Jatuh cinta pasti dirasakan setiap manusia
Dan banyak sekali rintangan didalamnya
baik suka maupun duka
mau tidak mau kita harus melewatinya
Setiap hubungan juga tidak akan berjalan
dengan mulus layaknya jalan tol
akan ada waktunya jalan itu berlubang
Akibat kesalahpahaman dan keegoisan kita
Jadi, mau happy atau sad endingnya
kitalah yang tentukan sendiri
dan mungkin ada hati yang akan dikorbankan
atau tidak sama sekali diantara kita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourdream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Jangan lupa untuk like + comment + follow akunku.
Happy reading 😄😄
[[]]
Rena bingung dengan kedatangan Yuan di rumah. Rena langsung menghampiri Yuan.
"Lho, kok kamu udah pulang? Kan kalian baru aja keluar?" tanya Rena.
"Bosen." Yuan berlalu tapi ia balik lagi menoleh ke Rena. "Lain kali jangan nge-iyain ajakan Ersa. Yuan gak suka."
Rena menghela nafas.
"Bunda lakuin ini biar kamu gak ngerasa bosen dirumah selama kamu belum baikan sama Irine, Yuan," gumam Rena.
[[]]
Karena hari minggu saja yang menjadi hari libur bagi siswa SMA Eltera, kini pagi-pagi, sekolah itu sudah ramai dengan dipenuhi siswa-siswi.
Irine berangkat bareng dengan Sastra. Karena cowok itu datang pagi-pagi kerumahnya. Dan pastinya untuk mengajak Irine untuk berangkat bareng.
Kedua orangtuanya pun tak masalah. Bahkan ia diledeki dihadapan Sastra.
"Sas, ucapan bunda sama ayah gak usah dipikirin ya? Mereka emang suka begitu," ycap Irine.
"Iya."
"Sas."
"Hm?"
"Lo dirumah sama siapa?" Karena Irine tahu, Sastra hanya tinggal bersama ibunya. Dan setelah ibunya meninggal, pasti cowok itu tinggal sendirian.
"Ada bibi gue. Dia baru aja dateng dari kampung," ucap Sastra. Irine mengangguk lega.
"Oh, kirain lo sendirian dirumah."
"Kenapa? Lo mau nemenin gue?" goda Sastra.
Irine langsung menoleh dengan kernyitan di dahinya.
"Canda," ucap Sastra.
"Ish, udah mulai seneng ya ngerjain gue?" sindir Irine.
"Mungkin."
"Dasar." Irine dan Sastra terkekeh.
Kini mereka sudah tiba di cabang koridor, karena kelas mereka yang berbeda, mereka harus berpisah disana.
"Dah." Irine melambaikan tangannya ke Sastra.
Sastra melihat Irine terlebih dahulu sampai sosok itu benar-benar hilang dari pandangannya.
"Dasar perebut milik orang." Sastra mengernyit ketika ada seseorang yang melewati dirinya dengan suara ketus.
Yuan.
"Yuan," panggil Sastra.
Yuan berhenti dan menoleh kebelakang. Dengan kedua tangannya dimasukkan kedalam saku, tatapan Yuan menyiratkan ketidaksukaannya pada Sastra.
"Bisa kita ngomong berdua?"
"Gue gak ada waktu," ketusnya.
"Istirahat, temuin gue di taman." Kemudian Sastra pergi menuju kelasnya.
Yuan terdiam menatap kepergian Sastra. Baru kemudian ia berbalik dan menuju ke kelasnya.
Arah kelas dirinya dan Irine memang sama, namun hanya beda kelas.
[[]]
Taman SMA Eltera
Yuan tiba saat bel istirahat sudah berbunyi. Sastra pun sudah ditempat ketika Yuan tiba.
"Lo mau ngomong apaan?"
Yuan yang berada dibelakangnya, Sastra pun menoleh ke belakang. Ia berdiri dari tempatnya.
"Gue tahu, lo sama Irine itu sahabatan dari kecil. Kemana-mana juga selalu bareng."
"Intinya aja. Gue males basa-basi," sanggah Yuan.
Sastra mengangguk mengerti.
"Tolong lo jangan marah sama Irine lagi. Tanpa lo tahu, Irine sedih ngelihat lo jauh dari dia."
"Bukannya dia udah ada lo? Ya lo yang hibur dia lah." jawab cepat Yuan.
"Tap--" Yuan memotong ucapannya terlebih dahulu.
"Udah, kan? Cuma itu yang mau lo omongin? Lo buang-buang waktu gue aja." Yuan berbalik meninggalkan Sastra ditempat.
Sastra menghela nafas. Ia gagal membujuk Yuan agar bisa berbaikan lagi dengan Irine.
Sastra pun pergi menuju kantin.
"Sastra, lo habis darimana? Dari taman?" Sastra berpapasan dengan Irine dan juga kedua temannya.
Ketika Secil menatap Sastra, namun tanpa sengaja mata mereka saling bertemu. Dan pastinya, karena tertangkap basah, Secil mengalihkan pandangannya.
"Iya. Kalian pada mau ke kantin, kan?"
Irine mengangguk. "Iya. Lo mau bareng?"
"Boleh."
"Yaudah, yuk!" Irine dan Sastra berjalan beriringan. Sementara Vinkan dan Secil berjalan beriringan dibelakang Sastra dan Irine.
"Sas, lo udah gak papa, kan?" Tanya Irine.
Sastra tersenyum dan menoleh ke Irine.
"Emangnya gue kenapa?"
"Ya ... gak papa sih. Gue cuma nanya aja," ucap Irine.
Sastra terkekeh.
"Gue baik-baik aja, Irine. Lo gak usah khawatir lagi. Ya?" Sastra mengangkat tangannya untuk mengusap-usap kepala Irine.
Tanpa siapapun yang tahu, ada hati yang retak melihat pemandangan itu. Retak namun tak ada yang bisa mendengarnya.
Hanya ia yang bisa merasakannya.
"Cil, lo kenapa?" tanya Vinkan ketika Secil diam saja sedari tadi.
Secil menoleh kemudian menggeleng sambil tersenyum.
"Gak papa."
"Gue cewek kali. Jadi kalau lo jawabnya gitu, pasti ada apa-apa."
Secil hanya bisa tersenyum miris saja.
[[]]
Ersa menghampiri Yuan ketika cowok itu baru saja keluar dari kelasnya.
"Yuan."
Sementara cowok yang dipanggil itu tampak acuh seakan tak ada orang yang memanggil namanya. Melihat itu, Ersa segera berlari untuk menyejajarkan langkahnya.
"Yuan, kok tadi kam--- lo maksudnya, gak ke kantin?"
"Gak."
"Yaudah, nih buat lo." Ersa menyodorkan kotak bekal ke Yuan. Yuan berhenti dan menatap Ersa.
"Bisa gak sih, lo gak usah buat gue risih?" Ketus. Hanya itu ucapan Yuan ketika berbicara dengan Ersa. Tidak seperti ke Irine yang lembut.
"Tapi kan gue cuma mau kasih ini ke elo."
Yuan mengambil paksa kotak bekal itu dari tangan Ersa. Meskipun diambil secara kasar, Ersa tersenyum.
"Lo cuma mau kasih ini, kan?" Ersa mengangguk.
"Yuan!"
Baru saja Ersa ingin protes ketika melihat kotak bekalnya dibuang begitu saja ke tempat sampah. Mereka menoleh ke siapa yang berteriak.
"Lo apa-apaan sih? Apa gitu cara lo nerima pemberian orang?" Irine datang dengan perasaan marahnya.
Yuan sedikit terkejut sekaligus senang. Akhirnya, ia bisa melihat cewek ini dari jarak dekat. Tapi bukan dengan cewek itu yang memarahi dirinya.
"Apa urusannya sama lo?"
"Cih, semakin lama gue semakin muak sama sikap lo, Yuan. Lo tuh egois! Lo tuh hanya bersikap sesuai sama keinginan lo! Tanpa lo sadari, lo udah nyakitin perasaan orang lain!" ucap Irine begitu jelas.
Ersa hanya menunduk. Melihat bagaimana kotak bekalnya dibuang oleh Yuan. Entah kenapa, hatinya begitu sakit.
"Gak usah perduliin hidup gue. Hidup lo udah sempurna sampai harus ikut campur di kehidupan orang lain?" Setelah itu, Yuan berlalu meninggalkan keduanya.
Pertikaian kecil antara Irine dengan Yuan mengundang keingintahuan dari semua orang. Karena pemandangan ini jarang terjadi diantara mereka berdua.
"Ih, lagian salahnya Kak Ersa juga sih. Pake genit deket-deketin Kak Yuan segala. Jadi berantem, kan Kak Yuan sama Kak Irine."
"Iya, padahal mereka cocok banget kalau lagi akur."
"Orang cantik mah bebas yee. Sana sini bisa tebar pesona."
Ah, justru Ersa lah yang dihujat oleh penggemar setianya Yuan dan Irine.
Irine yang mendengar itu langsung menghampiri adik kelas yang membicarakannya.
"Kalian cuma salah paham. Itu semua gak seperti yang kalian bayangkan. Ersa bukan penyebab kita berantem kok. Jadi, tolong jangan salahin Ersa dan bicarain tentang dia. Ya?"
"Ah, i-iya kak. Maaf," ucap adik kelasnya itu ketika dibilang secara lembut oleh Irine.
"Terima kasih." Irine pergi ke tempat sampah untuk mengambil kotak bekal yang dibuang oleh Yuan tadi. Kemudian menghampiri Ersa.
"Nih."
Prangg
Kotak bekal itu dihempas hingga isi didalamnya berantakan di lantai. Irine terkejut dengan perlakuan Ersa itu.
"Buang aja. Lagian itu emang udah sepantasnya untuk dibuang." Ersa pergi begitu saja.
Irine tahu jika Ersa sangat sakit hati dengan perlakuan Yuan padanya. Dan untuk sekarang, Irine harus membersihkan lantai yang berantakan itu.
Irine berjongkok untuk memunguti nasi-nasi itu ke tempatnya lagi.
"Sendirian aja? Butuh bantuan gak?"
Irine mendongak.
"Sastra?" Sastra tersenyum kemudian membantu Irine untuk membersihkan nasi tersebut.
"Kenapa bisa kayak gini? Gara-gara Yuan?"
"Iya! Gue tuh kesel tau gak sama dia. Masa ya, Ersa ngasih kotak bekal ke Yuan, tapi lo tau apa yang dia lakuin?" Irine mengambil nasi-nasi itu dengan kesal.
"Apa?"
"Dia malah buang kotak bekalnya Ersa ke tong sampah. Dan begini lah jadinya. Gue yang jadi imbasnya," lanjut Irine.
Sastra hanya terkekeh ketika melihat Irine begitu kesalnya.
"Lo lucu kalau lagi marah."
"Hah?"
Sudah selesai mereka membersihkan lantai itu menjadi bersih kembali. Sastra berdiri.
"Jangan tunjukkin itu ke cowok lain ya? Gue gak rela," ucap Sastra.
Ada yang mendengar jika hati Irine lompat-lompat karena bahagia? Begitu lah perasaan Irine saat ini.
To be continued
Hayoo, ada yang baper gak? Wkwk.
Aku sudah like ya, mampir yuk keceritaku
Dia Untukku. Terimah Kasih
Mencintaimu kaka
Salam manis "Scandal pewaris tunggal"
tetap semangat up nya 😀
jangan lupa di feedback ya kakak 😀
mari saling mendukung