Setelah menyegel Bangsa Yao, bangsa pembawa kerusakan dan kehancuran. Dunia memulai lembaran dari nol kembali. Lambat laun kisah-kisah menjadi sejarah. Sejarah menjadi legenda. Hingga akhirnya dilupakan...
Tentang perjalanan seorang pemuda menuju tahta tertinggi.
***
Pak Tua Shi menangis. Ini adalah air suci. Air yang mampu membuat siapapun mengubah gubuk reyot menjadi halaman immortal.
Airnya mengalir dan meresap ke tanah, terbuang sia-sia.
Ini sangat langka dan ternilai harganya.
Ini tidak ada di dunia ini.
Ini akan menjadi rebutan para bigshot di seluruh dunia.
Ini akan membuat sekte ampas menjadi penguasa semesta.
Untuk mandi .... Hanya untuk mandi ...
Pak Tua Shi pingsan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Night Lily
Li Hua berjalan dengan membawa tumpukan belanjaan yang sangat banyak. Mao Yu membeli setelan hitam, sepatu, aksesori, bahkan poci keramik dan vas bunga dalam jumlah besar.
Mao Yu sengaja tidak memasukkan semuanya ke dalam cincinnya, membuat Li Hua menderita. Pejalan kaki yang melihat pemandangan itu hanya bisa menggelengkan kepala. Betapa kontrasnya tuan dan budak ini; satu sombong dan berkuasa, yang lain menderita.
"Ini lucu sekali..." Mao Yu melihat seekor kura-kura hijau kecil di sebuah lapak ikan hias. Kura-kura itu satu-satunya yang dijual.
"Ini adalah keturunan bagua langit sejati!" kata penjualnya, bersemangat.
"Tuan Muda memiliki mata yang bagus!" Penjual itu membesar-besarkan cerita, berharap Mao Yu tertarik.
"Bagua apaan? Kura-kura tetaplah kura-kura," timpal Mao Yu, mengernyit.
Penjual itu terkekeh malu. "Hehe..."
"Baiklah, karena Tuan Muda hari ini sedang baik hati, aku beli kura-kura ini," putus Mao Yu.
Li Hua, yang mulutnya sudah terbuka, tidak sempat berkata apa-apa. Ia sudah memikul banyak barang, sekarang ditambah seember air berisi kura-kura. Punggungnya terasa remuk.
"Li Hua, pimpin jalan ke Guild Dagang Night Lily!" instruksi Mao Yu.
"Siap, Tuan Muda," jawab Li Hua, terengah-engah.
Mereka tiba di sebuah bangunan tinggi dan spektakuler. Di pintu masuk, sebuah plat logam bertinta emas bertuliskan "Guild Dagang Night Lily". Patung naga dan kirin dari giok menghiasi pintu, menunjukkan betapa bergengsinya guild itu.
Begitu masuk, Mao Yu dan Li Hua langsung menarik perhatian. Beberapa perempuan pengunjung merasa Mao Yu norak, berbelanja heboh seperti itu.
Di lounge VIP guild, sepasang mata menatap Mao Yu. Seorang wanita cantik berbalut busana putih mengunci pandangannya pada Mao Yu. Namun, sesaat kemudian, wanita itu membuang muka, kembali bercengkerama dengan kelompoknya, seolah Mao Yu hanyalah lalat yang melintas.
"Li Hua, kamu tahu siapa perempuan itu?" tanya Mao Yu.
"Tentu. Dia adalah Xin Feng, tunangan Mo Tian. Dia berasal dari Klan Xin, klan terkemuka di ibu kota pusat. Dia putri kelima patriark Klan Xin," jelas Li Hua.
"Ngomong-ngomong, apakah Tuan Muda berhasrat pada keindahan Klan Xin itu?" goda Li Hua.
"Tentu," jawab Mao Yu ketus,
"Aku sangat berhasrat dia menjadi kompos untuk menyuburkan tanaman-tanamanku."
Li Hua: "???"
Seorang pelayan wanita manis menyapa mereka. "Tuan, ada yang bisa kami bantu? Kami menyediakan yang terbaik untuk pelanggan kami."
"Bawa aku ke gudang persenjataan," kata Mao Yu.
"Baik, Tuan. Silakan ikuti Ling-er!" Gadis pelayan itu memperkenalkan diri dan memimpin jalan.
Mao Yu melebarkan persepsi jiwanya ke seluruh bangunan. Ia melihat struktur 9 lantai dan 3 lantai bawah tanah. Ia menghafal letak setiap kamar dan isinya, lalu tersenyum lebar.
Li Hua, yang melihat senyum itu, sudah hafal dengan Tuan Mudanya. Ia tahu pasti ada hal buruk yang akan terjadi.
Mereka tiba di lantai empat, di ruang persenjataan elit. Li Hua menelan ludah melihat pedang, tombak, dan zirah berkualitas tinggi.
"Silakan, Tuan Muda, pilih!" Ling-er berkata bangga.
"Beri aku tongkat Jo dari kayu terbaik, satu lagi dari metal yang ringan dan kuat, dan satu belati ini!" Mao Yu menunjuk tanpa banyak melihat, persepsi jiwanya sudah cukup untuk mengetahui segalanya. Ia memilih tongkat Jo sepanjang 120 cm dan belati melengkung 30 cm yang mirip cakar harimau.
"B-baik..." Ling-er tergagap. Ia tidak menyangka pelanggannya secepat ini memilih.
"Semua bernilai 500 koin emas!" Ling-er berkata ragu, takut Mao Yu akan menolak.
"Bungkus!" Mao Yu melambaikan tangan, langsung menuju kasir. Ling-er tersenyum bahagia, membayangkan komisi besar yang akan didapatnya.
Mao Yu melemparkan 500 koin emas ke meja kasir, lalu memerintahkan Li Hua untuk membawa senjata yang baru dibeli. Mereka segera meninggalkan Night Lily menuju Paviliun Shen.
Sesampainya di kediaman, Mao Yu menyuruh Li Hua beristirahat di kamarnya.
Tumpukan belanjaan memenuhi kamar Mao Yu. Ia bahagia. Ia melirik cincin penyimpanan; masih tersisa 2.000 koin emas. "Masih banyak. Kurasa belanjaku cukup, ke depan aku akan lebih berhemat," janjinya pada diri sendiri.
Pandangannya beralih ke ember berisi kura-kura hijau kecil.
"Hmm... Anak kecil, mari Tuan Muda beri nama untukmu," katanya. Ia memasukkan jari telunjuknya ke air, menekan kepala kura-kura itu saat mencoba ke permukaan, berulang kali.
"Oke, namanya Little Tan!" putus Mao Yu, tertawa lepas.
Ia membawa Little Tan ke kolam di pekarangan kamarnya. Sebelum melepaskannya, ia berkonsentrasi, mengedarkan seluruh metode Karapas Jiwa hingga puncak kekuatannya.
JELEGURRRR......
Di padang pasir yang luas, sebuah ledakan dahsyat terjadi. Badai pasir dan tornado melanda. Seekor kura-kura raksasa muncul dari dalam tanah, menopang langit.
Pakaian Mao Yu berkibar-kibar. "Hamba...!" Kura-kura raksasa itu membuka mulut, tapi Mao Yu memotongnya.
"Tan-Tan Kecil, beri salam ke kakekmu!" Mao Yu berbicara pada kura-kura kecil di tangannya.
Melihat kura-kura sebesar gunung di depannya, Little Tan kecil segera menarik kepala, empat kaki, dan ekornya ke dalam cangkang.
Kura-kura raksasa: "???"
koneksi dr 1 plot ke yg lain sangat anu...
lanjouts.
pejalanan mencari kitab suci..?
lanjouts..