Renita Rakhwati Putri, Gadis yang sudah siap menikah, namun tak kunjung ada laki-laki yang datang kepada nya. Hingga akhirnya, adiknya yang telah memiliki pasangan berniat untuk menikah muda.
Namun niat adik nya terhalang restu sang ayah. Karena ayah dari Renita masih percaya hal-hal kuno, dan menganggap adik yang menikah melangkahi kakak nya adalah suatu aib yang sangat memalukan dan melanggar adat.
Renita akhirnya di paksa menikah secepat nya, karena laki-laki calon suami sang adik sudah tidak mau menunggu lama lagi. Renita harus berkorban menikah cepat dan kilat demi sang adik.
Cerita lengkapnya akan temen-temen baca di naskah novel Ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noktafia Diana Citra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Sudah seminggu lebih aku kabur dari rumah. Hari ini aku mencoba untuk mengaktifkan nomor ponsel ku. Berharap ada kabar bahwa ayah akan merestui ku dan mas Andre untuk menikah. Aku yakin, kak Renita tidak akan di paksa-paksa oleh ayah. Handphone ku biarkan berada di atas meja. Sebenarnya selama ini aku dibawa oleh mas Andre ke salah satu kampung terpencil di tempat saudaranya. Sangat jarang ada kendaraan yang berlalu lalang dengan mudah. Aku tidak tinggal berdua dengan mas Andre. Melainkan aku tinggal dengan saudara mas Andre. Mereka sangat baik padaku. Selama disini, mas Andre tidak tinggal serumah denganku dan saudaranya. Dia balik ke Jakarta, lagi pula keluarga ku tidak ada yang mengetahui nomor ponselnya, karena memang aku belum pernah mengenalkan mas Andre pada keluarga ku.
" Zaskia ?".
Mbak Indah, saudara mas Andre menghampiriku. Dia sangat baik, usianya kira-kira sekitar 26 tahun, dia juga belum menikah. Aku banyak bercerita tentang keluarga, bahkan hingga masalah yang sedang di hadapi olehku dan mas Andre. Tidak jarang, mba Indah juga sering memberikan masukan dan nasehat padaku.
" Iya mbak ?". Jawabku sembari melirik ke arah asal suara.
" Kamu tidak makan ?, apa yang sedang di pikirkan ?".
" Hari ini, Zaskia putuskan untuk mengaktifkan nomor ponsel Zaskia mbak. Semoga saja ada kabar atau pesan yang masuk, yang memberitahukan bahwa ayah menyetujui Zaskia dan mas Andre untuk menikah. Sejujurnya, Zaskia juga sangat rindu orang-orang rumah".
" Semoga saja, tapi pahit-pahitnya jika ayah kamu tidak juga merestui kamu dan Andre untuk menikah, akan kah kamu akan tetap kabur tanpa kabar begini ?".
" Entahlah mbak, Zaskia juga bingung. Zaskia belum sempat membicarakan resiko terburuk seperti yang mbak Indah bilang tadi pada mas Andre. Lagi pula kan, semenjak hari pertama Zaskia disini, mas Andre langsung balik ke Jakarta lagi".
" Dan..., apa kamu yakin ?!. Jika kakakmu tidak akan disuruh-suruh dan di paksa-paksa menikah lagi jika kamu kabur seperti ini ?".
Aku tidak tahu, apa maksud mbak Indah bertanya demikian padaku. Jelas, kak Renita tidak akan di paksa menikah oleh ayah, karena ayah pasti hanya fokus mencari keberadaan ku, dan akhirnya akan merestui aku dan mas Andre untuk menikah, tanpa harus menunggu kak Renita menikah dulu.
" Yakinlah mbak, aku juga berkorban yang kesekian kalinya untuk kakakku. Biar bagaimanapun dia saudara kandung ku, dan dia lebih tua dariku. Makanya Zaskia putuskan untuk kabur saja dari rumah".
" Hmmm begitu, yasudahlah. Semoga saja, semuanya berjalan sesuai rencana kamu dan Andre".
" Ya mbak, semoga saja begitu. Aku juga tidak mau mas Andre jadi milik perempuan lain. Aku sangat mencintai mas Andre, mbak".
" Jangan terlalu banyak berharap berlebihan pada sesuatu yang tidak pasti Zaskia. Mbak hanya takut, nanti jika tidak terlaksana sesuai harapan kita, jatuhnya akan sangat menyakitkan".
" Maksud mbak ?!. Zaskia tidak akan menikah dengan mas Andre ?!".
Sejujurnya aku sangat kesal dengan ucapan mbak Indah barusan. Maksudnya apa dia berkata demikian, seolah-olah dia mendoakan kalau aku tidak akan bisa menikah dengan mas Andre. Rasanya aku ingin memaki-maki mbak Indah, tapi untung aku masih bisa kontrol emosi. Biar bagaimanapun aku masih menumpang padanya untuk waktu yang tidak ditentukan.
" Tidak.., tidak. Bukan begitu maksudnya mbak Indah, Zaskia. Mbak hanya memberikan nasehat saja. Tidak ada maksud lain. Mbak juga berharap kalian cepat menikah".
" Hmmm......, doakan saja mbak". Jawabku Sekena nya.
" Yasudah, mbak tinggal dulu yah".
" Iya mba".
Aku memandangi tubuh wanita berjilbab hitam itu yang beranjak dan pergi meninggalkan ku sendirian. Dirumah ini, hanya ada aku dan Mbak Indah. Karena memang, semua keluarga mbak Indah tinggal diluar Jawa, merantau. Ah, aku sangat rindu mas Andre. Kenapa dia tidak juga datang menjenguk diriku disini. Dia langsung pergi setelah menitipkan ku pada mbak Indah. Padahal mas Andre sudah berjanji, akan sering menengokku. Aku menghubungi mas Andre menggunakan nomor lainnya, nomor baru yang sengaja aku beli hanya untuk berkomunikasi dengan mba Indah dan mas Andre. Mas Andre sering tidak membalas pesanku, aku mengerti posisi dia. Mas Andre pasti sedang menyiapkan segala sesuatu untuk acara pernikahan dia denganku. Karena pasti, ayah akan segera merestui aku dan mas Andre untuk menikah.
Aku beranjak pergi dari teras rumah mba Indah. Aku ingin melihat, apakah ada pesan yang masuk dari keluargaku di Jakarta.
" Ah, kak Renita. Kamu berhutang budi padaku sangat banyak. Aku rela berkorban kabur dari rumah, agar kamu tidak dipaksa menikah oleh ayah". Gumamku dalam hati.
Aku meraih ponselku. Ada banyak pesan masuk, tapi tidak ada satu pun pesan dari ayah, yang isinya kabar baik, bahwa ayah akan merestui ku untuk menikah. Jujur perih sekali rasanya, kenapa ayah tega tidak mencari ku. Bahkan setelah aku kabur, kenapa ayah tidak juga memberikan restu, atau setidaknya berusaha agar aku dan mas Andre segera menikah. Aku semakin benci dengan kak Renita. Sangat benci !.
Aku mematikan kembali ponselku. Biarlah, mungkin ayah sedang mencari-cari keberadaan ku. Aku tunggu saja, beberapa hari lagi. Aku yakin, ayah tidak akan kejam padaku. Ayah sangat menyayangi ku, ayah sangat memanjakan ku. Aku percaya itu.
" Tuuttt..... Tuuttt.... Tuuttt...."
Aku memutuskan untuk menghubungi mas Andre. Aku rindu suaranya, aku juga ingin memberikan kabar, meskipun ini kabar tidak terlalu baik, kabar bahwa belum ada juga pesan yang masuk dari ayah, yang isinya memberikan restu untukku dan mas Andre agar bisa menikah.
" Haloo ...".
Aku mendengar suara mas Andre dari seberang sana.
" Ha-hallo mas. Akhirnya kamu angkat juga telepon dariku mas. Kamu kemana saja ? sibuk banget ya sayang ?".
" Ma-maaf ya Zaskia. Aku se-sedang sibuk, hingga ti-tidak sempat menjawab telepon darimu. A-ada apa ?".
" Mas ?, kenapa mas Andre sangat gugup ?, apa ada masalah ?".
Aku mendengar suara mas Andre yang terbata dari seberang telepon. Aku sangat khawatir.
" Tidak apa-apa Zaskia. Aku hanya sedang sibuk. Jadi tolong segera sampaikan kenapa kamu menelepon ku ?".
" Pertama, Zaskia rindu mas. Katanya kamu akan sering jenguk aku disini. Tapi sampai sekarang aja, baru bisa menerima telepon. Kedua, Zaskia mau kasih kabar mas ".
" Kabar apa Zaskia ?!. Apa ayah kamu sudah memberikan restu ?. Apa kamu sudah mendapatkan kabar itu dari keluarga mu ?!".
" I-itu ma-masalahnya mas. Tadi aku mencoba mengaktifkan nomor ponsel lamaku. Tapi tidak juga ada kabar tentang itu mas". Suaraku tercekat.
" Oh, ya. Aku sudah menduga nya Zaskia. Yaudah, aku matikan telepon nya ya. Aku sedang sangat sibuk. Bye ".
" Tutt.... tutt... tutt...."
Belum sempat aku mengucapkan kata-kata lagi, telepon sudah lebih dulu mas Andre matikan. Aku tahu, pasti mas Andre sangat kecewa padaku. Harusnya aku tidak memberikannya kabar ini. Dia pasti sedang frustasi dan marah.
" Maafkan Zaskia mas". Ucapku lirih.
Mataku berkaca-kaca. Aku sangat kesepian disini. Kenapa mas Andre tega meninggalkan ku sendirian disini. Sesibuk itu kah dia di Jakarta ?!. Separah itu kah menyiapkan modal untuk menikah ?!. Aku meletakkan handphone ku, dan memilih untuk tidur. Setidaknya semoga dengan tidur, bisa meringankan sakit di kepala karena semua ini.
Belum apa" banyak bawangnya 😭
sukses
semangat