AL harus pergi dari rumahnya karena di usir oleh orangtuanya, mereka lebih menyayangi adiknya ketimbang dirinya.
Meskipun begitu, ia tatap bangkit untuk bertahan hidup. Takdir berkata lain, ia mendapatkan sebuah sistem yang mengubah hidupnya dan membuat orang tuanya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17 Misi Selesai
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden otomatis di kamar utama rumah baru Al.
Ting!
[Misi Baru]
[Mencari bukti kejahatan Deno]
[Status misi sedang berlangsung]
"Aha, ini benar-benar kesempatan bagus," kata Al.
Ia membuka ponselnya dan langsung mencari bukti kejahatan Deno.
"Sistem, aku butuh bukti kejahatan Deno sekarang!" titah Al.
Ting!
Mencari....
Loading...
...
...
[Selesai]
Tiba-tiba saja sebuah data muncul di ponselnya.
"Wow, cepat banget dapat datanya," kata Al.
Ting!
Misi selesai
[Anda mendapatkan penambahan uang 100.000.000]
"Wah, aku dapat 100 juta. Hm... uang sebanyak ini aku gunakan untuk apa ya? Buka usaha kali ya? Soalnya jika menumpuk aja di akun, juga nggak bagus," gumamnya melihat angka yang sangat banyak di akun ponselnya.
"Usaha apa yang aku buat ya? Jika usaha yang di mulai dari awal, pasti akan banyak biaya yang habis. Apa aku jual beli saham aja kali ya?" pikirnya, karena jual beli saham tidak terlalu berat pekerjaannya. "Ah nanti saja aku pikirkan denga Saka, yang penting sekarang menangkap orang yang telah merusak motor ku!"
Setelah mandi dan mengenakan seragam putih abu-abu yang rapi, Al melangkah keluar rumah.
"Sistem, jaga keamanan rumah ku ya," pinta Al.
[Siap Tuan, rumah Anda telah memiliki sistem keaman yang canggih, Anda tidak perlu khawatir]
Al tersenyum puas. "Bagus. Tetap jaga keamanan rumah ini selama aku pergi."
[Diterima, Host. Sistem Keamanan Pintar tetap aktif.]
Amirul berjalan ke garasi. Di sana, motor sportnya yang penuh goresan.
Saat menyalakan mesin motor, ponselnya bergetar di saku. Sebuah pesan singkat dari Saka masuk.
Saka:
"Al, kaku beneran masuk kan hari ini? Si Deno dari tadi pagi udah nongkrong di depan mading sama gengnya. Mukanya songong banget, kayaknya sengaja nungguin lu lewat."
Al tidak membalas pesan itu. Ia hanya memakai helmnya, menarik tuas kopling, dan memacu motornya keluar dari gerbang real estate.
Sesampainya di sekolah.
Suasana SMA Garuda pagi itu tampak lebih ramai dari biasanya di area koridor utama.
Begitu suara knalpot motor Al terdengar memasuki area parkiran, beberapa siswa langsung berbisik-bisik.
Al berjalan santai menyusuri koridor, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.
Di ujung koridor, tepat di depan mading, berdirilah Deno bersama tiga orang temannya.
Deno sedang memegang kaleng minuman soda, tertawa keras sengaja menarik perhatian.
Begitu melihat Al mendekat, tawa Deno berhenti. Ia melangkah maju, menghadang jalan Amirul dengan dagu yang terangkat sombong.
"Eh, ada si miskin," sindir Deno dengan suara lantang, memancing perhatian siswa lain yang langsung berkerumun melingkar.
"Gimana tidur lu semalem? Nyenyak? Atau sibuk mikirin biaya ketok mejeng buat motor butut lu itu? Hahaha!" kayanya sambil tertawa.
Teman-teman Deno ikut tertawa mengejek, mencoba mengintimidasi.
Al menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan Deno. Wajahnya datar, matanya menatap Deno seolah sedang melihat seonggok sampah yang menghalangi jalan.
"Deno. Lu punya sesuatu yang harus diomongin ke aku?" tanya Al acuh tak acuh.
"Omongin apa? Gak ada tuh. Kenapa? Lu mau nuduh gue ngerusak motor lu yang baret-baret kayak dicakar kucing itu? Ada bukti, hah? Jangan asal mangap lu!" jawab Dito santai, lalu meminum sodanya.
Saka yang baru saja membelah kerumunan langsung berdiri di samping Al. "Halah, gak usah ngelak lu, Deno! Anak-anak kemarin lihat lu bawa kunci motor pas istirahat di deket motor Al! Di grup chat juga lu nyindir-nyindir!"
Deno menatap Saka dengan pandangan meremehkan.
"Cuma lihat bawa kunci? Emang salah? Emangnya parkiran itu punya nenek moyang lu berdua? Lagian, kalau emang gue yang lakuin, lu mau apa, hah? Mau lapor guru? Mau minta ganti rugi? Punya duit berapa lu buat sewa pengacara?" tantangnya dengan tersenyum