Pernikahan, Yasmin berpikir jika ia menikah dirinya akan hidup bahagia. Kehidupan sehari-hari ada yang mencukupi dan ia tidak perlu capek-capek kerja. Malah sebaliknya, laki-laki yang ia kenal baik dan tidak pelit ternyata adalah seorang yang pemalas tidak mau bekerja. Sebut saja namanya Hendro.
Kehidupan rumah tangga yang tidak di penuhi oleh Hendro di tambah lagi suaminya ini ternyata menikah secara diam-diam dengan tetangga samping rumahnya yang bernama Susi, janda empat kali di cerai.
Penasaran bagaimana Hendro dan Susi bisa menikah? Apakah Yasmin dan Hendro akan bercerai? Sama saya juga penasaran, yuk ikuti cerita mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
"Eh,....kalian bawa alat berat mau ngapain?" Tanya Hendro pada beberapa orang yang sedang berada di depan rumah Yasmin.
"Mau robohin rumah ini." Jawab petugas tersebut.
"Loh, kok mau di robohin. Kenapa?" Tanya Susi penasaran.
"Gak tahu juga, kami hanya menjalankan perintah dari bos," jawab bapak-bapak tersebut kemudian tak menghiraukan Hendro dan Susi.
Di buat hebohlah kampung dengan kabar rumah Yasmin yang di robohkan. Desas desus perselingkuhan Hendro dan Susi kembali mencuat ke permukaan.
"Itu si Yasmin udah gila kali makanya dia mau robohkan tuh rumah!" Ujar Susi.
"Biarin aja lah, rumah dia juga!" Sahut Hendro.
"Em, kira-kira mau setelah roboh mau di bangun apa ya bang?" Susi semakin penasaran.
"Gak tahu, udah ah. Gak usah di bahas," ucap Hendro yang kesal.
Katanya memang tidak mau membahas, tapi di dalam hati Hendro mulai penasaran pada kabar mantan istrinya sekarang.
Yang di penasarankan sedang asyik makan siang bersama suami tercinta. Bagas yang masak dan Yasmin hanya sibuk makan.
Betapa bahagianya hidup Yasmin memiliki suami seperti Bagas. Beda dengan Hendro yang dulu jika dirinya lapar harus meminta makanan ke rumah mertuanya dulu.
"Sayang, kamu mau ngapain?" Tanya Bagas saat Yasmin mengangkat piring kotor.
"Ya mau nyuci piringlah, di villa ini hanya ada kita berdua."
"Udah, kamu duduk aja. Biar mas yang nyuci."
"Mas, gak usah. Biar aku aja," tolak Yasmin.
"Duduk,....!" Titah Bagas.
Yasmin masih kekeh ingin mencuci piring.
"Sayang, duduk....!" Sekali lagi Bagas meminta pada istrinya untuk duduk.
"Tapi mas....?" Yasmin merasa tidak enak hati.
"Sayang,......!"
Terdengar lembut suara Bagas membuat Yasmin tak kuasa menolak. Mau tidak mau wanita ini kembali duduk di meja makan sambil melihat suaminya yang mencuci piring bekas makan mereka.
Selesai mencuci piring Bagas mengajak istrinya duduk di halaman Villa yang memiliki udara sangat sejuk.
"Sayang, mas dapat kabar jika rumah kamu udah beres di robohin." Ujar Bagas memberitahu.
"Pasti mereka sekarang tidak bisa tidur memikirkannya," ucap Yasmin.
"Mereka tidak bisa tidur memikirkan rumah kamu yang roboh dan mas akan bikin kamu gak bisa tidur malam ini," sahut Bagas bergurau.
"Mas, bisa aja nyambungnya ke sana."
Menikmati indahnya pemandangan sambil bercengkrama, sungguh Bahagia Bagas dan Yasmin.
Beda lagi dengan Hendro dan Susi yang semakin penasaran saat beberapa truk besar yang membawa bahan bangunan turun di depan rumah Yasmin yang sudah rata dengan tanah.
"Eh,.....ini Yasmin mau bangun apa sih?" Susi penasaran.
"Iya, dapat duit dari mana dia kok bisa membeli bahan bangunan sebanyak ini?"
Hendro juga penasaran.
"Woii Hendro.....gak bisa tidur nih nanti malam. Noh mantan istri maju seratus langkah lah kamu, menjadi budak Susi aja." Ucap bu Aminah yang sampai sekarang masih geram pada Hendro.
"Heh, bu Aminah. Itu mulut gak bisa di jaga emang, dasar nenek-nenek!" Sahut Susi kesal.
"Dari pada kamu, pelakor gatal!" Balas bu Aminah.
Nafas Susi naik turun hendak melabrak bu Aminah tapi di tahan oleh Hendro.
"Udah, gak usah di ladenin. Orang kampung emang begitu," ucap Hendro yang lupa jika dirinya jiga berasal dari kampung.
Hendro mengajak Susi pulang, suami istri ini mulai penasaran dengan kabar Yasmin sekarang.
Siang telah berganti malam, seperti biasa Susi akan membuatkan kopi untuk suaminya.
Hendro yang memang penikmat kopi hitam langsung menyeruput kopi panas tersebut tanpa merasa curiga.
Selang lima menit, Hendro mulai melepas baju kaos yang ia kenakan.
"Gerah banget ini malam, perasaan cuaca mendung deh." Ujar Hendro yang heran.
"Perasaan abang aja kali. Bang, sini dong, belai Susi." Pinta Susi dengan manjanya.
Setiap malam Susi selalu mengenakan lingerie berbahan tipis untuk menggoda suaminya.
"Perasaan abang goyang kamu setiap malam tapi badan kamu masih aja seperti ini bentuknya. Beda sama Yasmin, gak ada enaknya kalau di goyang."
"Ya iya lah, aku jauh baik di banding Yasmin." Sahut Susi yang selalu membanggakan dirinya.
Perlahan tapi pasti, Hendro mulai melepas lingerie yang membalut tubuh istrinya.
Mencumbu liar di hampir setiap titik sensitif istrinya. Meskipun tubuh Hendro lelah, tapi entah kenapa hasratnya selalu membara untuk menggagahi istrinya setiap malam.
Sama halnya dengan Yasmin dan Bagas yang saat ini sedang mengadon keringat bersama-sama. Merintih, mengerang dan saling memuaskan.
Bagas sudah mulai kecanduan, pria ini selalu meminta pada istrinya. Namanya juga menikah dengan janda, tentu saja ada sedikit banyaknya pengalaman.
Ekspresi Bagas semakin menjadi-jadi saat Yasmin menggoyangnya dari atas. Goyang ngebor menjadi gerakan terfavorit Bagas.
Ah....ih.....uh.......
Plak...plok.....plak....plok......
Bagas mendes*h manja menikmati permainan istrinya.
"Mas, aku lelah." Ucap Yasmin dengan nafas ngos-ngosan.
Bagas yang paham langsung mengubah posisi kembali di atas. Di bandingkan dengan burung Hendro, Yasmin bisa membandingkan burung milik Bagas jauh lebih panjang dan besar.
"Mas aku,.....!" Lirih Yasmin secara reflek merapatkan kedua kaki menjepit burung suaminya hingga membuat Bagas semakin mempercepat gerakannya.
Plok.....plok.....plok......
Terdengar indah alunan nada yang berasal dari hentakan yang di lakukan oleh Bagas.
Aaaaaaarh...........
Sekali lagi Bagas dan Yasmin sama-sama melakukan puncaknya. Melayang bersama menikmati indahnya surga dunia yang selama ini belum pernah di rasakan Yasmin saat menikah dengan Hendro dulu.
Tubuh keduanya menegang saling menyemburkan cairan hangat memabukkan.
Setelah tubuh mereka kembali melemah, Bagas langsung menjatuhkan diri di samping tubuh istrinya.
"Mas, aku mau ke kamar mandi." Ujar Yasmin.
"Mau ngapain?" Tanya Bagas.
"Ya mau bebersih, risih kalau langsung di bawa tidur."
"Nanti aja, biarin beberapa menit minimal lima menit. Biar jadi anak," ujar Bagas.
"Ah, masa sih mas?" Tanya Yasmin tidak percaya.
"Iya sayang. Mas pernah siapa gitu yang ngomong kalau habis berhubungan badan jangan di bersihin dulu, diamkan beberapa menit biar jadi anak."
"Oh, ya udah. Nanti aja," ucap Yasmin yang begitu penurut.
Bagas membantu menutup tubuh polos istrinya dengan selimut.
"Sayang, nikah kok enak ya. Kalau bangun langsung di semprot istri, dulu aja cuma bisa nahan aja sampai tidur lagi." Ucap Bagas membuat Yasmin tertawa.
"Gitu ya mas, main sama sabun gak?" Tanya Yasmin.
"Gak lah, aneh aja!"
"Hayoo,....ngaku gak?" Goda Yasmin.
"Enggak, mas bilang enggak loh. Baru sekarang sejak nikah sama kamu bisa nyembur."
Yasmin tidak percaya, biar bagaimana pun Bagas seorang pria dewasa.
"Mas, aku udah ngantuk loh." Ujar Yasmin.
"Ya udah, ayo mas gendong ke kamar mandi."
Mau menolak tapi tidak bisa. Sejak menikah dengan Bagas Yasmin sering di gendong oleh suaminya, beda dengan Hendro yang selalu meninggalkannya setelah mereka berhubungan badan.
rupa nya katak jandaku diartikan ada sorang janda dan ada seorang lelaki yang menclaim janda itu adalah miliknya