NovelToon NovelToon
Song Of Songs Mafia : Haga Revenge

Song Of Songs Mafia : Haga Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Supernatural
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lombu Willem

Haga seorang ketua kriminal gang Ono Sitefuyu menghadiri pesta pernikahan yang dalam sekejap berubah menjadi aksi pembantaian massal. Haga menjadi salah satu korbannya, ditemukan mati bersimbah darah di suatu ruangan.

Keajaiban terjadi, ia diberi kesempatan untuk hidup kembali. Tetapi dalam wujud orang lain, Haga mulai menjalani kehidupan sebagai sorang polisi.

Banyak fakta-fakta menarik yang ditemukannya semenjak jadi seorang detektif. Hendrikus ternyata bukan orang suci dan menyimpan banyak sisi kelam. Ia ternyata bergabung dalam kelompok mafia Song of Songs, sehingga membuat Haga ikut terseret dalam aktivitas para mafia itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lombu Willem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan - Jalan

Haga mengucek kedua matanya, efek kurang tidur akhirnya menghinggapi dirinya. Sudah lama sekali ia mengalami mimpi buruk tengah malam, yang akhirnya membuat ia susah untuk kembali tidur. Itu sejak ia bangkit kembali, dalam tubuh yang berbeda.

Kebiasaan tidurnya yang berubah total, mempengaruhi kebiasaanya yang lain, setiap harinya ia harus minum segelas kopi dan menjadi ketergantungan kaffein. Satu kopi di siang hari sudah tak mencukupi untuk membuat tetap terjaga.

Dua kopi untuk saat ini. Mungkin akan bertambah lagi, sampai nantinya kopi tak berfungsi lagi dan harus beralih ke alternative lain; obat-obatan. Haga harus mengubah kebiasaan tidurnya yang sering terbangun di tengah malam.

"Ini terlalu siang untuk mengopi," seseorang dari arah belakang datang mendekatinya sehingga Haga harus menoleh mengikuti arah sumber suara.

Omaris menyodorkan tangan kanan, tawaran berjabat tangan, "Kita belum pernah berbincang sebelumnya,"

"Oh iya, saya menghabiskan banyak waktu di rumah sakit,"

"Kisah yang tragis," memasang wajah prihatin. Pura-pura bersimpati adalah satu dari sekian banyak pelatihan yang didapat Omaris saat masih menempuh pendidikan akademi kepolisian. Teknik yang pada dasarnya sangat bermanfaat karena akan mempengaruhi psikologi lawan bicara.

"Ya, benar. Sangat tragis,"

"Bisa ceritakan dengan singkat bagaimana kronologisnya?"

"Ya saya datang ke suatu acara, undangan teman. Dan mati ditusuk disana?"

"Maaf!? Ditusuk" bingung mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Hendrikus.

"Ya ditusuk," jawab Haga.

"Bukanya tubuhmu tertembak?"

"Hah? Oh ya, saya tertembak," Haga terkaget dengan jawabannya sendiri. Ia sejatinya tahu jika tubuh yang sedang ditempatinya adalah korban penembakan. Tetapi dia adalah Haga, dan ia selalu lupa menempatkan posisinya yang sekarang ini telah menjadi Hendrikus.

"Dan pesta? Tidak pernah ada pesta di pertokoan Ya'ahowu,"

"Bukan begitu pak, saya habis dari pesta baru ikut dalam penyelidikan," jawaban yang semakin terucap oleh Hendrikus. Omaris bingung mendengar pernyataan Hendrikus yang berbeda dari laporan investigasi yang diterimanya. Ia semakin penasaran dan ingin menelisik lebih jauh lagi.

Omaris meraba-raba dagunya mencoba menebak perilaku psikologi yang ditunjukkan oleh Hendrikus. "Apa ia mencoba menyembunyikan sesuatu? Tapi apa yang disembunyikan-nya?" pikir Omaris.

Sang pemimpin berbicara kembali. Wajahnya mulai serius, "Saya suka dengan tatomu," melirik kebawah kearah pergelangan tangan Hendrikus sembari menunjuk dengan jari telunjuk kearah tato tergambar, "Apa ada maknanya?"

"Entahlah. Buat gaya-gayaan aja," mendorong bibir gelas ditangannya, dan menempelkannya dibibir- nya. "Ahhh," menikmati sensasi dari rasa dan aroma kopi Toraja.

"Tapi itu mirip dengan.." kedua tangan itu sekarang terlipat di dada, dan satu tangan terangkat kearah wajah. Omaris berlipat tangan sambil memijat-mijat dahinya, berpura-pura mengingat "Oh, iya. Mirip dengan tanda anggota Song of Songs,"

"Mafia?" kata Haga dan disambut pupil mata Omaris yang membesar. "Sepertinya hanya kebetulan saja," melanjutkan pembicaraannya dengan enteng, menyisakan kekecewaan bagi polisi senior itu.

"Tetapi aku tidak mengerti --" percakapan itu terhenti ketika beberapa petugas polisi, dua orang, bercanda dengan suara keras mengarah ke dapur.

"Lebih baik kalau kau tidak mengerti. Lebih baik untukmu," kata Haga, membuat Omaris tercekat mendengarnya. Kalimat itu diucapkan bersamaan dengan lengkingan suara tertawaan seorang polisi, sehingga membuatnya tersamarkan. Tetapi Omaris bisa mendengarnya dengan jelas, tetapi ia ingin memastikannya.

"Apa?"

"Saya tidak tahu. Maksud saya, kalau anda bertanya lebih jauh soal mafia, saya tidak tahu pak," jawab Haga.

Beberapa detik kemudian, Omaris mengganti topik pembicaraan mengenai pertikaiannya dengan Rozi

"Kenapa kau bertikai dengan Rozi?"

"Haha.. Saya tidak tahu. Ada sinting-sintingnya itu orang,"

Sebagai seorang prajurit, anggota bersumpah akan selalu tunduk dan taat kepada perintah pimpinan. Menghormati atasan juga tersirat dalam sumpah itu. Tetapi apa yang dilihatnya dari Hendrikus justru menunjukkan kebalikannya. Ia sama sekali tidak menghargai atasannya. "Terkait keributan yang kalian timbulkan, saya terpaksa memberi sanksi pada kalian berdua,"

"Bagus," ponsel Haga berdering, ia mengambil dari saku celananya, pergi meninggalkan atasannya begitu saja, "Permisi, saya harus angkat telepon dulu," dan Omaris hanya terdiam melihat sikap yang ditunjukkan oleh bawahannya itu.

Bersamaan dengan keluarnya Haga, seseorang melangkah menuju dapur dan saling berpapasan. Pria itu melirik ke arah Haga, tetapi mata Haga terfokus pada layar ponselnya. Di pintu masuk dapur, pria itu mengetuk, ingin menyampaikan sesuatu kepada Omaris.

"Ada berita?" tanya Omaris.

"Beberapa berita pak," jawab Peter.

"Berita baik atau buruk? atau kedua-duanya?"

"Berita bagusnya kita berhasil mendapat identitas dua penembak polisi penjaga. Meto dan Abe," Peter menjeda pembicaraannya, ia sedikit ragu untuk menyampaikan berita berikutnya, "Berita buruknya tim kita menemukan mayat Abe dan Meto,"

"No kidding!" muka Omaris memerah melihat ke arah Peter, "Jangan bicara seperti orang idiot," Omaris melangkah meninggalkan ruang dapur tanpa menoleh sedikit pun kearah Peter.

...***...

Sambil mendengar suara kicauan burung- burung peliharaannya, Bertus menyemprotkan air ke binatang mungil itu, memandikannya. Ia juga membersihkan kotoran yang telah menggunung di dalam sangkar besi itu.

Kotoran telah dibersihkan, makan dan minuman juga telah ditambahkan, Bertus menggantung kembali empat burung tersebut ke tempatnya semula. Masing-masing di setiap sudut gazebo digantung satu kandang burung.

Bertus bersantai sejenak. Menghirup udara segar pagi hari dari hasil fotosintesis tanaman bunga dan pohon di halaman belakang rumah. Siapa pun yang berada disana akan betah untuk berlama-lama disana. Kicauan burung, berbagai jenis tanaman hias dan kolam dengan air mancur yang dipenuhi ikan koi, sangat memanjakan mata dan telinga.

Duduk di gazebo, ia menyenderkan tubuhnya ke belakang, menggunakan kedua tangan sebagai penyangga. Mendongak ke langit, Bertus membayangkan kehidupannya kelak, yang dalam beberapa jam lagi resmi memiliki seorang istri. Bertus pun mulai membayangkan hari-hari yang akan dilaluinya bersama Lydia sebagai pasangan suami-istri. Belum sempat ia membayangkan diri menggendong seorang bayi, Gideon datang menghampirinya.

Menepuk pundak Bertus, sontak membuat pria itu kaget. “Mana Oliver? Ada hal mendesak yang harus dibicarakan,”

“Dia masih tidur,”

“Ok. Kita bangunkan dia. Bersiap. Kita jalan-jalan,”

Tanpa membuang banyak waktu, Bertus dan Gideon langsung menuju kamar untuk membangunkan Oliver. Jalan-jalan adalah berkendara tak tentu arah sembari berdiskusi. Kode untuk membicarakan hal-hal penting, tanpa diketahui oleh orang lain.

Ketika mereka tiba di kamar, Oliver didapati sedang berbicara dengan seseorang dibalik ponsel genggam miliknya. Bertus dan Gideon menunggu hingga Oliver selesai. “Baik, akan saya sampaikan padanya,” mengakhiri percakapan, sambil menoleh kearah Gideon.

“Kalian dua bersiaplah. Kita jalan-jalan,” Gideon meninggalkan kamar, turun kelantai bawah, menuju ke mobil Kijang miliknya.

Gideon telah menunggu di dalam mobil. AC telah diatur dingin maksimal dan lagu from the inside milik Linkin Park menggema melalui speaker mobil.

Kenangan masa lalu merangkak memaksa keluar dari pikiran Gideon. "Haga, tolong saya. Saya membunuh Minerva,"

1
Ansar rauf
pusing bacanya, alur ceritanya berbelit-belit
Ansar rauf
mantap
Ansar rauf
👍
Lady Meilina (Meilina07.)
mampir thor
Honeybee_🐝
Hadir thor....🥰
Tetap Semangat 💪
Salam dari ( Ayah dari calon anak sambungku )
Ummu Jihad Elmoro
aku mampir, kk.. 😇
Nnzxy
lanjut kak semangat!!
aku udh mampir
Lombu Willem
Terimaksih kak 🙏
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNOL💘 ¢ᖱ'D⃤
dh mampir thor
anggita
gunungsitoli,, sumatra utara.👏
anggita: smoga novel sampeyan sukses yah.,
total 2 replies
anggita
👍👌👍👌
anggita
trus berkrya.
anggita
mpir nglike👍 ae lah.
qinan_velvet
Ikut nyimak Kak...... gelar karpet dulu..... Semangat
KumiKimut
lanjut ❤️
Lombu Willem
terimakasih juga kak 🙏
Pangeran Matahari
semangat y kk..

mampir jg kekisah cinta cucu manja oma
Pangeran Matahari
keren novelnya
ForGoodluck
Thor, dapet notifikasi dari update-an ceritamu itu kayak minum es di siang hari bolong!
Lombu Willem: menyegarkan atau bikin sakit gigi 😅
total 1 replies
Lombu Willem
Sip
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!