Sekuel Terpaksa Menikah.
Yang langsung mau baca season dua juga boleh, ada di sini semua ya gaes.
Chelsi Amira Putri berusaha menghindari perjodohan yang dibuat oleh ayahnya. Namun, dia malah terjebak dalam kesalahannya sendiri. Dia menjadikan Alaska Lencana kambing hitam untuk menolongnya agar terhindar dari perjodohan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dek La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Cemburu?
Tidak terasa lima hari sudah berlalu. Hari ini Laska pulang dari Bandung, dan tentunya Amira sudah menyiapkan diri. Untuk menyambut pria itu. Dia sudah membersihkan rumah, dari mulai menyapu dan mengepel. Setidaknya rumah bersih walaupun dia tak memasak.
Amira sudah mengambil tas di kamar, hari ini dia akan pergi naik ojek. Lebih cepat sampai dan tak membuang uang banyak.
Dalam perjalanan, Amira sangat menikmati setiap embusan angin yang menerpa wajah. Jarang sekali dia pergi pagi begini, biasanya selalu telat.
Setelah sampai di depan gerbang sekolah, Amira segera membayar ojeknya, lalu melangkahkan kaki masuk.
Hanya ada beberapa siswa saja di sana, Amira semakin cepat melangkah. Perutnya sudah keroncongan karena lapar, Cinta tak sempat memasak tadi karena harus pulang Subuh, abangnya demam. Alhasil, Amira pun tak makan, karena dia tidak tahu cara memasak.
“Eh, Amira,” panggil seseorang, lekas Amira berbalik. Melihat dua gadis yang sangat tidak ingin dia temui.
“Apa?” tanya Amira dengan ketus.
“Santai dong,” celetuk salah satu dari mereka, semakin membuat Amira jengkel.
Glora dan Dania, dua gadis yang selalu bisa membuatnya kesal. Sebab sikap mereka yang sok kecentilan dan selalu ingin menjadi primadona, padahal wajah saja masih kalah saing dengannya.
“Eh, bilangin tuh sama temen Lo si Cinta, jangan gatal sama babang Alfa. Dia milik gue,” ucap Glora dengan santai, tanpa ada rasa malu sedikit pun.
Amira menautkan kedua alis, detik berikutnya dia langsung tertawa terpingkal-pingkal. “Lo siapa, ngatur-ngatur hidup orang? Dewi? Tuhan?”
“Ngapain Lo ketawa? Dengar ya, mau si Cinta pakai pelet pun, babang Alfa tetap milik gue!” Glora bersikukuh, membuat Amira semakin kencang tertawa.
“Serah Lo deh, gue lapar mau ke kantin. Jangan sampai entar Lo yang gue makan,” ujar Amira sembari berjalan meninggalkan dua gadis yang menatapnya jengkel.
Sesampainya di kantin, Amira langsung memesan nasi goreng dan teh hangat. Dia memilih duduk di kursi yang tak jauh dari pintu masuk kantin. Saat dia sibuk dengan ponsel, tepukan dibahu menyadarkannya.
“Hay,” sapa seseorang yang berdiri di sampingnya, sukses membuat Amira gelagapan. Ponsel di genggaman hampir saja terlempar.
“Dimas? Ngapain di sini?” tanya Amira sambil celingukan.
“Makanlah, masa iya tidur,” jawab Dimas, pria itu tertawa kecil.
“Maksudku, di sekolah ini?” Jengkel sendiri Amira. Ingin sekali dia kabur dari hadapan sang mantan, tetapi tak mau dibilang tidak bisa move on karena kabur-kaburan.
“Aku pindah sekolah karena papah pindah kerja. Berharap kita bisa satu kelas ya,”
Amira nyaris pingsan kalau saja tak ingat lagi di depan mantan. Sedangkan Dimas malah duduk, dekat dengannya. Semakin membuat gadis itu ingin mati saja.
**
Semburat senyuman terus terlihat, sang pemilik mengeratkan jaketnya, lalu melangkah pelan kembali. Laska memilih duduk di kursi tunggu, sembari menunggu sopir yang diperintahkan sang abi untuk menjemputnya.
Saat membuka ponsel, Laska begitu terkejut atas kiriman foto dari Hari. Terpampang jelas seorang gadis dan pria tengah tersenyum dan saling bertatapan, hingga membuat hati Laska panas.
[Ngapain kamu kirim foto begini? Kamu ngikuti Amira terus ya?]
Hari memang lebih dulu pulang dibanding Laska. Entah mengapa akhir-akhir ini Hari suka mengikuti Amira, katanya ingin mencari tahu tentang gadis itu. Laska hanya bisa mengangguk, dia malas berdebat dengan sahabatnya yang sangat keras kepala.
[Aku ‘kan mata-mata kamu]
Pesan dari Hari, hanya Laska baca. Dia tak berniat untuk membalasnya.
Laska kembali melihat foto yang Hari kirim tadi, terlihat jelas Amira sangat bahagia. Pikiran Laska jadi berkecamuk, hatinya ingin mengatakan bahwa dia cemburu. Tetapi mulutnya lain lagi, dia gengsi. Mungkinkah dia sudah jatuh cinta pada istrinya sendiri?
Tiba-tiba pikiran kotor menghampiri. Melihat kedekatan keduanya, dan sudah dua kali dengan pria yang sama. Laska jadi berpikir apakah pria itu yang menghamili Amira.
“Astagfirullah.” Dengan cepat Laska mengusap dadanya. Dia beranjak saat melihat mobil sang abi sudah datang.
Tidak boleh suuzan.
**
“Tidak apa, aku antar kamu pulang ya.” Dimas terus mengikuti Amira. Padahal gadis itu sudah menolak untuk diantar, tetapi Dimas memaksa.
Sedangkan Cinta hanya tertawa kecil melihat aksi keduanya, tetapi langsung terhenti saat melihat pria tak asing sedang menunggu di depan gerbang.
Dia langsung menyenggol lengan Amira dan menunjuk Laska menggunakan mata.
“Astaga,” cicit Amira pelan. Dia memandang melas Cinta agar gadis itu menolongnya.
“Ya sudah sana,” ucap Cinta lesu sembari mendorong tubuh Amira.
Dimas ingin mengejar tetapi langsung ditahan oleh Cinta. Untuk pertama kalinya dia menyentuh seseorang yang bukan mahram, walaupun terhalang kain. Beberapa saat pandangan Cinta dan Dimas bertemu, hingga Cinta tersadar dan segera memalingkan wajah.
“Aku minta tolong, antarkan pulang ya, soalnya jemputanku tidak ada,” pinta Cinta. Dimas terdiam lalu mengangguk. Dia menyuruh Cinta lebih dulu masuk ke dalam mobilnya.
Sepasang mata yang menyaksikan itu, hanya bisa mengusap sudut mata yang basah. Lekas dia berjalan, pelan menyusuri lorong sekolah. Hatinya sakit melihat sang kekasih pulang bersama pria lain. Namun, sekuat tenaga Alfa menguatkan hati. Dia tak bisa begini, mereka hanya pacaran status. Meski dia ingin Cinta menjadi miliknya seutuhnya, tetapi itu semua tak bisa.
“Hay Babang Alfa.” Sapaan seseorang membuat Alfa mau tidak mau harus berhenti. Pria itu memandang jengah gadis di hadapannya.
“Ada apa?” tanya Alfa dengan dingin.
“Boleh gak, Glora numpang. Soalnya, jemputan aku tidak datang.” Menangkupkan tangan didada, Glora memasang wajah memelas. Berharap Alfa mau mengantarkan.
Sebenarnya ini hanya akal-akalan gadis itu, agar bisa diantar oleh Alfa.
“Aku memang sedang patah hati, tetapi tidak akan pernah mencari gadis lain untuk pelampiasan. Sebaiknya cari taksi, karena aku tidak mau mengantarmu.” Alfa langsung pergi meninggalkan Glora yang tengah mencebik kesal. Usaha entah yang ke berapa, gagal kembali.
**
Dalam perjalanan pulang, Amira terus tersenyum saat melihat wajah tampan Laska. Ada rasa rindu yang menyeruak dalam dada, mungkin karena dia sudah terbiasa tinggal bersama pria itu.
“Om, apa kabar?” Amira membuka suara, masih terus tersenyum membuat Laska mengernyit bingung.
“Alhamdulillah baik, kamu sendiri?” tanya Laska balik.
“Baik juga. Pekerjaan Om gimana?”
“Ya enggak gimana-gimana,” ucap Laska cuek.
“Is, gak peka jadi suami!”
“Maksud kamu?”
“Dahlah, malas.”
Keduanya kembali diam, Laska sibuk menyetir dengan pikiran enggak karuan. Dia ingin bertanya pada Amira tentang pria itu, tetapi urung karena melihat sang istri sepertinya marah.
“Om cepat banget sih pulangnya, padahal aku masih ingin bebas,” celetuk Amira sembari melihat Laska dengan kesal.
“’Kan saya bilang lima hari, bukan seminggu,” jawab Laska tak kalah ketus.
“Enggak bisa dipending apa? Aku belum juga keliling Jakarta.”
“Kamu—“
“Istri orang kaya harus bisa keliling Jakarta, Om. Biar keren.” Amira tertawa melihat perubahan wajah Laska.
Kamu masih muda,Kamu juga cantik,kamu juga gak benaran hamil kan,terus kenapa harus ngemis2 cinta sama orang..
awas Lo bucin sama om om 😃