Yogyakarta selalu menjadi saksi hubungan percintaan seorang gadis bernama Clara Audra.
Perbedaan keyakinan, restu orangtua, dan perselingkuhan mewarnai perjalanan cintanya.
Kini hatinya tertambat pada sahabatnya sendiri, seorang arsitek tampan bernama Daniel Ararya.
Namun, masa lalu Ararya yang selalu hadir di tengah hubungan mereka, membuat Clara menaruh keraguan dengan apa yang telah ia jalani selama ini.
Gagalnya rencana pernikahan Ayu (sahabat perempuannya) karena sebuah perselingkuhan, juga menjadikan Clara semakin ragu untuk melangkah maju di detik-detik menuju pernikahannya dengan Ararya.
Akankah Ararya mampu meyakinkan hati Clara untuk sepenuhnya menerima dirinya menjadi pasangan hidup?
Ataukah Ararya akan kembali kepada masa lalunya dan menorehkan luka yang sama pada hati seorang Clara Audra?
Kisah ini diangkat berdasarkan dari beberapa kisah nyata serta dari beberapa sudut pandang yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon margaretha.chi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan
"Surprise ! Happy Birthday Cla.." suara Ayu tiba-tiba terpotong dan terabang terbawa angin, entah angin apa dan terbang ke mana.
Matanya tiba-tiba melotot pada pemandangan yang disuguhkan di hadapannya.
"Wooowww..woww..wooww..waah sorii..soriii..lain kali tutup dulu dong pintunya.." ucap Ardhana yang langsung menyelonong masuk ke rumah itu.
Dua insan yang menjadi pemandangan itu, seketika langsung bangkit dari posisinya, menyadari bahwa ini pasti akan menjadi bencana.
Rasanya seperti digerebek satu RT mungkin. Ini gila sih..pasalnya sahabat-sahabatnya itu masih belum mengetahui apa yang terjadi di antara mereka.
Mereka langsung salah tingkah Clara hanya mampu menggigit bibirnya dan sesekali menelan salivanya.
Arya cenderung lebih santai, walaupun sebenarnya ia juga gugup, ia lebih memilih membenahi rambutnya,lalu menggaruk tengkuknya yang padahal tidak gatal.
Lilin ulang tahun yang seharusnya mati karena ditiup oleh Clara, sekarang sudah mati,mungkin karena tertiup angin.
Sahabat-sahabat mereka semua sudah duduk di hadapannya dengan tatapan meminta penjelasan dari apa yang tadi mereka lihat.
Clara melihat satu persatu dari mereka, ada Mas Ardhana dan Greesa, ada Ayu dan Bagas, dan juga Rendra. Hanya ada satu tatapan yang paling panas, itu tatapan Rendra. Lalu ia kembali menunduk, sambil meremas-remas jarinya.
"Jangan gitu dong lihatnya, aku kan jadi takut.." ucap Clara yang akhirnya dihiasi dengan air mata yang sudah tidak mampu ia bendung lagi.
"Lhoohh..lhoohh dek..kok nangis." Ardhana sudah bingung kalau melihat Clara menangis.
"Kita kan nggak ngapa-ngapain kamu" imbuhnya lagi.
"Yang..udah jujur aja sekarang ya..biar aku yang jelasin.."ucap Arya sambil mengelus punggungnya.
"Yang?? Jujur?? Ini gimana sih?" Ayu masih paling tak mengerti, pasalnya Clara sama sekali nggak pernah menceritakan tentang kisahnya dengan Arya, padahal ia sahabat cewek satu-satunya di situ.
Arya menarik nafas dalam, lalu membuangnya kasar.
"Okay..! Jadi gini, aku sama Clara sebenernya udah jadian. Dan apa yang kalian lihat tadi ya emang seperti apa yang kalian bayangkan. Kita sih bukannya menutupi, tapi emang belum sempat cerita aja." jelas Arya yang malah mendapat cubitan di pahanya dari Clara.
"Aduh..! Kok dicubit sih?!" desisnya sambil melirik Clara.
"Ya nggak usah pakai dijelasin sesuai dengan yang kalian bayangkan, iya kalau mereka bayanginnya benar." gerutu Clara.
Ardhana sedari tadi diam sambil melihat perubahan di jari manis adiknya itu.
"Jadi terus sekarang Clara udah kamu lamar? Dan kamu dek, udah kamu terima? " tanya Ardhana langsung dengan menatap Arya, lalu memalingkan pandangannya ke jari manis Clara.
Arya hanya menjawab dengan senyuman. Lalu disusul dengan anggukan Clara.
"Bagus..i like that..! Yaudah kalau gitu sekarang kita double party dong berarti!" ucapan Ardhana seakan-akan mengakhiri babak intimidasi malam itu.
Clara terdiam dengan mulut menganga.
What?? I like that??!!
"Ehh bentar dulu, katanya kamu pulang besok, kok kamu udah nongol sekarang?" tanya Ayu sambil menunjuk ke arah Arya dan mengernyitkan dahinya.
"Ya kan surprise Yu.."balas Arya.
"Heii..rencana kita-kita ini ya yang mau ngasih surprise,ehh.. malah dapet surprise..! Tapi by the way , selamat ya Clara buat ulangtahunnya dan proposalnya.." ucap Ayu.
"Proposal apa?" tanya Clara polos.
"Tuhh proposal dari laki-laki yang tampan dan rupawan katamu.." ucapnya sambil mencium pipi Clara.
Rendra yang sedari tadi merasakan seperti disambar petir, memilih untuk diam. Karena hanya itu yang mampu mengatur perasaannya.
Arya dan Ardhana pun menyadari tingkah Rendra, juga memilih diam. Karena saat ini bukan saat yang tepat untuk menjelaskan, yang ada malah mungkin mereka bisa baku hantam.
Clara pun juga dari tadi hanya diam melihat wajah Rendra.
Ia terkadang seperti merasa bersalah, namun ia sebenarnya juga tidak salah, karena ia pun sudah membatasi persahabatan mereka.
Berbeda dengan persahabatannya dengan Arya, yang berusaha ia terjang untuk sama-sama menuju ke arah yang lebih serius.
"Udah lahh ayokk sekarang kita mau kemana ini?" tanya Greesa memecah suasana.
"Ehmm kemana ya mbak? Kalian mau makan aja, atau mau ke lounge?" tanya Clara kembali.
"Nggak usah ke lounge, kita makan aja di luar, nanti kalau mau sekedar minum ya beli aja terus minum di rumah aja, atau kamu masih ada stok wine yang?" jawab Arya.
"Ada kalau cuma wine, tapi black tea juga masih ada keliatannya, kemarin sepupuku pada abis ke sini soalnya."
Mengkonsumsi minuman berakohol bukan hal yang tabu bagi mereka bahkan keluarga mereka masing-masing. Bukan bertujuan untuk mabuk-mabukan atau jadi pecandu. Hanya cuma sekedar kalau lagi ingin bersantai dan having fun saja, tidak sampai teler.
"Yaudah, sekarang mau makan kemana? Aku manut aja. Aku mau ganti baju dulu ya." ucap Clara lagi, sambil berlalu ke atas menuju ke kamarnya.
"Gimana kalau ke resto Eropa di Mantrijeron?" sahut Rendra yang terlihat sudah mampu mengatur perasaannya.
"Boleh..ayokk kalau gitu !" Arya menyetujui ajakan Rendra. Arya pun bersikap seperti biasa, santai.
Suasana sudah mencair, sudah tampak seperti biasanya kalau sedang berkumpul. Walaupun pasti masih ada hati beberapa orang yang mengganjal, yang memang harus meluruskan kejadian tadi, tapi tidak sekarang.
Clara sudah menuruni anak tangga, dengan kostum yang senada dengan kekasihnya saat ini, Arya.
"Sudah tau mau kemana?" tanya Clara, sambil menyerahkan kunci mobil CRV kepada Arya. Tadi Arya kan memang tidak membawa mobil, mereka memakai mobil Clara dari rumahnya.
"Rendra ngajak ke resto Eropa di Mantrijeron.."jawab Arya sambil menerima kunci itu.
"Ohh oke kalau gitu.." senyum Clara, menyadari berarti Rendra sudah mulai mau membuka suara.
Mereka semua berjalan keluar rumah. Dan Arya tidak mendapati satu mobil pun dari sahabat-sahabatnya parkir di dalam halaman rumah Clara.
"Lhohh..kalian nggak bawa mobil?"
Seketika Clara yang sedang mengunci pintu rumahnya, menoleh. Memang benar tidak ada mobil lain selain 2 mobilnya yang terparkir rapi di sana.
"Ada kok..bawa.."jawab Bagas, calon suami Ayu.
"Mohon maaf nih pak, kalau kita parkirnya di dalam, namanya bukan surprise dong pak..lagian kalau kita parkirnya di dalam, kalian pasti juga udah nggak berposisi seperti tadi.." ucap Ayu menjelaskan.
Arya yang mendengarkan penjelasan Ayu seketika langsung tertawa pelan, sambil melirik ke arah sahabat ceweknya yang kalau udah cerewet ngalahin emak-emak komplek lagi nggosip.
"Oalahh..yaudah kamu keluarin mobil dulu ya..nanti ak mau tutup pagarnya.."suruh Clara ke Arya, sambil berjalan menuju ke depan pintu pagar rumahnya. Lalu menengok sedikit keluar, memang ada 3 mobil yang terparkir di jalan depan rumahnya.
................
suka dech
sakha putra
reno-teman sakha
ardhana- kkak angkat Clara
narendra
arya
akeh e 😅
siapa ituuuuu,,,,,
jreng jreng jreeeeeeeeengggggggg😜😜😁😁
gooodds
gue suka gaya lo mas bro arya😜