Zia, gadis cantik paling populer di sekolah terpaksa harus menikah dengan Reynan, teman sekolahnya karena sebuah insiden.
Mereka harus terpaksa terpisah karena dendam masa lalu antar kedua keluarganya.
Lima tahun menghilang dan meninggalkan Reynand, Zia kembali bersama seorang anak lelaki yang sangat tampan.
Mereka bertemu kembali dan hampir bersama. Namun lagi-lagi sebuah kejadian terpaksa memisahkan mereka lagi.
Bagaimana akhirnya? Akankah mereka bersama atau justru takdir berkata lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli Aniska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon mertua
Sesuai kesepakatan, malam itu pukul tujuh Reynand dan kedua orang tuanya akan bertemu dengan Zia dan keluarganya yang diwakili oleh om Jodi.
Om Jodi sendiri masih belum menjelaskan mengapa papinya menyuruh ia untuk mengurus semuanya. Yang Zia tahu hanya om Jodi adalah orang kepercayaan papinya.
Dalam peejalanan menuju restoran, Zia yang sangat penasaran akhirnya bertanya pada om Jodi.
"Om, sebenarnya gimana sih, kenapa papi nggak pulang dan jadi wali nikah Zia kan masih beberapa hari lagi, masih ada waktu?"
"Zia, kan ada om, om juga bisa jadi wali nikah kamu", sahut om Jodi.
"Haaa,,maksudnya?", tanya Zia kaget.
"Gini Zia, om ini sebenarnya adalah adik papi kamu. Cuma kami beda ibu", jelas om Jodi.
"Kok papi nggak pernah cerita", ucap Zia sedikit mengubah posisi duduknya.
"Ya karena ada suatu hal makanya masih dirahasiakan. Nanti om akan cerita sama kamu kalau waktunya sudah tepat. Sekarang yang terpenting adalah urusan kamu sama Reynand dulu" ucap om Jodi sambil terus fokus dengan kemudinya.
Zia hanya diam dan tak lagi bertanya. Nanti suatu saat pasti dia juga akan tahu, pikirnya.
Tiga puluh menit perjalanan, merekapun sampai di tempat mereka janji ketemu.
Zia dan om Jodi langsung menuju ke ruang VIP dimana sudah ada Reynand dan kedua orang tuanya. Sebelum Zia sampai tadi memang Reynand sempat mengiriminya pesan.
tok tok tok
Pintu terbuka. Muncul om Jodi dan juga Zia. Papi dan maminya Reynand segera mempersilakan mereka duduk.
"Kita makan dulu, nanti setelah selesai makan baru kita memulai pembicaraan", ucap papi Adhiyasta.
Jangan ditanya lagi perasaan Zia saat ini. Jantungnya berpacu sangat cepat seakan ingin melompat. Ia hanya menunduk tak berani menatap calon mertuanya.
Mereka makan dalam diam. Hanya ada suara dentingan sendok yang terdengar.
Setelah selesai menyantap makan malam, kini semua masih terdiam. Sebelum akhirnya pak Adhiyasta membuka suara.
"Jadi apakah anda telah mengetahui apa yang terjadi dengan putra putri kita sehingga malam ini kita bertemu di sini?"
"Benar pak, saya juga baru mengetahuinya tadi sore saat keponakan saya menghubungi saya. Sebelumnya saya minta maaf karena kedua orang tua Zia tidak bisa hadir sendiri dan diwakilkan kepada saya, dikarenakan mereka tengah mengurus perusahaan di Australia", jawab om Jodi menjelaskan alasan mengapa ia yang menghadiri pertemuan itu.
"Untuk selanjutnya, semua keputusan saya serahkan kepada anda bagaimana baiknya", ucapnya lagi.
"Baiklah, mereka harus menikah Sabtu ini. Untuk semua keperluannya biar saya sama istri yang mengurus. Bagaimana jika tempatnya di rumah orang tua Zia saja? Biar orang-orang saya yang akan mengurus persiapannya", terang papi Adhiyasta.
"Baiklah saya setuju pak. Saya juga minta maaf, karena kejadian tidak disengaja ini membuat anda repot. Saya mewakili kedua orang tua Zia benar-benar minta maaf", ucap om Jodi pada kedua orang tua Reynand.
"Sudahlah pak, bukankah ini sebuah kecelakaan? Kita tidak bisa menyalahkan siapa pun dalam hal ini. Anak-anak juga sudah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kan. Kita hanya harus membimbing mereka setelah ini. Dan satu lagi, kita juga harus tau siapa yang membuat rencana jahat ini", sahut mami Marinka.
"Istri saya benar, besar kemungkinan hal ini masih belum berakhir. Masih ada kemungkinan orang itu akan berbuat jahat lagi kepada anak-anak kita", ucap papi Samuel membenarkan perkataan istrinya.
Om Jodi manggut-mamggut menanggapi ucapan calon besannya ini.
Percakapan pun masih berlanjut hingga cukup larut. Mami Marinka sepertinya menyukai Zia. Zia anak yang sopan, ramah, cerdas, dan juga cantik tentunya.
Hanya saja Zia itu orangnya terlalu baik sehingga mudah tertipu dengan penampilan luar dari seseorang.
Malam sudah cukup larut. Mereka mengakhiri pertemuan ini dan pulang ke rumah masing-masing.
Zia diantar ke rumahnya, sedangkan om Joni pulang ke apartemennya.
Zia masuk ke kamarnya, membersihkan diri lalu bersiap tidur.
Lima, sepuluh, dua puluh, tiga puluh menit sampai satu jam berlalu namun Zia belum bisa memejamkan matanya.
Pertemuannya tadi dengan keluarga Reynand benar-benar membuatnya kepikiran.
Tinggal beberapa hari lagi ia akan resmi menjadi seorang istri. Istri dari seorang Reynand Adhiyasta yang bahkan tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Pernikahan yang terjadi tanpa adanya persiapan yang cukup matang. Pernikahan karena sebuah kecelakaan.
Ia sebenarnya tidak mengkhawatirkan tentang kedua orang tua Reynand akan bersikap baik atau sebaliknya. Yang ia khawatirkan adalah ia belum siap menjadi istri, menjadi menantu, apalagi menjadi ibu.
Jam telah menujukkan pukul satu, sudah lewat tengah malam. Namun Zia sama sekali belum bisa memejamkan matanya. Tiba-tiba saja ia menginginkan sesuatu. Segera ia menghubungi Reynand.
......*********......
Pagi telah bersambut. Suara kicauan bersahutan. Namun tak juga mengusik tidur nyenyak seorang Reynand.
"Aaaa banjir banjir banjir", teriak Reynand ketika ia merasakan cipratan air di wajahnya. Ia langsung bangun terduduk di atas kasurnya.
Wajahnya berubah cemberut ketika mendapati maminya tengaj tertawa terbahak-bahak di depannya.
"Iiihhh mamii, kenapa papkek disiram sih!", gerutunya lagi.
"Abisnya kamu udah dibangunin dari tadi masih berguling di dalam selimut", omel mami Marinka.
"Rey masih ngantuk mi, baru subuh tadi Rey tidur", ucap Reynand hendak merebahkan diri lagi namun langsung ditarik oleh maminya.
"Buruan mandi, mami tunggu di meja makan. Jangan lama-lama kalau nggak mau terlambat ke sekolah", perintah mami Marinka.
"Iya lah", jawab Reynand sambil melangkah ke kamar mandi.
Ia menggunakan jurus mandi kilatnya karena memang waktunya nggak banyak lagi.
Selesai dengan ritual mandi bebeknya, Reynand segera menhampiri maminya di meja makan.
"Papi mana mi?", tanya Reynand karena tak mendapati papinya di meja makan.
"Papi udah berangkat subuh tadi ke Singapore. Nih cepet abisin. Oh iya, nanti siang sepulang sekolah kamu ajak Zia ke butik ya, mami mau pilihin baju buat acara nanti", ucap mami Marinka.
"Iya mi", jawab Reynand singkat lalu melahap roti yang diberikan maminya.
"Rey berangkat ya mi, telat nih", ucapnya lalu mencium punggung tangan maminya.
Reynand mengendarai motornya dengan kecepatan sangat tinggi. Ia harus memburi waktu agar sampai sekolah gerbang belum ditutup.
Sayangnya meski sudah ngebut, nyatanya ia masih saja terlambat. Terpaksa ia harus menjalani hukuman lari keliling lapangan sepuluh kali.
Selesai menjalani hukuman, Reynand langsung menuju ke kelasnya. Ia mengetuk pintu karena memang sudah ada guru yang mengajar.
"Kamu terlambat?", tanya guru itu.
"Iya bu, maaf", jawab Reynand.
"Ya udah kamu masuk, jangan diulangi lagi ya", perintah gurunya lagi.
"Baik bu, terima kasih", jawab Reynand sambil menunduk di depan gurunya.
Sesampainya di tempat duduk, Zia langsung melontarkan pertanyaan yang membutnya harus menahan emosi.
"Eh kok lo bisa telat sih?
"Pakek nanya lagi, siapa yang udah lewat tengah malem nelpon minta dibeliin bubur?", sungut Reynand sedikit berbisik pada Zia.
Zia langsung mengubah ekspresinya saat mendengar jawaban Reynand. Ia memberengutkan wajahnya dan seolah menahan tangis.
"Lo nggak ikhlas nurutin gue ngidam. Lo nggak ikhlas nurutin kemauan anak lo sendiri?", tanya Zia berbisik pada Reynand.
"E eh bukan gitu maksud gue,,aduh udah jangan nangis dong ntar bu Mona ngira gue ngapa-ngapain lo lagi", ucap Reynand menenangkan Zia.
"Apa-apaam sih, harusnya kan gue yang sebel sama dia. Lah ini malah gue yang kena marah. Bukannya tadi malem dia yang maksa gue buat keliling nyari bubur. Jelas sekarang gue telat, orang gue baru tidur pas udah subuh", gerutu Reynand dalam hati.
Flashback on
"Halooo".
"Rey...udah tidur ya?", tanya Zia.
"Heemm, kenapa Zi masih malem nih", jawab Reynand malas.
"Gue pengen makan bubur", rengek Zia yang sudah sangat ngiler membayangkan makan bubur.
"Ya makan aja, suruh bibi masakin kek", sahut Reynand masih dengan mode ngantuknya.
"Gue pengennya lo yang beliin, beli ya bukan bikin. Gue pengen makan bubur yang di abang-abang gitu", rengek Zia.
"Haaahhh, Zia ini masih malem mana ada yang jual bubur", jawab Reynand menanggapi Zia.
"Iihh hiks hiks hiks jadi lo nggak mau nurutin maunya anak lo..Hiks hiks hiks papi nggak sayang sama kamu dek", tangis Zia merajuk.
"Eh eh mulai lagi, jangan ngomong macem-macem ya sama anak kita. Oke oke.gue berangkat sekarang, udah nggak usah nangis. Ntar gue anter kalo udah dapet", Reynand pasrah menuruti permintaan Zia.
Reynand pun bergegas mencari penjula bubur meskipun ia sangat yakin belum ada yang buka di jam segini.
Saat turun dari kamar, Reynand berpapasan dengan maminya yang sedang mengambil air minum.
"Mau kemana Rey malem-malem gini?", tanya mami Marinka.
"Itu mi, Zia minta bubur, mana ada jam segini yang jual", jawabnya pada sang mami.
"Hahahaa,,selamat berjuang anak mami. Itu hal biasa bagi orang hamil", ucap mami Reynand menanggapi.
Reynand keluar rumah masih sedikit dongkol. Bahkan maminya malah menertawai.
Ia berputar-putar mencari bubur itu. Berjam-jam tak kunjung ia temukan. Hingga menjelang subuh ia akhirnya menemukan sebuah kedai bubut yang buka.
Segera ia memesan bubur lalu mengntar ke rumah Zia.
Sampai di rumah Zia pun masih harus terjadi sedikit drama. Zia ingin Reynand msnyuapinya makan sampai bubur itu habis.
Reynand baru kembali ke rumah dan tidur saat adzan subuh telah lewat.
Flashback off
2 likes mendarat dariSAHABAT TAK KASAT MATA😍