Reina Firdausya Atmaja
Seorang wanita yang tegar. Berusaha sekuat tenaga mempertahankan perusahaannya yang nyaris bangkrut.
Ketika ada jalan, dia harus bertemu dan menjalin hubungan kembali dengan mantan kekasihnya 10 tahun yang lalu, yang kini sudah berubah menjadi sosok yang sangat berbeda. Seorang CEO kaya raya dan playboy?
🌸
Erlan Fabian, mantan pacar Reina saat SMA dulu. Kini telah menjadi executive muda yang sukses, mengidap penyakit psikis akibat trauma di masa kecilnya.
Misinya adalah menikahi Reina, dan balas dendam pada ibu kandungnya sendiri.
Mampukah Reina bertahan?
Dan bagaimana kehidupan mereka setelah menikah?
Apakah Reina mampu mengobati kehidupan Erlan yang kelam dan penuh dengan dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alin yuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 ( Harapan Dimas )
Di penthouse
Reina dan Erlan duduk di rooftop menatap keindahan pantai di malam hari.
Berkali-kali Reina berdecak kagum, melihat pemandangan malam Bali yang sangat indah.
"Kamu tahu Erlan, bahkan di mimpi pun, aku gak pernah lihat yang seindah ini."
Erlan mengambil selimut kecil dari dalam kamar, lalu membungkus tubuh Reina dengan selimut itu.
"Mau minum cocktail?" tanya Erlan.
Mata Reina berbinar mendengarnya, "Boleh?"
"Tentu, sweety."
Erlan menuangkan segelas cocktail untuk Reina, yang langsung di minum dalam sekali tenggak.
"Hei, pelan-pelan Rein." ucap Erlan khawatir.
Reina meringis, merasakan hal yang aneh di tenggorokannya.
"Ini tidak enak, aku heran kenapa banyak orang menyukai minuman itu."
Erlan tertawa geli melihat tingkah Reina, yang kini beralih meminum air putih untuk menghilangkan rasa cocktail di mulutnya.
Dia menghampiri Reina, lalu meminum sedikit cocktail miliknya.
"Minum ini tuh harus di resapi." ucap Erlan, perlahan ia mengusap pipi Reina yang kini berubah kemerahan.
Entah karena dingin, atau efek cocktail yang tadi dia minum.
"Erlan, apa kita akan terus tinggal di Bali?" tanya Reina. Sudah lama ia ingin menanyakan ini pada Erlan.
"Aku belum tahu, kalau urusan di sini sudah selesai kita bisa kembali ke Jakarta. Atau kamu suka tinggal di sini?"
Reina menggeleng, "Tempat ini bagus. Tapi aku kesepian. Apalagi kalau kamu bekerja."
Erlan mengerti, pasti tidak mudah untuk Reina jika mereka terus tinggal di sini. Dia pun meletakkan gelasnya di meja, lalu meraih pinggang Reina dengan kedua tangannya.
"Aku tahu supaya kamu tidak kesepian."
"Apa?"
Perlahan Erlan mendekatkah wajahnya, lalu ia berbisik tepat di telinga Reina.
"Making baby."
Blush. Reina merasa pipinya memanas saat ini. Baby?
Ya ampun, bahkan Reina tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Pernikahan yang semula dia niatkan dengan kontrak, kini malah membuatnya terjebak cinta. Bukan tidak mungkin kan dia memiliki baby?
Karena Reina sudah pernah melewatkan malam bersama dengan Erlan.
"Jangan ngaco!" Reina berusaha mendorong Erlan untuk menjauh. Tentu saja, tidak berhasil dengan mudah, karena Erlan enggan melepaskannya begitu saja.
Tangan Erlan bahkan sudah bergerak nakal menyentuh bagian sensitif Reina, membuat istrinya itu menggelinjang geli.
"Erlan, stop!"
"Please, Rein. Aku menginginkannya sekarang. Satu kali aja." ucap Erlan dengan wajah yang memelas.
Reina menghela napas, ia tidak tega juga melihat suaminya seperti itu. Erlan yang biasanya keras kepala, kini menjelma seperti anak kecil yang merengek meminta sesuatu. Wajahnya memelas dan kelihatan tersiksa.
"Satu kali. Aku cape."
Erlan tersenyum lebar. Tanpa menunggu lama, ia pun langsung menggendong Reina untuk masuk ke dalam, lalu merebahkan tubuh Reina di atas ranjang.
Reina memejamkan matanya pasrah, ketika Erlan mulai menurunkan jumpsuitnya, lalu mengecup bahunya yang terbuka dengan lembut. Tidak sampai satu menit, kini baju Reina sudah tanggal sepenuhnya, begitu juga Erlan. Ia sudah melepaskan bajunya, dan menerjang Reina dengan cepat.
Reina pun tidak menolak. Karena diam-diam ia juga merindukan sentuhan lembut Erlan, dan ia ingin memeluk tubuh kekar Erlan yang berkeringat karena gairah.
Di sisi lain,
"Dimas, mau sampai kapan kamu begini?." Lara menghampiri putranya yang kini sedang duduk di teras sambil bermain gitar.
Sudah satu minggu Dimas kembali ke rumahnya, meninggalkan bisnis cafenya di Kota. Bagi Dimas tanpa kehadiran Reina, cafe itu terasa hampa.
Tujuannya membuka cafe ice cream adalah untuk Reina, walaupun sekarang menjadi penghasilan tetapnya.
"Ma, kalau aku menjadi bos besar di perusahaan, apa ada peluang untukku dapatin Reina?"
"Hush! Istighfar kamu, nak. Reina itu udah menikah, gak pantas kalau kamu masih memikirkan dia. Saru!" ucap Lara.
Dimas hanya tertawa kecil, bicara sih memang mudah. Tapi aksinya itu yang sulit. Di mulut mungkin Dimas sudah bisa merelakan Reina, tapi hati dan pikirannya masih tertuju pada gadis itu.
"Dimas, kamu juga sudah waktunya menikah kan. Lupakan Reina. Dia sudah bahagia sekarang."
"Reina gak bahagia, ma. Aku tahu itu. Dia terpaksa menikah dengan Erlan, demi membayar hutang keluarganya."
Lara kembali menghela napas, bicara dengan Dimas memang susah, putranya itu sangat keras kepala.
"Sudahlah. Mama capek ngomong sama kamu. Oh ya, tadi karyawan kamu di cafe telepon. Katanya kapan kamu balik ke Kota?"
Dimas tidak menjawab, hingga membuat Lara makin jengkel. Akhirnya Lara beranjak masuk ke dalam rumah, meninggalkan Dimas sendiri.
Dalam pikirannya, Dimas teringat peristiwa minggu lalu. Dia pergi ke rumah Reina, karena Zoya meminta tolong padanya untuk di ajarkan mata kuliah yang tidak di mengerti. Dimas setuju ingin membantu Zoya. Tapi saat itu, ia tidak sengaja mendengar pembicaraan Zoya dan Karin di rumahnya, tentang Reina yang ternyata menikah kontrak dengan Erlan.
Dimas mendengar, kalau Karin menemukan berkas kontrak di kamar Reina saat sedang membersihkan kamarnya.
Karena hal itu lah, yang membuat Dimas kembali bimbang. Kalau memang mereka menikah kontrak, Dimas berpikir masih ada kesempatan untuknya nanti.
Dimas meraih ponsel yang sejak tadi tergeletak di depannya. Awalnya ia bimbang, namun kini ia mulai mengetik nomor yang sangat di hafalnya.
Reina
...Tutt tutt..
Panggilan tidak tersambung. Ah, mungkin Reina sedang sibuk. Pikir Dimas.
Dia benar-benar merindukan perempuan itu, sampai-sampai dunianya sendiri teralihkan. Maaf Reina, aku tidak bisa menyerah begitu saja setelah mendengar, kamu hanya menikah kontrak dengan laki-laki itu.
🌸🌸🌸