"Mas, ini siapa?" matanya sudah mulai berembun dengan menahan sesak di dada
"Hanya teman" jawab suaminya singkat.
"Apakah seorang teman pantas berkata mesra!" Suara Bela mulai bergetar.
"Ah bawel! mengapa ponselku kau buka hah!" Wanita itu malah mendapat hardikan dari suami yang selama ini ia banggakan.
"Aku sudah bilang dia hanya teman" tambahnya lagi.
"Jika benar dia hanya teman, mengapa ada video ini!" Hancur sudah hati Bela mengetahui bahwa suaminya berhubungan dengan wanita lain bahkan sepertinya bukan hanya sekali.
"Yaudah lah, wajarkan aku mencari yang lebih seksi, lihat dirimu yang tak terawat, beratmu semakin bertambah, siapa yang bernafsu, bahkan kau telanjang pun pusaka ku tak bereaksi" Suaminya malah berkata demikian kemudian berlalu keluar kamar.
Dulu saja ia puja puji wanita yang sekarang menjadi istrinya. Tapi setelah 2 Tahun menikah ia sudah mencari wanita lain hanya karena berat badan yang terus meningkat. Apakah Bela akan menyerah atau justru bangkit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan
"Gratis?"
Tanya Bela pada seorang kasir. Ia kebingungan mengapa bisa gratis.
"benar Nona, semuanya gratis" ulang seorsng kasir itu lagi.
"Bagaimana bisa gratis?" Bela masih bertanya kebingungan. Ia tak seperti kebanyakan orang yang kita mendapat gratisan langsung menghilang.
"Saya yang meminta untuk menu yang sudah Nona beserta karyawan Nona di gratiskan" tiba-tiba sensasi dari suara yang pernah ia rasakan dulu muncul lagi.
Rheiner berbisik pada telinga Bela dari arah belakang. Bela langsung mencari keberadaan dari suara itu.
"Apakah Nona ada waktu sebentar?" tanyanya sambil terus menatap.
Bela hanya menggangguk membalasnya tanda setuju. Kemudian Rheiner mempersilahkan untuk wanita idamannya berjalan lebih dulu kearah kursi yang sudah disiapkan.
"Maksudnya bagaimana ya Pak tentang makanan yang di gratiskan?" Bela langsung memulai pembicaraan. Ia tak sabar dan sangat penasaran.
"Sebelum saya menjawab, bolehkah kita berkenalan dulu?" sambil mengulurkan tangannya ingin bersalaman.
"Rheiner" ucapnya. Lalu segera Bela membalas salam itu.
"Bela" lalu mereka saling senyum.
"Jadi bagaimana?" Bela yang sangat bingung kembali bertanya.
"Saya pemilik Resto ini" kemudian Rheuner menyunggingkan senyum sambil menatap Bela.
"Jadi apa hubungannya dengan saya?" Rheiner terus tersenyum. Ia merasa sangat gemas dengan wajah bingung Bela.
"Begini saja, apa Nona Bela bersedia meluangkan waktunya malam ini?, kebetulan ini adalah hari sabtu jadi bagaimana kalau kita lanjutkan obrolan nanti malam" Ia menunggu jawaban dari Bela.
"Saya tidak paham maksud Anda pak, tapi tidak ada salahnya jika saya bersedia, Baiklah" balas Bela sambil mengangguk pelan.
Kemudian mereka bertukar nomor. Bela langsung berpamitan untuk kembali menuju butiknya.
Rheiner segera pergi ke ruangan kerjanya dan berjingkrak-jingkrak bagai bocah yang menang taruhan.
"Kali ini aku harus berhasil" semangatnya begitu membara. Sekian lama ia tak melihat wajah wanita yang dulu adalah istri rekan kerjanya. Rheiner membayangkan betapa menggodanya bibir Bela. Wajahnya yang terlihat seperti tanpa make up membuat semakin tak sabar ingin segera bertemu kembali. Bela benar-benar type-nya.
disebuah kontrakan rumah yang tidak terlalu luas ada sepasang kekasih yang sedang sibuk di dapur. Bani sedang sibuk mempacking masakan rumahan buatan mereka. Sedang Fera didepan kompor panasnya menggoreng beberapa ayam dan ikan.
"Udah selesai, tinggal antar"gumam Bani dan segera pergi ke kamar mandi.
Fera yang kepanasan dan kelelahan hanya duduk di atas kursi rotan pada ruang tamunya. Ia hanya mengenakan daster lengan pendek dan rambut yang dikuncir asal-asalan. Jika dilihat Fera yang sekarang sangat berbeda dengan Fera yang dulu.
"Aku berangkat" Bani berpamitan lalu menaiki sepeda motornya.
"Kamu gak mau nyium aku sebelum pergi?" tanya Fera.
Dulu mereka adalah pasangan yang romantis. Setelah Bani tak lagi bekerja menjadi orang kepercayaan Tuan Andara, hidup mereka dilanda kesulitan. Dengan terpaksa Fera belajar memasak dan mencuci sendiri. Ia benar-benar mencintai Bani sehingga rela mengorbankan dirinya ikut dalam drama hidup susah bersama lelaki itu. Kini Bani sudah tak seromantis dulu.
"Kamu belum mandi, sudah ya aku berangkat dulu" Bani pun berlalu.
Fera setiap hari menahan amarah karena lelakinya itu sekarang enggan menyentuhnya walau sudah berbagai macam caranya untuk menggoda Bani yang sudah menjadi suaminya. Tubuh Fera masih seperti dulu, montok dan putih. Hanya saja terlihat kusam seperti kurang terawat. Karena penghasilan yang pas-pasan membuatnya harus belajar hidup hemat.
bagusnya di kasih hukuman sm suaminya biar sadar