Cerita di bumbui 21++. Harap bijak dalam membaca❤
Albian Yunanda, terlahir dengan segala kesempurnaan dan kekayaanya, namun tidak prihal asmara. Sebab, lelaki berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit, bahwa Aluvi Tiana alias Vivi wanita yang sangat dirinya cintai justru tega berkhianat dengan menjalin hal tak terpuji dengan Narendra, sahabat Bian sendiri. Vivi rela memberikan seluruh jiwa dan raganya demi Rendra sementara statusnya sebagai tunangan Bian.
Hal itulah yang menimbulkan luka yang amat dahsyatnya dan memakasa Bian harus membalas rasa dan luka hati yang kini dirinya rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanty fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
L I C I K
Ck
Bian menatap jam dinding, waktu masih menunjukan pukul tiga pagi. Namun mata pria tampan itu enggan terpejam lagi.
Pikiranya masih berputar-putar, karena nama Rendra muncul kembali saat ini, terlebih lagi Bian menyadari, jikalau yang memberikan bingkisan laknat beberapa hari lalu, Rendralah orangnya.
"Belum puas mengambil apa yang seharusnya menjadi miliku, kini dengan beraninya dia hadir dengan teror tak beguna," omel Bian seraya menatap langit-langit kamar.
Bola matanya berputar ke arah seseorang yang masih tertidur pulas. Vivi, wanita yang kini menjadi istrinya memang tengah mengandung anak dari Rendra.
Bian beranjak dari sofa tempat dimana dirinya membaringkan badan. Langkah kaki membawa tubuhnya mendekati sang istri.
Senyum menyeringai penuh kebencian kini kembali memenuhi benak Bian. Malam dimana dirinya menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri betapa laknatnya pengkhianatan yang Rendra dan Vivi tancapkan kembali terbayang di pelupuk matanya.
"Sial... Kenapa hati ini rasanya masih sakit sekali, karena menjaga wanita yang justru rela memberikan kehormatanya pada laki-laki pengecut seperti, Rendra."
Rahang Bian mengeras, ingin sekali menghabisi wanita yang kini ada di hadapanya. Namun wajah polos Vivi saat tertidur membuatnya tak tega. Bian sadar cinta dan benci di hatinya untuk Vivi, sama besarnya.
"Aaaaaaahh...!" Bian berdecak kesal.
🕊
Kini jam menunjukan pukul empat pagi, Bian sudah menjauhi keberdaan sang istri, dirinya kini menatap layar laptop untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Meski dirinya tak ke kantor, Bian tetap mengerjakan apa yang sudah menjadi kewajibanya.
Derrt
Derrt
Derrt
Benda pipih milik Bian pun bergetar. Pria tampan itu tersenyum licik kala nama seseorang tertera di layar ponsel yang berada di tanganya kini.
"Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Bian tanpa basa basi.
"Aku menemukan alamat, dimana dia tinggal, bos," jawab seseorang dari sebrang panggilan telponya.
"Bagus. Kirimkan segera alamat tersebut ke no handpone saya!" seru Bian.
"Baik, bos."
Dengan senyum puas, pria tampan itu segera mematikan sambunga telponya dan meremas-meras tanganya sendiri.
"Aku benar-benar tak sabar, ingin menghajarnya dengan tanganku sendiri," gumam Bian pelan.
____
Sang fajar menyapa, deru suara anğin cukup kencang meyambut datangnya pagi. Awan hitam legam bergelut di atas langit menutupi matahari yang seharusnya bersinar di pagi ini.
Sayup-sayup Vivi membuka mata, lalu tersenyum pada sosok laki-laki yang terlihat tengah sibuk dengan laptop di hadapanya.
"Selamat pagi..!" Vivi menyapa sang suami.
"Tak usah basa basi, bangun dan segera siapkan sarapan untukku!" titah Bian tanpa menatap wajah sang istri sedikitpun.
"Baiklah."
Vivi tetap tersenyum, meski sambutan ramahnya di balas ketus oleh sang suami. Namun hal itu tak masalah baginya, karena Vivi yakin suatu saat nanti Bian akan berubah dan memperlakukanya layaknya seorang istri.
"Aku sudah berjanji, apapun yang akan terjadi pasti ku hadapi sekuat hati. Dia suamiku baik buruknya, aku harus menjaga kehormatanya di hadapan siapa pun terutama mama," ucap Vivi dalam hati dengan segenap ketulusan yang di milikinya.
___
Setelah mandi dan membersihkan diri, wanita cantik itu berlalu keruangan belakang untuk menyiapkan sarapan untuk Bian.
"Sayang," Amira tersenyum melihat anak kesayangan.
"Ohh aku lupa, mama kan tidur di sini," gumam Vivi dalam hati. "Pagi juga ma, maaf ya Vivi memang sering bangun terlambat, maklum pernikahan sedang dalam fase penuh kehangatan," ujarnya berbohong dengan senyum terpaksa.
"Tak masalah sayang, mama juga pernah muda, jadi paham sekali," jelas Amira pula.
Vivi tersenyum sendu. Andai si mama tau bahwa hidupnya tak sebahagia itu. Andai si mama tau Bian tak sekali pun melakukan kewajibanya sebagai seorang suami, andai dan selalu andai, pasti batin Amira tentu akan terluka dan kecewa, tapi Amira juga pasti akan lebih terluka jika mengetahui bahwa Vivi bukan mengandung anak dari laki-laki yang kini berstatus sebagai suami.
"Kau tak perlu menyiapkan sarapan, karena mama sudah memasak untuk kalian. Panggilah suamimu dan kita sarapan bersama," titah Amira pada anaknya.
Vivi mengangguk dan segera berlalu dari hadapan si mama, untuk mengajak sang suami sarapan bersama. Belum sempat Vivi melangkah, Bian ternyata sudah berada di belakang keduanya. Lagi-lagi, Bian mendengarkan bahwa Vivi tak sedikitpun menceritakan betapa tega dirinya selama ini.
"Aku rasa wajar dia selalu menjaga nama baikku di hadapan nyonya Amira. Sebab sama, aku juga telah melindungi dirinya agar mamanya tak tau betapa rendah kelakuanya selama ini," ucap Bian dalam hati seraya menatap wajah cantik Vivi yang tersenyum penuh harap.
.
.
.🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊.
kalo bisa coba di ubah jgn kasar SM wanita.
hmm cinta itu bukan hanya sekadar aku dan kamu namun bagaimana caranya agar aku dan kamu menjadi kita, bagaimana caranya agar aku dan kamu bukan lagi 2 melainkan 1, dan aku dan kamu apa lagi kak 😂😂😂😂😭😂
aku dan kamu dan kita selamanya gitu wae ya 🏃♀🏃♀
gak balas komen ini sombong
🛴😂💨💨💨💨