Alih-alih menjadi gadis penebus hutang, Ailyn justru dinikahi oleh seorang rentenir.
Awalnya Ailyn mengira jika rentenir itu berbadan gendut dan botak.
Ternyata.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shim Chung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Oleh-Oleh Untuk Ayah
"Kenapa bibirmu, Ailyn?" tanya Ian yang merasa aneh melihat bibir gadis itu hari ini.
Bibir Ailyn tampak bengkak, tidak seperti biasanya.
"Apa kelihatan?" Ailyn jadi panik.
Kalau orang lain mungkin tidak akan sadar tapi karena Ian yang memperhatikan Ailyn dari ujung rambut sampai ujung kaki akan sadar jika ada perubahan kecil pada gadis itu.
"Kau jawab saja pertanyaanku," Ian menuntut jawaban karena cemas.
"Ini karena aku alergi udang," jawab Ailyn kemudian.
Gadis itu tidak mungkin jujur kalau semalam Derick menciumnya habis-habisan.
"Kapan kau alergi udang? Kenapa aku baru tahu," cecar Ian.
"Tidak semua hal harus kau tahu, Ian," balas Ailyn jadi kesal.
Kalau Ian mencecar Ailyn lagi pasti gadis itu tambah kesal jadi sebaiknya dia mengganti topik pembicaraan.
"Kau sudah siap dengan kemping musim panasnya?" tanya Ian.
"Tentu saja, aku sudah mendapat izin dari pamanku," jawab Ailyn.
"Baiklah, kita akan berangkat minggu ini dan Ailyn..." Ian jadi meragu ingin melanjutkan kalimatnya.
"Ada apa?" tanya Ailyn
"Apa aku bisa berkenalan dengan pamanmu itu?" Ian berharap bisa mengenal keluarga Ailyn karena gadis itu selalu menutupinya.
Ailyn sendiri sampai kehabisan alasan. "Kau akan mengenalnya nanti, Ian!"
Akhirnya Ailyn menjawab seperti itu, dia tidak mungkin bercerita tentang hidupnya yang rumit. Sedangkan posisinya masih ambigu.
Hal ini juga yang membuat Ailyn bertekad keras ingin mencari status pasti.
Kalau Derick tidak menginginkannya, Ailyn siap pergi.
"Kalau dipikir-pikir apa di luar sana tuan suami itu dekat dengan wanita lain?" gumam Ailyn dalam hatinya.
Memikirkan hal itu membuat Ailyn jadi kesal sendiri.
"Pantas saja dia tidak cemburu pada Ian, pasti ada wanita lain di luar sana. Apapun itu, aku tetaplah istri pertama, aku tidak akan membiarkan suamiku mempunyai wanita simpanan," lanjutnya.
Ailyn terus bermonolog dengan dirinya sendiri sampai pelajaran sekolah pun dimulai.
Walaupun pikirannya bercabang kemana-mana tapi Ailyn selalu mengutamakan pendidikannya. Targetnya adalah lulus dengan nilai terbaik supaya bisa masuk ke Universitas yang dia inginkan.
Sepulang sekolah, Ailyn membeli perlengkapan untuk acara kemping musim panasnya.
"Sepertinya sudah cukup," gumam Ailyn seraya melihat belanjaannya yang penuh di dalam troli.
Gadis itu segera pergi ke kasir untuk membayarnya.
Ailyn biasanya menggunakan uang cash yang diberikan Marco untuknya.
"Tidak ada kartu member?" tanya sang kasir.
Ailyn menggelengkan kepalanya. "Tidak punya!"
Dari kejauhan Ailyn sudah diintai dan orang itu tampak melaporkannya pada seseorang.
*
*
Derick masuk ke kawasan rumah bordil dan melihat banyak wanita penghibur dengan pakaian serba seksi.
Tidak ada yang menarik di mata lelaki itu walaupun mereka terlihat menggoda.
"Di mana kakek tua itu?" tanya Derick pada Marco yang berjalan bersamanya.
"Tuan besar ada di ruangannya seperti biasa," jawab Marco.
Kali ini asisten rentenir itu memimpin jalan dan membuka sebuah ruangan besar yang berada di lantai atas.
Di dalam sana terdapat beberapa wanita yang sedang menari tiang dan ada seorang laki-laki yang duduk di kursi kebesarannya sambil mengisap rokok.
"Kau datang?" tegurnya.
Derick menatap tajam ke arah laki-laki yang notabene adalah ayahnya sendiri.
"Kosongkan ruangan ini!" perintah Derick dengan lantang.
Sontak membuat para penari tiang berhenti menari kemudian keluar dari ruangan itu.
Semua penjaga dan termasuk Marco pergi dari tempat itu karena mereka tidak mau mendengar pertengkaran antara ayah dan anak di sana.
"Ini oleh-oleh untukmu!" Derick melemparkan sesuatu ke arah ayahnya.
Sang ayah pun membuka sebuah tas kecil yang ternyata isinya adalah satu tangan manusia.
"Apa-apain ini!?"
jadi pengin kata keramat berapa tahun kemudian terus ketemu sama aylin lagi.
semangat aylin