Hidup mati setiap Manusia sudah digariskan oleh sang pencipta, meskipun kita tahu kapan kita mati namun kita tidak akan pernah bisa menghindar darinya.
Apakah salah mencintai seseorang yang berbeda dengan kita. Meskipun nyawa taruhannya, semuanya akan ku lakukan demi mendapatkan cintamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
"Ada apa Lingga," bisik Singgih
"Tetaplah di tempat mu dan jangan bergerak," Lingga menarik nafas panjang dan memejamkan matanya.
"Rupanya aku kedatangan seorang tamu jauh," ucap Garra menyambut kedatangan Lingga.
"Saya yang seharusnya menyambut kedatangan Garra sang putra Iblis yang sangat ditakuti para Iblis dan lelembut," sahut Lingga
"Kau terlalu melebih-lebihkan Aki, aku ini manusia biasa sama seperti dirimu, jadi jangan berlebihan,"
"Kau memang anak manusia tapi darah iblis mu lebih dominan daripada darah manusia yang ada di tubuhmu," ujar Lingga
"Apa kau ke sini untuk mengusir ku?" tanya Garra
"Aku datang ke tempat ini hanya untuk menjenguk saudara ku yang sedang sakit," sahut Lingga
"Kau terlalu merendah Aki, kau tahu kan jika aku yang sudah membuatnya sekarat jadi jangan berbohong padaku, katakan saja jika kau ingin menuntut balas atas apa yang sudah aku lakukan padanya," ujar Garra
"Aku memang sedang mencari tahu siapa yang sudah membuat saudaraku itu terluka, syukurlah jika kau mau mengakui perbuatan mu, setidaknya itu bisa meringankan tugasku," sahut Lingga
"Dasar dukun brengsek, beraninya kau mengusikku!" Garra segera melesat menyerang Lingga
Lelaki itu terus melesatkan serangannya kearah Lingga hingga pemuda itu kewalahan menghadapinya.
"Anak ingusan seperti dirimu tidak akan bisa mengalahkan aku!" seru Garra melesatkan tendangannya kearah Lingga hingga pemuda itu terpental menghantam dinding kamar.
Sementara itu di tempat yang berbeda Rangga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Lingga putranya.
"Rupanya kau masih hidup dan sekarang bertambah dewasa Garra. Kekuatan mu semakin kuat dan bertambah meskipun ayahmu gagal mendapatkan tongkat sakti Ratu Iblis. Kau bahkan lebih kuat daripada Alexa. Kau bisa lebih jahat namun bisa juga sangat baik, tinggal siapa yang mengendalikannya," Rangga menyeruput kopi hitamnya dan kemudian duduk di tempat semedinya.
"Semoga Kidung ini bisa melemahkan kekuatannya,"
Ia mememajamkan matanya dan merapal mantra kidung Rumekso Ong Wengi.
Ana kidung rumekso ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
niwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami
guna duduk pan sirno
*Wuushh!!
Tiba-tiba sebuah angin kencang menghantam tubuh Garra saat akan melepaskan pukulannya kearah Lingga yang sudah tersungkur.
Sayup-sayup terdengar suara kidung bersenandung menyelimutinya ruangan itu membuat tubuh Garra tiba-tiba lunglai ke lantai.
"Kenapa tubuhku begitu lemah sekarang, apa kekuatanku menghilang karena alunan kidung itu," Garra mencoba bangkit namun tubuhnya begitu lemah hingga ia tidak bisa berdiri dengan tegap.
"Jika kau memang yang membuat Saudaraku terluka, maka kau harus menyembuhkannya dan membuatnya kembali seperti semula. Aku yakin dengan kekuatan yang kau miliki kau bisa menyembuhkannya," ujar Lingga menghampiri Garra
"Cih, kau pikir siapa dirimu, sehingga bisa menyuruhku, asal kau tahu ... aku tidak akan pernah menuruti perintah siapapun kecuali Aki Darno orang yang sudah merawat ku. Jadi jangan bermimpi aku akan menyembuhkan pecundang yang sudah menyakiti seorang wanita lemah itu," sahut Garra
Lelaki itu mengumpulkan kekuatannya ya g tersisa dan kemudian melesat mencekik leher Lingga hingga lelaki itu kesulitan bernafas.
"Lepaskan dia Om Garra!" seru Tiwi membuat Garra segera melepaskan tangannya dari leher Lingga
"Jangan pernah menyakiti orang lagi, sudah cukup kau membuat Kenan seperti ini. Lagipula lelaki itu tidak bersalah padamu jadi lepaskan dia!" imbuh Tiwi
"Tapi dia itu seorang dukun yang dikirim untuk menangkap ku," sahut Garra
"Aku tidak bermaksud menangkap mu,a mengurung mu apalagi menyakiti mu. Aku hanya ingin tahu siapa yang sudah membuat Saudaraku terluka dan meminta pertanggungjawaban mu untuk mengobatinya," ujar Lingga
"Aku tidak mau!" seru Garra
"Sudahlah Aki, lebih baik anda kembali saja, biar aku yang akan merawat Kenan," ucap Tiwi
"Kau juga lebih baik pergi dari tempat ini!" seru Tiwi
"Kenapa kau mengusirku!" cibir Garra
"Karena kau tidak akan membantu malah justru menggangguku!" sahut Tiwi dengan suara lantang,
"Aish dasar anak kecil sialan!" gerutu Garra kemudian menghilang dari hadapan Tiwi
Siapa gadis itu, kenapa dia begitu berani dengan Garra. Bahkan Garra juga mau mendengarkan ucapannya dan menuruti perintahnya.
Lingga segera kembali masuk kedalam raganya dan membuka matanya.
"Apa yang kau lihat Aki?" tanya Singgih
"Aku sudah tahu siapa yang membuat putramu seperti itu," jawab Lingga
"Syukurlah,"
Lingga berjalan masuk kedalam kamar dan melihat seorang gadis sedang membersihkan duduk di samping Kenan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
"Siapa dia?" tanya Lingga
"Dia Tiwi, kata teman-teman Kenan, gadis itu yang ada bersama Kenan saat dia mengalami kecelakaan itu. Ada yang bilang Tubuh Kenan terlempar sejauh satu kilo meter setelah mencoba melemparkan bola basket kearah wanita itu." terang Singgih
"Lalu kenapa dia ada disini?" tanya Lingga lagi
"Ada seorang sahabat ku yang menyarankan agar aku membawanya ke rumah ini agar bisa mempercepat kesembuhan Kenan," jawab Singgih
Lingga mendekati gadis itu dan menepuk pundaknya.
Lelaki itu bisa merasakan ada sesuatu dalam diri gadis itu.
"Kenapa kau masih disini?" tanya Tiwi menghentikan bacaannya.
Tatapan mata itu, memiliki kekuatan yang bisa menaklukkan para mahluk gaib dan lelembut, apa itu yang membuat Garra takluk padanya. Tapi tidak mungkin...Garra bukankah iblis atau sejenisnya dia adalah manusia setengah Iblis jadi mustahil takut dengannya. Tapi aura hitam di tubuh gadis itu bisa membunuh setiap pria yang mencintainya.
Lingga yang merasakan aura hitam dalam diri Tiwi segera mencoba menyingkap rambut panjang gadis itu agar bisa melihat bahunya.
*Plaaak!!
"Dasar kurang ajar, dukun cabul!" hardik Tiwi reflek menampar wajah Lingga ketika pria itu mencoba melihat bahunya.
"Astoge, Abang kena tampar," ujar Lingga memegangi pipinya
"Makannya jadi cowok itu yang sopan dong!" seru Tiwi
"Maaf neng kelepasan, Abang cuma penasaran dengan aura hitam yang menyelimuti tubuh mu, jadi Aku hanya ingin memastikan saja jika yang aku lihat itu benar," sahut Lingga
"Aku tahu kau seorang dukun, kalau kau ingin tahu toh yang ada di bahuku kau tinggal bilang baik-baik aku pasti akan menunjukkannya padamu dengan suka rela," sahut Tiwi menunjukkan tanda lahirnya.
Lingga benar-benar tertegun melihat tanda lahir berbentuk naga di punggung gadis itu.
"Jadi kau sudah tahu tanda lahir itu?" tanya Lingga
"Tentu saja, memangnya kenapa?" gadis itu balik bertanya
" Tidak papa, syukurlah kalau kau tahu makna toh di bahu mu itu,"
"Thanks atas perhatiannya," jawab Tiwi
"Kalau boleh tahu bisa kau ceritakan padaku bagaimana Kenan bisa mengalami kejadian yang membuatnya seperti itu?" selidik Lingga.
"Dia berusaha melemparkan bola basket kearah ku karena dia begitu membenci ku, tapi Garra datang dan melemparnya hingga membentur tiang ring basket," kenang Tiwi
"Apa Garra menyukaimu?" telisik Lingga
"Itu tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi, jadi jangan tanyakan itu lagi," sahut Tiwi
"Lalu kenapa dia marah ketika Kenan akan menyakiti mu?" tanya Lingga lagi
"Aish, kamu itu sebenarnya dukun apa penyidik polri sih, kepo amat?" cibir Tiwi
"Sebenarnya cita-cita ku menjadi tim penyidik POLRI, tapi apa daya nasib membawaku menjadi seorang dukun, jadi apa boleh buat," sahut Lingga
"Btw kita belum kenalan, ada yang bilang tak kenal maka tak gampar untuk itu supaya tidak kena gampar lagi, aku ingin memperkenalkan diri padamu, Aku Lingga, panggil saja Lee Minho," ucap Lingga mengulurkan tangannya
"Dih narsis, panggil saja Ling-Ling itu lebih pas," jawab Tiwi terkekeh
"Ling-Ling itu cewek, kalau cowok jadi Lee," sahut Lingga
"Ok Abang Lee, gue Tiwi," Tiwi menjabat tangan pemuda itu
"Jadi kenapa si Gaga marah saat Kenan melemparkan bola padamu?" tanya Lingga
"Hmmm, Gaga itu siapa?" tanya Tiwi
"Gaga ya si Garra,"
"Diih jangan ganti-ganti nama orang sembarangan, kalau dia marah bahaya!" sahut Tiwi
"Emang dia orang?" tanya Lingga
"Iyeh Abang dia bukan orang tapi manusia setengah demit, puas Lo!" cibir Tiwi membuat Lingga terkekeh
"Kuy lanjut jawab!" sahut Lingga
"Diih kepo, mau tahu aja apa mau tahu banget?" tanya Tiwi
"Banget-banget neng," sahut Lingga
"Tanya aja sendiri sama si orangnya, wkwkwk!" sahut Tiwi
"Dih Sue!" cibir Lingga