Jika kita tidak pernah mencobanya makan dari mana kita akan tahu hasil akhir sebuah perjuangan? Rania memilih mundur ketika ia bukan menjadi pilihan satu satunya bagi seseorang. Trauma masa lalu Nia sapaan akrabnya yang ditinggal menikah sang kekasih dengan sahabat sendiri menyisakan trauma untuk jatuh cinta lagi. Kini ia dihadapkan dia pilihan, bersama tambatan hati atau merubah takdir cintanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Galih
Rania pulang ke apartemennya setelah lelah menjalankan aktifitas hari ini. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menatap langit langit kamar.
Waktu di perjalanan tadi Rania sempat ber tukar kabar dengan Galih, pria itu akan menjemputnya untuk makan malam di luar. Terpaksa Rania mengirimkan alamat apartemennya.
Sejujurnya Rania tidak ingin menjalin interaksi dengan masa lalunya kemarin. Namun apa salahnya jika hanya sekedar berteman atau menganggap Galih client VIP nya.
Ting nong,,,
Bel apartemen berbunyi ketika Rania hampir selesai memakai pakaiannya. Ia baru saja mandi beberapa menit yang lalu. Tak ingin Galih harus menunggu lama nantinya.
"Silakan masuk mas! "
Rania membuka pintu tanpa mengecek siapa yang datang karena sudah pasti itu Galih.
"Pak Mario,,, anda tahu dari mana? "
Rania begitu terkejut mendapati Mario yang kini sudah masuk ke dalam rumahnya.
"Siapa yang sedang kamu tunggu Nia? Apakah Galih Hartono? "
Mario berjalan menuntun Rania dengan seringai menakutkan. Pertama kalinya Rania melihat Mario semarah itu.
"Tidak ada, tolong bicaralah baik baik Pak. Jangan seperti ini! "
Rania semakin terpojok terhimpit antara tubuh Mario dan dinding kamarnya.
"Bahkan kamu meninggalkanku begitu saja Rania, pergi tanpa pamit, berbohong tentang kembali ke Bali, dan ternyata kamu masih ada di dekatku Nia. Kamu sangat kejam Nia."
Mario mencoba menyentuh pipi Rania namun perempuan itu menghindar memalingkan wajahnya.
"Please, aku bisa menjelaskan semuanya."
Apa yang sedang Mario lakukan mengingatkan Rania pada Bayu dulu. Berusaha memaksa Rania melakukan hubungan badan dengannya.
Rania merasakan ketakutan yang begitu kuat. Mungkinkah Mario terlalu sakit hati padanya hingga ingin merusak dirinya?
"Katakan Nia, apa kalian selalu bersama di belakangku? "
Mario membelai rambut Rania lembut Namun tidak dengan Rania yang tubuhnya sudah bergetar hebat.
"Tidak, aku baru bertemu Galih tadi pagi setelah tiga tahun."
"BOHONG!!! "
teriak Galih tak percaya.
"Selama ini aku menderita Rania, kamu dengan mudahnya meninggalkanku disaat aku terjatuh. Kamu bahkan tidak mau berjuang bersama."
Mario menunduk mengingat rasa sakit yang Rania goreskan.
"Aku minta maaf Mario, itu bukan kehendak ku dan semua telah berlalu aku ingin kamu melupakan semuanya."
Mario malah menarik pinggang Rania mendekap nya erat, namun Rania berusaha memberontak dengan mendorong tubuh Mario.
Ia berlari menuju pintu rumah untuk keluar namun langkah Mario terlalu cepat sehingga ia bisa mencegah tangan Rania.
"Lepas! Pergi! Aku tidak mau! Jangan Paksa aku! Aku mohon lepaskan aku! "
Rania mencoba menepis genggaman Mario namun terlalu kuat baginya untuk di lawan.
"Hey Nia, tenanglah bee! Aku tidak akan menyakitimu Nia! "
Melihat Rania yang histeris membuat Mario khawatir dan merasa bersalah.
Rania menangis sejadi jadinya, trauma akan masa lalu pahit nya seolah terulang kembali. Ia takut Mario akan melecehkannya sama seperti Bayu dulu.
Galih yang baru keluar dari lift mendengar seseorang berteriak dan itu sepertinya berasal dari kamar Rania.
Galih pun berlari menuju unit paling ujung dan menggedor pintu rumah Rania berulang kali.
"Rania are you oke? Bukalah pintunya! Rania jawab aku! "
Teriak Galih meminta Rania segera membukakan pintu.
Belum ada yang menyahut dari dalam, Rania tengah dibungkam mulutnya oleh Mario agar tidak bersuara.
Mario menggelengkan kepalanya memberi isyarat pada Rania untuk tidak membukakan Galih pintu.
Galih berpikir apa ia salah alamat, kemudian mengecek kembali pesan Rania tadi siang namun itu unit yang benar. Mungkin kah Galih salah dengar tadi? Apa Rania sudah pergi ke tempat mereka janjian?
Galih mengusap wajahnya kasar tak mengerti.
Ia pun pergi menuju mobilnya di basement.
"Aku minta maaf Nia,,, "
Bisik Mario setelah menganggap Galih sudah pergi.
"Keluar sekarang juga! "
Rania mengusir Mario tanpa menatap wajahnya. Ia terlalu takut pada Mario yang sekarang sudah berubah menurutnya.
Bukan lagi Mario si lembut, penyayang dan tentunya penyabar.
Mario menurut tanpa berkata apapun. Ia pergi meninggalkan Rania karena tak ingin membuat sang mantan kekasih takut padanya.
Ketika Mario sudah masuk kedalam lift, Galih keluar dari tempat persembunyiannya. Apa yang ia dengar tadi memang tidak salah. Merasa ada sesuatu yang tak beres, Galih memilih menunggu seseorang itu keluar.
Dan benar saja Rania bertengkar dengan Mario tadi.
"Rania ini aku,,, "
Panggil Galih didepan pintu.
Rania segera mengusap air mata lalu merapikan pakaiannya agar Galih tidak curiga.
"Hai,,, "
Sapa Rania menyambut kedatangan Galih.
Galih melihat sekeliling ruangan namun keadaan tampak baik baik saja.
"Are you okay? "
Tanya Galih memastikan.
"I'm fine. Tunggu sebentar aku akan mengambil tas."
Rania kembali ke dalam kamar hanya untuk mengambil tas dan handphone miliknya. Ia juga menngganti sandal rumah dengan flat shoes.
"Apa ada masalah Rania? Sejak tadi kamu sibuk dengan pikiranmu."
Tanya Galih menatap lekat perempuan di hadapannya, mereka kini sudah duduk di restoran Italia. Galih memilih untuk makan pasta dan pizza kesukaannya.
"Tidak ada, aku hanya memikirkan beberapa pekerjaan."
Rania juga sempat di hubungi Sania kalau calon tunangan Mario ingin Rania langsung yang meriasnya.
"Hey, ingatlah ini Rania! Jika kamu ada masalah kamu bisa menghubungiku, lebih bagus lagi hubungi aku walau tidak terjadi sesuatu."
Mendengar perkataan Galih membuat Rania berhenti memikirkan masalahnya, ia lebih asik memandangi Galih saat ini.
Galih benar benar berubah drastis, ia lebih wise, positif vibes, dan penuh perhatian.
"Tunggu, aku tidak ingin kekasihmu cemburu lalu datang memakiku."
Rania tanpa sengaja membahas perempuan yang mungkin sedang dekat dengan Galih.
"Kamu bisa lihat jari manisku masih kosong, lagi pula jika aku sudah memiliki pasangan aku tidak mungkin mengajakmu makan berdua saja."
Mencoba mencari kebohongan dimata Galih namun Rania tidak menemukannya sama sekali. Mana mungkin pria itu tidak mengakui kekasihnya jika memang Galih sudah memilikinya.
"Baiklah aku tidak akan bertanya lagi, mari kita makan."
Keduanya menikmati santap malam dengan diselingi beberapa obrolan ringan. Rania dan Galih bertukar cerita tentang kehidupan mereka selama tiga tahun terakhir.
Galih sempat ingin menemui dirinya namun ia terlalu takut mengganggu privasi Rania. Mario juga tak henti hentinya bertanya pada Galih dimana keberadaan Rania.
"Lalu aku bilang saja jika aku tidak tahu apa apa. Aku tidak ingin terjebak diantara kalian lagi."
Jawab Galih enteng mengulangi perkataan yang ia ucapkan pada Mario.
Melihat Rania terdiam seperti memikirkan banyak hal, Galih menaruh sendok garpu nya dan menatap Rania intens.
"Seharusnya kamu tidak perlu pergi dengan cepat Rania, agar jika suatu saat kalian bertemu lagi tidak ada hal yang harus kalian bahas."
Galih tidak bermaksud menyinggung perasaan Rania, tapi dia tahu jika Mario sudah bertemu dengan Rania.
"Iya itu memang salahku. Mungkin aku harus menyelesaikan masalah kami yang tertunda."
Rania sadar jika ia memiliki hutang maaf pada Mario dan mungkin saatnya ia harus mengakhiri ikatan mereka di masa lalu.
"Hem,,, baiklah kita bahas hal lain saja. Apa kamu berniat mencari pasangan dalam waktu dekat? "
Galih berusaha mengalihkan topik.
Rania hanya menggeleng cepat.
"Mungkin nanti, tidak sekarang."
Menyenanngkan bisa mengobrol dengan Galih, dia merupakan sosok yang baru bagi Rania. Tidak sedingin dulu, tutur katanya yang lembut, juga aura cerianya begitu keluar.
Galih kembali pulang ke rumah sang mama setelah mengantar Rania ke apartemennya. Senyumnya tak pernah luput membuat mama Ami heran menatapnya dari lantai dua.
"Sepertinya anak mama lagi happy, sementara mama harus menghadapi mantan pacarnya yang bar bar."
Mama Ami menuruni anak tangga menghampiri Galih yang masih di bawah.
"Maksud mama Iren datang? Dia melakukan apa saja ma? "
Galih mencium pipi kiri mama Ami tanda sayang.
"Yah seperti biasa, dia merengek tidak ingin putus dari kamu Gall. Mama sakit kepala menghadapinya."
Satu tahun pacaran sudah sangat cukup bagi Galih dan Iren. Galih tidak tahan dengan sikap posesif Iren, gadis itu juga sangat mengekang setiap aktifitas yang Galih lakukan.
"Biarkan saja lah ma, Galih juga sudah lelah. Yang penting Galih sudah meminta pisah baik baik. "
Galih merangkul mama Ami menuju lantai atas.
"Lalu hal apa yang bisa membuatmu tersenyum tanpa henti Gall? "
Tanya Mama Ami begitu penasaran.
"Hem,,, Galih tadi bertemu Rania ma."
Mau tidak mau Galih berkata jujur, karena ia tidak bisa menyimpan rahasia apapun dari sang mama.
"Kamu serius? "
Mama tak percaya hingga menghentikan langkah kakinya. Galih mengangguk pasti mengiyakan.
Ternyata tanpa dipertemukan mama Ami mereka pun akhirnya bertemu dengan sendirinya.
"Kapan kapan ajak Rania main ke rumah ya Gall, mama kangen sama Nia."
Giliran mama Ami yang merengek di hadapan anak kesayangannya.
"Sure ma."
Dengan senang hati Galih akan melakukannya. Ia akan menjadikan mama Ami alasan untuk bisa bertemu dengan Rania lagi.