Seorang gadis desa yang di jerumuskan oleh ayah tirinya sampai harus bekerja di rumah bordill. Camelia, 16 tahun benar-benar merasa muak bekerja di rumah bordill itu, dia merasa dia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan pada gadis muda yang bekerja di sana karena paksaan seperti dirinya. Camelia ingin merubah aturan kehidupan di desa Muara itu. Dia tidak ingin lagi melihat ada wanita yang nasibnya sama dengannya. Dia ingin menutup semua rumah bordill di desa itu, bahkan di desa-desa yang lain. Meski tidak mudah, tapi Camelia tidak akan pernah menyerah sampai nafas terakhirnya untuk mengangkat derajat kaum wanita di desanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Tari mulai melihat ke arah sekeliling.
"Berhenti! kenapa delman ini menuju ke hutan? bukankah kita akan menuju stasiun?" tanya Tari pada kusir delman.
Tapi kusir itu hanya melihat lurus ke depan dan semakin mempercepat laju delmannya, dengan mencambuk kuda di depan lebih kencang.
"Berhenti aku bilang!" teriak Tari.
"Percuma saja Bu Tari, kita memang akan di bawa ke hutan. Kita akan di lenyapkan di sana" kata Camelia.
Wajah Tari langsung pucat.
"Apa? bagaimana mungkin? bukankah aku mengerjakan semuanya sesuai rencana mu, sesuai yang kamu katakan. Kenapa sampai seperti ini?" tanya Tari cemas.
"Tenang saja Bu Tari, mau melaju sekencang apapun. Delman ini tidak akan bisa mengalahkan kecepatan mobil Iwan dan kawan-kawannya. Kita hanya harus bertahan sampai mereka datang" kata Camelia.
Tari menatap Camelia yang sama sekali tidak terlihat ketakutan meski hanya sedikit saja. Pada akhirnya dia juga bisa tenang.
Delman itu melaju semakin kencang. Dan di tengah hutan, terlihat beberapa orang dengan sepeda motor berdiri di samping sepeda motor mereka dengan berbagai gaya sok cool pada jamannya.
Kusir delman langsung menghentikan laju delmannya tak jauh dari sana.
"Turun, atau kalian akan di seret turun" kata kusir delman itu.
Camelia berdecih.
"Dasar tidak tahu diri, kamu pikir kamu sedang bicara dengan siapa?" kesal Camelia.
Dan tak lama setelah itu, terdengar suara mobil Jeep yang sudah paling bagus pada jaman itu.
Bahkan di belakangnya terdengar sepeda motor yang bunyi kenalpotnya sangat khas.
Camelia tersenyum tipis setelah melihat yang datang itu adalah rombongan Iwan dan para anak buahnya.
Kusir yang meminta Camelia turun itu lantas, turun dari delman dan berlari ke arah sekumpulan orang yang di bayar oleh Gandara untuk menghabisi Camelia dan Tari.
Camelia dan Tari turun dari delman setelah Iwan menghampiri mereka.
"Kami datang secepat yang kami bisa nyonya" kata Iwan.
Tari benar-benar terkejut, setahu Tari, Iwan adalah anak buah Cokrodima. Kakak kandung Gandara. Bagaimana bisa menjadi anak buah Camelia dan memanggilnya nyonya.
"Bagus, habisi mereka. Jangan ada yang tersisa" kata Camelia yang terus terang saja membuat Tari merinding.
Tari bahkan berbalik ketika anak buah Iwan mulai menyerang orang-orang suruhan Gandara. Jumlah mereka jelas lebih banyak dari anak buah Gandara, mereka juga membawa senjata tajam dan senjata api.
Tari benar-benar takut pada Camelia sekarang, dengan berdiri dan menatap ke arah perkelahian itu, Camelia sama sekali tidak menyiratkan kalau wanita itu merasa takut. Sama sekali tidak takut meski melihat orang berteriak, darahh di mana-mana dan jeritan pilu dari mereka yang meminta ampun.
Tak sampai dua puluh menit, tak ada yang tersisa dari orang suruhan Gandara.
"Apa itu artinya, Gandara juga ingin menghabisi ku?" tanya Tari.
"Sudah jelas bukan? aku pikir dia sudah tahu kalau hartanya banyak yang hilang. Aku pikir Erma pasti mengatakan semua ini ulahmu. Tapi bagus juga seperti ini..."
"Apa maksudmu?" tanya Tari.
"Kamu sudah bebas dari tugasmu Bu Tari, sisanya aku yang akan membalaskan dendam putrimu. Kamu kembalilah ke desa, aku akan suruh orang kirimkan semua untukmu. Pergilah bersama anak buah Iwan" kata Camelia.
Tari memeluk Camelia, setelah melihat semuanya. Dia yakin Camelia benar-benar akan mampu membuat Gandara menyesal sudah menjadi germoo yang begitu kejam.
Tari pergi dengan anak buah Iwan, Iwan menghampiri Camelia.
"Nyonya tidak apa-apa?" tanya Iwan.
"Tidak Iwan, suruh salah satu anak buahmu menemui pelayan bagian dapur, suruh menyamar jadi tukang susu. Cari Nyai Suroh, katakan padanya untuk memindahkan beberapa harta yang kita ambil dari Gandara, ke kamar Erma. Di bawah tempat tidur Erma, buat sebuah tempat untuk menyembunyikannya di bawah tempat tidur. Mengerti?" tanya Gandara pada Iwan.
Iwan mengangguk dan menjelaskan pada anak buahnya yang naik sepeda motor dan dengan cepat meninggalkan tempat itu.
"Lalu bagaimana dengan nyonya, bagaimana rencana nyonya kembali ke Lentera Malam?" tanya Iwan.
"Aku akan kembali saat sore nanti. Kalian pasti lelah, mari aku traktir kalian makan di rumah makan terbaik di pinggiran hutan sini" kata Camelia membuat Iwan dan anak buahnya senang.
Sore hari sudah tiba, Gandara dan Erma tampak senang.
"Mereka belum kembali nyonya, pasti rencana nyonya berhasil" kata Erma.
"Ha ha ha, memang sejak kapan rencanaku gagal"
Tapi baru saja Gandara berkata seperti itu, suara ketukan terdengar di ruangannya.
Tok tok tok
"Nyonya, nyonya... cepat Nyonya. Camelia kembali" kata pelayan yang terlihat panik.
Mata Gandara nyaris keluar sangking tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Erma juga sama terkejutnya, dia langsung membuka pintu dan bertanya pada pelayan itu.
"Kamu... kamu kenapa panik begitu?" tanya Erma.
"Itu, Camelia.. di pulang dengan pakaian compang-camping, tangannya terluka, berdarahh..."
Gandara langsung berdiri dan keluar dari ruangannya. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia tidak percaya, Camelia masih bisa selamat padahal dia sudah membayar 10 orang untuk menghabisinya.
Gandara langsung ke ruang tengah, dan melihat Camelia di obati oleh Laila dan Hani.
"Kamu.. apa yang terjadi?" tanya Gandara yang harus berpura-pura simpati pada Camelia karena banyak kembang yang mengelilingi Camelia.
Gandara melihat wajah dan rambut juga pakaian Camelia berantakan. Lengannya juga terkena sabetan benda tajam.
'Siall, bagaimana dia bisa lolos dari para pembunuhh bayaran itu?' batin Gandara bertanya-tanya dengan kesal.
Camelia pun mulai akting sedihnya, matanya dengan cepat sudah basah. Dan tak lama air mata mengalir di wajahnya.
"Nyonya, kami di hadang perampok di tengah jalan. Bu Tari... Bu Tari tewas, nyonya... hiks.. hiks!"
"Hah"
"Apa"
"Bu Tari tewas"
Semua kembang terlihat terkejut, ada beberapa orang yang langsung pucat karena terkejut sekaligus takut.
Gandara harus berpura-pura terkejut.
"Apa? bagaimana mungkin. Lalu bagaimana kamu bisa selamat?" tanya Gandara.
"Bu Tari yang menyelamatkan aku, dia mendorong aku ke jurang, tapi dia malah menyelamatkan aku dengan melakukan itu. Mereka mengejarku, aku dengar jeritan Bu Tari...hiks... hiks.. aku berlari sampai kemari... hiks"
"Camelia" lirih Laila yang langsung memeluk Camelia.
'Siall!' batin Gandara kesal.
Camelia lalu mendongak, dia menatap Gandara.
"Tapi nyonya, sebelum Bu Tari mendorongku ke jurang. Dia mengatakan sesuatu padaku" kata Camelia.
"Apa yang dia katakan?" tanya Gandara.
Camelia lalu melihat ke arah Erma.
"Nyonya, bisakah nyonya kemari. Bu Tari bilang, jangan ada orang lain yang tahu kecuali nyonya" kata Camelia.
Gandara yang penasaran dengan apa yang dikatakan Tari sebelum meninggal pun mendekat ke arah Camelia.
Tangan Camelia dia gunakan untuk menutupi jarak dengan telinga Gandara.
"Kata Bu Tari, tolong beritahu nyonya. Aku sering melihat Erma membawa bungkusan ke kamarnya setiap kali dia membersihkan ruang penyimpanan harta nyonya" bisik Camelia yang membuat bola mata Gandara nyaris keluar.
"Apa katamu?" tanya Gandara marah.
"Aku hanya menyampaikan pesan Bu Tari nyonya. Biasanya pesan dari orang yang tahu dia sudah pasti tidak selamat itu selalu benar" kata Camelia membuat Gandara semakin geram.
Gandara pun menoleh kesal, marah dan sangat emosi pada Erma.
Erma sampai mundur beberapa langkah karena tatapan mata Gandara yang menakutkan.
"A... ada apa nyonya?" tanya Erma bingung.
***
Bersambung...
semangaaat camelia aq yakin kamu pasti pemenangnya💪💪💪👍👍👍