NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Perjodohan

Cinta Dalam Perjodohan

Status: tamat
Genre:Percintaan Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Romansa / Tamat
Popularitas:115.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Fi

Sepakat untuk menikah dan sepakat akan bercerai setelah 2 tahun menikah, itulah perjanjian antara Rani dan Temy sebelum menerima perjodohan mereka. Namun, saat tiba waktunya mereka akan berpisah, keduanya baru menyadari jika keadaan sudah membuat mereka jadi terbiasa dan telah hadirnya benih cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Fi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Dua hari dua malam acara reuni besar-besaran itu telah berlangsung. Perkumpulan tak resmi itu didatangi oleh orang-orang yang tak biasa. Tak ada satu pun motor di tempat parkir yang telah disediakan. Sebaliknya, ada banyak kendaraan empat roda yang mewah dengan warna yang cerah, membuat cahaya-cahaya lampu memantulkan kembali dengan warna yang berbeda.

Sorak-sorai tak pernah bosan terdengar. Tak ada meja atau lantai yang bersih saat acara itu berlangsung. Semua orang seolah lupa cara membuang sampah yang benar sesuai bisa tempatnya. Selama di dalam ruangan, jangan harap hidup mencium bau yang segar dan harum. Botol-botol minuman beralkohol tak pernah bosan terlihat, membuat baunya terasa menyengat, sangat menusuk hidung. Kalimat sehat mustahil bisa menjadi slogan di pesta yang meriah ini. 

Bunyi-bunyian musik tak beraturan yang amat keras terdengar, komplit dengan lampu kelap-kelip yang memenuhi seluruh ruangan. Banyak para wanita berpakaian seksi, memamerkan kulit mulusnya kepada sang pria yang tengah dimabuk kenikmatan duniawi.

Temy ada di antara mereka semua, mengamati lingkungan dengan tatapan kosong. Sebuah gelas berisi alkohol terseret hingga tiba di hadapannya. Temy menatap minuman kuning itu, lalu terkekeh singkat. Temy mengangkat telapak tangannya.

“Oh, come on! You should try this!” Seorang pria berambut pirang menatap dengan kecewa. Sebuah kalimat ia lontarkan dengan bahasa asing. Tentu saja, Temy tahu apa maksud darinya.

“That’s enough for me, thank you.” Temy mengembalikan gelas itu dengan sekali dorong. Pria itu terkekeh, menatap Temy dengan tatapan merendahkan.

“You better go home, coward.  This place is not suitable for a nursing baby like you.” Temy mengangkat kedua pundaknya, tak peduli dengan apa yang dikatakan olehnya.

“Whatever.” Temy bangkit dari tempatnya, hendak menuju ke toilet untuk menjauh dari keramaian sejenak. Namun, menuju ke kamar kecil tak mudah dilakukan dalam situasi seperti ini.

Tiga kali jumlah Temy mengangkat salah satu telapaknya, menolak ajakan para wanita untuk bersenang-senang bersama. Akhirnya, langkah terhenti. Kedua mata pria itu memandangi seorang wanita yang sangat ia kenal.

“Hei, bukankah masih terlalu dini untukmu?” Cassandra dengan pakaian yang sama seperti yang lain, menatap Temy dengan heran. Seluruh tubuh Temy menegang ketika wanita itu memeluk tubuhnya, mengelus-elus pundaknya dengan gerak-gerik menggoda. “Kamu bisa stay di sini terlebih dahulu. Semua masalahmu akan lenyap sementara, percayalah kepadaku.” Sebuah kecupan mendarat di pipi Temy.

Dengan wajah datar, Temy menoleh ke arah Cassandra. Alih-alih membalas ciumannya itu—seperti yang sudah-sudah—Temu justru menyunggingkan senyum samar. “Maaf, untuk saat ini ada yang lebih penting dari itu semua.” Temy menjeda kalimatnya sejenak. “Aku lupa bilang kepadaku bahwa ... ehm, besok aku akan pulang ke Indonesia.”

***

Tak ada yang bisa menghalangi keputusan yang Temy tentukan. Sifatnya yang keras kepalanya dapat menolong pria itu untuk tiba di bandara pagi ini. Untuk duduk di salah satu kursi pesawat, ada banyak kesulitan yang Temy terjadi. Banyak perlawanan yang ia dapatkan, bahkan Cassandra sendiri meminta Temy untuk tinggal hingga acara selesai.

“Bertahanlah satu hari di sini. Acara akan selesai esok malam, dan kau boleh pulang lusa. Kau pasti tidak mau melewatkan kesempatan bersenang-senang ini, bukan?” Kalimat Cassandra sama diabaikan. Buktinya, pesawat mulai melakukan perjalanan, Temy salah satu penumpang di dalamnya.

 Ya, pria itu memutuskan untuk pulang lebih cepat ke Indonesia. Entah kenapa, pikiran pria itu tak pernah luput dari Rani, istrinya. Setelah kejadian malam itu, rasa bersalah terbit di hati Temy. Akhir-akhir ini, Rani semakin sulit dihubungi Temy yakin, kecerobohan yang pria itu lakukan menjadi dasar dari semua itu.

“Aku sudah mencari pengacara lain untuk mengurus perceraian kita.” Tiba-tiba saja Rani membahas topik itu, padahal baru lima menit Temy bertukar kabar selama beberapa hari ini kepada sang suami. Semua pertanyaan dijawab Rani dengan abai.

“Why? Bukankah kita sudah janji bahwa semua proses perceraian ini kita serahkan kepada Rafa? Hanya dia satu-satunya pengacara yang dipercaya oleh keluargaku. Belum tentu orang lain mampu ” Kedua mata Temy membuka lebar.

“Ya ....” Rani mengangguk paham. “Tapi ... Rafael terlalu sibuk akhir-akhir, dia berkata jika tidak bisa mengurus proses secepat mungkin, jadi ... aku putuskan sendiri untuk mencari pengacara lain.”

Temy menatap Rani tak percaya. Kemudian, pria itu bertanya dengan intonasi merendah. “Mengapa ... kamu melakukan itu?” tanyanya.

Rani tersenyum kecut. “Karena aku mau membantu mewujudkan impian kamu. Bukankah perpisahan yang akan terjadi sangat ditunggu-tunggu? Ya, itu adalah satu-satunya cara supaya bebas bergaul dengan orang lain ....”

Napas Rani seakan tercekat. Kedua tangan hangat itu menggenggam salah satu lengannya. Mulut wanita itu bungkam, tak bisa mengucapkan sepatah kata apa pun. “Aku ... aku minta maaf atas semua kejadian yang terjadi belakangan ini.” Tatapan Temy menyorot serius. “Aku ... aku memikirkan ini selama berada di London. Keinginanku untuk mengucapkan hal ini kepadamu semakin bertambah seiring berjalannya hari. Kini, aku memutuskan untuk menumpahkan semua isi hatiku.”

Rani menatap kedua mata Temy dengan jarak agak dekat. Seumur hidupnya, ia tak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini dari sang suami.

“Aku ... aku merasa ....” Temy memejamkan mata dengan mantap, sebelum ia menyambung kembali kalimat dengan nada menekan. “Sebaiknya kita urungkan saja rencana ini!”

Deg!

Bak seperti mimpi, sebuah kalimat yang Rani pikir tak akan pernah terucap dari mulut Temy, akhirnya terjadi di depan matanya sendiri. Rani mencubit pahanya dengan keras menggunakan satu tangannya lagi, curiga bahwa ini semua hanya bunga tidur belaka. Namun, jantungnya semakin berdegup kencang saat mengetahui bahwa ini bukanlah dunia mimpi. “K–kenapa ...? Apa yang membuat kamu ...?”

Temy mengembuskan napas dengan halus. “Kamu tahu mengapa aku datang ke sini, meski acara reuni belum selesai? Kamu tahu, mengapa ada banyak sekali notifikasi di ponselmu ini? Aku yakin, hampir tujuh puluh persen adalah notifikasi dariku.” Temy menarik napas kembali. “Karena ... karena ternyata aku tak bisa berpaling darimu, Ran.”

Kini, rasa-rasanya tubuh Rani hampir saja terbang tinggi ke atas langit, jika hal itu diizinkan. Namun, wanita itu harus memasang sikap biasa karena kejadian malam itu kembali berputar di otaknya. “Maaf, aku tak setuju dengan hal itu,” jelasnya. Wajah Temy tampak murung.

“Keputusanmu adalah awal mula dari semua ini. Kata orang-orang dahulu, tak baik suatu kegiatan terhenti di tengah-tengah. Kita harus menyelesaikannya hingga tahap terakhir!” Rani berucap dengan nada sinis. “Sama halnya dengan perceraian ini, harus diteruskan hingga palu keramat diketuk beberapa kali.” Temy menundukkan kepalanya, semua yang ia perkirakan terjadi. Rani sama sekali tak menerima rujukan darinya.

Siapa sangka, semua hal itu tak bertahan lama. Temy kembali mengangkat kepala. Kedua tatapannya langsung bertemu dengan milik Rani. Perlahan, Temy mengatakan sesuatu yang bisa membuatnya mati aksi. “Tak apa, aku hanya perlu mengucapkan satu pertanyaan lagi untuk memastikan semuanya. Tolong, jangan dengan jujur.” Dalam sekejap, suasana menjadi hening bercampur tegang. Semua itu memuncak ketika sambungannya diketahui.

“Coba pikirkan lagi, apa ... kamu benar-benar tak memiliki rasa kepadaku?”

1
falea sezi
terlalu baik dan bodoh itu sama
Lastri Naila
Bagus
Hozaimatul Jamilah
hmm
Edelweiss🍀
didesak oleh mama Ira, panik kan kalian😅
Edelweiss🍀
menurutku sebaiknya batalkan saja perceraian itu, karena Temy bukannya KDRT bukannya Selingkuh tp dia hanya hampir terlambat menyadari perasaannya. Jd gak ada salahnya mereka mulai lagi dari awal
Chocolla: Hai kak, mampir yuk ke ceritaku 😊
total 1 replies
Novianti Wulandari
Kecewa
Sandigit
jgn bilang ni Yura calon pelakor awalnya baik2 saja lama2 JD tertarik SM temy
Sandigit
jgn sampe saran Rafael mlh menjadi bumerang n membawa petaka
Sandigit
untuk apa bertahan dg org yg SDH tdk menginginkan kita n mempertahankan buang2 waktu
Edelweiss🍀
ku pikir pernah terjadi malam panas di antara mereka, syukurlah tidak
Edelweiss🍀
Benarkah mereka akan membina rumah tangga yg harmonis kembali😌 ku harap Rani segera hamil🤭
Edelweiss🍀
tak dapat dipercaya inu saran Rafa, semoga gak gatot yah🤨
Edelweiss🍀
Apakah Rani berhasil luluh🤔 tak semudah itu ku rasa.
Edelweiss🍀
Ajakin kekamar aja tuh si Rani, pasti ketahuan perasaan yg dia rasa😅
Edelweiss🍀
gak ada kekerasan dari Temy ke Rani tp rasanya jd kek trauma sama pernikahan😥😥😥
Li Xian LinLu
huhuhu geram
Edelweiss🍀
merindukan, merindukan, dsar Temy benar2 kau ya😣
Edelweiss🍀
mungkin kata yg tepat ialah Menyeruput secangkir kopi🙏🏻☺️
Nuraini Gs09
jangan lm" upnya
sigit daryanto
datang bantuan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!