Dia menikah, semata-mata hanya untuk terbebas dari siksaan keluarga. Namun, nyatanya, semua itu tidak sesuai harapan. Pernikahan dini yang dipaksakan, bukanlah pernikahan impiannya.
Seiring berjalannya waktu, semua perlahan berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hambatan
"Mas tunggu di sini saja, biar aku yang masuk ke dalam ambil koper," ucap Wulan setelah mobil mereka tiba di halaman rumah.
"Temani istriku! Aku tidak mungkin membiarkan dia masuk seorang diri ke sarang harimau," titah Sandi setelah mendengar ucapan Wulan.
"Baik, Tuan!"
"Mas-"
"Tidak ada bantahan, Wulan. Jika aku tidak merepotkan begini, aku tidak akan membiarkanmu masuk seorang diri ke dalam sana," sela Sandi tak ingin mendengar rengekan Wulan.
Ia menghela napas, turun ditemani sang supir masuk ke dalam rumah. Yoga masih di rumah mereka, padahal langit sudah berubah menjadi gelap. Seharian Wulan berada di luar, berkeliling melihat-lihat keadaan kota.
"Jangan pedulikan mereka, Nona. Fokus saja pada tujuan Anda," ingat sang supir saat mereka hampir tiba di ambang pintu.
Wulan menghela napas, membuka pintu dan bergegas menuju belakang di mana kamarnya berada. Mencoba untuk tidak peduli pada riak obrolan beberapa orang di ruang tamu. Penampilannya yang berbeda membuat mereka tertegun hampir tak mengenali. Di belakang Wulan, sosok lelaki tinggi besar berjalan tegap menjadi pengawal.
"Wulan?" Susi beranjak dari duduk, berjalan penasaran menuju kamar Wulan.
"Apa itu Wulan?" tanya Salsa dengan nada tak percaya pada kekasihnya, Yoga.
Laki-laki itu hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab dengan lisan. Menatap kepergian satu sosok yang seharian meninggalkan jejak gelisah di hatinya.
"Maaf, Nyonya. Nona Wulan tidak memiliki waktu lama di sini karena tuan Sandi sudah menunggu," sergah supir tersebut menjadikan dirinya tameng yang menghalangi Susi mendekati Wulan.
Tak hanya ibu tiri itu yang penasaran, tapi juga Hardi dan Salsa ikut menjejali bagian dapur rumah tersebut. Wulan yang keluar sembari menyeret koper Sandi seketika menautkan alis melihat semua orang berkumpul di dapur.
"Kalian kenapa?" tanya Wulan heran. Ditatapnya satu per satu wajah ketiga orang yang tercengang pada dirinya itu.
"Kamu Wulan?" tanya Susi melebarkan matanya menanti jawaban.
"Iya, ada apa? Maaf, aku harus segera pergi. Suamiku sudah menunggu, malam ini juga kami akan keluar dari rumah ini dan tidak akan mengganggu kalian lagi," jawab Wulan tanpa panjang lebar seraya membawa langkah pergi dari rumah itu.
"Permisi, Nyonya, Tuan, dan Nona. Beri jalan untuk Nona Wulan," pinta sang supir menyingkirkan ketiga manusia itu dari jalan yang menghalangi Wulan.
Mereka masih membeku terutama Salsa yang tak percaya melihat Wulan berubah drastis hanya dalam satu hari saja.
Bagaimana bisa dia secantik ini? Apa Sandi benar-benar mampu melakukannya? Berapa yang harus dia keluarkan untuk merubah Wulan?
Batin Salsa bergumam tak senang, tepatnya merasa iri dengan apa yang terjadi pada Wulan. Matanya yang tak berkedip, membesar menelisik dengan saksama khawatir salah melihat.
"Tunggu! Apa Sandi yang membuat kamu seperti ini?" Salsa dengan lancang mencekal lengan Wulan, menghentikan langkah istri Sandi itu dengan spontan. Tarikannya yang cukup kuat menyentak tubuh Wulan yang tak siap sehingga nyaris saja terjatuh.
Sang supir bereaksi cepat, memaksa Salsa melepaskan cengkramannya terhadap sang nona.
"Lancang sekali Anda melakukan tindak kekerasan terhadap Nona di hadapanku!" berang sang supir menyalang pada kedua manik Salsa. Dicengkeramnya sangat kuat tangan gadis itu hingga membuatnya meringis.
"Ah!" rintih Salsa sambil terpejam merasakan perih pada pergelangan tangannya.
"Lepaskan tangan anak saya, kamu menyakitinya. Memang apa istimewanya perempuan itu, bagi kami dia sama saja meskipun sudah menikah dengan majikan kamu!" bentak Susi tidak terima.
Wulan menatap sang supir, menganggukkan kepala memintanya untuk melepaskan cekalan. Dihempaskannya cukup kasar tangan Salsa dan tanpa berkata mendorong punggung Wulan untuk segera pergi meninggalkan rumah tersebut.
"Wu-wulan ...." Hardi memanggil, tapi tak tahu harus mengatakan apa. Memandangi kepergian Wulan yang tidak berpamitan padanya. Nyeri ulu hati, kini dia bisa merasakan bagaimana tidak dipedulikan.
"Kurang ajar! Sialan supir itu, dia pikir dia siapa?" umpat Susi sambil memegangi tangan Salsa.
"Perih, tanganku merah begini, Mah," rengek Salsa menunjukkan tangannya yang kemerahan.
"Astaga, cepat diobati!" Susi panik dan membawa Salsa duduk di kursi setelah mengambil kotak obat yang selalu disimpan rapi oleh Wulan.
Keadaan sudah berbalik, Wulan tak lagi sama seperti yang dulu. Ada orang-orang yang kini berdiri di depannya siap membela. Salah mereka meremehkan Sandi, salah mereka memandang rendah setiap orang. Padahal, mereka belum tahu siapa sosok yang kini menjadi suami Wulan.
"Pah, Papah yakin Sandi itu bukan siapa-siapa? Mamah rasa sikapnya seperti seorang penguasa saja," tanya Susi penasaran setelah mengobati tangan Salsa.
"Papah juga tidak tahu, Mah. Papah tidak diajak ke kediaman mereka, kami hanya bertemu di sebuah warung makan sederhana. Papah pikir, itu sudah cukup menjelaskan siapa mereka," jawab Hardi setengah hati merasa bingung dengan keadaan yang terjadi.
Susi menghela napas, mulai berpikir tentang Sandi dan segala sikap beraninya. Mereka beranjak dari dapur menemui Yoga kembali yang ditinggal sendiri. Namun, pemandangan mengherankan mereka dapati, saat tiba di ruang tersebut. Supir sandi dengan berani mencekal tangan kekasih Salsa itu, dan menghempaskannya dengan kasar.
"Anda pikir, Anda siapa? Sampai berani hendak menyentuh Nona kami!" kecam laki-laki bertubuh besar itu sambil menudingkan telunjuk tepat di depan wajah Yoga.
Ia kembali menyusul Wulan yang sudah terlebih dahulu keluar. Yoga tidak berkutik, membeku tanpa kata. Hanya rahangnya saja yang mengeras dan juga kepalan tangan yang menandakan ia tengah menahan gejolak amarah.
"Nak Yoga tahu siapa Sandi?" tanya Susi seraya membawa langkah mendekati sofa di mana sosok Yoga mematung.
Laki-laki itu menoleh, menjatuhkan bobot tubuh dengan kasar.
"Saya tidak tahu, Tante. Mereka begitu sombong, padahal mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa di sini," ujar Yoga menahan kekesalan yang menumpuk di dada.
Dia pikir bisa menyentuh Wulan dengan mudah di saat Sandi tak di sampingnya. Namun, diluar dugaan, supir itu pun begitu lancang mengancamnya. Harga diri seorang Yoga telah direndahkan, di hadapan keluarga kekasih sendiri.
"Sepertinya kita harus mencari tahu siapa Sandi," gumam Hardi yang juga penasaran dengan menantunya itu.
"Om tenang saja, saya akan meminta bawahan saya untuk mencari informasi tentang sosok suami Wulan itu," ujar Yoga dengan penuh percaya diri.
****
"Kenapa lama sekali?" tanya Sandi begitu Wulan masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya.
"Maaf, Tuan. Sedikit hambatan dari orang-orang di dalam sana menghalangi Nona untuk keluar," jawab sang supir mewakili Wulan yang baru saja hendak membuka mulutnya.
Sandi melirik, kemudian menelisik tubuh sang istri.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya lagi setelah memindai seluruh tubuh Wulan.
"Mas tenang saja, aku baik. Bapak ini melindungiku dari mereka," jawab Wulan sambil tersenyum.
Sandi menghela napas lega, menjatuhkan kepala pada sandaran. Sebuah tekad membulat di dalam hati, dia harus sembuh agar bisa melindungi Wulan dari ancaman orang-orang seperti mereka.