Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 Malam Pertemuan Rahasia
Pagi itu kamar Dewi terasa gelap dan berantakan. Tirai masih tertutup sementara suara notifikasi ponsel sejak tadi diabaikannya begitu saja. Jadwal latihan di campus sudah dimulai sejak satu jam lalu, namun Dewi bahkan belum berniat bangun dari tempat tidur.
Ia memeluk bantal sambil menatap kosong langit-langit kamar dengan wajah lelah.
Entah kenapa akhir-akhir ini pikirannya terasa penuh.
Tentang Ravin.
Tentang Juna.
Dan tentang dirinya sendiri.
Saat membalik tubuh malas, matanya tiba-tiba menangkap gaun merah yang tergantung rapi di dekat lemari.
Gaun pemberian Ravin.
Di meja sebelahnya juga masih ada bunga yang Ravin berikan saat ulang tahunnya beberapa waktu lalu. Meski beberapa kelopaknya mulai mengering, Dewi tetap belum membuangnya.
Dewi duduk perlahan sambil menatap dua benda itu cukup lama.
“Kenapa sih…” gumamnya lirih.
Ia sendiri tidak tahu sebenarnya hatinya mengarah ke mana.
Juna selalu hadir dengan cara yang tenang dan dewasa. Memberi perhatian tanpa memaksa, selalu ada saat dibutuhkan.
Namun Ravin…
Pria itu justru selalu membuat perasaannya kacau.
Dewi memegang kain gaun merah itu pelan sambil tersenyum kecil samar.
“Aku pengen kamu lihat aku nanti…”
Suara itu hampir seperti bisikan untuk dirinya sendiri.
Acara ballerina terbesar yang selama ini diimpikannya tinggal dua minggu lagi. Dan jauh di dalam hati kecilnya, Dewi ingin Ravin melihat penampilannya di atas panggung.
Ingin Ravin menyadari dirinya bersinar.
Namun setelah keadaan Ravin sekarang… Dewi bahkan tidak tahu apakah harapan itu masih ada.
Sementara itu di kerajaan, aula ritual utama dipenuhi suasana sakral dan sunyi. Asap dupa memenuhi udara sementara para pelayan dan pengawal berdiri rapi di sisi ruangan tanpa berani bersuara.
Di tengah aula, Yudra berdiri tegak mengenakan pakaian ritual putra mahkota berwarna hitam keemasan. Wajahnya tampak tenang, namun tatapannya kosong dan berat.
Di sisi lain aula, Ajeng muncul perlahan mengenakan pakaian khusus calon putri mahkota berlapis kain putih dan merah dengan hiasan emas di rambutnya. Langkahnya anggun namun terlihat gugup.
Di antara mereka terbentang kain merah panjang — simbol batas sebelum keduanya resmi dipersatukan kerajaan.
Tak jauh dari sana, raja dan ratu duduk di kursi kehormatan bersama orang tua Ajeng yang tampak tegang sekaligus bangga.
Ratu tersenyum puas melihat semua ritual akhirnya berjalan lancar setelah sempat tertunda beberapa hari.
“Ajeng terlihat sangat cocok menjadi calon putri mahkota,” ucap sang ratu pelan.
Ibu Ajeng menahan haru sambil menggenggam tangan suaminya erat.
Sementara itu cenayang kerajaan mulai berjalan memutari Yudra dan Ajeng perlahan sambil membawa lonceng kecil dan membacakan mantra kuno turun-temurun keluarga kerajaan.
Suara mantra bergema rendah memenuhi aula.
“Semoga roh leluhur merestui persatuan pewaris tahta…”
Asap dupa berputar pelan di udara menciptakan suasana mistis dan sakral.
Yudra tetap berdiri diam namun pikirannya terasa jauh dari tempat itu. Sesekali matanya tanpa sadar mengingat wajah Arum.
Sedangkan Ajeng menundukkan pandangan berusaha mengikuti semua tata cara dengan sempurna meski jantungnya berdegup gugup.
Setelah mantra selesai, cenayang kerajaan berhenti di tengah aula lalu berkata tegas,
“Calon putri mahkota, beri hormat pada pewaris kerajaan.”
Ajeng perlahan berlutut anggun di hadapan Yudra sambil menundukkan kepala hormat sesuai tradisi kerajaan.
Untuk sesaat suasana aula benar-benar hening.
Dan pada detik itu, semua orang sadar bahwa Ajeng kini benar-benar telah memasuki kehidupan istana.
Setelah ritual selesai, beberapa pelayan kerajaan langsung mendekati Ajeng untuk mengantarnya menuju kediaman khusus calon putri mahkota.
Mulai malam ini ia harus tinggal di istana.
Belajar etika kerajaan.
Tata cara berbicara.
Aturan keluarga kerajaan.
Dan semua hal yang harus dimiliki seorang calon ratu.
Ibu Ajeng langsung memeluk putrinya erat dengan mata berkaca-kaca.
“Ibu bangga padamu,” bisiknya lirih sambil menahan tangis.
Ajeng membalas pelukan itu pelan meski wajahnya sendiri tampak campur aduk.
Bahagia.
Takut.
Dan asing.
Sementara Yudra hanya memandang semua itu dari kejauhan dengan hati semakin berat, seolah dirinya sedang berjalan menuju kehidupan yang tidak pernah benar-benar ia pilih sendiri.
Malam mulai turun perlahan menyelimuti rumah keluarga Arum dengan suasana hangat dan tenang. Setelah cukup lama duduk di taman belakang, Arum kembali menoleh ke arah Ravin dengan rasa penasaran yang sejak tadi belum hilang.
“Jadi sebenarnya bagaimana keadaan istana?” tanyanya pelan. “Dan putra mahkota?”
Ravin yang tadi terlihat santai langsung diam beberapa detik.
Bayangan percakapannya dengan Yudra kembali muncul jelas di kepalanya.
Tentang Yudra yang masih menginginkan Arum.
Tentang pernikahannya dengan Ajeng.
Dan tentang sikapnya yang menurut Ravin terlalu pengecut untuk melawan kerajaan namun masih berharap dicintai Arum.
Namun Ravin menahan semua itu.
Kalau Arum tahu kenyataannya, gadis itu pasti akan terluka lagi.
Karena itu Ravin hanya mendecakkan lidah malas lalu bersandar santai di kursinya.
“Istana itu benar-benar membosankan.”
Arum mengernyit bingung.
“Membosankan?”
“Iya.” Ravin mulai mengarang dengan wajah serius. “Isinya cuma orang-orang tua formal yang ngomong soal aturan kerajaan dari pagi sampai malam.”
Arum tertawa kecil.
“Berlebihan.”
“Aku serius.” Ravin menunjuk dirinya sendiri dramatis. “Aku hampir tertidur berdiri waktu mereka mulai bahas tata krama kerajaan.”
Arum langsung tertawa lebih lepas mendengarnya. Wajahnya yang sejak tadi sedikit tegang akhirnya terlihat jauh lebih ringan.
“Kalau begitu kenapa semua orang ingin tinggal di istana?”
“Karena mereka belum pernah mencobanya.”
Jawaban cepat Ravin membuat Arum menggeleng geli sambil tersenyum kecil. Ia benar-benar percaya begitu saja pada cerita Ravin tanpa tahu ada banyak hal yang disembunyikan pria itu darinya.
Ravin diam-diam memandang wajah Arum sesaat.
Baginya lebih baik Arum menganggap istana membosankan daripada mengetahui bahwa pria yang dicintainya masih memikirkannya sambil menjalani ritual pernikahan dengan adiknya sendiri.
Tiba-tiba Arum berdiri semangat.
“Ayo ikut aku.”
Tanpa menunggu jawaban, Arum langsung menarik tangan Ravin menuju halaman depan rumah. Begitu sampai di bawah pohon besar dekat gerbang, Ravin sedikit tertegun.
Beberapa lampion kecil tergantung indah di dahan pohon. Cahaya hangat mulai menyala lembut seiring malam yang semakin gelap.
Angin membuat lampion-lampion itu bergoyang pelan, menciptakan suasana damai dan cantik.
“Kemarin aku pergi ke pasar sama ibu,” jelas Arum sambil tersenyum senang. “Katanya hari ini hari baik untuk menggantung lampion harapan.”
Ravin memperhatikan tulisan kecil yang tergantung di bawah setiap lampion.
“Kamu juga bikin?”
Arum langsung menunjuk salah satu lampion merah muda yang tergantung cukup tinggi.
“Itu punyaku.”
Ravin menyipitkan mata penasaran. “Tulis apa?”
Arum langsung memalingkan wajah sambil menahan senyum jahil.
“Rahasia.”
Ravin langsung protes. “Hah? Kenapa?”
“Karena kalau harapannya dikasih tahu sebelum terkabul nanti nggak jadi nyata.”
Ravin mendecakkan lidah kesal lalu mencoba mendekat ingin membaca tulisan kecil di lampion itu, namun Arum cepat-cepat menghalanginya.
“Nggak boleh!”
“Sedikit saja.”
“Tidak.”
“Petunjuk?”
Arum malah tertawa kecil sambil menyilangkan tangan bangga. “Lampionnya sudah digantung. Sekarang kamu nggak akan bisa baca.”
Ravin memandang lampion itu dengan wajah makin bete.
Entah kenapa dirinya benar-benar penasaran.
Dan lebih menyebalkannya lagi, Ravin curiga isi harapan itu pasti masih berhubungan dengan putra mahkota.
Sementara Arum diam-diam memperhatikan Ravin yang kesal sendiri lalu tersenyum kecil menahan geli.
Padahal untuk pertama kalinya… harapan yang ditulisnya malam itu bukan tentang Yudra.
Malam di kediaman Selir Ratih terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Hujan rintik turun pelan di luar paviliun sementara cahaya lilin menari samar di dalam ruangan. Selir Ratih duduk tenang dengan wajah lelah setelah seharian memikirkan keadaan Aruna yang baru kembali.
Namun ketenangan itu perlahan menghilang saat seorang tamu datang diam-diam tanpa pengawal kerajaan.
Tamu itu adalah cenayang istana.
Wanita tua berpakaian gelap itu masuk perlahan sambil membawa lonceng kecil dan aroma dupa yang samar. Begitu pintu tertutup rapat, wajah Selir Ratih langsung berubah serius.
“Ada apa sampai kau datang malam-malam seperti ini?” tanyanya pelan.
Cenayang itu terdiam sesaat sebelum akhirnya berkata rendah,
“Pangeran Aruna harus pergi sebelum pernikahan putra mahkota berlangsung.”
Selir Ratih langsung membeku.
“Apa?”
Tatapan cenayang terlihat berat seolah dirinya sendiri enggan mengatakan itu.
“Aku sudah menunda pernikahan sejauh mungkin.” Suaranya pelan. “Aku mengatakan pada raja bahwa malam bulan sabit satu bulan lagi adalah waktu terbaik menurut leluhur.”
Selir Ratih menggenggam tangannya kuat.
“Kenapa Aruna harus pergi lagi?” suaranya mulai bergetar. “Dia baru kembali.”
Hujan di luar terdengar semakin jelas mengiringi suasana yang menyesakkan.
Selir Ratih memandang cenayang dengan mata penuh rasa lelah yang selama ini dipendam.
“Sejak dulu aku sudah memberikan segalanya…” bisiknya pelan. “Posisi ratu… harga diriku… semuanya.”
Matanya mulai memerah.
“Kenapa mereka masih terus mengusik aku dan putraku?”
Cenayang itu menundukkan kepala sesaat.
“Aku tidak bisa membantu lebih jauh.”
“Kenapa?”
“Karena aku adalah cenayang istana.” Tatapannya perlahan mengarah ke luar jendela istana jauh di kejauhan. “Dan semua kekuasaan itu ada di tangan ratu.”
Ruangan kembali hening.
“Beliaulah yang memberiku posisi ini,” lanjut cenayang lirih. “Aku tidak bisa melawan terlalu jauh.”
Selir Ratih menutup matanya sesaat menahan sesak di dada. Bahkan sekarang pun hidup mereka masih berada di bawah bayang-bayang ratu.
Tak lama kemudian suara langkah lain terdengar mendekat.
Ayah Arum masuk ke ruangan itu dengan wajah serius namun tenang seperti sudah terbiasa datang diam-diam ke tempat itu. Tidak ada rasa canggung di antara mereka bertiga. Pertemuan seperti ini ternyata sudah sering terjadi bertahun-tahun tanpa diketahui siapa pun di istana.
“Bagaimana keadaan pangeran?” tanyanya pelan pada Selir Ratih.
“Aruna baik-baik saja,” jawab Selir Ratih lirih.
Ayah Arum lalu menatap cenayang.
“Lalu tentang Arum?”
Cenayang terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata,
“Kembalinya Arum dan Aruna… berada di luar dugaan.”
Ayah Arum langsung menghela napas berat.
“Jadi benar…”
Tatapan pria itu perlahan melemah penuh kelelahan seorang ayah.
“Aku tidak rela putriku menjadi cenayang.”
Suasana mendadak semakin sunyi.
Selir Ratih memandangnya perlahan memahami rasa sakit itu.
“Ajeng sudah akan menjadi putri mahkota,” lanjut ayah Arum dengan suara rendah. “Dan sekarang Arum harus hidup sebagai cenayang seumur hidup?”
Tangannya mengepal pelan.
“Aku tidak ingin kedua anakku berakhir sebagai alat kerajaan.”
Cenayang memejamkan mata sesaat mendengar itu.
“Tapi jika Nona Arum menjadi cenayang…” katanya pelan, “dia bisa melindungi dirinya sendiri.”
Ayah Arum tertawa kecil pahit.
“Melindungi diri?”
Tatapannya penuh rasa kecewa dan lelah.
“Itu tetap sama saja.” Suaranya mulai berat. “Menjadi boneka istana. Menjadi alat ratu.”
Hening.
Hanya suara hujan yang tersisa di antara mereka.
Untuk pertama kalinya Selir Ratih menyadari bahwa mereka semua sebenarnya sama.
Orang-orang yang hidup di bawah kekuasaan istana.
Dipaksa menyerahkan kebahagiaan, anak, bahkan hidup mereka demi mempertahankan tahta kerajaan.