"Jangan menodai mata, Anda!"
Gak usah banyak bicara, pijit aja, untung Kakak suruh pijit bagian atas, emangnya mau pijit bagian bawah juga?" tanya Fallen.
"Kalau boleh sih, Aku lebih milih pijit bagian bawah, soalnya di atas tanganku pegel karena bahu Kakak kan lebar dan tinggi," jawab Fio.
"Di bawah juga lebar dan tinggi," balas Fallen nakal.
Cover from pinterest. disimpan dari m.photoviewer.naver.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mhammadtaufiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
"Kak, jika Kakak datang terlambat, mungkin ini terakhir kalinya Kakak mendengar suaraku," ucap Fio kemudian memutus telfonnya.
Fallen menjadi panik, baru saja ia akan rapat bersama teman bisnisnya ia batalkan begitu saja. Suara Fio terus mendengung di pikirannya, apalagi suara Istrinya terdengar ketakutan.
"Dertox! Kita harus kembali, Istriku tidak baik-baik saja," cemas Fallen.
Dertox mengangguk, ia pun ikut kecemasan, perasaannya juga tidak enak. Segera mereka menuju ke rumah dengan kecepatan di atas rata-rata.
Sampainya mereka di rumah, semua lampu padam, begitupun lampu jalan, yang anehnya hanya rumah Fallen yang padam, itulah yang ada dipikiran Dertox.
"Tuan," ucap Dertox menatap khawatir Fallen.
Fallen membuka pintu rumah, keadaan tetap sama, begitu gelap dan sepi. "Fio!" teriak Fallen.
Tidak ada jawaban sama sekali yang membuatnya semakin khawatir, jika Fio terluka sedikitpun ia akan membunuh orang yang membuatnya terluka.
"Bibi! Jono!" teriak Fallen.
Ternyata sama saja, tidak ada sama sekali.
Di sisi lain, Fio dan Nana tengah ketakutan, pintu didobrak berkali-kali yang sebentar lagi akan runtuh
Bruk!
Pintu tersebut terdobrak, dan hancurlah pula pertahanan pintu tersebut. "Halo sayang," sapa Gino.
Kapak yang berada di tangannya begitu menyeramkan di mata Fio, "Kak Fallen," lirih Fio.
"Hahaha, Kau mengharapkan Fallen? Dia tidak akan datang, buktinya-"
Peluru menembus kepala Gino, pelakunya adalah Fahrul.
Bersamaan dengan kejadian tersebut, Fallen dan Dertox baru tiba. Nafas Fio dan Nana tercekat, darah yang berceceran dan meluap di lantai membuat mereka mual.
Fallen segera memeluk Istrinya yang tengah berkeringat dingin. Sungguh hati Fahrul sakit melihat pemandangan tersebut, di sisi lain Dertox melihat tatapan Fahrul yang seketika menggelap.
Fallen menatap Fahrul dan menghampirinya, "Aku benci mengatakan ini, tapi Aku harus. Terimakasih," ucap Fallen.
Fahrul hanya diam, dia tidak ingin membalasnya, rasa sakit di hatinya sangat mendominasi.
Segera Fahrul pergi dari tempat tersebut, sedangkan Fallen hanya menghela nafasnya pelan, biar saja Anak itu pergi.
Kemudian Fallen menatap mayat sahabatnya, "Tidak kusangka, ternyata sahabatku musuh dibalik selimut."
Dertox menganggukkan kepalanya, "Kita harus lebih berhati-hati, ternyata Gino merupakan Anak dari musuh terbesar kita, Tuan. Cuman Gino pandai menutupinya dan merubah nama Ayahnya," ucap Dertox.
"Sudah kukatakan, jangan formal kepadaku, Dertox!" tegas Fallen.
"Kak, udah deh marah-marahnya, serem tau, liat tuh Fio udah tidur," ucap Nana.
Fallen menatap Fio yang tengah tertidur di dekapannya, Istrinya mungkin lelah dan ketakutan sehingga ia memilih untuk tidur.
"Dertox, urus mayat ini," ucap Fallen kemudian meninggalkan mereka.
Sementara Nana tetap setia berada di ruangan tersebut, "Ini kan kamar mereka, kok gak tidur di sini?" tanya Nana dengan polosnya.
Dertox menghela nafasnya pelan, "Kau tidak lihat darah bercucuran di mana-mana? Apakah Tuanku mau tidur di tempat yang berbau darah? Dan mengapa Kau masih di sini? Ingin membantuku?" tanya Dertox bertubi-tubi.
"Hehehe, nggak deh, kerjain aja sendiri, Om. Semangat yah," ucap Nana kemudian kabur dari tempat tersebut, Dertox yang melihatnya hanya menggeleng kepala.
Fallen berada di kamar Fio, ia tengah berpikir, bagaimana Fahrul bisa lepas dari ikatannya?
"Ck, mengapa baru kupikirkan," decak Fallen kemudian melihat rekaman cctv.
Ia menonton rekaman tersebut yang ternyata seorang wanita tengah melepaskan rantai yang terikat di tangan Fahrul.
Ia memerhatikan wanita tersebut lebih jelas, dan ia sudah tahu itu, dia adalah Rene.
Kalimat yang ia pertanyakan di pikirannya adalah, apa hubungan Rene dengan Fahrul, lalu bagaimana Rene bisa masuk ke dalam rumah? Dan juga, apakah dibalik kejadian ini semua adalah Rene? Tapi dia tidak dapat menyimpulkannya begitu saja, jika benar Rene dalangnya, lantas kenapa Fahrul menembak orang suruhan Rene?
Satu lagi yang ia ingat, bahwa Fahrul menyukai istrinya. Tangan Fallen mengepal erat, ia menyesal melepaskan Fahrul begitu saja, sudah pastinya Fahrul menolong Fio. Suatu saat nanti, Fahrul akan merebut Fio dari sisinya.
Tapi ingat, selama ia masih bernafas, selamanya Fio akan bersamanya.
~~
Terimakasih, like dan beri komentar.
kalau pribadi yimak .membawa like