"Mengapa cinta membuatku bisa jatuh terlalu dalam dan mencintaimu,? bersamaan dengan itu pun, mengapa kamu tiba-tiba menghilang. Tahukah kamu, pada saat itu juga aku merasa kehilangan arah,layak nya seorang nahkoda yang kehilangan sebuah navigasi."
Amera Prameswari Atmawijaya seorang wanita cantik, keturunan Indonesia dan Belgia ini, sudah barang pasti memiliki paras yang sangat cantik. Terlahir dari keluarga yang memiliki kerajaan bisnis di berbagai bidang, tidak membuat dirinya tumbuh menjadi pribadi yang arrogant.
Terbukti dengan sikap nya yang tidak pernah membeda- bedakan status sosial yang ia sandang. Di mata nya kedudukan semua orang sejatinya sama.
Kehidupan nya bisa dibilang sangat beruntung. Karena sejak kecil, ia selalu di beri limpahan kasih sayang yang sangat dari keluarga dan orang-orang tersayang, juga sahabat nya.
Namun, semua itu agaknya berbaring terbalik dengan kehidupan percintaan nya.
Yang selalu karam layak nya sebuah kapal yang terbentang di hamparan samudra, yang tersapu, terhempas oleh gulungan ombak tanpa jejak.
Hampir lima tahun sudah, ia selalu menutup diri. Dan bersikeras akan tetap menunggu dia untuk kembali. Selama itu pula ia selalu menghindar dari lelaki yang mencoba merebut hati nya. Hanya dengan mengajar, dan mungkin bercengkrama dengan sahabat serta keluarga nya saja yang setia membunuh bosan, yang kerap menyelimuti relung hati nya.
Namun, berkat usaha gigih sang mamah dan papah nya yang gencar menjodohkan dirinya dengan seorang lelaki yang di anggap nya 'pantas' itu. Kini Amera mulai menata hati nya kembali, dengan seorang lelaki yang tak lain, putra dari sahabat ayah nya. Awalnya memang Amera menolak perjodohan ini.
Seiring berjalan nya waktu dan berkat usaha gigih lelaki itu pun, akhirnya benih-benih cinta hadir dalam diri Amera, yang tidak bisa ia hindari.Bahkan hubungan itu naik ke arah yang lebih serius. Yaitu pada sebuah pertunangan.
Lagi dan lagi Amera harus menelan pil pahit, saat mengetahui bahwa lelaki itu lebih memilih hati yang lain, Bukan diri nya. Berbagai usaha telah dilakukan, termasuk mengajak Amera untuk bertemu di sebuah cafe tempat dimana keduanya selalu menghabiskan waktu bersama.
Akankah Amera memberikan kesempatan kedua bagi kekasih nya itu?
Ataukah akan tiba seorang yang selama ini ia tunggu-tunggu, untuk merajut asa yang belum sempat ia ukir bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hesti Heryanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengintip
Setelah membaca,, Like Yuk!!
Lanjutkan dengan komen supaya Authornya semangat..
Sayang kaliaaaan
Happy Reading💗💗💗
"Amera? Lagi. Niko yang memulai pembicaraan
"Ya..
Amera menjawab cepat .
“Niko,euhmm maaf dua kali".
Amera berujar.
“Maksudnya?"
Niko yang tidak faham akan maksud Amera, mengulang pertanyaan nya barusan.
“Euuhmmm,,, lupakan saja."
Amera hendak bangkit dari duduknya. Namun, tiba – tiba ..
***
Sebuah getaran kecil yang berasal dari ponsel yang ia genggam saat ini, mengurungkan niatnya untuk bangkit dari tempat duduknya.
Dilihatnya benda pipih kesayangannya itu, dan ternyata yang mengirimkan pesan singkat tak lain adalah papahnya sendiri.
Papah? Ada apa dia mngirimkan pesan singkat?
Tidak biasanya sekali.
Amera mengerenyit penuh tanda tanya.
“Sayang, kamu mau kemana,?
Jangan terlalu buru – buru meninggalkan nak Niko.Lagipula, ini belum larut malam.
Ajaklah ia mengobrol terlebih dahulu..
Papah lihat, dari tadi kalian hanya duduk diam saja. Hahha...
Selamat mengobrol.
Semangattt...
Love
˜papah˜
Kedua manik mata Amera nyaris keluar dari tempatnya, saking tidak percayanya dengan isi pesan yang dikirmkan papahnya itu.
"Ini sungguh konyol, bisa – bisanya papah mengintipku."
Seketika ia mengedarkan pandangan kesemua sudut, ingin rasanya ia menemukan sosok yang sekarang ini membuatnya sebal setengah mati.
Yang tak lain adalah papahnya sendiri.
Pria yang sangat ia sayangi. Untuk saat ini yang ia inginkan adalah berteriak sekencang mungkin pada papahnya yang keterlaluan itu.
Jari – jemari lentik Amera dengan lincah mengetik sebuah balasan untuk sang papah.
*Papah ini sungguh keterlaluan
Jadi, selama ini papah mengintip ku?
Tunggu saja pembalasanku
˜Amera˜*
“Ada apa Amera?”
Suara Barithon itu, lagi ia dengar.
Karena sedari tadi Niko memang memperhatikan gerak – gerik gadis yang ada di sebelahnya itu.
“Tidak, bukan apa – apa "
Ia pun lantas membiarkan ponselnya tergeletak begitu saja, diapit diantara dirinya dan juga Niko.
“Oh iya,, Apa arti dari maaf dua kali?”
Niko lagi – lagi mencuri kesempatan untuk menanyakan kembali perihal 'maaf dua kali', yang sempat diucapkan oleh Amera.
Bukan apa – apa, dirinya begitu penasaran saja dengan dua kata itu, serasa ada yang menggeliik relung hatinya saja. Sehingga rasanya ia perlu untuk menanyakan lagi pada Amera.
Mengapa Sekarang semua orang mendadak kepo?
Aku pikir, dia sudah melupakan itu.
"Hihiii...."
Sebelum menjawab, Amera malah nyengir kuda terlebih dahulu pada Niko.
Dan itu, sontak membuat hati niko serasa euuhmmm.....gemas sekali, dan ia bertekad.
Walau bagaimanapun juga ia harus mendapatkan Amera.
TITIK.
“Oh itu, iaah aku meminta maaf dua kali.
Yang pertama maaf untuk__”
“Untuk apa?”. Niko sangat tidak sabar sekali mendengarkan penuturan dari Amera.
"Iishhh sabar, Kamu ini ingin buru – buru sekali."
Cebik Amera.
"Maaf pertama, untuk kejadian beberapa minggu yang lalu.Ketika kamu menelpon, dan aku sempat marah – marah. Dan mungkin kamu merasa geli dengan sikap ku yang sedikit konyol itu.
Lalu yang kedua, maaf untuk kejadian tadi siang di mall. Aku sudah banyak merepotkan."
Amera panjang lebar menjelaskan.
"Ah kamu ini ada - ada saja."
Niko tersenyum seraya menggibaskan tangannya, sebagai tanda bahwa ia tidak merasa telah direpotkan sama sekali oleh Amera.
“Aku tidak pernah merasa direpotkan. Malah, jika “nanti” aku harus direpotkan setiap haripun, aku rela."
Niko melanjutkan kalimanya.
Namun, Amera mengangkap sinyal aneh dari kata 'nanti' yang baru saja diucapkan oleh Niko.
Dengan cepat ia tepis pikiran aneh yang terlintas di benaknya.
"Oke kalau kamu memang ingin selalu direpotkan,
untuk permulaan bisa tidak sekarang kamu ambilkan jus jeruk di dapur,!
Tenggorokan ku kering sesudah mengobrol panjang lebar dengan mu."
Amera berkelakar.
"Ba__" Niko dengan segera bangkit dari duduknya.
"Hey aku hanya bercanda Niko."
Amera menarik ujung kemeja yang dikenakan oleh Niko.
Sehingga mengharuskan si empunya mendaratkan tubuhnya kembali di samping wanita yang sejak kejadian tadi di Mall, sudah mengganggu pikirannya ini.
"Hahahaha,,,."
Amera tak pelak tertawa lepas melihat tingkah Niko, yang terlihat kikuk dikerjai oleh Amera.
Untuk sejenak ia melupakan semua beban yang ada pada dirinya.
Sementara Niko dibuat takjub dengan kecantikan wanita yang ada di sebelah nya itu.Dengan tawa nya yang lepas seolah menunjukkan kebahagianya saat ini.
Seketika Amera mencuri pandang bahwa sedari tadi Niko memperhatikan dirinya.
Malam kian larut, obrolan seputar pekerjaan, hobi, sudah mereka kupas satu sama lain.
“Euuoommhh,
Amera pura – pura menguap di depan Niko,
padahal, dirinya sama sekali belum merasa mengantuk.
Sehingga manik matanya sedikit basah dan berair secara terpaksa. 😁
Sepertinya sudah larut."
Amera berujar.
Niko tahu, itu adalah sebuah sinyal untuk mengusir dirinya. Namun, secara halus.
Niko yang salah tingkah, Akhirnya pamit untuk segera pulang.
"Aku pamit pulang dulu ya!"
Ia pun dengan enggan segera bangkit dari duduk.
Rasanya berat sekali bagi Niko untuk meninggalkan tempat duduknya.
"Ah iya silahkan!"
Dengan polosnya Amera langsung menjawab pamit Niko.
Tak pelak Niko sedikit menelan kecewa akan hal itu. Pasalnya, ia masih ingin menghabiskan malam dengan wanita cantik yang telah mencuri hatinya ini.
Amera mengantarkan Niko sampai ke depan pintu gerbang.
Disusul dengan langkah malas Niko yang masuk kedalam mobil yang terparkir manis di kediaman Bian Atmawijaya.
Sebelum melajukan mobilnya, ia berinisiatif untuk memberikan salam perpisahan dulu pada Amera.
Seraya membukakan kaca mobil,
Niko membisikan sesuatu pada Amera.
Terimakasih untuk makan malamnya.
Sampaikan salamku pada om dan tante, maaf aku tidak berpamitan.
Dan terimakasih, karena malam ini aku dibuat tersenyum, bahkan tertawa bersama.
sampai - sampai tidak terasa, malam semakin larut.
Niko berujar, disusul dengan sekilas senyumnya yang sangat menawan hati.
Sebagai wanita normal, Amera merasakan ada getaran aneh yang tiba – tiba menyeruap di relung hatinya.
Diakuinya, Niko merupakan sosok yang sangat hangat dan juga sangat pintar mengambil hati orang tuanya.
Mungkin itu juga yang menjadi alasan kedua orang tuanya sangat getol untuk menjodohkan dirinya dengan dia.
Amera mengulas senyum disertai anggukan sebagai jawaban.
dilanjutkan oleh Niko, yang menutup kaca mobil seraya menenggelamkan lagi tubuhnya dibalik kemudi dan berlalu meninggalkan Amera yang masih mematung disana.
***
"Sepertinya perjodohan kita lancar sayang."
Ternyata dibalik balkon ada yang mengintip drama dua sejoli tersebut.
Ya, siapa lagi jika bukan papah dan mamahnya Amera.
Haii haiii
Dukung author yukkk!!
Akhir – akhir ini rasanya aku kurang semangat untuk meneruskan kelanjutan novel yang apa adanya ini.
Terimakasih bagi yang sudah bekenan mampir.
Double Terimakasih bagi yang selalu mampir dan like,
Yuk lanjutkan dengan menekan tanda hati dibawah yah.
Agar selalu panteng setiap updatenya
Sesudah membaca.
Like, doooooong
Komen,doooooooong supaya semangat
dan Vote juga yaaaaa
Terimakasih..
Love – love diudaara..🥰🥰🥰