NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Mamba Hitam

Rahasia Sang Mamba Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Joko Joko

Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17 - Mamba Kecil

Gelap hanya berlangsung dua detik.

Bagi Ayla, dua detik lebih dari cukup.

Saat lampu padam, Alina menjerit dan bergerak mundur. Arga meraih lengannya, menariknya menjauh dari jendela. Surya menjatuhkan sesuatu ke lantai. Benda kecil itu mengeluarkan asap putih pekat.

Bima berteriak dari koridor, “Gas!”

Ayla menahan napas.

Dia bergerak menuju Surya, tetapi pria itu sudah mundur ke dekat lemari. Panel dinding di belakang lemari terbuka sebagian. Jalan rahasia. Rumah singgah anak dengan jalur kabur rahasia.

Seleranya menjijikkan, tetapi persiapannya rapi.

Ayla melempar kursi kecil ke arah panel. Kursi menghantam kaki Surya. Pria itu meringis, tetapi tetap menyusup masuk.

Ayla hendak mengejar.

Arga menangkap pergelangan tangannya.

“Gasnya belum jelas.”

“Dia kabur.”

“Alina bisa pingsan.”

Ayla menoleh. Alina memang sudah batuk keras, tubuhnya lemas. Matanya penuh air, bukan karena drama kali ini. Gas itu nyata.

Ayla mengumpat pelan.

Dia menarik selimut dari tempat tidur, membasahinya dengan air dari galon kecil di sudut, lalu melemparkannya pada Arga.

“Tutup hidungnya. Bawa turun.”

Arga tidak bertanya. Dia menutup hidung Alina dengan selimut basah dan membawa gadis itu keluar.

Ayla mengambil ponsel Surya yang jatuh di lantai. Layar retak, tetapi masih menyala. Dia memasukkannya ke saku, lalu menendang panel lebih lebar.

Bima muncul dengan masker darurat. “Mau ke mana?”

“Wisata jalur rahasia.”

“Pak Arga bilang—”

“Pak Arga sedang sibuk menjadi orang baik.”

Ayla masuk sebelum Bima sempat menghentikan.

Lorong di balik dinding sempit dan lembap. Tidak panjang. Ujungnya menuju garasi belakang. Surya pasti menyiapkan kendaraan. Ayla berlari tanpa suara. Di depan, terdengar langkah pincang. Kaki Surya kena kursi tadi.

Dia membuka pintu besi di ujung lorong.

Begitu keluar ke garasi, sebuah mobil menyala.

Surya sudah di kursi belakang, sopirnya menginjak gas.

Ayla mengambil besi kecil dari rak peralatan, melemparkannya ke kaca depan. Kaca retak. Sopir panik, mobil membelok terlalu cepat dan menabrak tong sampah besar.

Tidak cukup keras untuk menghentikan.

Mobil tetap melaju keluar gerbang belakang.

Ayla mengejar sampai jalan kecil, tetapi mobil sudah mengambil belokan.

Dia berhenti.

Di kejauhan, suara sirene tim Arga mendekat.

Surya lolos.

Namun dia meninggalkan ponselnya.

Tidak buruk.

Ketika Ayla kembali ke halaman depan, Alina sudah duduk di kursi ambulans kecil milik tim. Wajahnya pucat sungguhan, rambutnya berantakan, maskara luntur. Tanpa panggung, dia terlihat jauh lebih muda.

Arga sedang memberi instruksi pada Bima. Begitu melihat Ayla, wajahnya mengeras.

“Kamu mengejar sendiri.”

“Tidak jauh.”

“Ayla.”

“Dia lolos.”

“Kamu bisa kena gas.”

“Aku menahan napas.”

“Itu bukan solusi medis.”

Ayla menatapnya. “Kamu marah karena dia lolos atau karena aku mengejar?”

Arga diam sesaat.

“Dua-duanya.”

Ayla tersenyum kecil. “Multitasking.”

Arga tampak ingin mengguncang bahunya, tetapi memilih mengambil napas.

Alina batuk pelan. “Kak Ayla...”

Ayla menoleh.

Alina menatapnya dengan mata merah. Untuk pertama kalinya, tidak ada air mata yang sengaja dipanggil. Dia benar-benar takut.

“Dia... dia kenal kamu?”

Ayla berjalan mendekat. “Kamu dengar apa?”

“Dia memanggilmu Mamba kecil.”

Arga juga menatap Ayla.

Udara malam menjadi lebih berat.

Ayla mengambil botol air dari petugas medis, membukanya, lalu menyerahkannya pada Alina.

“Orang tua itu suka bicara omong kosong.”

Alina menerima botol dengan tangan gemetar. “Tapi kamu tidak terlihat kaget.”

“Aku sering bertemu orang gila.”

Arga berkata pelan, “Ayla.”

Dia menatap Arga. “Sekarang bukan waktunya.”

“Kapan?”

“Saat Surya tidak kabur membawa separuh jawaban.”

Arga menahan diri. Dia tahu memaksa sekarang hanya akan membuat Ayla menutup lebih rapat.

Bima datang membawa laporan. “Pak, jalur belakang kosong. Kendaraan kabur pakai plat palsu. Kami sudah sebar ciri mobil.”

Ayla mengeluarkan ponsel Surya. “Dia meninggalkan ini.”

Lestari hampir merebutnya dengan mata berbinar. “Boleh?”

Ayla menyerahkan. “Layarnya retak. Jangan menangis.”

Lestari memegang ponsel itu seperti harta karun. “Saya tidak menangis untuk ponsel. Saya menangis untuk data.”

Bima bergumam, “Analis cyber memang spesies berbeda.”

Ayla menatapnya. “Aku setuju.”

Lestari segera masuk ke mobil operasional untuk mulai menyalin data.

Arga berjongkok di depan Alina. Nada suaranya profesional, tetapi tidak kasar. “Alina, kamu perlu memberi keterangan sekarang.”

Alina menatapnya, lalu menatap Ayla.

Ayla berkata, “Kalau kamu masih ingin hidup sebagai korban, bicaralah sebelum Surya membuatmu jadi tersangka.”

Alina menggigit bibir. “Aku tidak tahu obat itu membunuh orang.”

“Mulai dari Raka,” kata Arga.

Alina memegang botol air. “Pak Raka bilang yayasan butuh donasi tambahan. Ada program medis untuk anak-anak korban perdagangan manusia. Aku hanya diminta menandatangani beberapa pengajuan dan memakai akun yayasan untuk mempercepat administrasi.”

Ayla bertanya, “Kamu tahu itu tidak sesuai prosedur?”

Alina menunduk. “Tahu.”

“Kenapa tetap lakukan?”

Air mata jatuh. “Karena Pak Raka bilang kalau program itu berhasil, yayasan akan dapat perhatian besar. Mama akan bangga. Papa juga. Dan...”

Dia berhenti.

Ayla melanjutkan, “Dan kamu tetap jadi putri sempurna.”

Alina tidak membantah.

Itu hampir seperti pengakuan.

Reno tiba tidak lama kemudian. Dia turun dari mobil dengan wajah panik. Saat melihat Alina duduk lemah, dia berlari mendekat.

“Alina!”

Alina langsung menangis. “Kak Reno.”

Kebiasaan lama hampir mengambil alih. Reno hampir memeluknya tanpa bertanya.

Lalu dia berhenti.

Dia melihat Arga, Ayla, petugas, rumah singgah, dan sisa asap di jendela atas.

“Apa yang terjadi?”

Alina menangis semakin keras. “Aku takut.”

Reno menatap Ayla.

Ayla menjawab singkat, “Surya Atmadja memakai dia. Raka membuka pintu. Dia tahu beberapa hal tapi memilih tidak tahu sisanya.”

Reno memejamkan mata.

Alina berkata, “Kak, aku tidak bermaksud...”

Reno mengangkat tangan. “Nanti.”

Satu kata itu membuat Alina terdiam.

Ayla memperhatikan Reno.

Bagus.

Aktor keluarga itu akhirnya membaca naskahnya sendiri.

Arga mendekati Ayla. “Saya antar kamu pulang setelah ini.”

“Aku bisa pulang sendiri.”

“Bukan pertanyaan.”

“Wajah memerintah lagi.”

“Ya.”

Ayla menatapnya, lalu tertawa kecil. “Setidaknya jujur.”

Lestari membuka pintu mobil operasional. “Pak! Ponselnya punya folder terenkripsi. Saya belum buka, tapi ada nama file: 531-MB.”

Semua yang mengerti angka itu langsung diam.

Arga menatap Ayla.

Ayla menatap ponsel di tangan Lestari.

MB.

Mamba.

Atau sesuatu yang lebih buruk.

Di kursi ambulans, Alina berbisik, “Apa itu 531?”

Tidak ada yang menjawab.

Karena pertanyaan itu bukan untuk malam ini.

Dan karena Ayla tahu, setelah ini Arga tidak akan berhenti sampai dia tahu siapa sebenarnya Mamba kecil yang disebut Surya.

Dalam perjalanan pulang, Alina duduk di mobil Reno dengan selimut darurat menutupi bahu. Dia tidak menangis lagi. Mungkin terlalu lelah, mungkin terlalu takut, atau mungkin baru sadar air mata tidak bekerja di depan terlalu banyak saksi.

Reno mengemudi sendiri. Beberapa kali dia melirik Alina, tetapi tidak memulai percakapan.

Akhirnya Alina berbisik, “Kak, kamu benar-benar kecewa padaku?”

Reno menggenggam setir lebih erat. “Aku tidak tahu harus merasa apa.”

“Aku takut.”

“Aku tahu.”

“Aku tidak sejahat yang Ayla bilang.”

Reno menarik napas panjang. “Masalahnya, Lin, Ayla tidak perlu bilang apa-apa tadi. Aku mendengar sendiri.”

Alina terdiam.

“Kamu memberikan akses akun. Kamu ingin proyek film itu. Kamu tahu ada hal yang tidak benar, tapi kamu tetap ikut karena itu menguntungkan yayasan dan namamu.”

“Kak...”

“Aku tidak bilang kamu pembunuh.” Suara Reno serak. “Tapi aku juga tidak bisa pura-pura kamu tidak melakukan apa-apa.”

Alina menatap jendela. Wajahnya terpantul di kaca, pucat dan asing.

Di mobil lain, Ayla duduk diam di samping Arga. Ponsel Surya sudah dibawa Lestari, tetapi kata `531-MB` terus berputar di kepala mereka berdua.

Arga akhirnya berkata, “Malam ini kamu menyelamatkan Alina.”

“Aku menyelamatkan saksi.”

“Kalau itu membuatmu lebih nyaman, baik.”

Ayla meliriknya. “Kamu sedang mencoba membaca aku?”

“Sedang mencoba tidak salah baca.”

Jawaban itu membuat Ayla diam lebih lama dari biasanya.

Di luar, lampu kota melintas di kaca mobil. Untuk sesaat, Jakarta tampak seperti medan operasi biasa. Tetapi di tengah kota ini ada rumah yang menyebutnya anak, kampus yang menyebutnya mahasiswi, dan pria di sebelahnya yang mulai mendekati nama yang seharusnya tetap terkubur.

Hari-hari tenangnya, jika pernah ada, resmi berakhir.

1
Osie
masih penuh misteri tapi seru..gak bosan nulis up lanjutannya thor💪💪💪💪💪💪
Bonny Liberty
cerita elit,cerdas,no menyerang.. menye...semangat!!!!!
Osie
up lagi ya thoorr🙏🙏🙏🙏🙏 ceritanya bagus bangeett..suka suka suka suka
Osie
datang lagi 1 teman mamba🤣🤣 makin seruuu
Osie
thoor aku baca udah sampai bab ini lho..sumpeh bagus banget alur ceritanya..tapi sayang msh sepi..pdhal kereen abiiss/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/so haraoanku ini cerita sampai end..i hope
Osie
yaaacckk arga kenapa gak langsung di bogor aja sisurya nya..kabutkan dia
Osie
jangan bilang emaknya si ratna juga ikut terlibat
Osie
alina siap siap menuju lubang kematian
Osie
ayla dilawan..ya manaaa bisaaaa..mama cuuyy udah biasa membunuh dlm senyap
Osie
wwaaww aku aku gaya ayla..kereen abiizzz..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!