Kisah Asmara Arini, seorang gadis muda sederhana dengan kekasihnya Aditya yang harus kandas ditengah jalan. Status sosial menjadi tembok penghalang hubungan mereka.
Dengan terpaksa Aditya melakukan pernikahan dengan wanita pilihan orang tuanya.Tanpa Aditya sadari, Arini melahirkan seorang anak dari hubungan mereka selama ini.
Dengan menelan kekecewaan dan sakit hati, Arini membesarkan anaknya seorang diri dengan penuh perjuangan dan air mata. Hingga akhirnya datang seorang pria bernama Radit yang begitu bersimpatik dan mengagumi kehidupan Arini. Bersamaan dengan itu pula Aditya datang kembali dalam kehidupannya.
Akankah Arini kembali menerima cinta Aditya?
Atau....
Akankah Arini menerima cinta tulus Radit yang begitu mencintai dan menerima semua masa lalunya?
Penasaran.....? pantengin terus cerita di setiap partnya...❤❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Dia...
Dapatkah aku berandai...Menapaki jalan tanpa takut terjatuh, merangkak dan tertatih.
Kesakitan yang telah terpatri...Menjadikanku enggan untuk kembali,menyentuh kehangatan cinta, ,,,yang hingga akhir waktu semakin pergi menjauh.
Arini tersadar, melihat keadaan sekitar yang sepertinya terasa asing, dilihat bajunya sudah berganti. Merasakan kepala yang masih terasa pusing, mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi padanya tadi.
"Rin...kamu sudah sadar. Mana yang terasa sakit?"
"Mbak kenapa aku bisa ada disini, apa yang terjadi denganku?"
"Tadi kamu pingsan, Radit membawamu kesini. Tapi sekarang dia sudah pulang."
Mas Radit....Kenapa dia bisa membawaku kesini.. Arini tak mengerti.
"Makasih ya Mbak, maaf sudah merepotkan."
"Rin...anggap Mbak ini kakak kamu, jadi jangan sungkan. Kalau kamu ada masalah cerita sama Mbak, mungkin itu akan membuat hati kamu terasa lega."
Arini menangis dipelukan Anggun. Ternyata masih ada orang yang peduli dengannya.
Menghapus air mata Arini,"Kalau kamu belum siap buat cerita nggak papa, jangan dipaksakan. Mendingan sekarang kamu makan dan minum obat lalu istirahat ya."
Keesokan paginya, Arini sudah bangun dan segera pulang kekontrakannya karena dia harus segera pergi bekerja. Walau Anggun melarangnya namun Arini tetap bersikeras untuk pergi Karena hari ini pembukaan perusahaan baru tempat Arini bekerja, jadi pasti banyak yang harus dia bantu untuk proses pelaksanaanya.
Seperti biasa Arini menunggu bus di halte sambil duduk dibangku plastik yang disediakan disana. Wajahnya masih pucat dan pusing dikepalanya masih terasa, suaranya pun jadi bindeng, mungkin karena flu. Tapi tidak mungkin dia harus izin kerja apalagi ditempat baru.
Sebuah mobil mewah berhenti didepannya, seseorang keluar dari mobil itu, ternyata Radit.
"Rin ko kamu disini. Memang kamu sudah tidak apa-apa. Wajah kamu masih pucat."
"Mas Radit,...Saya mau kerja Mas. Lagian saya udah nggak apa-apa ko. Mas Radit mau kemana?"
"Sama mau kerja juga, kalau gitu kita berangkat barengan aja."
"Nggak usah Mas, nanti ngerepotin. Terima kasih."
"Sama sekali nggak repot, lagian jalan kita searah. Jadi saya nggak bakalan telat."
Akhirnya Arini menerima tawaran Radit. Dalam perjalanan keadaan terasa canggung. Radit binggung harus memulai dari mana, padahal ini kesempatan buat dia untuk mengenal Arini lebih jauh.
Arini memakai masker diwajah yang sudah dia beli tadi.
"Kenapa pake masker?"
"Saya lagi flu Mas, takut nular ke Mas Radit."
Radit tersenyum mendengarnya.
"Mas makasih ya, kata Mbak Anggun Mas Radit yang udah bawa saya kerumah Mbak Anggun."
Waktu malam itu, belum lama Arini pulang, Raditpun ikut pulang dengan membuat alasan ada pasien gawat darurat. Padahal dia begitu mencemaskan keadaan Arini, hanya dia terlalu malu untuk mengakuinya.
Radit memarkirkan mobil ditepi jalan, mencari Arini yang tidak tahu dimana karena diapun tidak tahu jalan kontrakan Arini kearah mana. Radit merasa khawatir dan ingin meyakinkan sendiri kalau Arini baik-baik saja.
Untungnya Radit datang tepat waktu, sebelum Arini jatuh tersungkur Radit keburu datang menopang badannya.
"Iya sama-sama. Lain kali jangan ujan-ujanan lagi ya. Nanti siapa yang mau gendong kamu kalau pingsan lagi. Untung ada saya."
Radit melihat kerutan dimata Arini, menandakan kalau Arini tersenyum.
"Berat ya Mas?"
"Lumayan,, untung badan kamu kecil kalau gendut mungkin saya harus telepon ambulance." Arini tertawa mendengar gurauan Radit.
"Mas Radit kerja dimana?"
"Dirumah sakit Pelita Medika."
"Dibagian apa Mas?"
"Dokter."
"Oh Mas Radit Dokter. Pantesan tadi bawa-bawa ambulance segala."
Keduanya tertawa, suasana mulai mencair. Banyak obrolan yang tercipta, hingga tak terasa Arini sampai ditempat kerjanya. Kemudian dia turun dan mengucapkan terima kasih karena sudah mendapat tumpangan gratis.
Arini mulai melakukan pekerjaannya, dihalaman Perusahaan sudah berdiri tenda mewah dengan deretan kursi dan panggung yang sudah didekorasi dengan sedemikian rupa.
Disepanjang jalan menuju gedung sudah banyak karangan bunga sebagai ucapan selamat atas dibukanya perusahaan baru.
Dibagian pintu perusahaan sudah terbentang pita berwarna kuning mas, yang nantinya akan digunting oleh pimpinan tertinggi perusahaan sebagai tanda perusahaan sudah mulai beroperasi.
Sebentar lagi acara akan segera dimulai. Semua persiapan sudah selesai dilakukan. Deretan kursi sudah mulai penuh terisi oleh tamu undangan.
Semua karyawan sudah siap menyambut pimpinan mereka yang masih dalam perjalanan.
Tak lama kemudian beberapa mobil mewah memasuki halaman gedung perusahaan. Beberapa orang berbaju hitam-hitam berjaga, keluarlah seseorang dengan setelan jas rapi memperlihatkan pakaian yang sangat pas dibadannya.
Seseorang mempersilahkannya menuju kursi paling depan. Berjalan penuh wibawa, karyawan dan tamu yang hadir membungkuk memberi hormat. Semua yang ada disana begitu terpesona dengan penampilan pimpinan perusahaan tertinggi yang masih muda dan sangat,,sangat tampan.
"Wah Mbak..cakep bener itu pimpinannya..liat deh Mbak."
Ratih menarik tangan Arini yang sedari tadi duduk dilantai, karena merasa badannya sedikit lemas.
"Ayo Mbak, cepetan."
Arini pun berdiri, namun pimpinan itu sudah duduk membelakangi karena posisi Arini berdiri memang berada dipojokan jauh dari tamu undangan dan karyawan perusahaan, jadi tidak terlalu nampak jelas.
"Telat sih Mbak nya, jadinya nggak keliatan kan." Gerutu Ratih menyesali Arini yang lama berdiri.
"Ya udah biarin, tar juga tau Tih. orang kita kerjanya disini." Kembali duduk.
"Ya nggak bakalan lah Mbak..Menurut kabar angin itu pimpinan dari pusat yang ada di Jakarta jadi nggak bakalan ada disini Mbak..Sueeerrrr ganteng banget loh Mbak. Udah nikah belum ya?"
Ratih terus-terusan memuji dengan segala khayalan yang dia dipikirkan, benar-benar halu.
Tiba waktunya sambutan dari pimpinan tertinggi perusahaan. Suasana hening saat sang pimpinan menaiki podium.
"Selamat siang semuanya...Terima kasih saya ucapkan kepada Bapak dan Ibu yang sudah berkenan hadir untuk acara pembukaan cabang perusahaan Wirrbel Courporation di Surabaya..." bla...bla...bla...
"Wah Mbak liat pimpinan ganteng itu lagi pidato." Kata Ratih heboh.
Arini terdiam mendengar suara itu, tidak mungkin, tidak mungkin itu dia... Arini membuang pikirannya jauh-jauh.
Tetapi suara itu semakin membuat Arini penasaran. Arini kembali berdiri untuk melihat dan memastikannya sendiri.
Haahhh.... Terperangah.
Ternyata benar dugaannya kalau itu suaranya.
Aditya......
Bisik Arini hampir tak terdengar. Arini segera membalikan badannya, serasa mimpi untuknya bisa benar-benar melihat Aditya sedang berdiri disana.
Ya Tuhan..kenapa harus dia....
Arini memegang dadanya yang berdegup kencang.
"Mbak kenapa?" Ratih menyadarkan Arini.
"Mbak ke toilet sebentar ya.."
Arini segera pergi menjauh dari acara yang masih berlangsung itu.
Arini mengunci diri di kamar mandi, bingung harus berbuat apa. Kenapa dia harus bekerja ditempatnya Aditya. Kenapa dari sekian banyaknya orang malah dia yang harus terpilih untuk pindah ke tempat ini.
Skenario apa yang kau buat untukku Tuhan...tidak cukupkah penderitaanku selama ini... Arini menangis tersedu.