bercermin. Ia tersenyum pada dirinya sendiri. "Ternyata aku cantik juga," lanjutnya sembari mendekatkan wajah ke cermin.
Setelah itu, Beby keluar dari ruang ganti. Dia kembali menghadap Arkan.
"Sudah! Apa kita akan langsung menemui orang tuamu?" tanya Beby.
"Tentu saja tidak. Kau tidak mungkin mengenakan sepatu itu kan?" balas Arkan. Mengingat Beby sekarang dalam keadaan mengenakan sepatu sederhana berwarna putih.
"Lalu bagaimana?" tanggap Beby.
"Kita akan ke toko sepatu!" Arkan berjalan lebih dulu keluar dari salon. Ia mengedarkan pandangan ke segala arah. Seingatnya ada toko sepatu di dekat sana.
"Itu dia. Ayo!" ajak Arkan yang kembali memimpin jalan.
Buru-buru Beby mengikuti Arkan. Dia cukup kesulitan dengan pakaiannya sekarang. Beby selalu takut bawahan dressnya tertiup angin dan akan menampakkan celana di baliknya.
Setibanya di toko sepatu, Arkan menyuruh Beby memilih.
"Carilah sepatu yang cantik dan membuatmu nyaman!" suruh Arkan.
"Oke, Bos!" sahut Beby. Dia segera bergerak untuk mencari sepatu.
Sementara Arkan juga ikut mencari sepatu. Ia ingin membelikan sepatu sekolah baru untuk Beby. Karena sebelumnya Arkan melihat sepatu gadis itu sudah agak koyak dan lusuh.
Ketika sudah selesai memilih, Beby dan Arkan saling bertemu. Beby lantas memperlihatkan sepatu yang dipilihnya.
"Bagaimana?" tanya Beby.
"Lumayan," jawab Arkan. Dia segera melakukan pembayaran ke kasir.
Beby menatap Arkan dari jauh. Dia merasa tidak nyaman dengan lelaki itu. Sepertinya Arkan akan terus mengeluarkan uangnya untuk Beby.
Kini Arkan dan Beby sudah masuk ke mobil. Beby menatap Arkan dengan serius.
"Kenapa lihat-lihat? Nanti jatuh cinta lagi," timpal Arkan. Padahal sebenarnya dia yang merasa salah tingkah karena terus ditatap oleh Beby.
"Apa uangmu nggak akan habis? Kau pasti sudah menghabiskan jutaan lebih tadi. Belum lagi dengan biaya pernikahan kita. Kau benar, ternyata menyiapkan pernikahan tidak semudah yang aku kira," ungkap Beby.
Arkan terkekeh. "Jutaan kau bilang? Harga sepatumu saja belasan juta," balasnya.
Pupil mata Beby membesar. "Apa?! Belasan juta? Sepatu apaan itu?" tanggapnya tak percaya.
Buru-buru Beby mengambil sepatu yang dipilihnya tadi ke kursi belakang. Ia bisa menjangkau tas berisi sepatu itu dengan mudah. Lalu Beby perhatikan salah satu sepatu tersebut.
"Apa ada emas di sepatunya?" kata Beby. Ia memeriksa dengan serius sepatu itu.
Arkan geleng-geleng kepala. Ia juga tak berhenti tersenyum melihat kelakuan Beby.
"Kenapa kau berlagak begitu? Padahal kau sendiri tidak tinggal di kampung. Kenapa tingkahnya seperti gadis kampung?" komentar Arkan.
"Aku memang bukan gadis kampung. Tapi lebih tepatnya gadis pinggiran kota," sahut Beby. "Jadi aku mohon, cepat berikan aku jawaban kenapa sepatu ini bisa memiliki harga belasan juta?!" sambungnya, menuntut jawaban.
Walaupun singkat tapi mantap 🌹🌹🌹🌹
Terus lah berkarya dan sehat selalu ✌️