Zika awalnya bersahabat baik dengan Joe. Kemudian ia dibuat sibuk dengan perasaannya pada Joe yang berubah jadi Cinta... Cinta Zika bertepuk sebelah tangan.. Namun pada akhirnya Joe tahu perasaan sahabatnya itu hingga terjadi banyak konflik antara mereka.. Namun Joe menghilang bagai ditelan bumi. Dan Zika tetap menanti kehadiran Joe kembali. Hingga hadir Albi dalam hidup Zika. Akankah Zika berpaling pada Albi.... ???
Cinta selalu bisa terjadi diluar nalar akal Manusia, jika ia telah merasuki hati terdalam pemiliknya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isma_Boncel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simpan dulu segala rahasia, demi DIA.
Keesokan harinya,
Joe dan ayahnya bertemu disebuah cafe dekat kantor ayahnya yang lama.
Ayahnya menjelaskan bagaimana bisa ia bersama wanita yang kemarin Joe lihat.
"Ayah minta maaf Joe.... Ayah khilaf.." Terang ayahnya minta maaf pada anaknya yang memasang wajah garang. Seolah akan menerkamnya.
"Tahun lalu ketika ayah baru pindah ke Palembang, ayah bertemu dengannya di pesawat. Ia rupanya juga pegawai yang di mutasi dari Jakarta. Dan kami ditempatkan di kantor yang sama. Dia jadi staff administrasi dikantor. Rumah dinas kami pun bertetangga." Lanjut Pak Himawan. Joe terdiam menahan amarahnya.
"Rasa sepi ayah jauh dari keluarga membuat ayah sering menghabiskan waktu di cafe sekedar untuk ngopi bersama teman- teman. Mungkin karena sering menghabiskan waktu bersama, hal menjijikan itu pun terjadi. Ayah sangat khilaf Joe. Hingga akhirnya ayah tahu ia mengandung anak dari benih ayah". Ucapnya lirih penuh sesal.
" Ayah tak mau berlarut dalam kesalahan. Ayah putuskan untuk bertanggungjawab, Joe. Akhirnya ayah menikah secara agama saja dengan nya. Ayah bingung Joe. Ayah malu pada diri ayah sendiri. Sama kamu. Sama ibu mu". Wajah ayahnya mulai merah padam. Matanya berkaca-kaca.
Joe sekali lagi merasakan sesak yang teramat dalam dadanya. Ia pukul dadanya berharap meringankan rasa sesak didadanya. Membuat sang ayah merasa semakin bersalah.
Ayahnya terus mengucapkan kata maaf. Namun Joe tetap tak bergeming. Ia tahan sekuat tenaga air mata yang akan jatuh dipelupuk matanya.
Dengan lemah ia mencoba tegak berdiri, dan...
"Aku sangat menghargai mu, Ayah. Kau orang yang selama ini aku segani. Namun kali ini, aku benar-benar kecewa padamu. Jangan kau minta maaf padaku. Ibu lah yang lebih pantas mendapatkan permintaan maafmu. Karna satu kebohongan akan menjadi akar untuk kebohongan- kebohongan yang selanjutnya."
Baru kali ini ia mampu berkata tegas pada ayahnya yang sangat ia segani dan takuti.
Setelah mengatakan hal tadi, ia berjalan keluar meninggalkan ayahnya yang masih tertegun merasa rak percaya bahwa anaknya bisa mengatakan hal yang bijaksana.
Joe meninggalkan ayahnya yang masih terdiam penuh sesal.
*****
Selang dua minggu setelah hari itu...
Joe dan keluarga mendapatkan kabar bahwa ayahnya ditahan oleh pihak yang berwajib karena terduga terlibat kasus suap penyelundupan mobil-mobil sport yang diimpor oleh salah satu Blackmarket.
Ayahnya Joe menjabat sebagai Kepala Kantor Bea dan Cukai di kota Palembang. Memang kedudukannya itu membuatnya sangat rentan terjerat kasus korupsi.
Sebelumnya pernah juga ia di tahan oleh KPK. Namun tuduhan kepadanya tidak terbukti.
Kali ini kasusnya sangat rumit dan pelik. Karena melibatkan sebuah Blackmarket yang memang sudah menjadi target pihak KPK dan sedang dalam pengintaian penyidik.
Belum habis rasa amarah Joe pada sang ayah. Kini ia semakin merasa geram pada ayahnya.
Ibunya bersama pengacara keluarga sedang mengatur masalah ganti rugi kepada negara, agar dapat mengurangi masa tahanan suaminya.
Dua hari keluarga nya disibukkan oleh masalah yang sedang menimpanya.
Membuat Joe malas pergi kemana-mana. Bahkan ponselnya pun jarang ia aktifkan. Ia tak ingin banyak bicara dengan siapapun.
Karena ia tak ingin lepas kontrol.
Ia tak ingin membagi masalah yang ia hadapi dengan siapapun. Dia terlalu malu menceritakan masalahnya. Dia malu akan kelakuan sang ayah.
Bahkan berbicara dengan ibunya pun sangat sedikit. Ia tak ingin kebablasan menyinggung masalah wanita yang dilihatnya.
Masalah yang hadir ditengah keluarganya itu, membuat sang kakak yang tengah menyelesaikan study pasca sarjana nya diluar kota pun pulang. Mencoba menenangkan dan memberi support moril kepada sang ibunda yang sedang diterpa ujian itu.
Dua hari itu Joe lakukan dengan diam dikamar. Ia menyibukkan diri dengan main game. Ia menahan diri untuk tidak melampiaskan amarahnya pada hobi nge-track lagi yang selama ini telah ia tinggalkan karena janjinya pada Zika.
Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri yang terbakar amarah.
*****
Hari ini surat keputusan kelulusannya keluar. Ia bersiap-siap berangkat menuju sekolah nya.
Setelah mengganti pakaian dan menyantap sarapan nya yang telah tersedia di meja belajarnya, ia menuju ke garasi untuk mengeluarkan motor gede merek Kawassaki berwarna hijau miliknya.
Ia mulai mengendarai motornya menuju gerbang rumahnya. Dan pak satpam dengan sigap membukakan pintu gerbang untuknya.
Ketika hendak menuju keluar, motornya terhenti karena melihat box yang agak besar di depan gerbang rumahnya. Melihat nya berhenti,pak satpam pun menuju kearahnya diluar gerbang.
Joe menghampiri box itu dan terkaget kaget melihat isi box itu adalah seorang bayi yang masih sangat merah. Amarahnya mulai naik melihat itu. Ia marah kenapa ada orang setega itu meletakkan seorang bayi merah di pinggir jalan.
Dia hampiri lebih dekat lagi. Dan melihat ada sepucuk surat di pinggir box bayinya.
Dan wajah Joe makin memerah. Amarahnya semakin naik sesaat setelah membaca isi suratnya.
Ternyata itu adalah bayi dari wanita yang menikah siri dengan ayahnya.
Secara spontan ia menjatuhkan kertas ditangannya dan berlari menuju kamarnya kembali. Hingga motornya masih terparkir di depan gerbang rumahnya.
Pak satpam melaporkan kejadian itu pada yang empunya rumah. Sontak ibunda Joe dan sang kaka berlari menuju gerbang depan rumahnya, setelah dibuat bingung oleh anaknya yang tak jadi berangkat menuju sekolah dan lebih memilih kembali ke kamarnya.
Tanpa basa basi ibu Rahma membawa bayi kecil didalam box itu masuk kedalam rumah.
Pak satpam memberikan surat yang dijatuhkan oleh Joe tadi kepada kakaknya, Manda.
Manda terdiam mematung membaca surat itu. Tak terasa air mata mulai membasahi pipinya. Ia bingung apa yang harus ia katakan pada sang ibu. Ia teringat tadi ketika Joe masuk berlari menuju kamarnya dengan muka yang merah penuh amarah, dan ketika ditanya ibunya, ia tak menjawab malah berubah sendu diwajahnya.
Ternyata itulah alasannya kenapa sang adik membatalkan niatnya pergi ke sekolah untuk mengambil surat kelulusannya.
Ia memilih untuk menyimpan surat itu. Ia belum siap melihat ibunya lebih terluka atas apa yang terjadi dalam keluarganya.
Dengan segera Manda berangkat menuju sekolah sang adik dengan menggunakan mobil milik ibunya untuk menggantikan adiknya.
Tak lama ia berada di sekolah adiknya itu. Setelah menerima SK milik adiknya itu ia lebih memilih pergi kerumah neneknya dari sang ayah. Ia menemui Om dan Tante nya.
Ia menceritakan segala hal yang ia saksikan pagi hari tadi didepan gerbang rumahnya. Juga tak lupa ia menyerahkan surat yang diterima olehnya dari pak satpam yang telah di baca Joe sebelumnya.
Om dan Tantenya terkejut bukan main. Mendadak mereka bingung atas apa yang telah dilakukan kakak lelaki tertuanya itu.
Mereka meminta agar Manda dan Joe jangan dulu memberi tahu yang sebenarnya terjadi pada sang ibu. Mereka takut hal buruk terjadi pada kakak iparnya karena begitu banyak hal yang menimpanya akhir-akhir ini.
"Nak, tolong kamu simpan dulu rahasia ini dari ibumu yak, Tante takut akan kesehatan ibumu." pinta tante Ayu.
"Iya, Manda. Om dan tante akan memikirkan jalan keluarnya. Om dan tante pun akan menjaga rahasia ini dari nenek. Nenek sudah tua, om gak mau kesehatannya terganggu gara-gara masalah ini. Kita pun harus mengkhawatirkan juga kesehatan ibumu. Mengurus masalah ayahmu saja berat untuknya harus bulak balik ke kantor pengacara keluargamu. Jangan kasih ia beban lebih lagi yak,Nak." Sambung Om Rio, adik bungsu ayahnya itu.
Manda menanggukkan kepalanya perlahan dengan mata yang kosong. Seolah sedang menerawang jauh.
"Ada apapun masalah yang kau dapati,ceritakan pada kami Nak. Jangan kau pendam sendiri". Tante Ayu mengelus lembut rambut kemenakannya yang sedang melamun.
Manda terdam seribu arti.
Sebagai kakak, Manda pandai menyembunyikan perasaan nya. Ia mampu menghilangkan rasa egois nya akan amarahnya pada sang ayah, karena takut melihat ibunya lebih hancur. Padahal ia sendiri sangat hancur.
Sikap dewasa nya sangat mengalahkan keegoannya.
Ia terlihat tegar dari luar, padahal sejatinya ia sangat rapuh dari dalam. Terbukti selagi arah pulang dari rumah neneknya itu, ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang agak sepi.
Ia menangis sejadi-jadinya. Meluapkan segala yang ia tahan sejak tadi pagi. Hingga tersedu-sedu. Dan semakin lama semakin lemah nadanya.
Ingin dia pergi dari dunia yang sedang tak berpihak padanya saat ini...
Namun, terlintas dimata sendunya sang ibu yang megharuskan dirinya tegar kembali. Ia mengusap air mata yang masih membasahi pipinya itu dengan tissue yang ada di dashboard mobilnya. Setelah tenang ia lanjutkan perjalanannya.
*****
gimana sama delia dan kia
author pinter bahasa perancis 👍keren