Demi menyelamatkan perusahaan dan hidup suaminya. Renata terpaksa menerima kenyataan bahwa dirinya harus menikah dengan rekan bisnis suaminya. Berpisah dengan orang yang kita cintai, memang sangat menyakitkan. Pil pahit pernikahan harus dirasakan oleh keduanya saat memutuskan untuk merelakan cinta mereka.
Akankah mampu Renata menjalani nya?penasaran? Yuk langsung baca!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @melaniptri__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TJC EPISODE 18
Rey mengusulkan Renata yang masuk ke dalam kamar.
Klek...
Rey membuka pintu, Dia masuk ke dalam kamar. Rey menghampiri Renata yang sedang menata pakaiannya, Dia memeluk Renata dari arah belakang.
Pergerakan tangan Renata terhenti saat mendapatkan Rey memeluknya, Dia terdiam saat merasakan hembusan nafas Rey.
Rey membalikan tubuh Renata, Kini keduanya sudah saling berhadapan. "Kamu marah kepadaku?" Tanya Rey sambil mengusap kening Renata.
Tak ada jawaban dari Renata, Dia hanya terdiam diri.
Melihat Renata tak kunjung bicara, Rey mencium Renata dengan lembut. "Jangan diamkan aku seperti ini, Percayalah, aku tidak akan mengulangi kesalahan dulu... aku mencintaimu..." Bisik Rey yang membuat Renata cukup terkejut.
"R-Rey?" Renata menatap Rey, Rey membalasnya dengan senyuman, Dia memeluk Renata.
Cup...
Rey mengecup Renata, "Biarkan semuanya terjalan dengan jalannya, Biarkan hati ini menjawab perasaannya..." Lontar Rey.
Keduanya saling berpelukan.
Sore harinya...
Terlihat keluarga sedang berkumpul, Terlihat juga ada Tuan Bram dan Nyonya Widia. Mereka sepertinya sedang membahas sesuatu, Entah apa yang mereka bahas.
"Rey, Apa kamu yakin?" Tanya Bram, pada anaknya.
Rey menganggukkan kepalanya, "Hmm ya, Rey yakin."
Bruk..
Tuan Bram menepuk pundak Rey, Kini anaknya sudah sangat dewasa, Sudah seharusnya Rey mendapatkan pasangan setia sampai tua.
Sedangkan itu kini Renata tengah berbicara berdua dengan Nyonya Widia, Ralat! sepertinya terintegrasi.
"Apa Rey memaksamu?"
Renata menggelengkan kepalanya, "T-tidak Nyonya, Tuan Rey... emm Rey tidak memaksa apapun..." Jawab Renata dengan suara lirihnya.
Widia mengukir senyumnya, Sepertinya kini pemikirannya mengatakan kalau Renata adalah wanita yang tepat untuk Rey. Meskipun dirinya tak tau awal mula Renata.
Widia mengusap wajah cantik Renata, "Panggil Mama, Seperti Rey memanggil mama." Renata tersenyum kikuk.
"Mama percayakan Rey kepadamu, Mama mohon jangan pernah kecewakan Rey... dia sudah cukup sakit hati dengan perbuatan wanita itu, Jika sikap Rey berubah-ubah, Mohon dimaklumi.. karna seperti itulah Rey," Kata Widia yang menjelaskan bagaimana Renata harus menjaga kepercayaan dan hati Rey.
"Dan satu lagi, Jangan pernah berbohong atau menyembunyikan apapun dari Rey... jika Rey melakukan hal aneh, Segera kabari mama? oke?" Lanjut Dewi, Renata menganggukan kepalanya.
"Jadi, Apa langkah yang akan kalian ambil setelah ini?"
Rey menatap Renata yang tengah menundukan kepalanya, Dia beralih menatap Ayahnya. "Rey akan mempublikasikan pernikahan ini, Rey mencintai Renata." Jawab Rey dengan lantang.
"Baiklah, kalau begitu, Ayah akan bantu." Tuan Bram berdiri dari duduknya.
Rey memeluk ayahnya, "Terimakasih,"
Widia tersenyum melihat momen itu, Sudah lama sekali ayah dan anak itu tak lagi bersama.
Sejak Rey memilih untuk membangun perusahaannya sendiri dan tak mau melanjutkan perusahaan keluarga, Membuat Tuan Bram murka.
Hubungan mereka pun bisa dibilang renggang, Namun sekarang? Mereka sudah bersama kembali.
Setelah semuanya selesai, Rey meminta semua maid untuk memindahkan barang-barangnya ke kamar Renata.
Kenapa tidak di kamar yang dulu dia tempati bersama Aulia? Alasannya cukup simpel saja, Rey tak mau Renata merasa kalau dirinya hanyalah sebatas pengganti.
Rey ingin memantapkan hatinya, Dia sudah menyayangi Renata.
"Kenapa tidak di kamar itu saja?" Renata bertanya saat semua barang Rey berpindah ke kamarnya yang kecil ini.
"Aku lebih suka yang sempit, apalagi itu..." Rey mengangkat alisnya.
Blus...
Wajah Renata merona, Dia malu saat Rey memandangnya.
Melihat Renata merona, Tentunya Rey tertawa, Rey gemas dengan sikap Renata.