“Apa yang ada di dalam fikiran kamu, dia itu adikmu?”
Sakti menundukkan kepalanya saat bentakan itu datang dari sang Bunda. Tak pernah sekalipun ia mendapat hal seperti ini dari kedua orang tuanya. Ia adalah seorang pemuda yang patuh, tak sekalipun ia membantah perintah dan keinginan orang tuanya. Termasuk memilih jalan hidupnya, ia pasrahkan pada kedua malaikat tak bersayapnya itu. Tetapi untuk masalah jodoh, entah kenapa ia sendiri pun tak pernah menyangka jika ia akan jatuh cinta pada Ayra. Gadis yang menyandang predikat resmi sebagai adik kandungnya sendiri.
Apakah yang Sakti fikirkan sehingga ia mencintai adiknya sendiri?
Bagaimanakah kisah cintanya akan berakhir?
Dapatkah semua orang menerima perasaannya yang tak lazim ini?
A story by : Myhani
Ig : Srihani.92
Fb : Srihani
Tg : Srihani.92
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali kecewa
Ayra menundukkan kepalanya dalam, di sebelahnya berdiri ketiga perempuan yang tadi menggosipkannya.
Saat ini mereka tengah berada di ruang BK. Karena Sakti tadi menggiringnya ke dalam ruangan membosankan sekaligus menegangkan itu. Akibatnya kini mereka harus mendengarkan panjang kali lebar, setiap nasihat yang terucap dari seorang dosen perempuan bertubuh gemuk yang berdiri dan berjalan ke sana ke mari layaknya sebuah setrikaan, di hadapan ke empat mahasiswinya. Dengan bibir tak berhenti komat kamit, menasihati dan sesekali memberi pringatan.
Walau Ayra merasa salah dengan perbuatannya tadi, tapi di dalam hati Ayra saat ini adalah betapa bosannya ia harus mendengar ocehan dosen tersebut. Terlebih lagi, Sakti yang berdiri tak jauh dari mereka, sejak tadi tak berhenti menatap tanpa henti pada adik sekaligus mahasiswinya itu. Tatapan itu, Ayra sendiri tak dapat mengartikannya. Yang jelas ia merasa tak mengenal Abangnya itu. Saat ini Sakti terlihat seperti orang lain baginya.
“Memang apa masalahnya, sehingga kalian harus bertengkar seperti itu?” Tanya Bu Ranti dengan tatapan menusuk pada ke empat siswi itu.
“Kita hanya membela diri, Bu.” Jawab Olin dan dibenarkan oleh anggukan dari kedua temannya.
“Tapi kalian yang lebih dulu mulai?” Seru Ayra tak terima dengan penuturan Olin.
“Dan saya, melihat kalau mereka yang tertindas!” Sahut Sakti dari samping Bu Ranti.
Sekali lagi Ayra menatap nanar pada manik sang kakak. Laki-laki itu sama sekali tak membelanya, bahkan ia memberi kesaksian seolah dirinya sepenuhnya bersalah. Kenapa Sakti tak menanyakan lebih dulu padanya, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Abangnya itu malah justri ikut menuduhnya.
Bu Ranti menarik napas berat, ia kembali berucap panjang lebar. Setiap nasihat ia keluarkan, bahkan ia juga memberi penjelasan tentang sanksi yang akan di jatuhkan bagi siswi atau siswa yang bermasalah. Namun mereka beruntung karena kali ini, Bu Ranti memaafkannya. Berhubung tidak ada korban dalam hal ini.
“Paham kalian?” pungkas Bu Ranti, dosen yang bertugas menangani mahasiswa yang bermasalah seperti sekarang.
“Iya, Bu!” jawab ke empatnya dengan malas.
“Ya sudah, tunggu apa lagi ayo saling memaafkan!” perintahnya lagi, ia menatap satu persatu mahasiswinya itu “kalian itu perempuan, kok berantem. Mau jadi apa kalian ini? Seharusnya kalian itu jadi penengah.”
“Iya, Bu!”
“Iya-iya terus, ayo salaman!”
Ayra mengulurkan tangannya lebih dulu pada Serli, perempuan yang tadi ia siram dengan air. Serli menyambut uluran tangan Ayra dengan malas, begitu pula kedua temannya.
“Sudah selesai 'kan, Bu? Kita boleh pergi sekarang?” tanya Serli pada Bu Ranti.
“Ya sudah, silahkan keluar. Tapi awas jika kalian mengulangi hal yang sama!” Bu Ranti mengacungkan kepalan tangannya.
“Permisi, Bu, Pak!” mereka lebih baik cepat-cepat keuar dari pada di sana terlalu lama. Bisa budeg telinganya mendengar suara cempreng Bu Ranti yang tiada habisnya.
“Ayra maharani!”
Ayra mengehentikan langkah kakinya di depan pintu. Saat suara berat milik Sakti memanggil namanya. Tapi Ayra tak berniat berbalik dan melihat si pemilik suara. Hatinya masih terasa sakit, karena Sakti telah membuatnya kecewa dua kali pagi ini.
“Iya, Pak.” jika bukan karena Sakti menjabat sebagai dosen, maka Ayra tak akan berbalik dan menyahut.
“Selesai jam pelajaran temui saya di_”
“Maaf, Pak. Saya sudah ada janji dengan teman saya. Permisi!” Ayra memotong perkataan Sakti, dengan cepat ia berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
hubungan sakti sama ayra tu sesungguhnya apa..