Season 1 :
"Jika laki-laki yang menghamili mu adalah seorang Dokter, apakah papamu masih akan melakukan itu?"
Aurel tersentak, ia menatap Dokter itu dengan seksama.
"Apa maksud Dokter?"
"Aku akan menikahimu!"
Cerita ini menceritakan tentang perjuangan seorang dokter yang mati-matian menengang teguh sumpah jabatannya, hingga kemudian ia merelakan hidupnya, kepentingannya, perasaannya.
Lalu apakah akan selesai di sini? Masalah kembali datang ketika pria yang menghamili gadis itu muncul, dan tentang siapa sebenarnya pria itu dan apa hubungannya dengan Jessen, membuat hidup Jessen menjadi sangat rumit.
Season 2 :
Kehidupan baru David - Alea dimulai. Kehilangan bertubi-tubi yang dialami David membuatnya hancur dan rapuh.
Yang ia miliki sekarang hanyalah janin yang ada dalam kandungan Alea. Ia tidak ingin kehilangan lagi.
Bagaimana kehidupan mereka?
Siapa Ayah David?
Bagaimana dengan Jessen - Aurel?
Simak terus di COMPLICATED (David - Alea Story) ya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elza Veronika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbagi Kamar
"Aku boleh makan kwetiau goreng, Ko?" tanya Aurel ketika mereka sudah berada di mobil.
"Boleh, kamu mau makan di mana?" Jessen dengan lincah membawa mobil itu menyusuri jalanan yang tumben sedikit lenggang itu.
"Warung makan dekat alun-alun kota aja gimana, Ko? Papa sering beli kwetiau di sana. Enak lho walaupun cuma warung kaki lima." ujar Aurel bersemangat.
"Kamu nggak apa-apa makan di warung kaki lima?" Jessen menoleh, menatap gadis itu tidak percaya.
"Kenapa tidak? Selama warungnya bersih dan rasanya enak, tidak ada salahnya kan?"
Jessen tersenyum, ia hanya mengangguk pelan. Tak ia sangka Puteri pengusaha properti dan pemain saham ulung yang kaya raya itu masih mau diajak makan di pinggir jalan.
"Kita sampai!" ujar Jessen lalu mematikan mesin mobilnya.
Aurel dengan semangat melepas seat belt-nya dan bergegas turun. Jessen hanya geleng-geleng kepala, lalu menyusul gadis itu turun dari mobil.
Warung itu hanya warung kaki lima dengan tenda bongkar pasang. Tapi antrian orang yang makan disitu sudah lumayan banyak. Aroma mie goreng yang begitu menggoda sudah menyapa Indra penciuman Jessen.
"Selain kwetiau ada apa saja?" tanya Jessen pada Aurel yang sudah duduk sambil menulis pesanannya di selembar kertas.
"Banyak! Nasgor ada, mie goreng ada, bihun goreng juga ada." Aurel menyodorkan menu itu pada Jessen.
Jessen menatap deretan menu itu, "Sama deh, aku kwetiau goreng juga!"
Aurel mengangguk, lalu menambahkan pesanan suaminya itu ke dalam kertas itu. Jessen menatap Aurel lekat-lekat. Dengan wajah polos tanpa makeup itu Aurel benar-benar cantik! Manis, dan menggemaskan!
"Mas .... " panggil Aurel pada salah satu pegawai. "Ini ya!" ujarnya ramah sambil menyerahkan kertas itu.
"Ditunggu dulu ya!" pegawai warung kaki lima itu lantas undur diri, meninggalkan Aurel berdua dengan Jessen.
"Koko libur berapa hari sih?"
"Cuma lima hari, maaf ya." guman Jessen sambil tersenyum kecut.
"Kenapa minta maaf?" Aurel tersentak lalu ikut tersenyum.
"Nggak bisa ngajak kamu jalan-jalan." Jessen menundukkan kepalanya.
"Ahh ... sudahlah, jangan terlalu dipikirkan." Aurel tersenyum, pernikahan bohongan kenapa harus pakai honeymoon segala sih?
"Besok sore sudah bisa lho kalau mau belanja buat isi galerinya!"
Aurel menatap Jessen dengan sedikit terkejut. Secepat itu suami pura-puranya itu mewujudkan keinginannya?
"Koko serius?" tanya Aurel tak percaya.
"Jelas serius lah, anggap saja hadiah pernikahan kita." Jessen tersenyum amat manis.
Sontak hati Aurel jadi sedikit pedih. Hadiah pernikahan? Kenapa semua jadi seolah-olah pernikahan sungguhan?
"Aku minta ganti cat dindingnya boleh?"
"Tentu boleh, mau ganti warna apa?" Jessen menatap gemas gadis di depannya itu.
"Mau pasang wallpaper aja sih Ko, yang bata merah gitu lho, trus ada kayak gambar daun-daunan gitu." Aurel ingin lihat, apakah yang ini juga akan diwujudkan oleh sang suami.
"Catat saja, besok setelah kita membereskan barang-barang yang datang pagi hari, kita cari keperluan untuk galerimu. Sekalian belanja buat isi kulkas dan lain-lain."
Aurel benar-benar tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Kenapa Jessen begitu loyal? Apakah memang dia seperti itu orangnya?
"Oke nanti aku tulis." Aurel menatap mata itu, mata yang selalu menggoda untuk ia tatap. "Makasih banyak ya, Ko!" gunanya sambil tersenyum manis.
"Silahkan .... " dua piring kwetiau goreng dengan asap yang masih mengebul itu mendarat tepat di depan mereka. Jessen menarik piringnya lebih dekat.
"Selamat makan!" ujar mereka bersamaan. Sejenak mereka saling pandang, tersenyum kikuk, lalu mulai fokus pada piring masing-masing.
***
"Sudah kenyang?" tanya Jessen ketika mereka sudah sampai kembali dirumah.
"Sudah, terimakasih." guman Aurel lirih, perasannya jadi tidak menentu.
"Cuci tangan, kaki, muka, dan jangan lupa gosok gigi dulu!" perintah Jessen sambil memutar kunci rumah.
Aurel tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan mengangguk patuh. Kenapa hatinya jadi tak karuan seperti ini? Begitu pintu dibuka, Aurel bergegas ke kamar mandi. Melakukan semua yang tadi diperintahkan oleh suaminya itu.
Ia masih mencoba menekan semua perasaan membingungkan itu dari dalam dirinya. Adalah dengan dirinya? Kenapa jadi seperti ini?
Aurel mengeringkan wajahnya dengan handuk, lalu kembali melangkah ke kamar untuk ganti baju. Di sana ia mendapati Jessen sudah membawa bantal dan selimut keluar kamar.
"Mau kemana?" tanya Aurel sambil meraih tangan Jessen.
"Aku tidur di sofa saja, biar kamu yang di dalam." Jessen tersenyum ia memeluk bantal yang ia bawa.
"Jangan!" Aurel menarik tangan Jessen hingga tubuh Jessen terhuyung hendak mengenai tubuhnya.
Jessen mencoba mengendalikan tubuhnya agar tidak tubuh, matanya menatap dalam mata gadis itu.
"Tidurlah di dalam. Bukankah kemarin kita juga baik-baik saja meski tidur satu ranjang?" ujar gadis itu sambil menatap manik Jessen.
"Kau serius?" tanya Jessen yang masih menatap Aurel lekat-lekat itu.
"Serius!" Aurel tersenyum lalu menggandeng Jessen kembali ke kamar.
Jessen merasakan jantungnya berdegup kencang. Gadis itu tidak tahu bahwa dibalik sikap tenangnya itu ia sedang berusaha menekan semua hasrat yang bergejolak di dalam hatinya.
Wajah itu benar-benar menggodanya. Matanya, senyumnya, pipi halusnya ... apalagi tubuh gadis itu, perutnya belum terlalu besar, dan itu membuat gejolak Jessen menyiksanya dengan luar biasa. Ia masih laki-laki normal!
Jessen mendadak pusing. Sanggupkah malam ini ia menekan semua gairah itu? Ia sudah tandatangan perjanjian dengan Aurel, dan ia tidak boleh mengingkari perjanjian itu.
"Koko biasa lampu hidup atau mati?" tanya gadis itu sebelum ia naik ke ranjang.
"Mati, aku biasanya tidur dengan lampu mati." jawab Jessen gugup setengah mati. Tidak ... itu tidak boleh terjadi!
"Oke, matikan kalau gitu." guman Aurel santai lalu naik dan membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Jessen menelan ludah! Dalam hatinya ia berusaha sekuat tenaga menahan semua rasa penasaran itu. Rasa ingin tahunya perihal hubungan macam itu. Rasa ingin tahunya perihal nikmat melakukan hubungan itu, dan sekarang, gadis itu malah memaksanya untuk berbagi kasur berdua! Astaga!
Jessen mematikan lampu kamar, ia kemudian naik ke atas ranjang. Tubuh itu tidur membelakanginya. Jessen melirik gadis itu, entah sudah tidur atau belum ia tidak tahu. Perasaannya masing-masing tidak karuan. Kepalanya pusing dan rasanya tubuhnya memanas.
"Ko .... " guman Aurel lalu membalikkan badannya.
"Kenapa?" Jessen benar-benar pusing, rasanya ia sudah tidak sanggup lagi.
"Kelak ketika kemudian Koko ketemu sama jodohnya Koko, aku boleh kan datang ke pesta pernikahan Koko?"
Jessen terkejut mendengar apa yang Aurel katakan. Sedetik kemudian ia ingat bahwa semua ini akan berakhir jika anak di dalam rahim Aurel lahir.
"Tentu! Datanglah, aku akan sangat senang!"