NovelToon NovelToon
I LOVE YOU TOO, MR. MAX!

I LOVE YOU TOO, MR. MAX!

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Lari Saat Hamil / Mafia / Berbaikan
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Futen22

Ratu Maudy. Gadis berusia dua puluh tiga tahun. Menutup diri dari yang namanya cinta dan jatuh cinta setelah dikecewakan teramat dalam oleh kekasih pertamanya tiga tahun yang lalu.

Suatu malam, saat sedang menikmati pemandangan kota yang muram, gadis itu tidak sengaja melihat seorang korban pembunuhan. Dibuang di tempat pembuangan sampah yang tidak jauh dari rusun tempat ia tinggal. Awalnya, Maudy ingin berpura-pura tidak tahu. Tapi, saat seseorang itu bergerak dan hidup, hati gadis itu tergerak untuk menyelamatkannya.

Berlanjutlah hari-hari Maudy yang akan selalu direcoki oleh pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Futen22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18 - Kita sudah berakhir

Dia baru saja menggigit sepotong sandwich di tangan ketika mendengar ponselnya berbunyi. Sembari mengunyah, gadis itu meraih benda pipih yang berada tepat di sebelah botol air mineral. Memeriksanya. Terdapat pesan singkat dari Max.

Aku sudah mengirim uangmu.

Jangan lupa kamu masih berhutang beberapa kencan denganku! Isi pesan pria itu yang membuat Maudy hampir tersedak.

Gadis itu segera meraih botol air mineral di depan, membuka segel kemudian menenggak cepat hingga tersisa setengah.

Merasa tenggorokan agak mendingan, Maudy kembali menjelajah ponselnya. Membuka aplikasi mobile banking, memeriksa saldonya, dan ... benar saja. Saldonya mencapai angka lebih dari seratus lima puluh juta!

Saldo terbanyak yang ia miliki selama dua puluh tiga tahun hidupnya!

Maudy mengucek mata. Maklum dia tidak memakai kaca mata. Bisa saja mata minusnya salah melihat. Namun, berkali-kali dilihat pun, layar ponselnya tetap menunjukkan jumlah angka yang sama.

"Luar biasa! Pria itu benar-benar mengirim uang sesuai kesepakatan," gumam gadis itu pelan, sedikit takjub.

Ternyata Max tidak main-main. Pria itu benar-benar menepati apa yang sudah ia ucapkan.

Menutup semua aplikasi, Maudy meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Gadis itu melanjutkan kembali makan siangnya tanpa membalas sedikit pun pesan Max sebelumnya.

"WOI!"

Maudy sedikit terlonjak. Hampir saja dirinya tersedak part ke-dua. Gadis itu langsung melempar tatapan tajam ke arah pelaku yang telah sengaja membuat dirinya terkejut.

"Seram amat tuh muka." Bukannya merasa bersalah, Sofi, si pelaku yang hampir membuat Maudy tersedak part ke-dua siang ini, malah cengengesan memamerkan deretan gigi putih yang baru orang itu bleaching satu minggu yang lalu.

"Enggak lucu," ujar Maudy datar kemudian kembali menggigit sandwich yang semakin mengecil.

"Ngomong-ngomong, anak-anak pada makan di kafe sebelah. Lo doang yang makan siang di kitchen kecil toko ini," ungkap Sofi seolah melupakan tragedi mereka tadi.

"Terserah saya," balas Maudy memakan potongan terakhir sandwich tanpa menatap ke arah Sofi yang sedang menampung air dari dispenser ke botol air tupperware pink miliknya.

Sofi terdiam. Seketika kehabisan kata-kata jika mengobrol dengan si datar Maudy. Jadi, dia hanya fokus menunggu air di botolnya penuh saja. Hingga beberapa detik kemudian, dia teringat sesuatu.

"Ngomong-ngomong lo—" ucapan gadis itu menggantung di udara ketika tidak mendapati sosok Maudy lagi. Seolah gadis itu beserta barang-barangnya hilang ditelan pesawat alien. "disuruh Bu Laura ke ruangannya sehabis istirahat nanti." Lanjut Sofi menyelesaikan kalimat yang seharusnya ia sampaikan pada Maudy tadi.

"Udah kayak kuntilanak aja. Kakinya enggak napak," monolog Sofi. Setelah itu, terdengar helaan napas lelah dari gadis berkulit eksotis itu.

***

Setelah menyimpan barang-barang ke dalam loker, Maudy keluar dari dalam butik. Niatnya untuk mencari udara yang lebih segar dan alami. Tapi sayang, bukan seperti udara yang diharapkan, udara di luar sangat-sangat tidak bersahabat jika dihirup terlalu lama dan dalam. Itu sebabnya, dia ingin segera kembali ke dalam padahal baru dua menit berdiri di luar.

"Maudy?"

Seseorang menginterupsi gerakan Maudy yang hendak membuka pintu.

Suara ini?

Badan gadis itu sedikit bergetar. Dadanya bergejolak hebat. Dan ketika ia berbalik dan mendapati pria itu berdiri di hadapan, untuk sesaat Maudy lupa bagaimana caranya bernapas.

"Maudy?" Pria itu bergerak maju, refleks Maudy mundur dan memberi gesture tegas agar pria itu tidak mendekat.

"Maudy, please. We need to talk." Pria itu terlihat putus asa.

Tapi, Maudy tidak terpengaruh sama sekali. "Enggak ada lagi yang perlu kita bicarakan, Dave. Kita sudah berakhir tiga tahun yang lalu. Ingat?"

"Tapi, kita—"

"Enggak ada lagi kata 'kita', Dave," tegas Maudy. Gadis itu berusaha keras menahan air mata agar tidak menangis.

Dave hendak berbicara. Tapi, lagi-lagi Maudy memotong. "Aku harus bekerja. Pergilah," usir gadis itu masih sanggup mengontrol nada bicara agar tidak berteriak.

"Tapi, Mau—"

Tidak ingin mengeluarkan suara lagi, Maudy memutuskan untuk masuk ke dalam. Mengabaikan Dave yang masih berdiri di luar. Terserah pria itu hendak berbuat apa, dirinya tidak ingin terlibat lagi.

***

Di dalam toilet, Maudy menangis hebat. Tanpa suara. Jelas itu berkali-kali lipat lebih menyakitkan jika dibanding ia menangis dengan suara keras. Namun, dia tidak ingin seorang pun tahu kalau dia sedang menangis. Sementara, air mata sialan ini terus mengalir tanpa bisa dibendung.

Gadis itu memukul-mukul dadanya keras. Berharap, rasa sakit fisik bisa mengurangi rasa sakit batin yang semakin ganas menggerogoti jiwa.

TOK! TOK! TOK!

"Halo? Yang di dalam, kak Maudy, ya?"

Terdengar suara Anya dari luar toilet. Maudy seketika menghapus air mata menggunakan tissu toilet.

"Halo?" ujar gadis itu lagi karena sama sekali tidak ada jawaban.

"Iya, ini aku. Perutku sakit banget. Sebentar lagi selesai," jawab Maudy jelas berbohong.

"Oh ... oke, kak. Cuma mau bilang, bu Laura nyuruh kakak buat datang ke ruangannya."

"Iya, iya. Lima menit lagi aku udah di sana," ucap gadis itu menekan flush seolah dia baru saja memenuhi panggilan alam.

"Oke, kak," ucap gadis itu kemudian terdengar suara langkah kaki yang menjauh.

Maudy menghela napas dalam. Dia lelah. Sangat-sangat lelah.

Tidak bisa ditunda lagi, gadis itu bangkit. Dia menatap wajahnya di cermin toilet. Sangat mengenaskan. Dia tidak bisa menemui bu Laura dengan keadaan wajah seperti ini. Dia perlu memoles kembali bedak dan beberapa komponen make up lain. Dan, dia harus melakukannya dengan cepat.

***

Kini, Maudy sudah duduk di hadapan bu Laura. Seperti biasa, aura tegas yang positif terpancar dari diri bosnya itu.

"Bagaimana dengan tawaran saya minggu lalu? Saya harap kamu sudah mempunyai jawabannya?" Tanpa berbasa-basi, langsung ke inti pembahasan.

Mungkin, ekspresi Maudy nampak tenang. Tapi, jari-jemari gadis itu sibuk mencengkeram ujung kemeja yang ia kenakan.

Kenapa harus sekarang? Dia sedang tidak bisa berpikir jernih dan belum benar-benar membuat keputusan. Tapi jelas, ini bukan salah bu Laura. Ini memang sudah sesuai dengan waktu yang mereka sepakati untuk ia memberi jawaban.

"Sebelumnya saya sangat berterima kasih atas tawaran ibu. Tawaran itu benar-benar membuat saya merasa bahwa kerja keras saya selama ini benar-benar diapresiasi. Tapi, dengan berbagai macam pertimbangan, saya harus menolak tawaran itu dengan berat hati." Maudy sedikit menunduk setelah mengucapkan kalimat itu.

Ekspresi bu Laura terlihat terkejut. Sepertinya ini di luar dugaannya. "Boleh saya tahu alasan kamu menolak tawaran saya ini?"

Maudy mengangguk. "Tawaran ibu untuk menjadikan saya manager di toko ini sangatlah baik. Juju saja, saya suka bekerja di sini. Tapi, sejak awal, saya memang tidak berniat menetap. Saya bekerja dengan waktu yang memang tidak saya tentukan, tapi saya sadar itu tidak akan lama."

Bu Laura mengangguk kecil. Dia menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Maudy dengan serius. Sepertinya dia sudah mulai menemukan titik terang kenapa gadis ini menolak tawarannya yang sangat bagus.

"Akan sangat tidak etis jika saya menerima tawaran ibu ini sekarang padahal di dalam hati sudah memiliki niatan berhenti sewaktu-waktu di masa depan."

Bu Laura menghela napas rendah. "Saya sangat mengerti dengan alasanmu menolak tawaran saya. Saya tidak bisa memaksa. Itu sepenuhnya hakmu untuk menerima atau pun menolak. Lagi pula, kamu sudah bekerja dengan sangat baik selama ini. Jadi, saya tidak memiliki alasan untuk mengeluh."

Maudy tersenyum tipis. Lega dengan sikap Bu Laura yang penuh pengertian.

"Tapi Maudy, jika di masa depan kamu ingin berhenti, tolong beritahu saya setidaknya satu minggu sebelumnya. Oke?"

Maudy mengangguk. "Saya mengerti, bu. Karena memang seperti itulah peraturannya."

Bu Laura tersenyum, mempersilahkan. "Baiklah, sekarang kamu bisa kembali ke store."

Maudy mengangguk dan hendak bangkit. Tapi, Bu Laura kembali bersuara.

"Oh ya, Maudy. Terima kasih karena sudah berkata jujur," ucap sang bos membuat senyum Maudy kembali melengkung.

***

1
Marya Dina
aminn thor
d tunggu kelanjutan nya
Umisah Asther
semoga max Dateng dan nolongi Maudy.... jangan balik sama Dave Maudy...yg tulus ada pilih max
Sri Bintang
Luar biasa
Mam Jes
itu2 trs thro kpn masa lalu nya qt tau heheh
Suryani Ani
semangat thor...
Marya Dina
semangat thor
sellu d tunggu crita nya💪💪
mama safa
aq selalu menanti max dan maudy...
Lisa
Aq mampir Kak..keliatannya bagus ceritanya
Lisa: Amin..bagus koq ceritanya
total 2 replies
Asngadah Baruharjo
luar biasa
Asngadah Baruharjo
keren thoorrr kerennnnnnnn 👍👍👍
Asngadah Baruharjo
wadidawwww
Asngadah Baruharjo
wa ha ha 🤣🤣🤣,max aku mendukungmu
Marya Dina
apa maudy pernah keguguran ya..
ayo lah thor flasback critan nya penasaran ini
Marya Dina: d tunggu klanjutan nya❤️❤️🌹✌️
total 2 replies
Marya Dina
ada apa y 3 thn lalu
apa aq yg blum ngeh.
Futen22: Di sini memang belum diceritakan. Sabar ya🤗
total 1 replies
Acha Larasati Sembiring
hari ini sampai di sini dulu🙂
Sri Bintang
😊😊😊
Sri Bintang
Woww... sepertinya menarik 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!