Berawal dari pekerjaan sebagai 'suami bayaran' Devan akhirnya terjebak dalam sebuah kisah cinta rumit diantara kaka beradik, Bellinda Halley dan Clarissa Halley.
Pada siapa akhirnya Devan melabuhkan hatinya?
Baca juga side story dari karya ini:
"Bidadari untuk Theo" yang merupakan kisah dari Theo Rainer, sepupu sekaligus asisten dari Bellinda Halley.
"Oh, My Bee" yang merupakan kisah dari Nick Kyler, mantan calon tunangan Bellinda Halley yang mempunyai penyakit alergi pada wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIAL ATAU SIALAN
Bruuuk!
Bagian depan mobil nona Bellinda menabrak tembok pembatas.
"Oh, Astaga!"
Devan memejamkan matanya sambil berkali-kali mengumpat dalam hati. Tamat sudah riwayatnya kini. Devan bahkan tak lagi punya nyali untuk menatap ke arah nona Bellinda yang mungkin akan murka sebentar lagi.
Ini memang bukan mobil Ferrari merah kesayangan Nona Bellinda. Tapi tetap saja, nona direktur itu pasti akan mengamuk dan mencak-mencak tak lama lagi.
"Devan!!!" Geram Bellinda yang sepertinya akan meledak tak lama lagi.
"Maafkan aku, Nona Bellinda!" Ucap Devan cepat masih tak berani menatap pada nona Bellinda.
"Berikan SIM-mu!" Perintah Bellinda galak.
"Apa?" Devan menoleh dan akhirnya pria itu bisa melihat wajah merah padam Bellinda.
"Berikan SIM-mu! Apa kau tidak punya telinga?" Ulang Bellinda sekali lagi dengan nada meninggi.
Devan segera merogoh dompetnya dengan gemetar dan memberikan SIM-nya pada Nona Bellinda.
Bellinda membaca sejenak SIM ditangannya, sebelum lanjut meluapkan amarahnya.
"Apa kau mendapatkan benda ini dengan menyogok?" Tuduh Bellinda menatap tajam pada Devan.
"Tidak!" Jawab Devan cepat.
"Aku mengikuti tes seperti yang lain. Dan aku sudah lancar mengemudi kemarin-kemarin," imbuh Devan lagi memberikan sanggahan.
"Lalu kenapa kau menabrak tembok dan menghancurkan mobilku sekarang?" Tanya Bellinda masih mendelik ke arah Devan.
"Aku...aku hanya grogi," jawab Devan jujur.
Bellinda berdecak tak percaya.
"Turun!" Perintah Bellinda galak.
Tanpa basa-basi Devan turun dari mobil dengan cepat. Pria itu melongok sebentar ke arah bagian depan mobil yang tadi sempat menabrak tembok. Ada penyok di body mobil itu.
"Sial! Sial! Sial!" Devan tak berhenti mengumpat dan merutuki kebodohannya.
Bim bim!
"Dev!" Teriak Bellinda dari dalam mobil sambil membunyikan klakson hingga memekakkan telinga.
Devan bergegas menghampiri Bellinda yang kini sudah berpindah ke kursi pengemudi.
"Sedang apa kau di sana? Cepat masuk!" Perintah Bellinda sekali lagi masih dengan nada galak.
"Kita akan ke bengkel?" Tanya Devan memasang raut wajah polos.
"Ck!" Bellinda berdecak kesal.
"Masuk saja, cepat!!" Perintah Bellinda yang mungkin amarahnya sudah naik di ubun-ubun.
Devan tak menjawab sepatah katapun, dan segera masuk dari sisi lain mobil.
Devan belum selesai memasang sabuk pengaman saat nona Bellinda sudah menginjak pedal gas dengan kasar, hingga membuat Devan tersentak kaget. Masih bagus kepala Devan tidak membentur dashboard mobil.
"Huh! Sabar, Devan!"
"Semoga nona kaya ini tidak membunuhku setelah ini," gumam Devan pada dirinya sendiri.
****
"Aku di butik sekarang, kirim saja mobilnya!" Bellinda berbicara di telepon masih dengan nada kesal.
Devan dan Bellinda baru tiba di butik beberapa menit yang lalu, dan nona direktur itu sudah sibuk dengan telepon genggamnya. Entah siapa yang dihubungi oleh Nona Bellinda. Yang jelas, Devan sangat yakin kalau ini ada hubungannya dengan mobil nona Bellinda yang penyok.
"Ada yang bisa kami bantu, Nona?" Sapa pegawai butik sesaat setelah Bellinda selesai berbicara di telepon.
"Ya, aku ingin mencarikan beberapa setelan jas dan tuxedo untuk pria ini," jawab Bellinda seraya menunjuk pada Devan.
"Mari, Tuan. Ikut dengan kami," ujar salah satu pegawai butik yang langsung menggiring Devan masuk ke dalam deretan jas-jas. Dan setelahnya, Devan sibuk mencoba beberapa jas yang diberikan oleh pegawai butik.
Bellinda sendiri hanya duduk dan sesekali memberikan komentar pada Devan. Cukup lama pasangan suami istri itu bearda di dalam butik, hingga menjelang sore keduanya baru keluar dari butik membawa beberapa stel jas.
Devan sedikit kaget, saat mendapati mobil berbeda yang terparkir di depan butik. Mobil yang tadi penyok sudah tidak ada di depan butik, entah hilang kemana mobil malang itu.
"Aku rasa kau harus ikut kelas mengemudi sekali lagi agar kau tidak menghancurkan mobilku yang lain," sindir Bellinda sebelum masuk ke dalam mobil.
Nona direktur itu langsung duduk di kursi pengemudi, dan mengabaikan Devan yang masih sibuk memasukkan barang-barang belanjaan ke bagian belakang mobil. Setelah selesai dengan urusannya, Devan bergegas masuk ke mobil mengikuti Nona Bellinda. Tak butuh waktu lama, dan mobil segera meluncur meninggalkan butik.
****
Devan berulang kali mematut dirinya di depan cermin untuk memastikan tidak ada yang salah dengan penampilannya malam ini.
Ini adalah kali pertama bagi Devan mendampingi Nona Bellinda menghadiri sebuah pesta penting. Devan tadi juga sempat menelpon dan bertanya banyak hal pada Theo saking gugupnya. Namun Theo terus meyakinkan Devan agar bersikap santai dan tidak terlalu tegang.
Devan membuka pintu kamarnya dengan sedikit gemetar. Pria itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar sebelum benar-benar keluar.
Nona Bellinda belum terlihat batang hidungnya.
Devan menarik nafas panjang sekali lagi dan melangkahkan kakinya dengan mantap keluar dari kamar. Devan memutuskan untuk menunggu Bellinda di ruang tamu saja. Mungkin nona direktur itu masih berdandan.
Namun baru saja Devan akan mendaratkan bokongnya di sofa, pintu kamar Nona Bellinda sudah dibuka dari dalam. Nona direktur itu keluar dari kamar mengenakan gaun warna biru berbahan sutera dengan potongan asimetris dimana bagian depan lebih pendek ketimbang bagian belakang.
Terang saja hal itu membuat paha mulus Nona Bellinda terekspos dengan jelas
Dan yang membuat Devan semakin tercengang adalah, bagian leher yang berpotongan rendah hingga nyaris menampakkan pay*dara nona direktur tersebut.
Astaga!
Kenapa Nona Bellinda memakai baju kurang bahan begini ke pesta penting? Apa nona direktur ini tidak punya gaun lain yang lebih sopan dan tertutup?
Bellinda menjentikkan jarinya di depan Devan yang terlihat melongo. Devan tersentak kaget.
"Kau sedang apa? Melihatku sampai matamu tidak berkedip begitu," sindir Bellinda seraya berdecak kesal.
"Bajumu, Bell!" Jawab Devan tergagap.
Bellinda mengernyitkan kedua alisnya,
"Ada apa dengan bajuku!?" Tanya Bellinda seolah memberi kode pada Devan untuk memberikan komentar.
"Maksudku, apa kau tidak punya baju yang lebih sopan dan tertutup? Bajumu ini mengekspos bagian-bagian tubuhmu dengan jelas," cecar Devan yang mulai terdengar marah.
Devan tidak tahu kenapa dirinya merasa marah dan tidak terima jika Bellinda memakai baju seksi seperti malam ini.
"Ada lagi yang ingin kau komentari?" Tanya Bellinda seolah sedang menantang Devan.
"Ganti bajumu itu, Bell!" Perintah Devan memaksa.
"Baiklah jika kau memaksa." Bellinda berbalik dan kembali masuk ke kamarnya.
Devan benar-benar harus berdecak berulang kali dan menurunkan amarahnya yang sempat meluap-luap karena baju sialan Nona Bellinda.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Bellinda sudah keluar lagi dari kamarnya. Kali ini, nona direktur itu mengenakan gaun merah menyala berbahan sifon dengan potongan leher yang semakin mengerikan karena lebih rendah dari yang warna biru tadi.
Dan bagian bawah gaun merah itu memang sampai ke mata kaki tapi belahannya benar-benar membuat Devan membelalakkan mata seraya berulang kali mengelus dada.
"Aku rasa yang ini lebih sopan," ujar Bellinda santai.
Devan mendelik ke arah nona direktur itu,
"Yang ini lebih mengerikan, Bellinda!"
"Apa tidak ada bajumu yang tidak perlu menonjolkan dadamu seperti itu?" Sergah Devan dengan nada marah.
Bellinda masih diam dan mensedekapkan tangannya di depan dada.
"Bukankah kau akan menghadiri sebuah pesta penting?"
"Lalu kenapa bajumu terbuka begitu?"
"Bagaimana kalau ada pria kurang ajar yang mencolek-colek dirimu?"
"Bagaimana kalau kau masuk angin karena memakai baju kurang bahan seperti itu?" Cecar Devan bertubi-tubi.
Dan Belinda hanya memutar bola matanya menanggapi semua protes Devan tersebut.
"Sudah selesai yang ceramah?" Tanya Bellinda menanggapi ceramah panjang Devan.
Devan sekejap terdiam. Pria itu tak menyangka jika sikap Bellinda akan sedingin ini menanggapi perkataannya yang berbusa-busa.
"Kita berangkat sekarang kalau kau sudah selesai ceramah," ujar Bellinda lagi seraya mengayunkan langkahnya menuju ke arah pintu utama apartemen.
Devan benar-benar terlihat seperti orang bodoh sekarang.
Nasehat serta kekhawatirannya tentang penampilan Nona Bellinda seperti terbang tertiup angin begitu saja. Pria itu mengikuti langkah Nona Bellinda yang sekarang sudah sampai di depan lift.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini 👠.