"Menikahlah dengan ku selama 99 hari! Setelah itu aku akan menjadikanmu janda dan semua harta ku akan menjadi hak mu!"
Teuku Muhammad Al-Ghazali melamar Laras si wanita malam yang nakal dan genit. Kata orang Laras adalah wanita yang jelas neraka nya, sebab secara terang-terangan dia menjajakan dirinya.
Namun, percayalah, kalau Laras tidak pernah jatuh cinta seumur hidupnya, banyak sekali luka yang di torehkan oleh orang yang ia sayangi, tak terhitung pengkhianatan yang ia dapatkan. Oleh karena itu, dia tidak percaya lagi pada agama.
"Bila Allah itu nyata, mengapa dia tidak pernah mendengar doaku? Kenapa dia membiarkan ku di sakiti oleh hamba-Nya? Siang malam aku menangis, tetapi, tak ada satupun pertolongan yang ku dapat dari Allah!"
Lantas, mengapa pria sholeh seperti Teuku Muhammad Al-Ghazali, pria berdarah Arab-Aceh itu melamar wanita yang berbeda jauh dengannya? Padahal begitu banyak Cut (sebutan untuk wanita di Aceh, biasanya pasangan Teuku) dan Syarifah yang mengejarnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kisss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petaka Datang
Seorang wanita dewasa berumur kisaran empat puluh tahun mendatangi kediaman Al-Ghazali. Wajahnya tampak ceria, dia membawa kabar gembira untuk keponakannya. Pasti Al-Ghazali akan sangat bahagia mendengarnya.
"Al, pasti seneng kalau tahu aku dapat istri yang baik dan Sholeha, apalagi lulusan dari universitas Mesir," gumamnya pelan penuh semangat.
Dia mengetuk pintu rumah Al-Ghazali dengan keras. Memberi salam dengan sopan.
"Assalamualaikum, Al."
"Assalamualaikum."
"Al, ini Bunda."
Wanita itu terus mengetuk pintu rumah keponakannya, berharap Al-Ghazali membukanya. Dia tidak sabar untuk memberitahukan pada keponakannya tentang rencana perjodohan yang telah dia atur.
Wanita itu tidak tahu kalau keponakan kesayangannya telah menikah. Dia tersenyum cerah saat pintu rumah mah terbuka. Namun, wajahnya mendadak merah padam saat melihat seorang wanita cantik memakai kaos lengan panjang dipadukan celana kain dengan kerudung instan menutupi kepalanya.
"Wa'alaikumussalam, maaf … Tante cari siapa, ya?" tanya gadis cantik itu menatap polos wanita dewasa di hadapannya.
"Siapa kamu? Di mana, Al?" Wanita itu bertanya dengan nada dingin. Dia tidak suka melihat ada gadis lain yang berani masuk ke dalam rumah keponakannya. Itu tidak baik dan akan menyebabkan fitnah kejam saja.
"Mas Al–,"
"Siapa, Ras?" tanya Al-Ghazali tiba-tiba muncul di belakang istrinya. Mata pria itu membesar sempurna, ketika melihat tantenya Kimi telah berada di hadapannya.
Gleg.
Al-Ghazali menelan ludahnya susah payah. Sepertinya akan terjadi perang dingin antara dirinya dan sang Tante. Sebab, ada Laras dalam rumahnya. Di tambah dia belum jujur pada adik ibunya tentang pernikahannya.
"Bunda," gumam Al-Ghazali pelan.
"Siapa dia, Al? Kenapa ada gadis liar di rumahmu?" tanya wanita itu dengan nada sarkasnya membuat wajah Laras berubah masam.
Sang gadis mengepalkan tangannya erat, dia tidak terima dipanggil gadis liar. Terlebih lagi pakaiannya telah tertutup, dia tidak memakai gamis, karena hanya di rumah saja. Makanya dia memakai pakaian santai.
Mungkin bila dulu dia akan biasa-biasa saja. Karena dulu Laras berpakaian terbuka dan minim kain.
Tetapi, tidak dengan sekarang.
"Atas dasar apa wanita tua seperti Anda menyebut saya gadis liar? Apa saya pernah tidur dengan suami Anda? Tidak, bukan? Lantas mengapa lidah Anda begitu tajam memanggil saya gadis liar?" tanya Laras dengan nada dingin.
Jangan ajarkan Laras untuk berkata kasar. Sebab, dia mantan pencela, lidahnya sudah mahir bersilat, saat ini Laras sedang dalam fase hijrah.
Laras adalah manusia, meski hijrah bukan berarti menjadikannya malaikat yang tak punya amarah dan dendam. Dia mantan pencela, akan sangat mudah dipancing untuk mencela bila ada orang yang lebih dulu mencelanya.
Kata-kata Laras begitu menusuk membuat wanita dewasa itu melebarkan matanya. Dia menatap Laras tak percaya, teranyar gadis kecil yang menatapnya dengan sorot mata polos, bisa berubah menjadi rubah luar yang menatapnya tajam. Lisannya lebih berbisa daripada ular kobra.
Begitu juga dengan Al-Ghazali. Dia menghela nafas panjang, dia kesal pada Laras, karena tidak bisa menjaga lisannya. Tetapi, lebih kesal pada tantenya yang lebih dulu memancing Laras.
Pria itu netral. Tidak membela siapa-siapa. Tetapi, sebagai seorang suami, dia marah bila ada orang yang berani mencela istrinya. Meski itu adalah keluarganya sendiri.
"Tajam sekali lidahmu, gadis kecil!" desis sang Tante menatap tajam Laras.
Laras tak gentar. Dia mengilangkan kedua tangannya di depan dada. Lalu menatap remeh wanita tua di hadapannya.
"Tentu saja tajam, karena sering ku asah agar tidak kalah bersilat dengan wanita dua yang punya lidah setan sepertimu. Mengatasi ku gadis liar tanpa alasan, beraninya Anda? Malulah dengan gamis dan kerudung yang Anda pakai!" sindir Laras tanpa ampun membuat sang Tante marah.
Wanita dewasa itu menatap Laras dengan sorot mata yang tak dapat diartikan. Dia benar-benar marah dan menatap Laras dengan sorot mata penuh kebencian. Al-Ghazali sebagai orang ketiga langsung berusaha melerai perdebatan antara istri dan tantenya.
"Sudah-sudah, jangan berdebat lagi! Sebagai orang beriman, kita harus bisa menjaga lisan agar tidak saling menyakiti satu sama lain! Lisan diciptakan untuk berbicara yang baik-baik saja!" lerai Al-Ghazali dengan nada tegas.
Laras mengerucutkan bibirnya. Dia memeluk lengan sang suami lalu mendongak menatap Al-Ghazali dengan wajah yang sangat menggemaskan. Andai saja tidak ada sang Tante pasti Al-Ghazali lebih dulu mencium rakus bibir istrinya.
"Mas, tapi wanita tua itu yang lebih dulu mencelaku. Aku hanya ingin membela diri!" rengek Laras mengadu pada sang suami.
Sang Tante yang melihat Laras memeluk lengan keponakan tercintanya langsung marah. Dia segera mendorong Laras membuat gadis itu nyaris hilang keseimbangannya. Namun, Al-Ghazali segera merangkul pinggang istrinya agar tak terjatuh.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Al-Ghazali khawatir membuat Laras menggelengkan kepalanya. Dia menatap sang suami dengan sorot mata berkaca-kaca. Sebenarnya, dia sedang marah dan ingin membalas mendorong wanita tua itu, namun, sekuat mungkin dia menahan dirinya agar terlihat lemah di hadapan sang suami.
"Huff … sabar, Laras. Sabar … tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan. Ingat! Orang sabar pahalanya besar. Walau kerap kali hidung mu kembang kempis, karena mempertahankan kesabaran mu."
Laras memberi sugesti dalam hati. Sang gadis tidak mau hilang kendali. Bukan berarti Laras gadis lemah, dia sangat kuat dan tidak akan segan menghajar sang Tante.
Tetapi, dia tahan.
"Apa-apaan kamu, Al. Lepaskan dia, tidak usah main peluk peluk segala. Ingat kamu muslim, dia tidak halal bagimu!" sentak sang Tante murka membuat Al-Ghazali segera membawa Laras ke belakang tubuhnya.
"Dia halal bagiku, Bun. Karena dia istriku?!" tegas Al-Ghazali dengan lantang membuat sang Tante terkejut bukan main. Seperti disambar petir di siang bolong membuat wajah wanita itu berubah tegang dan kaku.
Laras memeluk pinggang sang suami. Berlagak seperti istri penakut yang bersembunyi di balik tubuh suaminya. Padahal dari belakang dia menjulurkan lidahnya ke arah wanita tua itu.
Wlee.
"Aku istri sahnya, wleee … suka-suka aku mau peluk suami ku atau cium dia!" balas Laras terus mengejek wanita di hadapannya.
Cup.
Laras berjinjit lalu mengecup pipi kanan sang suami lalu kembali menjulurkan lidahnya ke arah sang Tante.
"Istri kamu bilang?! Jangan bercanda, Al?! Kapan kamu menikah?!" teriak sang Tante dengan suara yang cukup tinggi.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Salem aneuk Nanggroe Aceh ❤️
syahadat
sholat
zakat
puasa
naik haji Mun kawasa di jalana
terakhir yang ke enam ( pulang lagi
keren banget ceritanya kak, tapi mengandung banyak bawang terutama di akhir2 cerita..
apakah idenya dari kisah nyata jg kak?
semoga masih ada manusia2 seperti Al-Ghazali ya kak, baik laki2 maupun perempuan..
yg masih mau peduli pada orang2 yg butuh pertolongan untuk hijrah..
terkadang para pendosa bukan tidak mau taubat, namun tidak mendapat uluran tangan untuk membantu mereka keluar dari kubangan dosa..
tidak ada manusia yg sempurna kecuali Rasulullah, maka dari itu jgn merasa bersih dari dosa setinggi apapun ilmu agama yg dimiliki..
justru biasanya orang2 yg paham akan ilmu agama, semakin banyak ilmunya maka akan semakin merasa banyak dosa dan tidak gampang menghakimi orang lain..
udah ketar ketir takutnya sad ending..
tapi finally happy ending, jadinya lega banget..
makasih banyak kakak sudah menghadirkan kisah singkat namun sangat inspiratif..
semoga sehat selalu dan tetap semangat untuk berkarya..
semoga sukses selalu dimanapun kakak berada.. 🙏🏻💪🏻😘🥰😍🤩💕
ni part banyak banget bawangnya/Sob//Sob//Sob/