NovelToon NovelToon
Matrealistis

Matrealistis

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:324.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: idrianiiin

Warning | Bahasa Non Baku

Antara realistis dan matrealistis bedanya hanya sebatas benang tipis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon idrianiiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18-Kasih Judul Sendiri

"Aku tak bermaksud untuk memanfaatkanmu agar memenuhi segala jenis kebutuhanku. Karena ini memang sudah menjadi konsekuensi yang harus kamu terima saat kamu memutuskan untuk memperistriku."

-Adara Mikhayla Siregar-

•••

Setelah berusaha mati-matian mengerahkan semua tenaga jiwa dan raga akhirnya judul skripsi yang aku ajukan disetujui oleh dosen pembimbing. Rasanya itu sangat luar biasa dan tentunya bersyukur tiada terkira, sekarang fokusku tertuju pada tugas akhir itu. Bagaimana pun caranya aku harus segera merampungkannya. Begadang hanya untuk mengetik dan duduk di depan laptop dengan secangkir kopi agar aku tetap terjaga sudah sangat sering aku jalani akhir-akhir ini. Kantung mataku saja menghitam karena kurang tidur, tapi tak apa setidaknya waktuku sekarang lebih ada manfaatnya. Tidak ada lagi istilah santai-santai dan keluyuran tak jelas bersama Lukman. Kegiatanku sekarang dihabiskan dengan berdiam diri di kamar dan berkawan dengan benda kotak berlayar ukuran 18 inc.

Saat ini saja aku masih sibuk memainkan jari-jari lentikku di atas papan ketik. Besok aku akan menyetorkan bab dua karena bab satunya sudah di setujui dua hari lalu, walau harus melewati drama dan mendapatkan coretan tinta merah terlebih dahulu, tapi tak apa yang jelas sekarang bab satunya sudah disetujui dan tinggal lanjut bab berikutnya saja. Semoga saja untuk bab dua ini langsung di-acc tanpa perlu ada drama tempat sampah. Setelah selesai dengan kegiatan mengetik, aku membaca ulang apa yang sudah aku tuliskan. Bukan hanya satu atau dua kali tapi berkali-kali, tujuannya untuk meminimalisir typo yang terkadang muncul tanpa pemberitahuan. Kemarin aku dikritik habis-habisan karena salah dalam penulisan kata. Seharusnya bapak dosen pembimbing yang terhormat itu memaklumi kesalahan manusiawiku. Aku itu nulis ribuan kata dan wajar saja jika masih terdapat typo yang bertebaran di mana-mana.

Decitan pintu kamar yang dibuka dari luar mengalihkan fokusku, aku mendapati Arda yang tengah berdiri di ambang pintu dengan sebuah nampan di tangannya. "Kamu pasti belum makan dari pagi, kan? Makan dulu, kalau kamu sakit gimana," katanya dengan langkah yang semakin dekat menghampiriku.

Aku hanya meliriknya sekilas lalu beralih pada makanan yang Arda bawa. Semangkuk mie ayam dan juga segelas tinggi air putih nampak berada di atas nampan. "Lo gak taburin racun, kan?" tanyaku penuh selidik dengan tangan yang sudah beralih mengaduk-aduk mie ayam tersebut.

Arda tertawa ringan sebelum menjawab, "Ya gak mungkinlah, mana ada suami yang racunin istrinya sendiri." Aku tersedak mie yang masih berada di dalam mulut. Mendengar dia menyebut dirinya sebagai suami, dan mengakui aku sebagai istrinya secara spontan membuatku shock bukan kepalang.

Dengan penuh perhatian dia menyodorkan segelas air putih ke arahku, menepuk-nepuk pelan bagian belakang kepalaku yang langsung aku tepis jauh-jauh. "Lo mah masih aja modusin gue. Pergi sana jangan pegang-pegang," ucapku.

Arda terlihat menghela napas singkat. "Maaf tadi refleks," tuturnya yang justru aku balas dengan delikan. "Refleks lo bikin gue gak nyaman. Gue gak suka!" Mood-ku langsung hancur berantakan, selera makanku pun hilang.

"Mending lo keluar deh, mumet pala gue kalau lo ada di sini." Aku mengusirnya tanpa perasaan. Hatiku sebal dan dongkol karena kelakuan dia yang sudah berani pegang-pegang, walau hanya sebatas itu tapi jujur aku tak menyukainya.

Aku tahu bahwa dia itu sudah halal dan menjadi mahram-ku yang memiliki hak sepenuhnya atas diriku. Tapi aku masih belum terbiasa dengan kehadirannya, mau sebaik atau seperhatiannya pun juga sampai sekarang dia belum berhasil menyentuh hatiku. Dan aku pun tak akan sudi untuk memberikan ruang di hatiku untuknya yang tak seberapa itu.

Arda bangkit dan setelahnya berucap, "Jangan istirahat malam-malam. Gak baik buat kesehatan." Aku tak menanggapinya, dari sudut mata, aku melihat dia membuka dan menutup kembali pintu kamar.

Pernikahan ini hanya bertahan sekitar satu bulan ke depan lagi, dan selama dua minggu lebih satu hari aku resmi menjadi istrinya, kita belum pernah tidur dalam ranjang yang sama. Aku yang memang tidak mau dan dia juga yang mengerti akan keenggananku. Setiap hari dia tidur beralaskan sofa, dan tak jarang juga dia jatuh tersungkur ke lantai yang terbalut karpet. Ada rasa kasihan dan tak enak saat melihatnya, tapi aku segera menepis perasaan itu. Biarkan saja dia menanggung penderitaan yang dia ciptakan sendiri.

Mamah dan Papah menghilang tanpa kabar, semenjak kepindahanku ke rumah baru, mereka tidak pernah sedikit pun menghubungiku. Aku yang memang terbiasa akan kehadiran mereka merasa sudah dibuang dan tak diinginkan lagi. Berkali-kali mencoba menghubungi Mamah tapi nomornya selalu di luar jangkauan, bahkan seringkali tidak aktif. Mungkin mereka sengaja menghindariku, kenyataan itu membuat dadaku berdenyut ngilu.

•••

"Kamu ke kampus jam berapa?" tanyanya basa-basi saat aku tengah memakai sepatu  di ruang tengah. "Apa lo gak bisa liat gue udah rapi begini? Ya jelas gue berangkat sekarang lah," sahutku tak santai. Pertanyaan Arda itu tidak ada yang berbobot sama sekali, bahkan kebanyakan basa-basi. Tidak bisakah langsung berbicara pada intinya saja?

Dia duduk di sofa single dan melihatku yang selalu menghindar dari tatapan matanya. "Tadi Mamah hubungin aku, katanya kita harus ke rumah. Ada yang ingin dibicarakan."

Aku mendongak dan melihatnya penuh tanya. "Maksud lo Nyokap gue?" Dia mengangguk cepat. Ish, sebenarnya yang menjadi anak Mamah itu aku atau Arda sih? Aku yang rajin mencoba menghubunginya tapi sekarang malah Arda-lah yang paling pertama menerima kabar darinya.

"Gak bisa. Gue harus berangkat ngampus sekarang, tanggung udah ada janji sama Dosen." Arda menghela napas sejenak sebelum berucap, "Pulangnya jam berapa biar aku jemput dan kita langsung pergi ke rumah Mamah sama Papah barengan."

"Enak banget tuh ngomong. Bukannya kerja cari uang yang banyak, malah mau bolos. Uang yang lo kasih udah abis, kapan lo transfer lagi?" Emang dasar otakku yang tak bisa jauh-jauh  dari uang, dalam keadaan seperti ini saja uang yang menjadi prioritas utama.

"Kebetulan aku shift malam, dan untuk masalah nafkah Insya Allah akan segera aku transfer," balasnya yang membuat senyumku terbit.

"Kalau bisa lebih banyak dari sebelumnya, yang kemarin juga gak cukup." Beginilah definisi istri tak tahu diri. Menjalani peran sebagai istri saja masih banyak cacat dan  bolongnya,  tapi giliran bahas transferan langsung cespleng dan berbinar-binar.

"Diusahakan." Satu kata itu sudah cukup membuat hatiku tambah senang dan berbunga-bunga.

"Awas kalau sampe lo kasih gue duit haram hasil judi atau ngerampok orang," ucapku penuh ancaman. Aku tidak mau perut rataku ini berubah menjadi buncit karena kebanyakan memakan uang haram. Akan aku tenggelamkan Arda ke lautan jika hal itu sampai kejadian.

"Jangan khawatir, aku tidak mungkin memberikan nafkah yang tidak halal untuk istriku." Jawabannya itu selalu lembut dan menenangkan, tapi tak pernah berhasil menyentuh relung hatiku yang terdalam.

Yang aku tahu dia bekerja hanya sebagai pekerja pabrikan saja, tapi dari uang yang selalu rutin dia berikan jumlahnya cukup banyak untuk pekerja kasar seperti Arda. Apa mungkin dia memiliki pekerjaan lain? Atau justru membudidayakan makhluk astral untuk mencari penghasilan. Bisa jadi setiap malam dia menunggui lilin agar mesin pencari uangnya tidak tertangkap orang. Tapi gak mungkinlah cowok modelan Arda berbuat hal musyrik seperti itu. Orang di zaman sekarang ini sudah tidak ada lagi istilah 'jaga lilin tiap malam' karena tanpa berkeliling pun makhluk astral itu dicari oleh orang-orang, salah satunya pekerja seni, dan mungkin pada saat gajinya keluar makhluk astral itu mendapatkan persenan? Siapa tahu saja seperti itu sistem bagi hasilnya.

Beginilah otakku yang terlalu banyak menerima asupan tak bergizi dari konten-konten para content creator yang doyan memperlihatkan dunia lain dalam akun sosial medianya. Tolong jangan dicontoh wahai teman-teman yang budiman. Kelakuan dan kinerja otakku ini memang terkadang kurang. Terlalu pusing dengan banyak persoalan, hingga pembahasan receh seperti ini saja masih sempat aku pikirkan.

~TBC~

1
falea sezi
muter2 woy
falea sezi
adara ne g da sopan sopan nya menjijikkan
Yasin Yasin
mana lagi novel yang mengispirasi, ditunggu karya selanjutnya
Qonita Fithriya Ahmad
makasih pembelajarannya kak..smoga barokah ilmunya..aamiin..
mwnya se lnjut..tp manut ajalah...😊
Tengku Nafisa
adara di matanya cuma duit menari nari
Tengku Nafisa
mengingatkan kita. punya makanan jgn pernah mengeluh akan rasanya. tapi pikirkan msh banyak org yg tak punya persediaan makanan. mengajarkan akan hal bahwa kita hrs slalu bersyukur dengan rezeki apa yg kita dpt.
Daisyridone
cantik tapi kelakuannya kasar... segitu Lukman sabar banget ama kelakuan Adara..mau mauan juga lagi diporotin ..
Daisyridone
perumpamaan nya terbalik kayaknya ya thor...
menurut aku harusnya begini "berjam jam yang hilang akan beliau gantikan dengan wakru semenit yang takkkan pernah bisa dilupakan" ...
jadi lebih ke kualitas waktunya yg berharga...
N Hayati
👍👍👍👍
N Hayati
lanjut thor visualnya dong adara n arda
N Hayati
adara, adara mau sampai kapan??? thor visualnya dong
N Hayati
siapa yah dimaksud lukman
N Hayati
adara, adara responnya tu sama duit ajaaaaaa
N Hayati
nothing , toh lukman org baik suka sama marwah justru setuju terus perjuangkan lukman
N Hayati
adara tanggung jawab tuh kan yg kena masalah jadi lukman
N Hayati
thor visualnya dong
N Hayati
semoga nasehat mamanya membuka hatinya
N Hayati
ehm adara mau sampai kapan? thor visual adara n arda dong penasaran
N Hayati
lanjut n semangat thor
N Hayati
adara2 untung si ardanya sabar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!