Rio adalah siswa berbakat yang belajar di Akademi Guardian yang bertujuan melawan serangan Alien. Semenjak kotanya dihancurkan ia berusaha merebutnya kembali, bersama rekan-rekannya mereka menemukan fakta tersembunyi yang tidak banyak diketahui orang lain. Soal seseorang dari luar angkasa termasuk planet yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 : Persaingan
Aku memberikan minuman dingin pada Stella yang duduk dengan lemas, dia menerimanya dengan baik lalu meminumnya secara tergesa-gesa hingga ia pun terbatuk-batuk
"Bersemangatlah sedikit."
"Mana mungkin bisa, aku sudah menghabiskan seluruh uangku untuk hal barusan."
"Kau ini tidak pernah mendengar lagu bang haji Rhoma Irama kah, judi Yeeey meracuni keimanan."
"Itu lagu yang sangat lama," balas Stella sedikit tertawa karena gayaku yang tidak mirip.
Aku tersenyum kecil ke arahnya dan Stella segera memalingkan wajahnya dengan malu. Padahal menurutku senyuman sangat manis.
"Kita masih memiliki waktu untuk kembali ke akademi."
"Meski kau bilang begitu, aku merasa lemas untuk berjalan."
"Segitunya kau kecewa."
"Aku menghabiskan uangku kau tahu."
"Dibanding berjudi harusnya kau mencari pekerjaan lain yang lebih baik.... jika urusan Guardian bawalah ke bengkel akademi, di sana aku akan memperbaiki apa yang rusak dan menambahkan apa yang perlu."
Stella memicingkan matanya ke arahku.
"Aku tidak akan terjebak dengan tipu muslihatmu, kau ingin mengetahui seluruh kemampuan Guardianku kan?"
"Mana ada, dengar... aku ini pria yang jujur, baik hati dan tidak sombong aku tidak tertarik melakukan itu, dibanding apapun aku suka membuat Guardian dan memperbaikinya."
"Aku masih tidak percaya padamu."
Aku mendesah pelan lalu menjulurkan tanganku meminta jabat tangan
"Begini saja, siapapun yang menang harus membawa salah satu kita menjadi pasukannya, bagaimana? Lagipula kemenangan Guardian juga ditentukan oleh pengendalinya."
"Cukup adil."
Akhirnya kami saling berjabat tangan hingga saling tersenyum satu sama lain sampai seseorang yang tidak ingin kulihat dalam situasi ini muncul, dia adalah Isabel yang tampak marah akan sesuatu.
Jika diperhatikan ini memang sudah jam istirahat.
"Isabel," panggilku demikian.
"Pantas saja kau bolos sekolah.. kau sedang bersenang-senang dengan ketua OSIS."
"Jangan salah paham."
Stella bangkit kemudian menatap Isabel dengan rasa persaingan.
"Memangnya apa hakmu marah-marah, kau bukan pacarnya kan? Dia berhak untuk pergi bersama siapapun."
"Kau?"
"Kalian berdua hentikan.. tolong yang akur."
Aku melirik ke arah sebuah tiang listrik dimana Clarisa dan Nakamura bersembunyi di sana seolah menikmati apa yang terjadi.
Aku kembali melerai keduanya hingga mereka berdua saling memalingkan wajah dengan nada "Humph."
"Mari kembali ke akademi."
"Aku tidak ingin pergi bersamanya."
"Aku juga sama."
Perempuan itu memang merepotkan.
Di kelas itu Isabel hanya menatapku dengan wajah cemberut, dia terus menatapku bahkan ketika pelajaran terakhir berlangsung.
"Isabel papan tulisnya ada di depan."
Dia tidak bergeming sedikitpun walau guru telah menegurnya, sebagai balasan pak guru melirik ke arahku.
"Rio, bisakah kamu menasehati pacarmu?"
"Eh, aku bukan."
Aku sempat ingin menyangkalnya namun di tatap oleh Isabel seperti itu rasanya tidak mungkin aku lakukan.
"Maafkan aku, tapi hari ini Isabel sedang berada diposisi tidak baik.. mohon pak guru mengabaikannya saja."
"Begitu, kuharap kalian bisa berbaikan lebih cepat."
Nakamura terlihat menahan tawa hingga aku harus melemparkan penghapusan ke arahnya, dia masih menahan tawa sebelum mengacungkan jempol ke arahku.
Ketika semua orang berjalan keluar hanya aku dan Isabel yang masih di kelas, sejujurnya Nakamura dan Clarisa memperhatikan dari jendela luar sampai Stella muncul.
"Apa yang mereka lakukan?" tanya Stella dan Nakamura lah yang menjawabnya.
"Sepertinya Isabel akan menembak Rio," dan begitulah Stella menerobos masuk.
"Aku keberatan," katanya.
Memangnya ini berada di film mana.
Stella dan Isabel mendekat ke arahku dan saling memandang satu sama lain dengan permusuhan, ketika dunia dalam bahaya kenapa aku harus terlibat hal seperti ini, siapa saja selamatkan aku.
"Cinta segitiga sangat menarik kan Clarisa."
"Aku setuju denganmu Nakamura."
Aku ingin sekali mengusir mereka pergi.
like diri sendiri ✔️
😂😂
cepet banget perasaan baru baca sejam
catet²