NovelToon NovelToon
Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Awan

**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.

Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:

> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.

Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*

Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.

*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*

Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*

…tapi malam itu, Mas ingkar janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17: Aku Benci Kamu, Mas

"Aku lihat pohon lemon di balkon," jawab Naila. "Terus aku ingat Mas Radhika pernah janji mau menanamnya."

Wulan menarik napas pelan. "Kamu ingat sampai sejauh apa?"

"Cuma potongan. Ada mobil di depan rumah lama, dia pakai kemeja putih. Kenapa aku nggak ingat yang lain, Ma?"

Wulan memandang ke sisi layar, seolah memastikan Bagas tidak berada di dekatnya. Saat kembali menatap Naila, matanya tampak berat.

"Karena dulu kamu sangat dekat sama Radhika. Jauh lebih dekat daripada yang kamu kira."

Naila meremas ujung selimut.

"Waktu kamu baru lahir, Mama dan Papa sedang membangun usaha. Ada pengasuh, ada Mama, ada Tante Laras, semua orang dewasa tetap menjaga kamu. Tapi anehnya, kamu paling tenang kalau Radhika datang." Wulan tersenyum tipis. "Dia baru enam tahun. Sepulang sekolah, dia duduk dekat buaianmu, menggoyang mainan, atau membantu menyuapi susu dengan Mama di sampingnya. Kamu yang menangis lama bisa langsung diam kalau dengar suaranya."

"Aku?"

"Kamu bahkan menolak digendong orang lain kalau sudah melihat dia. Makin besar, kamu makin menempel. Dia belajar, kamu duduk di sebelahnya. Dia bermain bola, kamu mengikuti sampai halaman. Kalau Radhika terlambat pulang sekolah, kamu menunggu di dekat pagar."

Naila menggeleng perlahan. Tidak satu pun gambar itu tersimpan jelas di kepalanya.

"Lalu kenapa aku merasa dia selalu jahat?"

Wulan terdiam cukup lama hingga suara kendaraan New York masuk melalui jendela.

"Saat kamu empat tahun, kami harus pindah dari Bandung. Kamu menolak pergi. Kamu menggigit tangan Radhika sampai berdarah, menangis, lalu terus memanggilnya sepanjang perjalanan." Suara Wulan menurun. "Setelah itu, hampir setiap hari kamu minta pulang ke Dago. Kamu sering terbangun sambil berjalan mencari Mas. Kamu demam tinggi beberapa kali dan kondisi itu berlangsung berbulan-bulan."

Dada Naila terasa sesak. "Kenapa Mama nggak bawa aku kembali?"

"Kami mencoba. Situasi pekerjaan dan perpindahan rumah waktu itu rumit, tapi Mama tetap menghubungi keluarga Adiwangsa. Kami juga mempertemukan kalian lewat telepon. Masalahnya, setelah sakit terakhir, kamu berhenti menyebut namanya. Seolah-olah semua ingatan tentang Radhika tertutup."

"Dia pernah cari aku?"

"Sering. Hampir tiap malam selama bulan pertama." Wulan menunduk. "Dia masih sepuluh tahun, Nai. Dia menangis ke Tante Laras karena teleponnya nggak selalu bisa tersambung. Pernah juga mengirim sekotak lemon dan gambar buatmu. Saat itu kamu baru pulang dari rumah sakit. Dokter meminta semua pemicu dihentikan sementara, jadi paket itu kami kembalikan."

Naila menutup bibir dengan tangan. Di kepalanya, paket yang tidak pernah ia buka terasa lebih berat daripada koper apa pun.

"Setelah itu dia berhenti?"

"Dia berhenti memaksa. Bukan berhenti bertanya tentangmu. Setiap ulang tahunmu, Tante Laras selalu menelepon Mama karena Radhika ingin tahu kamu sehat atau nggak."

Wulan menyeka sudut matanya. "Dokter anak dan psikolog yang memeriksamu bilang itu bisa menjadi amnesia selektif karena trauma perpisahan. Bukan berarti semua kenangan hilang. Pikiranmu mungkin mengunci bagian yang paling menyakitkan. Yang tertinggal hanya kesimpulan sederhana bahwa Mas Radhika jahat dan suka mengganggumu."

"Kenapa baru sekarang Mama cerita?"

"Karena setiap kali namanya disebut, kamu marah atau sakit kepala. Dokter menyarankan kami nggak memaksa. Mama pikir kamu akan ingat sendiri saat sudah siap."

"Mama nggak takut aku membencinya selamanya?"

"Takut." Wulan tersenyum sedih. "Tapi memaksa anak kecil mengingat trauma juga bukan jawaban. Mama menunggu sampai kamu cukup besar untuk memisahkan ucapan anak sepuluh tahun dari niatnya."

Air mata mulai memenuhi mata Naila, tetapi ia menahannya.

Wulan mendekat ke kamera. "Kalau Radhika benar-benar menyakitimu sejak kecil, Mama dan Papa nggak mungkin menitipkanmu di rumah Adiwangsa sekarang. Dia kakak yang baik, Nai. Dulu dia juga masih anak-anak. Baik-baik sama dia, ya."

Naila mengangguk tanpa suara. Ia mengakhiri panggilan beberapa menit kemudian dengan alasan mengantuk.

Begitu layar padam, kamar terasa terlalu sepi.

Ia masuk ke bawah selimut dan berguling menghadap dinding. Radhika pernah menggendongnya? Menunggunya belajar berjalan? Membantunya minum susu? Semua itu terdengar seperti cerita tentang orang lain.

Naila membuka WhatsApp. Percakapan Mas Radhika berada paling atas. Foto profilnya memperlihatkan laut gelap tanpa wajah. Pesan terakhir lelaki itu masih tentang belajar dan hadiah.

Ia ingin bertanya langsung, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana.

Akhirnya, ponsel tetap menyala di samping bantal saat matanya tertutup.

Dalam mimpi, ia menjadi penonton bagi hidupnya sendiri.

Seorang bayi terbaring di buaian ruang keluarga Dago. Larasati dan Wulan berdiri tidak jauh, sementara anak lelaki berseragam sekolah duduk di lantai. Radhika kecil menggoyangkan boneka kain. Bayi itu berhenti menangis, lalu tertawa hanya untuknya.

Gambar berganti.

Naila yang belum genap setahun merangkak mengejar Radhika. Anak lelaki itu mundur sambil membuka tangan.

"Pelan-pelan, Lemon. Sini sama Mas."

Saat Naila hampir jatuh, Radhika menangkapnya. Orang-orang dewasa bertepuk tangan. Naila memegang kerah seragamnya dan mengucapkan suara pertama yang cukup jelas.

"Ma... ma... Mas."

Radhika tertawa paling keras.

Waktu bergerak cepat. Radhika memegang kedua tangan Naila yang sedang belajar melangkah. Setiap jatuh, ia ikut berjongkok. Setiap Naila merengek, ia meniup lututnya meski tidak ada luka.

Ia mengajari Naila memegang sendok, mengikat tali sepatu, dan mengucapkan nama-nama warna. Saat gigi susu pertama Naila goyah, Radhika lebih panik daripada dirinya. Ia mencari Larasati sambil berteriak bahwa gigi Lemon rusak, membuat seluruh ruang keluarga tertawa.

Pada hari ulang tahun Naila, Radhika selalu berdiri paling dekat dengan kue. Ia yang menahan tangan kecil Naila agar tidak menyentuh api lilin. Ia pula yang diam-diam memberikan bagian stroberi paling besar dari atas kue.

Pada usia dua tahun, Naila duduk di pangkuannya saat Radhika membaca buku cerita yang sama untuk ketiga kalinya.

"Bosan!"

"Kamu yang pilih bukunya."

Naila menggigit ringan pangkal ibu jarinya. Tidak sampai berdarah. Radhika menarik tangan dan mengacak rambutnya sebagai balasan. Mereka berdua tertawa.

Gambar berikutnya membawa aroma permen stroberi. Naila berusia tiga tahun, berdiri di depan TK dengan tas berbentuk kelinci. Radhika datang paling awal, masih memakai seragam sekolah dasar. Ia mengeluarkan permen dari saku, tetapi menahannya tinggi-tinggi.

"Panggil dulu."

"Mas Aka baik, ganteng, paling hebat!"

"Pintar."

Naila melompat memeluk pinggangnya.

Kehangatan mimpi tiba-tiba patah.

Naila berusia empat tahun berdiri di halaman rumah lama. Koper memenuhi bagasi mobil. Ia memeluk kaki Radhika sambil menangis keras.

"Naila nggak mau pergi! Naila mau sama Mas Aka!"

"Kamu harus ikut Mama Papa."

"Mas ikut!"

Radhika kecil menoleh ke arah orang dewasa. Matanya merah, tetapi ia memaksa wajahnya keras.

"Mas bukan kakak kamu. Pulang sana."

Naila terpaku.

"Mas nggak mau Naila lagi?"

Radhika memalingkan wajah. "Nggak."

Di belakang kekerasan palsu itu, kedua tangannya mengepal. Air mata jatuh ke kerah kemeja sebelum cepat-cepat ia seka. Ia ingin membuat Naila masuk mobil tanpa terus melukai diri sendiri, tetapi kata yang dipilih anak sepuluh tahun itu justru menjadi luka paling dalam.

Kata itu jauh lebih tajam daripada tangisan di sekeliling mereka.

Naila menerkam tangan kanan Radhika dan menggigit sekuat tenaga. Darah muncul di kulit. Radhika tidak menarik tangannya. Ia hanya berdiri diam sampai Bagas mengangkat Naila masuk ke mobil.

Di balik kaca, Naila memukul pintu dan memanggil Mas Aka berulang kali. Radhika akhirnya berlari mengikuti mobil beberapa langkah, tetapi kendaraan itu terus menjauh.

Naila menangis dalam tidur.

Ia melihat dirinya terbangun di rumah baru, berjalan tanpa sadar di lorong sambil mencari seseorang. Ia melihat tubuh kecilnya menggigil karena demam, melihat Wulan mengompres dahi, dan mendengar satu nama diucapkan sampai suaranya habis.

Mas. Mas Aka. Mas.

Lalu semua gambar tenggelam dalam gelap.

Naila terbangun dengan napas terputus-putus. Kamar masih gelap. Bantal di bawah pipinya basah, dan dadanya sakit seolah anak empat tahun di dalam dirinya belum pernah berhenti menangis.

Ia ingat.

Ia ingat semuanya.

Radhika bukan anak lelaki yang selalu mengganggunya. Ia adalah orang yang paling ia tunggu, paling ia percaya, dan paling ingin ia bawa saat pergi. Justru karena itu, penolakannya terasa seperti luka yang terlalu besar untuk ditanggung anak kecil.

Naila meraih ponsel dengan tangan gemetar. Jam menunjukkan 03.47.

Mas Radhika! Aku benci kamu! Paling benci sedunia!

Pesan itu terkirim.

Ia langsung menyesal. Jarinya menekan pesan, berniat menghapusnya, tetapi dua tanda centang biru muncul. Radhika sudah membaca. Menghilangkan tulisan dari ruang percakapan tidak akan menghapusnya dari kepala lelaki itu.

Naila membiarkan pesan tersebut tetap ada. Kalau Radhika sakit hati, biarlah. Anak empat tahun dalam dirinya sudah menanggung sakit hati itu selama empat belas tahun.

Pukul empat tepat, ponselnya berdering.

Mas Radhika menelepon.

Naila menjawab, tetapi tidak sanggup mengucapkan apa pun. Di seberang terdengar pengumuman bandara dan langkah orang-orang. Radhika memanggil namanya dua kali.

Saat isak kecil lolos dari tenggorokan Naila, suara lelaki itu langsung menegang.

"Mas ngapain lagi sampai kamu begini?"

Naila menutup mulut, tetap menangis.

Nada Radhika segera melunak. "Mas baru turun pesawat. Di sini berisik. Sampai hotel Mas telepon lagi, ya."

Ia berhenti sejenak, seolah ingin menembus jarak ribuan kilometer hanya dengan mendengar napas Naila.

"Sayang, udah. Jangan nangis dulu. Nurut sama Mas, ya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!