Aisyah, seorang gadis cantik dari keluarga yang sederhana. Diumurnya yang ke 17 tahun, ia harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya harus bercerai, dan itu sangat melukai hatinya. Sangat sulit baginya untuk mencerna apa yang telah terjadi kepada kedua orang tuanya.
Diumur Aisyah yang terbilang masih remaja kecil, Aisyah harus memikul beban yang sangat berat. Ia harus menjadi tulang punggung keluarganya.
Bagaimanakah nasib seorang anak seumuran dia harus memikul tanggung jawab seberat ini?
Simak terus kisahnya hanya di Noveltoon.
Follow ig author ya
@rafizqi0202
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rafizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Perpisahan sekolah Aiysah
"Ibu!" Seru Aisyah kala menyadari keberadaan ibunya.
Seketika Bu Hesti tersentak kaget, lalu menoleh kepada sang anak dengan senyuman manisnya.
"Ibu kenapa? Apa ada masalah?" tanya Aisyah lagi.
Ibunya terlihat menggeleng dengan melangkah mendekati dirinya.
"Ibu bantu ya! Kamu pasti capek" Tawar Bu Hesti.
"Gak usah Bu. Ibu jagain Ambar aja, Aisyah bisa kok sendiri. Lagi pula Ambar kan belum tidur, kasihan ditinggal sendirian" Tolak Aisyah.
"Aisyah sebentar lagi selesai, jadi Ibu gak usah bantuin lagi" Lanjut Aisyah lagi.
Bu Hesti mengangguk mengiyakan, "Baiklah, kamu hati-hati ya bikin kuenya, kalau capek berhenti aja dulu" Ucap Bu Hesti, seraya pergi meninggalkan sang anak.
**
Hari pun berlalu begitu saja.
Sudah satu tahun lamanya Aisyah tidak lagi mendengar kabar sang ayah. Entah apakah sang ayah masih ingat kepada mereka atau tidak, Aisyah juga tidak tau hal itu.
Selama beberapa bulan terakhir, Ayahnya tidak pernah lagi menjenguk, atau sekedar melihat wajah anak-anaknya. Bahkan mengirim uang pun sudah tidak pernah lagi. Apakah dia benar-benar melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah.
Kesunyian pun telah membiasakan hari Aisyah tanpa seorang ayah yang selama ini ia rindukan. Sosok itu bukannya menghilang dari ingatannya, melainkan membiasakan diri dari ketidak hadirannya di tengah-tengah keluarganya.
Aisyah nampak berdiri di depan cermin dengan baju kebaya modern serta polesan make up seadanya. Baju kebaya berwarna Pink yang senada dengan warna jilbab begitu terlihat serasi untuknya.
Ya, Hari ini adalah hari dimana Ia akan menerima kelulusan setelah tiga tahun menyandang pendidikan di SMK dengan jurusan Akuntansi.
"Kamu cantik!" Puji Yummi yang berada di belakang Aisyah.
"Terimakasih!" jawab Aisyah seraya tersenyum manis ke arah cermin.
"Yuk berangkat" ajak Aisyah setelah selesai bersiap.
Mereka pun berangkat menuju gedung tempat mereka melakukan perpisahan sekolah. Disana terlihat semua orang sudah berkumpul dan menempati posisi masing-masing.
Aisyah menarik tangan sang ibu, dan membawanya untuk duduk di salah satu kursi disana.
Tidak berapa lama, acara puncak dari perpisahan ini pun di mulai. Kini kepala sekolah membacakan beberapa deretan anak-anak berprestasi dari berbagai jurusan.
Mulai dari siswa berprestasi dari jurusan mesin, perkebunan, komputer, dll. Kini sudah waktunya giliran pengumuman siswa berprestasi di jurusan Akuntansi.
Tatapan Aisyah tidak lepas dari atas pentas, tubuhnya terasa gemetar, dengan wajah yang gugup. Entah kenapa, saat-saat seperti ini adalah saat yang paling menegangkan bagi Aisyah dan teman-temannya yang lain.
"Baik, ini adalah acara puncak kita. Dimana saya akan mengumumkan siswa berprestasi dari jurusan Akuntansi dan juga mendapatkan kesempatan beasiswa ke perguruan tinggi di salah satu Universitas ternama di Kota Jakarta. Siapakah dia......?"
Aisyah terlihat semakin tegang, sang Ibu menatap wajah Aisyah dengan tersenyum tipis, lalu tangannya tergerak untuk menggenggam tangan anaknya itu.
Aisyah sedikit menoleh kepada ibunya, lalu membalas senyuman sang Ibu yang seakan menyemangati dirinya.
"Dia adalah,,,, Mauriza Aisyah" Seru sang guru lagi dengan lantang dari atas pentas.
Semua mata nampak menatap Aisyah dengan di iringi suara tepukan tangan. Membuat wajah Aisyah Terkejut, dengan menganga tidak menyangka bahwa dirinya bisa sampai ke titik ini.
Segera ia memeluk sang ibu yang ada di dekatnya dengan air mata haru yang sudah meluruh. Keduanya pun terhanyut di dalam perasaan bahagianya.
.
.
.
.
.
Bersambung.
aku di tinggal ayah dan ibu semenjak berpisah aku dan sodara" ku di rawat nenek kakek dari ibu singkat cerita aku sudah berumah tangga dan punya anak dua lalu ayah ku datang sudah sakit keras gagal ginjal aku rawat di bawa ke rumah sakit bergantian sama sodara" ku yg sekota kadang adik ku yg bawa ke rumah sakit untuk cuci darah seminggu dua kali kalou pulang bapak tetap mau ke rumah ku ga mau tinggal di anak yg lain terus yg 2 lagi kakak dan adik laki" ku tinggal nya di Kalimantan
kakak dan adik ku ngirim uang buat keperluan bapak kita gotong royong saling menjaga bapak..
aku suka kesel kalou ingat ibu tiri dan anak dari bapak mereka semua membuang bapak ku ketika bapak sakit keras😭 ko ada yah perempuan sekejam ibu tiri ku kirain di novel saja😂 sebelum bapak menghembuskan napas terakhir nya beliou mengaku bahwa menyesal karna telah menelantarkan kami anak" nya kalou inget bapak sekarang saya cuman bisa berdoa
bapak belum lama pergi belum ada 100 hari Al-Fatihah buat bapak ku🤲😭🙏