Warning! Khusus dewasa.
☕☕☕
Nuraini Safaruddin 19 tahun tidak menyangka, suami yang menikahinya adalah seorang pria loyo yang tidak bisa memenuhi nafkah batin istrinya.
Meskipun dirinya dianggap menjadi penyebab kedua orang tua suaminya itu meninggal, perempuan yang sehari-hari dipanggil Anik itu setuju dirinya dijadikan alat shock terapi membantu pria itu kembali normal.
Menjalani nikah kontrak dengan Agung Mahendra 27 tahun, di dalam kehidupan rumah tangga mereka yang masih seumur jagung, hadir wanita yang mirip dengan seseorang dari masa lalu suaminya itu yang dirasa mampu membuatnya menjadi pria sejati.
Akankah Agung akan berpaling dari istrinya?
Akankah Anik pasrah dengan nasibnya ataukah akan berjuang merebut cinta suaminya?
Selamat mengikuti, like dan vote sebanyak-banyaknya ya, thanks.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sadar T'mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18
Waktu yang sama di ruangan kantor Adelia.
"Arghh!"
Berteriak kesal saat melihat Agung keluar dari Rumah besar Wicaksana membawa banyak barang-barang, Adel seperti orang kerasukan.
Rambutnya kusut akibat dari jambakan tangannya sendiri, pakaiannya berantakan akibat dari cakarannya sendiri. Semua dilakukan serba mandiri.
🎶I am shining solo.🎶
Sebelum itu.
Saat melihat Agung masuk ke rumah besar dari layar ponselnya, Adel tersenyum lebar memantau gerak gerik adiknya. Hatinya sudah senang, serta merta patah kembali.
Dikiranya Agung pulang mau mandi setelah beberapa hari keluyuran. Sudah berharap adiknya itu menanggalkan pakaiannya, tapi tidak terjadi sesuai angan-angannya. Ternyata Agung kerja bakti nge-pack barang-barang pribadinya sendiri.
Kecewa tidak bisa melihat tubuh telnjang Agung yang super hot dan seksi, syukurlah masih ada harapan bisa melihat bagian terpentingnya. The real anakonda saat adiknya itu berdiri di urinoir, tempat Adelia meletakkan salah satu kamera pengintainya.
Duduk gelisah menahan sensasi getar-getar yang masih tertanam, segera menganti alat sedap-sedapnya ke ukuran jumbo dari beberapa alat yang dikoleksinya. Menggelnjang seorangan terlepas jua akhirnya, orrgh! Adelia menggeramkan serak keni'matan.
Perasaan sedih melanda jiwanya, tidak akan ada lagi sensasi seperti ini setelah hari ini dan seterusnya. Karena Agung telah mengambil semua alat pengintai yang diam-diam dipasangnya.
Apakah dia tidak berniat pulang, ah. Kalau mengandalkan khayalan semata sepertinya capek juga.
"Aaaaaaa!"
Beruntung ruangan kantornya telah dipasang kedap suara, jadi teriakannya tidak sampai kedengaran keluar.
Adel meraih ponsel satu jalurnya. "Bagaimana dengan target, hah?!" Bentaknya emosi tingkat dewa.
"Masih belum bisa lewat Bos. Sistem keamanan Rumah sakit Sibolon kamu taulah sendiri, menggunakan alat scan canggih pendeteksi tubuh termasuk emosi dan isi pikiran manusia hidup bahkan yang sudah mati," jawab di ujung sambungan ikutan emosi menahan amarah. "Bagaimana dengan Candy?" lanjutnya bertanya.
"Jangan coba menyentuhnya, dia milikku!"
Brak!!!
Adel menggebrak mejanya, tangannya yang perih tidak dihiraukan. Hatinya lebih sakit dari pada raganya.
Sepertinya harus aku yang turun tangan sendiri.
Geram Adelia membuat rencana.
*
Agung bergeming, walau Anik meronta dengan mengerahkan seluruh tenaga nasi bungkus padang yang baru dimakannya.
"Tidak mau, ah! Tol..." jeritan minta tolong Anik belum kelar, Agung membungkam mulutnya.
Ini pertama kali ia merasa kecanduan terhadap seorang perempuan.
Anak dari Ayah angkatku ini termasuk adikku juga kan, seharusnya judul ceritanya 'Adik angkatku menjadi Istriku' lah thor.
Dalam hati Agung melu mat bibir, menyisapnya penuh napsu. Lagi dan lagi, sepertinya dia gak akan pernah puas sebelum bibir itu lepas dari tempatnya. Menyedot, menghisap, melu mat. Mengeluarkan bunyi decapan keni'matan seperti sedang memakan sesuatu yang super lezat. Walau tanpa perlawanan dari Anik, Agung tau anak itu sudah terang sang hanya malu mau mengakuinya
Kalau bukan karena lelah kehabisan nafas Agung kesusahan untuk berhenti. Anik pun sudah pasrah tidak meronta lagi, Agung turun ke leher yang telah bercorak polkadot warna merah dot dot dot akibat ulahnya, hum!
Baju rumah sakit yang dipakai Anik atasannya dirobek serta merta, kancing lepas terlempar entah kemana. Dada montok terpampang nyata di depan matanya, Agung melahap buah mengkal mengeluarkan erangan serak, uumph argh, umph argh!
Bermain-main dikedua puncaknya, tubuh Anik menggelnjang, bergetar hebat. "Akh jangan," the sahan dari mulutnya.
'pernah berhenti,' sambung kata hatinya.
'Dasar pengkhianatan!' Anik memaki dirinya.
'Tapi kamu suka kan?' kata sisi lain dari dirinya.
"Umph, aaaaargh...."
"Hum," seringai pria itu mendengar the sahan panjang, semakin terpacu saat merasakan jambakan penuh napsu di rambutnya.
Anik terbakar gairah, Agung semakin menggodanya. Menyentuh setiap inchi bagian terbuka dari tubuhnya, sampai ke bawah pusarnya. Suara isak tangis yang memilukan, Agung tidak memperdulikannya. Tapi lama-lama annoying juga di telinganya. "Kalau kamu tidak berhenti menangis, akan kusumbat mulutmu dengan milikku," sambil menggoda area keuanitaan Anik, Agung berkata. "Mengganggu konsentrasi saja," gerutunya.
Mendengar itu Anik tercekat berhenti menangis, mengepal tangan meremas apa saja yang dapat digenggamnya. Mengatup bibirnya agar tidak bersuara, menahan sensasi aneh yang baru pertama kali dirasakan bagian paling sensitif ditubuhnya itu.
Perasaan berkhianat, tubuh berkhianat. Dari ujung rambut sampai ujung kaki berkhianat, ternyata aku menyukai pria ini sampai ke tulang-tulang.
Dalam hati Anik menyesali tubuhnya yang tidak bisa berhenti meremang. "Sudahlah aku mau kencing uuu," tangisnya, takut bercampur malu.
"Kencing saja tidak ada yang melarang!"
*
Puas bermain-main Agung turun dari kasur membenahi pakaiannya yang juga berantakan, sementara Anik terbaring polos tanpa sehelai benang.
"Jadi kamu mau bercerai?" Tanya Agung berbalik badan menatap Anik yang kelihatan linglung, anak itu mengangguk.
Duduk di tepi kasur dengan sepatu menapak di lantai. "Tapi ada yang harus kamu lakukan sebelum permohonanmu dikabulkan."
Apa katakan, sebisa mungkin akan aku tunaikan.
Dalam hatinya menunggu Agung meneruskannya kata-katanya, Anik meraih selimut guna menutupi tubuhnya.
Agung bersandar di headboard kasur dengan kaki masih menjuntai panjang kemudian berkata. "Kamu harus membayar semua biaya yang sudah aku keluarkan, termasuk biaya pemakaman Ayah dan rawat inap ibu di kamar sebelah. Jangan lupa dengan biaya kamarmu ini serta biaya kunjungan dokter."
Apa! Berapa banyak uang itu.
Batin Anik menduga sepertinya dia tidak ada harapan untuk lepas dari Agung secara baik-baik. Anik memandang pria yang berstatus suaminya itu. "Baiklah, beri aku waktu untuk menyicilnya." Anik berkata lemah.
"Selama tiga tahun kau harus jadi pelayanku, jika semua itu terpenuhi maka kau akan kulepaskan."
Ha! Anik tercengang. "Kenapa aku harus jadi pelayanmu, tidak mau. Kalau aku tidak bekerja mencari uang bagaimana mau melunasi hutang!" Anik berkata ketus.
"Itu bukan urusanku, jadi pelayan include masuk ke daftar hutang yang harus dibayar lengkap dengan bunganya."
Bisa selamanya aku terikat dengan orang ini.
"Kenapa aku berhutang melayanimu?"
"Kenapa? Selama tiga tahun berstatus istri, kamu tidak melakukan apa-apa membalas budi pada suami. Kamu pikir yang mengirim uang ke rekeningmu setiap bulan itu siapa, kalau bukan aku."
Ha, perhitungan sekali.
"Kalau begitu kamu juga berhutang nafkah batin pa..."
Oh, tidak!
Anik berbalik badan telungkup menutup kepalanya dengan bantal.
Hm, keseringan menyeringai jadi iblis beneran aku thor dalam hati Agung terkikik geli melihat tingkah Anik yang malu-maluin.
"Baiklah, kalau begitu kita sepakat. Kamu bayar hutangmu, akan kulunasi hutangku. Deal!"
"Tidak mau!" Anik menggeleng malu dari balik bantal.
"Apa tidak mau, cepat bersiap! Aku akan membawamu menemui dokter," Agung berkata kemudian dia berdiri berjalan menuju kamar mandi.
Cklekk!
Brak!
Mendengar pintu ditutup Anik lega akhirnya ia terlepas dari rasa sesak, kemudian berbalik badan.
"Ah!" Pekiknya kembali menelungkup.
Ternyata Agung masih di depan pintu toilet, tersenyum mengejeknya.
"Cepatlah kemari tugas menanti, silahkan pilih! Mau kerjasama atau dipaksa?"
Astaga!
*
Di ruangan sebelah tempat ibunya dirawat, Anik ditemani Agung bertemu dokter.
Tak sanggup melihat kondisi ibunya yang sangat memperihatinkan, air matanya tak berhenti menetes. Agung memeluk di bahunya, bersikap mesra sebagai seorang suami yang sangat mencintai istrinya.
"Kita memang sedang menunggu persetujuan anda, maaf sebelumnya. Harapan pasien untuk bisa bangun,..." dokter menjeda ucapannya.
"Bukan mau mendahului Yang maha hidup, tapi memang tidak ada harapan akibat kerusakan di bagian kepala," lanjut dokter hati-hati.
"Hiks hiks," Anik hanya bisa menangis, bersyukur setidaknya dia tidak pingsan.
"Ibu dan Ayah anda pernah menandatangani surat donor. Jika anda memang telah memutuskan, kita akan segera melaksanakannya," lanjut dokter.
Anik menerima berkas pernyataan donor organ Ayah dan ibu apabila terjadi sesuatu pada mereka.
Hah!
Menarik nafas berat Anik membaca bahwa diantara semua organ, tenyata ginjal ibunya hanya tinggal satu. "Bagaimana bisa dokter?" Tanyanya.
"Lima tahun yang lalu, saya sendiri yang mengoperasinya. Beliau melakukannya bukan karena uang tapi karena rasa kemanusiaan," jelas dokter. "Orang yang beruntung itu adalah mendiang Nyonya Nadya, ibu dari suami anda sendiri," lanjutnya.
Duarrr!
Bukan hanya Anik, Agung juga terkejut.
Kapan ibuku sakit ginjal, kenapa aku gak pernah tau.
"Mama?" tanya Agung.
"Benar Mas Agung, mereka yang minta dirahasiakan kecuali situasinya sangat mendesak. Sekarang adalah waktu yang tepat amanat ini telah saya sampaikan."
***tbc
Jumpa lagi, jangan lupa like ya. 👍
atau agung dgn Lia
ayo kak😅😅😅😅😅