Ini adalah novel yang menceritakan tentang kehidupan seorang wanita yang mengalami segala jenis permasalahan dalam kehidupan rumah tangganya.
Arinda Rahma adalah wanita beranak satu yang hidup menumpang di rumah orang tuanya karena suaminya hanya memiliki gaji pas-pasan.
Tiada hari tanpa mengeluh tapi ketika dia merasa tak ada yang mendengar keluh kesahnya, Arin memilih diam.
"Mulai saat ini aku akan diam. Semua permasalahan akan kutanggung sendiri. Tak peduli rusak raga dan batinku."
Jangan lupa siapkan tisu karena banyak bawang yang akan othor tabur.
Kalian hanya perlu tabur bunga dan secangkir kopi tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbeda
Setelah Arin mendapat teguran ibunya, keesokan harinya Arin ke toko bangunan untuk membeli cat. "Mas, mau tanya. Kalau satu ruangan butuh berapa kaleng cat?" tanya Arin pada penjual di toko bangunan tersebut. "Kalau ruangannya tidak terlalu luas, satu kaleng cukup kalau agak luas dua kaleng cat paling nggak, mbak."
"Owh, kalau gitu saya beli dua kaleng cat aja. Berapa harganya?" tanya Arin.
"Per kaleng dua ratus ribu. Tambah apa lagi?" tanya penjual tersebut seraya mencatat apa yang dibeli Arin di sebuah nota.
"Tambah kuas aja, jadi totalnya berapa?"
"Empat ratus empat puluh ribu," jawab penjual tersebut. Arin memberikan uang yang diminta penjual tersebut. Untung saja dia masih ada tabungan dari hasil jualan online. Sebelum pergi tadi dia sempatkan mampir ke ATM untuk menarik uang.
"Alhamdulillah Flo, kita bisa bahagiain nenek," gumam Arin mengajak Flo bicara. Gadis kecil itu hanya tersenyum.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya, Arin merasa senang karena Flora bergumam. Dia menyanyi meski tidak jelas pengucapannya. Arin pun ikut menyanyikan lagu anak-anak sambil mengajari Flora.
Sebuah kebahagiaan tersendiri bagi Arin ketika melihat tumbuh kembang anaknya setiap hari. Meski kadang sang anak rewel tapi dia menikmati. Walau kadang dia kesal karena sang suami tidak membantu tidak masalah.
Sesampainya di rumah, Arin menurunkan Flora terlebih dulu barulah menurunkan cat yang dia taruh di bagian belakang motornya. "Apa itu, Rin?" tanya sang ibu.
"Bu, aku belikan cat."
"Untuk apa?" tanya Bu Nia.
"Kok untuk apa sih, Bu? Kan ibu sendiri yang bilang kemaren nggak bisa beli cat karena temboknya dicorat-coret sama Flora. Ini aku belikan untuk mengganti temboknya biar kembali bersih, Bu."
"Arin, Arin, kamu ini mudah tersinggung. Dibilang begitu saya langsung beli cat."
"Ya, nggak apa-apa. Arin punya uang jadi nggak usah khawatir."
"Uang dari mana? Orang kamu nggak kerja," ledek Bu Nia.
"Dari main hp," jawab Arin lalu dia membawa Flora masuk.
"Kamu pikir siapa yang akan mengerjakan nanti? Apa nggak bayar tukang segala?" omel Bu Nia tiada henti.
"Sudah dibeliin cat malah nggak bilang makasih. Ngomel terus tiap hari. Kalau nggak dibeliin salah. Dibeliin juga salah. Heran sama ibu maunya apa sih?" gerutu Arin sambil menyusui anaknya.
Flora yang kecapekan diajak bepergian langsung tertidur ketika kenyang menyusu ibunya. Anak itu memang selalu anteng. Itulah yang disukai Arin jika bersama Flora. Jika anak seusianya sedang tantrum. Berbeda dengan Flora yang selalu jadi anak manis dan tidak pernah rewel. Dia hanya rewel ketika sedang sakit.
Usai menidurkan anaknya, perut Arin terasa lapar. Dia ingin makan tapi dia lupa beli. Ingin minta sama ibunya dia gengsi. "Mana mungkin aku minta makan sama ibu kalau tadi aku habis bertengkar dengannya."
Dia ingin keluar beli makanan takut kalau tiba-tiba Flora bangun dan mencari dia. Akhirnya Arin hanya minum air putih saja untuk mengganjal perutnya yang lapar. "Mode hemat," gumam Arin ketika perutnya penuh dengan air.
Arin pun mengantuk. Saat dia ingin merebahkan diri di samping Flora, Bu Nia memanggil. "Ck, ada aja gangguannya," gerutu Arin.
"Ada apa, Bu? Kenapa teriak-teriak? Flora sedang tidur kecilkan suaranya."
"Angkat jemuran sana! Jangan main hp mulu di kamar," tuduh sang ibu.
"Ya Allah siapa yang main hp, Bu. Dari tadi aku hanya menemani Flora tidur."
"Baru bangun tidur 'kan? Kalau gitu sekarang angkat jemuran. Anginnya sangat kencang. Nanti jemuran pada terbang."
"Iya, iya." Arin cemberut tapi dia tetap mengangkat jemuran.
Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. "Arin mengerutkan kening. Rupanya Tika diantar pulang oleh temannya.
Mobil itu langsung pergi setelah Tika turun. Arin tak sempat melihat pengemudi mobil tersebut. "Dari mana, Tik?" tanya Arin penasaran.
"Nggak dari mana-mana," jawab Tika dengan ketus.
"Ck, ditanya gitu doang sewot," gerutu Arin.
"Assalamualaikum, Bu." Tika mengucapkan salam ketika masuk ke rumah.
"Ck, pencitraan," gumam Arin dalam hati. Dia merasa kesal karena di depan dirinya Tika sama sekali tidak menghargai.
"Waalaikumsalam. Baru pulang, nak?" Bu Nia menyodorkan tangan agar Tika mencium tangannya itu.
"Iya, Bu. Aku langsung masuk kamar ya, capek." Bu Nia mengangguk.
'Heran banget apa aku ini anak pungut. Jika ibu di hadapanku selalu marah-marah. Tapi kalau di hadapan Tika sikapnya selalu manis seperti halnya sikap ibu pada Mas Ikbal.'
Arin merasa ibunya tidak adil. Dia selalu diperlakukan berbeda sejak kecil. Jika dia selalu sayang pada Tika, maka Bu Nia suka marah-marah bahkan tak jarang membentak jika berhadapan dengan Arin.
Meskipun sedih Arin tak mau sikap ibunya berpengaruh pada pola asuhnya terhadap Flora. Arin duduk di dekat Flora. "Doakan ibu menjadi seorang wanita yang penyayang dan sabar dalam membesarkanmu ya, Flo," ucapnya seraya mengusap lembut rambut Flora yang sedang tertidur.
tokoh Iqbal blm seberapa toxic,,msh mau ada untuk istrinya..tp pa negaraku 10 taun LDR hidup terus d rmh ortuku tanpa berpikir untuk berpindah kerja agar bisa ngontrak satu kota dengan ku nyatanya hanya ilusi oasis d tengah Padang gurun..
masyaallah related bgt sama kehidupan nyata ku ,, punya ortu kandung yg toxic tp bedanya rumah tangga ku LDR selama 10 taun..Ntah apa rencana Tuhan sampai lelah utk mempertahankan semuanya...