Malam itu, Alya mendapat pesan dari pacarnya yang memberitahukan jika ayahnya mabuk.
Sebagai Seorang anak, Alya berniat untuk pergi menjemput Ayahnya, tapi siapa sangka di balik itu semua, pacar yang begitu ia percaya dan sangat dia cintai ternyata membohonginya.
Dia di jebak sampai tak sadarkan diri, rupanya Alya di bawa ke sebuah hotel, disana dia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
Dan yang lebih sialnya lagi, sadar ia sudah sadar, laki-laki yang bersamanya semalam sudah menghilang entah kemana.
Beberapa bulan kemudian Alya di nyatakan positif hamil, ada dua janin di dalam perutnya, hal itu membuat Alya harus menanggung gunjingan dari orang-orang Sekitar karena kehamilannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? akankah Alya bahagia dengan anak kembarnya? lalu siapa ayah dari kedua anaknya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon israningsa 08., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk Sekolah
Tatapan matanya berbinar, memandangi kedua buah hatinya yang selalu membuat hidupnya bahagia selama 6 tahun tanpa sosok ayah ataupun suami.
"Anak-anak mama rupanya sudah besar yah!" ia hampir meneteskan air mata, menepuk pundak Nino dan Nina.
"Mama kenapa menangis?" Nina tak tega melihat Alya, matanya ikut berkaca-kaca.
"Mama bahagia sayang! Sini peluk mama dulu!" Alya merentangkan tangan, membuat kedua anaknya menghambur masuk ke dalam pelukannya.
Beberapa menit mereka berpelukan hingga Alya tersadar ada sesuatu yang ia lupa, dia berdiri mengorek isi tasnya.
"Kalian tunggu mama di luar yah, mama mau ambil dompet mama dulu!" dia cepat-cepat pergi ke kamar, sementara kedua anaknya menunggu didepan rumah.
"Ehm... Kalian mau kesekolah ya?" tanya salah satu tetangga yang lewat dan melihat Nino dan Nina sudah rapi dengan seragamnya.
"Iya bu!" jawab mereka kompak!".
"Memangnya ibu kalian punya banyak uang sampai membuat kalian masuk sekolah? Mending tidak usah sekolah! Ujung-ujungnya pasti sampai SD saja! Jangan membuat Ibu kalian menjual diri untuk menyekolahkan kalian! Lihat saja, kalian tidak punya ayah kan? Karena kalian itu hasil jua.... "
"Cukup!" potong Alya saat mendengar kalimat itu baru saja keluar dari mulut tetanggannya.
"Ibu bisa menghina saya, tapi tidak dengan anak-anak saya! Saya tidak bisa menerima itu bu, mereka masih kecil, mereka tidak mengerti apa-apa, jadi apa ibu pantas membicarakan itu?" tegur Alya.
Hati ibu mana yang tidak sakit melihat dan mendengar anak-anaknya di hina? Alya tidak bisa memaafkan siapapun yang melakukan itu, dia marah, sangat-sangat marah pada ibu-ibu yang ada di hadapannya.
"Memangnya kenapa? Apa aku salah? Kalau kau berkata kau benar, lalu dimana ayah mereka kenapa sampai sekarang aku tidak pernah melihatnya!" cibir ibu itu.
"Mereka punya ayah bu! Hanya saja Ayah mereka bekerja di kota!"
"Heh kamu fikir aku akan percaya, semua ibu-ibu disini sudah tau kelakukan kamu Al... Jadi tidak usah sok suci!"
"Saya sadar saya tidak suci bu, tapi saya lebih baik dari ibu yang mengurusi urusan orang!"
Ibu itu mengelikkan bahunya, "Kamu masih saja tidak berubah Al... Masih tidak tau malu seperti dulu!" sindirnya memutar bola mata meninggalkan mereka bertiga.
Terlukis jelas kemarahan Alya dari wajahnya, rahangnya menegang, genggaman tangannya mengeras.
"Mama, apa tadi itu benar? Apa papa memang bekerja di kota? Tapi... Tapi bukannya mama bilang kalau papa sudah meninggal?" Tanya Nina dengan mata berkelebat memandang mamanya.
"Hustt Nina diamlah! Jangan tanyakan itu!" Nino menyenggol bahu adiknya, menegur.
Alya terpaku di tengah-tengah kedua anaknya, hembusan nafas berat menandakan jika dirinya masih berusaha mengontrol diri.
"Anak-anak ayo cepatlah! Kita sudah hampir terlambat sekarang!"
Alya mengalihkan pembicaraan, dia mendengar pertanyaan Alya, namun tak bisa menjawabnya.
Alya menarik kedua tangan anaknya bergegas menuju sekolah dasar yang tak jauh dari rumah mereka.
Nina sebal merasa diabaikan, dia cemberut saat berjalan dengan tangan di pegang Alya.
Mereka sampai di sekolah, terlihat ada beberapa orangtua yang juga mengantar anaknya, ada anak dengan orangtua yang masih lengkap.
Nina tak sengaja meliriknya, dia iri ayah dan ibu dari anak yang ia lihat tampak begitu bahagia bersama kedua orangtuanya.
Sekilas Nina memandang mamanya, ia kemudian menunduk, Nina menangis diam-diam, air matanya terjatuh kelantai tanpa sepengetahuan Alya.
"Jangan menangis! Lihatlah perjuangan mama hari ini, dia melawan ibu-ibu jahat tadi, dan mengantar kita kesekolah! Tadi subuh juga mama bangun pagi mencuci pakaian kita! Apalagi pakaianmu yang sangat banyak!" bisik Nino.
Nina menyeka air matanya, "Siapa yang menangis kakak? Aku tidak menangis, ada debu yang masuk kemataku!" Alasannya berbohong.
"Serius?" Nino mengamati kedua bola mata Nina, dengan cepat adiknya itu membuang muka, "Iya... Aku tidak bohong! Aku ini masih kecil jadi mana mungkin berbohong!" serkahnya mendelik.
"Mama!" Dengan usil dia memanggil Alya yang berdiri didepan mereka.
"Iya ada apa sayang? Apa kalian gugup? Ahh sepertinya mama sangat gugup bertemu guru!"
"Tidak, aku sama sekali tidak gugup!" jawab Nino serius.
"Ohh ya? Lalu kenapa memanggil mama? Ehh Nina kenapa?" Alya mulai menyadari keanehan putrinya, iar mata belum kering dari pelupuk mata Nina.
"Tidak apa-apa mah!" ucapnya diirngi gelengan, tapi bibirnya bawahnya masih bergetar.
"Apa kamu sakit? Lihat mama, dan jawab pertanyaan mama! Apa ada yang sakit? Apa perutmu? Atau kamu ingin pergi kekamar mandi? Katakan saja sama mama, mama akan menemanimu!" Alya khawatir.
Nina membalasnya dengan gelengan lagi, dia tak mau mengatakan jika alasan kenapa ia menangis adalah karena rasa irinya.
"Katanya ada debu yang masuk kematanya mah!" seka Nino menyela.
"Kakak!" Nina berdecak sebal.
"Apa? Sini coba mama mau lihat!"
"Kakak hanya bercanda mama! Nina baik-baik saja! Nina hanya ingin duduk, itu saja!"
"Kalau begitu kita langsung menemui guru saja sekarang!"
Alya membawa anak-anaknya masuk keruang guru, terlihat meja guru berjejer dengan rapi, ada beberapa guru juga di sana yang tersenyum menyambut Alya.
Alya mulai mengisi formulir pendaftaran untuk mereka berdua, dia kemudian di bawa menuju kelas bersama oleh kepala sekolah yang sangat ramah itu.
Dalam kelas murid-murid memandangi Nino dan Nina, si kembar di suruh untuk memperkenalkan diri di depan.
"Namaku Nino dan dia adikku Nina! Itu saja terimakasih!" Ucapnya begitu datar membuat wali kelasnya sedikit tercekat.
"Wah... Perkenalan yang bagus sekali! Tepuk tangan semuanya!"
Prok... Prok... Prok....
Murid SD kelas Satu serentak memberi tepuk tangan sesuai ucapan wali kelas mereka, sementara Nina tertunduk malu di samping kakaknya.
"Kekanak-kanakan sekali!" Nino bergumam dengan suara yang nyaris tak terdengar oleh telinga.
Alya yang berdiri di depan pintu, mengamati mereka berdua, "Shut... Nino! Senyum sedikit sayang! Jangan bersikap seperti itu!"
Nino yang memiliki pendengaran yang sangat baik bisa mendengar kalimat yang baru saja di lanturkan oleh mulut mamanya.
Dia menoleh mengernyitkan alis, Alya mencoba memberi isyarat senyum padanya dengan menjepit kedua pipinya menggunakan jari telunjuk dan ibu jarinya menarik garis keatas hingga membentuk senyuman.
Nino paham dengan hanya melihatnya sekilas, dia anak yang penurut, rauk wajahnya mulai berubah didepan para murid dan juga wali kelasnya.
"Mulai sekarang mereka berdua akan belajar bersama kalian! Oke... Nino dan Nina silahkan duduk di kursi kosong disana!"
"Makasih bu!"
Mereka duduk bersebelahan di kursi kayu panjang untuk dua murid, Nino dan Nina mengeluarkan buku.
Menatap keatas kearah papan tulis.
"Baiklah anak-anak ibu mulai pelajaran yah! Hari ini, karena kalian semua baru masuk jadi ibu akan mempelajari kalian huruf-huruf abjad!"
Murid-murid terdiam menyimak,
"Tapi ibu mau tanya, siapa disini yang sudah bisa menulis huruf A sampai Z Angkat tangannya!"
Dengan cepat Nino dan Nina mengangkat tangan, "Saya dan kakak saya sudah bisa bu, saya juga sudah bisa membaca, menulis dan menghitung!" ungkap Nina mulai percaya diri.
Tapi wali kelasnya terlihat masih tidak yakin, terlihat dari ekspresinya yang penuh keragu-raguan.
"Benarkah? Kalau begitu, Nina silahkan maju kedepan, kamu tulis huruf A sampai Z dan sebutkan didepan teman-teman yang lain!" ujar ibu kelasnya.
Mendengar itu, jantung Nina serasa berdebar dengan cepat, "Ta-tapi bu!"
"Majulah... Kamu harus mempertanggung jawabkan ucapanmu! Jangan takut! Kakak ada disini!" Nino berbisik menyemangati.
"Aku takut kakak!" balasnya.
"Lihatlah, mama ada di luar mengawasi kita, kalau kamu bisa pasti mama bangga dan dia akan memujimu!"
Nino mencoba membuat adiknya tenang dan tak memikirkan soal ketakutannya, sebab rasa takut hanya akan membuat kegagalan dalam hidup, dan itulah yang kadang menghambat kesuksesan.
nggak sanggup beli peredam suara 🤣🤣🤣🤣
tapi Lo*** atau Pe**c**
pemuas dahaga situan besar..
kayak sprite.. ilangin dahaga tapi bikin candu 🤣🤣🤣
emang perempuan yang tidak memakai cincin emas itu pasti belum nikah ya?🤣🤣🤣
ada korban, pelaku nggak langsung di tangkap dan beri pertolongan pertama kepada korban.. malah dialog panjang n pergi tanpa berikan pertolongan 🤣🤣🤣
😁
👕👍Great!
👖
melapor dulu dgn kirim pesan ini malah bantu maling