Pernikahan yang dilakukan Oleh Vino Syahputra Pratama dengan Sisilia Eka Dwiyatno adalah pernikahan berdasarkan perjanjian dan juga penawaran yang diajukan oleh Vino kepada Sisil untuk menghindari perjodohan yang direncanakan oleh papanya itu.
Sisil yang sangat Frustasi dengan apa yang telah dilakukan oleh papanya itu. Dia mengaku sangat tidak menyukai dengan apa yang telah direncanakan oleh papanya itu.
Sisil menjadi sangat bingung, karena disisi lain dia masih memiliki seorang kekasih yang masih sangat disayanginya.
Akan tetapi, karena sesuatu hal Kekasihnya yang bernama Dito itu melarikan diri. Dia tidak berani bertemu dengan kedua orang tua Sisil. Sebagai syarat dari papanya, perjodohan akan dibatalkan apabila Sisil membawa pacar atau calon suami kerumah untuk diperkenalkan kepada mereka.
Sisil yang sedang melamun dirumah sahabatnya itu. Tiba - Tiba saja datang seseorang yang menghampirinya. Dia tahu semua permasalahan yang sedang dihadapi oleh sahabat adiknya tersebut.
Maka dari itu, Vino mencoba membuat penawaran kepadanya. Melalui perjanjian pernikahan dengan syarat dan ketentuan yang telah dia buat.
Akankah Sisil menerima penawaran itu?
Atau dia menerima perjodohan yang direncanakan oleh papanya itu?
Dan akankah Dito kekasihnya itu kembali kepadanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Windu Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Denganmu...
Disinilah mereka untuk janjian bertemu. Mungkin setelah sekian lama mereka berdua tidak bertemu. Sisil tampak sedikit canggung melihat seseorang yang ada dihadapannya ini.
Ya..dia hari ini bertemu dengan Dito mantan kekasihnya dulu. Dia juga tidak bilang dengan suaminya kalau hari ini akan bertemu dengan laki - laki itu.
"Apa kabar Sil?" Sapa Dito kepada Sisil yang masih saja menatap laki - laki itu dengan penuh tanya.
"Seperti yang kamu lihat! aku baik - baik saja. Aku pun sudah menikah dengan laki - laki yang sangat aku CINTAI!" Sisil berkata dengan sedikit bergetar. Dia menekankan kata Cinta diucapannya tadi. Dito tampak tersenyum miris mendengarnya.
"Baguslah kalau memang kamu bahagia saat ini. Tapi, kalau memang kamu tidak bahagia aku akan datang menjemputmu!" Ucap Dito tegas memalingkan wajahnya.
"Kamu sendiri? apa yang kamu lakukan selama kamu bersembunyi? dan tujuan kamu apa menculik Virgin dulu?" Rentetan pertanyaan diajukan Sisil yang memang sudah sedikit geram melihat laki - laki yang ada didepannya. Seperti tidak merasa bersalah sedikitpun.
Laki - laki itu hanya sedikit tertawa mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Sisil barusan. Dia lalu berdiri dan berpindah duduk menjadi disamping wanita tersebut.
Dito memegang tangan Sisil. Dia lalu melihat wajah mantan kekasihnya itu dengan sangat lembut.
"Kamu tahu? aku sama sekali tidak merasa bersalah kepadamu ataupun Virgin. Dan mengenai tindakan aku yang menculik temanmu sudah aku jelaskan alasannya kepada sahabatmu itu. Ohh..salah maksudnya adik iparmu sekarang ini!" Ejek Dito kepada Sisil. Yang membuat Wanita itu sedikit berdecak kesal lalu menghempaskan tangan laki - laki itu dan sedikit menggeser bangkunya.
"Sekarang jawab saja pertanyaanku! kemana saja kamu selama ini? bersembunyi dimana kamu!" Ucap Sisil dengan sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Tenang Sil..aku selama ini tidak bersembunyi kok? aku juga ada urusan penting yang tidak bisa aku bicarakan kepadamu saat ini!" Dito kembali menggeser duduknya agar bisa lebih dekat dengan wanita itu. Dia berkata dengan sangat lembut. Memang pada dasarnya Dito adalah laki - laki yang ramah dan tidak kasar terhadap wanita. Apalagi wanita yang dia cintai.
"Kamu tahu selama ini aku mencarimu? ketika aku sedang membutuhkanmu. Tapi, kamu tidak ada dan menghilang begitu saja." Sisil sudah tidak mampu lagi menahan airmatanya. Dia sudah menangis menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dito yang melihat itu tidak tahan dan langsung membawa Sisil kedalam pelukannya.
Mereka berdua tidak tahu, kalau ada seseorang yang berusaha terus memfoto semua pertemuan mereka hari ini. Entah siapa itu yang melakukannya?
Sisil masih menangis didalam dekapan Dito. Dia masih tidak menyangka bisa bertemu dengan laki - laki yang dirindukannya. Dia sendiri lupa kalau sudah mempunyai suami. Ketika tersadar, Sisil dengan segera melepaskan pelukannya dari Dito.
"Maaf Dito? sepertinya kita tidak bisa seperti ini. Aku sekarang sudah mempunyai suami, kamu tahu itu kan?" Ucap Sisil lalu seketika beranjak dari duduknya.
"Aku juga mau, ini terakhir kalinya kita bertemu! aku sudah cukup berbicara denganmu. Dan melihat dirimu yang baik - baik saja itu sudah cukup buat diriku!" Sisil mengulurkan tangannya. Dia ingin menjabat tangan untuk salam perpisahan kepada Dito.
Dito melihat uluran tangan wanita itu. Lalu dia tersenyum dengan lembut kepada wanita itu.
"Apakah ini artinya kita sudah benar - benar berpisah? sudah tidak ada lagikah tempat dihatimu buat diriku?" Dito berkata dengan lirih. Dia masih berharap bisa sedikit memiliki ruang dihati Sisil.
"Maaf Dito! sudah tidak ada ruang lagi dihatiku untukmu. Aku sudah bahagia sekarang bersama dengan laki - laki yang aku cintai!" Sisil membalikkan badannya dan beranjak pergi meninggalkan laki - laki itu sendiri. Dia mengusap air matanya yang lolos begitu saja.
'Maafkan aku Dito...maafkan aku!' Bathin Sisil, sambil memegang dadanya yang begitu sesak. Seketika dia juga menjadi pusing dan dengan sekuat tenaga dia menahannya. Lalu berjalan menuju taksi online yang sudah menunggunya sedari tadi.
Didalam perjalanan menuju apartemennya Sisil hanya terdiam. Dia masih memikirkan semua yang diucapkan oleh mantan kekasihnya. Sisil sampai lupa kalau dia belum meminta izin kepada suaminya untuk bertemu Dito hari ini. Dia juga berharap semoga saja Vino tidak mengetahui kalau dirinya janjian bertemu dengan laki - laki itu.
Sesampainya di apartemen Sisil langsung berjalan menuju kamarnya. Dia sedikit terkejut ketika melihat seseorang duduk disofa ruang tamunya.
"Honey...kamu sudah pulang?" Tanya Sisil dengan sedikit gugup. Melihat Vino yang duduk dengan raut wajah yang sangat muram.
"Kenapa kamu sangat terkejut begitu melihatku sayang? kamu habis darimana? kenapa telepon mu tidak aktif?" Ucap Vino dengan berjalan menghampiri istrinya yang masih terdiam didekat pintu. Sisil langsung mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Maaf honey, ponselku kehabisan daya?" Sisil menunjukkan ponselnya kepada suaminya itu.
"Ya sudah, lain kali kamu harus memberi kabar kepadaku. Kalau kamu berada diluar? aku hanya takut terjadi sesuatu kepadamu saja." Vino berkata dengan lembut dan membawa Sisil duduk disofa ruang tamu apartemen mereka.
Sebenarnya Vino sudah mengetahui Sisil hari ini bertemu dengan Dito. Akan tetapi, dia ingin agar istrinya sendiri yang berbicara jujur kepadanya. Dia hanya berpura - pura saja tidak mengetahui semua kegiatan yang dilakukan istrinya itu.
"Honey, ada yang ingin aku katakan?" Sisil memegang lengan Vino menahannya untuk tetap berada disampingnya.
"Katakanlah! apa yang ingin kamu bicarakan kepadaku?" Ucap Vino dengan lembut. Masih mencoba untuk menahan amarahnya. Karena dia sendiri melihat foto istrinya ketika bertemu dengan mantannya tadi.
"Aku tadi bertemu dengan Dito? maaf kalau sebelumnya tidak izin kepadamu." Ucap Sisil lirih. Dia begitu sangat takut kepada Vino yang akan marah kepadanya.
"Terus? sekarang apakah sudah selesai antara kamu dan dia?" Tanya Vino dengan selidik. Dia hanya ingin mencoba memberi kesempatan kepada Sisil untuk menyelesaikan masalah diantara mereka yang sepertinya belum selesai.
" Sudah!!. Tegasnya. "Sekarang sudah jelas semuanya. Dan sekali aku meminta maaf kepadamu. kamu tidak marahkan kepadaku?" Tanya Sisil dengan ragu dengan wajah yang sedikit memohon.
"Bagaiamana aku bisa marah kepadamu??Toh, kamu juga sudah bertemu dengannya. Yang harus aku lakukan sekarang adalah memberimu hukuman karena tidak meminta izin kepadaku terlebih dahulu untuk bertemu mantanmu itu." Ucap Vino dengan menggendong istrinya masuk kedalam kamarnya.
Dia membawa istrinya masuk kedalam kamar. Mereka membersihkan diri sebelumnya dan melanjutkan dengan makan malam bersama.
Pada saat makan malam, ada sesuatu yang bergejolak didalam perut Sisil yang dia sendiri tidak mengetahuinya. Begitu menghirup aroma masakan yang dibuatkan oleh suaminya itu. Seketika rasa mual dan pusing dikepalanya langsung menyerangnya bersamaan.
"Hoekkk...hoekkk...hoekk...." Sisil memegang perutnya dan memuntahkan semua isi didalam perutnya. Dia juga memegang kepalanya yang seketika pusing.
Vino yang melihat istrinya berlari kekamar mandi dan muntah - muntah itu seketika menjadi bingung. Dia juga sangat khawatir kalau istrinya itu sakit.
"Sayang, sebaiknya kita pergi kerumah sakit saja ya?" Vino masih mengusap punggung istrinya itu. Setelah dia mematikan kompor yang menyala didapur tadi.
"Tidak honey! aku hanya butuh istirahat saja. Aku juga ingin dibuatkan teh hangat dengan sedikit perasan lemon sayang?" Sisil berbicara dengan lirih. Lalu dia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ranjangnya.
"Baik. Aku akan buatkan teh hangat untukmu. Sekarang kamu istirahat saja dulu ya?" Vino membaringkan Sisil diatas ranjang dengan menarik selimut sampai keleher istrinya.
Vino keluar dari kamarnya, sambil membuatkan teh pesanan istrinya itu. Dia juga menghubungi dokter Anita. Dia membicarakan semuanya kepada dokter Anita. Wanita itu menyuruh Vino untuk mencoba membeli alat tes kehamilan diapotek.
Setelah memberikan Sisil teh hangat. Vino izin keluar kepada istrinya itu. Dia akan ke apotek bawah yang ada diapartemennya.
"Selamat malam mas. Ada yang bisa saya bantu?" Ucap sang penjaga apotek kepada Vino.
"Saya butuh alat tes kehamilan. Tolong berikan beberapa kepada saya ya?" Ucap Vino dengan sedikit bingung dengan namanya.
"Maksud mas nya, Testpeck ?" Jawab sang penjaga yang melihat Vino bingung mengucapkannya.
"Ya betul itu!" Ucap Vino dengan menganggukkan kepalanya.
"Sebentar ya mas, saya akan ambilkan dahulu yang bagus! Ini ada beberapa yang bagus dan akurat." Ucap sang penjaga sambil menyodorkan beberapa merk testpeck dengan berbagai merk ternama.
"Baik mba. Saya ambil semua saja. Biar nanti bisa dipakai oleh istri saya." Vino berkata dengan sedikit tersenyum. Jujur saja dia begitu sangat bingung ketika diperlihatkan alat tes kehamilan itu. Pada Akhirnya dia mengambil semuanya.
"Terimakasih ya mas." Ucap sang penjaga dengan tersenyum manis. Yang melihat Vino begitu terpesona karena tampan.
Vino keluar dari apotek dan kembali menghubungi temannya itu. Untuk memberitahu bagaimana cara memakainya. Dan juga waktu yang pas untuk menggunakannya.
Begitu dia menutup teleponnya. Dia dengan sangat senang dan bahagia menuju kekamar apartemennya. Dia berharap semoga saja Vino junior sudah ada saat ini.
Ketika dia sampai dikamar. Dia melihat istrinya sudah tertidur pulas. Laki - laki itu juga tersenyum melihat teh buatannya tinggal setengah cangkir. Biasanya istrinya tidak begitu menyukai teh. Tapi, sekarang dia meminumnya sampai setengah cangkir. Vino membereskan cangkir teh yang dia taruh diatas nakas itu sebelum dirinya ikut tertidur disamping istrinya.
Dia tidur sambil memeluk tubuh mungil istrinya itu. Laki - laki itu beberapa kali mengusap perut rata istrinya. Dia juga berbicara sendiri seolah sudah benar ada bayi didalam perut istrinya. Lalu mencium perut istrinya sebelum akhirnya dia sendiri tertidur dengan sangat pulas malam ini.
*Happy Reading*
Jangan lupa untuk like dan komentar yak..
Agar aku tahu kalau kalian menunggu update novelku ini😉